Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Kembalinya Pedang Pusaran Angin


“Li Xian, cucuku, aku harap kau tak menolaknya.” kakek Li Chunfeng menghela nafas panjang, “Antarkanlah aku ke gerbang kematian!”


Arya gelengkan kepala mendengar kata-kata kakek tersebut, tampak wajahnya berubah merah. Sementara itu, air muka kakek Li Chunfeng seperti mengharapkan sebuah penantian yang selama ini ia tunggu-tunggu. Setelah beberapa saat menatap Arya dengan mata batinnya, ia kemudian menundukkan kepalanya, mengerahkan energi Qi nya untuk menghancurkan rantai yang membelenggu lehernya. Setelah itu iapun kembali menghadap Arya.


“Aku sudah tak menginginkan hidup lama di dunia ini, cucuku. Aku berharap kau menjadi saksi atas berbagai peristiwa di dunia ini dan sekaligus kau ikut berperan di dalamnya. Kelak akan jatuh ke dunia ini sebuah benda aneh dari langit. Dan benda itupun akan ikut mewarnai berbagai peristiwa yang akan terjadi di dunia ini.”


“Saya masih tidak mengerti apa yang kakek maksudkan..” sahut Arya.


“Nanti juga kau akan mengerti,” kakek itu tersenyum, “Cucuku Li Xian, sekarang mendekatlah kemari!”


Perlahan Arya melangkah mendekati kakek Li Chunfeng. Kembali suasana menjadi hening. Setelah beberapa tapak melangkah dan hampir mendekati si kakek, Arya menghentikan langkahnya.


Sambil tersenyum kecil kakek Li Chunfeng, mengeluarkan pusaka yang bersemayam di dalam tubuhnya. Sebuah pusaka berbentuk pedang panjang memiliki luk berkelak-kelok seperti ular. Dan pusaka itu bersinar merah, melayang-layang dihadapan si kakek.


“Pusaka ini sudah cukup lama mengikuti perjalanan hidupku. Aku ingin mati dengan pusaka ini. Aku rasa dengan cara inilah, aku akan menemukan ketenangan.” ucap kakek Li Chunfeng, “Li Xian, peganglah pusaka ini dan turuti-lah apa yang menjadi keinginanku! Peganglah!”


Arya masih tegak diam mematung, memandangi kakek Li Chunfeng dengan perasaan iba.


Dengan tangan gemetar, Arya kemudian mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh pedang yang menyala merah dan yang melayang di hadapannya itu. Akan tetapi ia tarik kembali tangannya, lantas menatap dalam-dalam kepada kakek Li Chunfeng.


“Kek, aku tidak sanggup menuruti permintaanmu. Bagaimana aku sebegitu tega membunuh orang tua sepertimu.” ucap Arya. Ia tidak mau menyebut ‘cacat’ kepada si kakek, sebab hal itu akan melukai perasaannya. Mungkin karena dalam kondisi seperti itulah sehingga si kakek tidak memiliki semangat hidup dan memilih untuk mengakhiri hidupnya.


Kakek Li Chunfeng terkekeh pendek, “Aku tahu apa yang mengganjal di hatimu, cucuku. Tapi hanya inilah satu-satunya keinginan yang aku harapkan. Aku tak mau mati perlahan-lahan dalam kondisi seperti ini, terlebih muridku sendiri hendak berlaku kejam menguras seluruh kekuatanku. Dalam kondisi tidak memiliki tangan, kaki dan sepasang mata, apalagi yang aku harapkan dalam hidup ini.” wajah kakek itu mendadak muram, “Kau pasti mau melakukannya, cucuku. Aku hanya menginginkan kau menikam dadaku dengan pusaka itu. Kau sanggup, cucuku. Aku percaya kau mau melakukannya.”


“Tidak kek, walaupun aku sudah membunuh banyak orang. Namun membunuhmu aku benar-benar tak sanggup. Aku akan dihantui oleh perasaan bersalah sepanjang umurku jika melakukannya. Aku harap kakek jangan memaksa saya.” tegas Arya.


“Cucuku, kau tidaklah membunuhku... Membunuh bukanlah suatu hal yang diperintahkan oleh orang itu sendiri, tetapi kau melakukan ini atas permintaanku sendiri, itu berarti kau bukan membunuh.” kakek Li Chunfeng tersenyum tipis, “Aku tidak akan mati jika kau menikamkan pusaka ini ke dadaku, cucuku. Rohku akan tetap hidup dan kemudian menitis ke pada seseorang yang memiliki tanda-tanda sebagai kekasih para dewa-dewa. Tetapi jika kau tak mau melakukannya, maka aku tak akan menitis dan aku akan tetap seperti ini sepanjang hidupku. Yah, kalau aku tetap seperti ini, maka ramalanku akan sirna begitu saja.”


Arya tertegun, andaikata si kakek adalah musuh, mungkin ia masih mampu untuk membunuhnya, tetapi kakek itu tidak memiliki kesalahan apapun terhadapnya. Mungkin benar, si kakek memang memiliki masalalu yang buruk dan kejam, akan tetapi nilai seseorang bukanlah dinilai berdasarkan masalalunya melainkan berdasarkan dari apa yang dia jalani sekarang. Lebih dari itu, Arya juga pernah berjanji kepada Dewa Petir untuk tidak membunuh orang yang tidak bersalah ataupun orang yang masih memiliki sedikit kebaikan dalam hatinya.


“Bagaimana cucuku, apa kau mau melakukannya?” desak kakek Li Chunfeng yang membuyarkan lamunan Arya.


“Tidak kek, aku tetap tidak bisa menuruti keinginan anda.”


Kakek Li Chunfeng menarik nafas dalam-dalam, “Tak perlu merasa kasihan terhadapku, cucuku. Justru aku akan berterimakasih jika kau mau melakukannya.”


Arya kembali menatap pedang bersinar merah yang melayang dihadapannya. “Aku tahu kek, anda menjadi putus asa karena mengalami keadaan seperti ini, terlebih oleh kematian anak dan istrimu, juga merasa bersalah atas semua kejahatan yang pernah anda lakukan di masalalu. Tapi ingatlah kek, Tuhan memberikan anda umur panjang karena Dia masih memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki hidup. Lebih dari itu, Tuhan tak akan memberikan suatu cobaan yang melebihi batas yang sanggup dipikul oleh manusia. Cobaan dan kebahagiaan sudah menjadi garis hidup yang sudah ditulis oleh Sang Pencipta. Seperti kata kakek, malam akan menjadi terang, sebagaimana perjalanan hidup yang telah kakek alami. Begitu pula, cobaan pasti akan berganti kebahagiaan. Yang terpenting kita pandai bersyukur atas apapun yang kita miliki dan jalani.”


Kakek Li Chunfeng menundukkan kepalanya, wajahnya menjadi muram. Sepertinya ada sesuatu yang masih mengganggu pikirannya dan hal itu tidak bisa dia singkirkan begitu saja dalam benaknya.


“Mengenai ramalan anda, mungkin saja hal itu akan menjadi kenyataan, tetapi tidak menutup kemungkinan pula akan meleset. Ramalan hanyalah suatu petunjuk dan bukanlah suatu yang pasti terjadi.” sambung Arya, “Kakek terlalu memikirkan kesalahan-kesalahan dan cobaan-cobaan yang telah lalu. Semua yang telah berlalu sebaiknya anda lupakan. Jadikan semua itu sebagai pelajaran dan pengalaman hidup. Ku rasa wajar saja jika manusia berbuat kesalahan, tapi kemudian menyadarinya, dia harus merubahnya dan melupakan semua itu. Justru dari perbuatan salah itulah, kita bisa mengambil maknanya kek.”


Arya masih melanjutkan, “Ku harap kakek tidak lagi menginginkan kematian. Jika sudah saatnya nanti, kematian akan datang sendiri tanpa diminta. Mengenai kaki dan tangan kakek, aku yang pernah belajar sedikit mengenai Alkemis, akan berusaha semampuku untuk menyambung kembali tangan dan kaki anda.”


Kakek Li Chunfeng mengangkat wajahnya menghadap Arya. Lantas tiba-tiba saja ia tertawa tergelak-gelak, “Bicaramu seperti orang tua saja. Memang benar ujar-ujar yang mengatakan, ‘murah di mulut mahal di timbangan’. Mudah untuk mengatakannya, tetapi sulit melakukannya. Menasehati itu memang mudah cucuku, tapi menjalaninya tidaklah segampang mulut berkata-kata. Seseorang tak akan bisa mengerti bagaimana sulitnya hidup, jika mereka sendiri tidak mengalaminya.”


Arya tersenyum lembut, “Maafkan aku kalau aku yang muda ini terkesan seperti menasihati orang tua yang pastinya sudah lebih matang pengalaman dariku. Hmm.. tapi aku hanya mengingatkan saja, mengatakan sebuah kebenaran. Sebagai seorang kesatria, kita tidaklah pantas lari dari masalah. Seharusnya kita hadapi apapun masalah dengan dada tengadah dan jiwa yang tegar, sebagaimana sikap seorang pendekar sejati. Kematian bukanlah jalan yang baik untuk menyelesaikan masalah, justru hal itu adalah sikap seorang pengecut dan berjiwa kerdil, lari dari kenyataan hidup.”


“Terimakasih sudah mengingatkan,” kakek itu kembali menunduk, dan tiba-tiba menangis. “Tetapi bagaimana aku harus melanjutkan hidup, sementara anak dan istriku telah tiada. Lebih dari itu, aku hanyalah orang tua renta yang cacat dan tak berguna. Apakah ini tidak menyakitkan, dan apakah yang menjadi tujuan hidupku? Aku sudah tidak memiliki arah hidup, apakah yang perlu aku harapkan dari hidup seperti ini?”


“Memang kek melupakan sakit hati tidaklah mudah. Tidak ada satupun manusia di alam semesta yang hidupnya tidak pernah dilanda permasalahan dan cobaan. Kalau manusia yang mendapatkan ujian, tidak bisa menerimanya dengan keikhlasan dan hati tabah, maka jangan harap manusia itu dapat menikmati kebahagiaan yang dicarinya. Membiarkan diri terpuruk dalam keadaan hanya akan menambah sakit hati sehingga hidup seolah tidak berguna, hati menjadi buta akan tujuan hidup dan tak bisa menghargai nikmat yang telah Tuhan berikan. Jangan sampai mau dipermainkan oleh perasaan sendiri. Kita sebagai manusia memiliki akal untuk dapat berfikir jernih, mencari jalan terbaik untuk mengatasi segala macam problema dalam hidup ini.” ucap Arya dengan lembut. “Camkan baik-baik ini! Tidak mungkin selamanya anda harus begini. Ada masanya anda harus menerima dan melupakan ini semua. Percayalah, kalau anda mau tabah dan menerima ini semua, maka anda akan menemukan diri anda seperti semula.”


Air mata kakek Li Chunfeng semakin deras keluar dari rongga matanya. Tubuhnya terguncang-guncang seakan-akan menumpahkan segala kepahitan hidup yang dia alami.


“Sudahlah kek, tak ada gunanya anda menyesali semua yang telah terjadi. Aku akan keluar, jaga baik-baik diri anda. Dan ingatlah bunuh diri adalah tindakan seorang pengecut!” setelah berkata begitu, Arya kemudian memutar tubuhnya hendak berjalan menuju pintu.


“Mulut manis mematahkan tulang. Perkataanmu yang lemah lembut memang telah meluluhkan kekerasan hatiku. Tapi maaf cucuku, jika kau tak mau membunuhku, lebih baik kita bertarung sampai salah satu diantara kita ada yang mati!” ucap kakek Li Chunfeng dengan tegas.


Arya tersentak dan cepat-cepat memutar tubuhnya menghadap si kakek. Dilihatnya sepasang rongga mata kakek Li Chunfeng menyala merah. Dan dirasakannya pula ada angin luar biasa keras melabrak ke arahnya. Cepat sekali Arya melompat ke kiri mengelakkan diri. Dia kaget luar biasa mendapati kakek itu akan mengambil sikap demikian.


“Aku sudah menduga bahwa kau pasti menyembunyikan kultivasi aslimu.”


Di sebelah samping, tiba-tiba terdengar letupan. Lalu tampak kepingan batu dari dinding-dinding ruangan bertabur ke udara. Disusul bentakan keras yang ternyata keluar dari kakek Li Chunfeng. Bersamaan dengan itu pula pedang pusaka yang bersinar merah, bergerak menusuk ke arah Arya.


Arya menghela nafas, kedua tangannya dikembangkan ke samping. Dengan begitu taburan batu yang melesat ke arahnya tertahan di udara dan jatuh luruh ke lantai. Untuk mengatasi lesatan tusukan pedang, ia rundukkan tubuhnya hingga tusukan pedang itupun lewat.


Sesaat suasana berubah gelap karena nyala lilin dan obor diruangan itu mati. Lalu terdengar deru keras disertai menggebraknya hamparan angin deras berhawa panas.


Arya dongakkan kepala. Tangan kanannya menyibak rambutnya yang terurai di wajahnya. Dalam kegelapan seperti itu ia masih dapat melihat adanya puluhan batu runcing tengah melesat ke arahnya. Dengan menghentakkan satu kakinya ke lantai, lesatan puluhan batu yang mengandung gelombang angin itupun menukik deras menghantam lantai ruangan.


Bummm!


Sesaat ruangan itu menjadi terang oleh benturan energi. Lantai berbatu keras berhambur ke udara. Tampaklah beberapa lobang besar menganga akibat hantaman puluhan batu runcing tadi.


“Kek, sebenarnya apa yang kau inginkan?” tanya Arya geram juga heran.


“Kalau kau tak mau membunuhku, maka lebih baik kita bertarung sampai mati. Biarkan nasib yang menentukan, aku ataukah kau yang akan mati. Jikapun aku yang harus mati artinya aku mati sebagai seorang kesatria. Mati dalam suatu pertarungan adalah kematian yang membanggakan bagi kaum pendekar atau kultivator seperti kita.” selesai berkata begitu kakek Li Chunfeng menggunakan kemampuan telekinesis untuk mengendalikan pedang pusakanya menyerang Arya.


Saat itulah, tiba-tiba terdengar suara berdesing. Hawa di ruangan juga sontak menjadi panas luar biasa. Satu larik sinar merah berkelebat laksana kilat menderu ke arah Arya. Memang benda yang berpijar sinar merah itu amat cepat hingga dalam sekedipan mata sudah menghantam si pemuda.


Namun entah bagaimana, Arya yang tadinya tegak berdiri memunggungi lesatan sinar merah itu tahu-tahu telah berbalik dan menangkis tebasan pusaka pedang itu dengan telapak tangan kirinya.


Bummmmmm!!


Ledakan keras terdengar ketika pedang itu beradu dengan telapak tangan Arya. Gelombang kejut dari benturan yang dilepaskan keduanya menyebar dan membuat seisi ruangan tergoncang hebat.


Pada saat yang sama, terlihat batu-batu dinding atap berjatuhan dari atas. Rupanya benturan tadi telah membuat ruangan itu roboh!


“Kek, cepat keluar..! Kau nanti akan tertimpa reruntuhan batu...!” seru Arya memperingatkan.


Tapi, kakek Li Chunfeng tetap saja tak bergerak. Ia masih duduk di atas batu tempat dirinya di belenggu. Arya memang maklum bahwa si kakek memiliki kemampuan khusus untuk dapat menghentikan objek apapun yang dikehendakinya. Akan tetapi ia tetap khawatir kalau-kalau kakek itu memang berniat mati ditimpa reruntuhan bagunan. Maka dengan cepat ia melesat hendak membawa kakek itu terbang meninggalkan bangunan tersebut.


Akan tetapi belum juga tangan Arya meraih tubuh si kakek, tiba-tiba laju gerakannya tertahan oleh suatu energi yang tak kasat mata. Detik berikutnya..


Bruuukk! Bruuuukk! Bruuuukk!


Reruntuhan atap telah luruh menimbun seisi ruangan. Tampaklah bagunan itu kini tertutupi kepulan debu yang tebal hingga disana tak kelihatan apapun. Arya dan kakek Li Chunfeng agaknya telah tertimpa reruntuhan batu.


Setelah agak lama, tiba-tiba terdengar suara bergeret. Dari kepulan asap itu meluncur kelebatan bayangan yang melesat ke atas, dan disusul selarik sinar merah yang mengejar kelebatan bayangan tadi. 


Di udara, kelebatan bayangan tadi membelah diri menjadi dua sosok bayangan. Yang satu, tampak meluncur deras ke bawah, dan yang satunya lagi melayang di udara.


Arya yang sebelumnya membawa terbang kakek Li Chunfeng, mendadak mendapatkan serangan. Tubuhnya dibuat terpental oleh hantaman energi yang dilontarkan si kakek. Setengah tombak lagi tubuhnya menghantam tanah, tiba-tiba tubuh pemuda ini lenyap dan tahu-tahu telah melayang berhadapan dengan kakek Li Chunfeng.


Baru saja Arya muncul berhadapan dengan si kakek, serangkum angin luar biasa kencang menderu keras ke arahnya. Pemuda ini tampak sedikit terkejut. Namun tak lama kemudian ia tersenyum sambil kibaskan tangan kanannya. Serangkum angin bersinar kuning menderu membuyarkan gelombang angin dari si kakek.


Di langit kilat tiba-tiba menyambar dan geledek menggemuruh. Kakek Li Chunfeng menyeringai. Dari tubuhnya keluar energi merah seperti asap yang kemudian mengepul menyelubungi seluruh tubuhnya. Energi asap itu cepat sekali telah membentuk seekor kera raksasa bewarna merah transparan. Tampaknya si kakek telah memeras seluruh energinya untuk secepatnya mengakhiri pertarungan ini. Dia sudah tidak perduli lagi jikapun harus mati. Pedang pusaka yang menyala merah segera disambarnya.


Blaaaarrr


Lagi-lagi terdengar guntur menggelegar. Menyusul sambaran kilat di langit. Suara guntur lagi-lagi merobek langit, kini makin dekat dan keras menggetarkan seluruh puncak bukit tempat berdirinya markas Manusia Iblis. Lalu halilintar berkiblat dahsyat, menerangi puncak bukit. Ujungnya menghujam ke bawah, menghantam salah satu bangunan disana. Bangunan itupun seketika hancur berkeping-keping. Beberapa anggota Manusia Iblis yang berada tidak jauh dari sana serta-merta terbanting jatuh duduk ke tanah. Semua orang yang berada di dalam markas segera menghentikan pertarungan, lalu mendongak menatap ke atas. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat kera raksasa bersinar merah tampak mengerikan, melayang berhadapan dengan sosok manusia yang terlihat samar-samar karena gelap dan sangking kecilnya.


“Li Xian, keluarkan senjatamu atau jurus andalanmu! Kali ini aku tidak akan main-main!” ucap kakek Li Chunfeng yang dari luar kelihatan samar-samar berada di dalam kening kera raksasa.


“Baiklah kalau kau memaksa.” Arya ulurkan tangan kanannya ke samping. Detik berikutnya tahu-tahu tangannya telah menggenggam sebilah pedang yang masih terbungkus oleh sarungnya yang berwarna putih salju dan terpahat ukiran-ukiran seperti pusaran angin. Itulah Pedang Pusaran Angin.


Begitu pedang itu ditarik dari sarungnya. Maka terpancarlah sinar putih yang menyilaukan mata. Perlahan-lahan sinar putih itu mulai memudar dan masuk ke dalam pergelangan tangan Arya.


“Huuhhh, sudah lama aku tertidur. Bahkan aku sudah lupa bahwa aku adalah milikmu. Lebih baik berikan saja pedang ini kepada orang lain jika kau selalu mengabaikan aku. Hmmm..” gerutu Yan Shau, roh dari Pedang Pusaka Pusaran Angin dengan dingin. “Ada apa kau membangunkan aku?!”


“Hentikan omelanmu dasar roh pedang cerewet! Kau ingin aku pakai atau tidak? Jika tidak, aku akan mengembalikanmu dan menggunakan pusaka lain!” sahut Arya tak kalah dingin.


“Baiklah, terserah kau saja. Aku sudah tidak perduli! Aku ingin tidur lagi.” tukas Yan Shau dengan nada menantang.


Arya tersenyum kecut. Sambil geleng-geleng kepala iapun lantas melemparkan Pedang Pusaran Angin ke arah kera raksasa.


Yan Shau yang hendak menguap, jadi terkejut bukan main. Matanya melebar menatap kera raksasa yang ada di hadapannya. Ia belum siap untuk menghimpun energi. Kini ia dipaksa untuk menyerang!