
“Tunggulah sebentar, Ratu. Aku akan melepaskan pakaian yang melekat di tubuhku ini untuk kemudian mengembalikannya kepada anda.”
Ratu Qian Yu menggelengkan kepalanya, diulurkannya tangannya memegang pipi Arya. Lalu dengan setulus hati dan penuh perasaan diciumnya bibir si pemuda. Di l*matnya bibir itu beberapa lamanya.
Arya sendiri hanyut dalam perasaan yang belum pernah dirasakannya. Memang inilah ciuman pertamanya. Dia merasa darahnya menjadi panas, dadanya berdebar-debar dan b*rahinya menjadi menggebubu. Namun dia cepat sadar diri. Perlahan-lahan dan dengan tubuh gemetar dia melangkah mundur. Jari-jari tangan kirinya dijentikkannya. Kejap kemudian ia telah menghilang dari tempat itu.
Hanya sesaat setelah Arya meninggalkan tempat itu, Ratu Qian Yu meraba bibirnya sendiri lalu mendongakkan kepalanya ke langit. Dadanya terasa tersayat-sayat tapi juga ada sedikit kebahagiaan disana. Dia tak sanggup lagi menahan runtuhnya air mata. Dia menangis hampir tanpa suara. Tangis seorang gadis yang dilanda gejolak perasaan tiada tertahankan lagi.
Dengan menahan perasaan yang bergejolak Sang Ratu kemudian berjalan meninggalkan pulau. Kembali ke kerajaan bawah danau.
Di depan sebuah ruangan, dua gadis berpakaian hitam buru-buru menjura ketika melihat kedatangan Sang Ratu. Lalu terdengar Sang Ratu berkata, “Sampaikan pada Qian Si dan Qianqiao, aku perintahkan pada mereka untuk melepaskan tamu-tamu kita lalu antarkanlah mereka ke atas danau.”
Setelah berkata begitu, Sang Ratu lalu masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia berjalan ke arah kaca perias, tangannya bergerak menekan sebuah tombol di lengan kanan kursi batu. Terdengar suara berdesing. Kaca perias di hadapannya tersebut terangkat ke atas. Lalu tampak sebuah celah yang merupakan pintu sebuah lorong pendek.
Setengah berlari dia memasuki lorong itu hingga sebuah ruangan berbentuk bundar. Dia berhenti dihadapan sebuah batu tinggi. Tangannya mulai bergerak menggurat-gurat batu itu. Perlahan-lahan bagian atas dari batu itu mulai membentuk kepala dan wajah seseorang. Rupanya Sang Ratu hendak membuat patung Arya.
***
Dua gadis berpakaian hitam ketat memasuki ruangan. Salah seorang di antaranya kemudian berkata,
“Kami mendapatkan perintah dari Ratu untuk menyampaikan kepada kalian agar melepaskan tamu kita dan lalu mengantarkannya ke tepi danau.”
Gadis berbaju kuning mengerutkan dahi, “Kenapa Ratu tak memerintahkan langsung kepadaku?”
“Qian Si, mereka tak mungkin berbohong. Kalau kau ragu, menghadaplah kepada Ratu dan tanyakanlah sendiri. Biar aku yang mengantarkan mereka.” Sahut gadis berbaju hijau.
Gadis berbaju kuning yang tidak lain adalah Qian Si memandangi dua gadis berbaju hitam ketat, lalu beralih memandang Putri Zhou Jing Yi yang tegak berdiri mematung dan terikat di pilar. Ia menghela nafas! Tanpa berbicara lagi ia lantas berjalan menuju pintu.
Namun si gadis seketika menghentikan langkahnya ketika didengarnya salah seorang gadis berbaju hitam berkata, “Ratu telah memasuki kamarnya, karena itulah kami diperintahkan kemari untuk memberitahukan kepada kalian agar melepaskan tamu-tamu ini.”
Mendengar hal itu, Putri Zhou Jing Yi mendesis dalam hati, “Sepertinya telah terjadi sesuatu diantara mereka. Aku harus mencari tahu, apa yang telah mereka lakukan.” karena dilanda penasaran, gadis ini semakin tak sabar lagi ingin segera di lepaskan.
Qian Si dan Qianqiao mengurutkan dahi, meski heran namun mereka tidak mau terlalu ambil perhatian. Sesaat kemudian, Qianqiao mulai berjalan menghampiri Putri Zhou Jing Yi. Tampak gadis ini menempelkan jari telunjuknya di tengah dadanya yang bulat menyembul sebagian. Ketika tangannya di sentakan ke depan, maka bersamaan dengan itu dari telunjuknya keluar selarik sinar hijau. Larikan sinar ini melesat mengenai tali yang mengikat Putri Zhou Jing Yi dan yang lainnya. Memutuskan tali yang bersinar biru tersebut!
Qianqiao lalu meletakkan tangan kanannya, mencengkeram tali biru yang mengikat sepasang pergelangan tangan Putri Zhou Jing. Menarik ikatan tali energi itu hingga putus! Setelahnya tangan si gadis bergerak menotok pangkal leher dan dada bagian atas sebelah kiri sang putri.
Untuk sesaat Putri Zhou Jing Yi masih diam, ia merasakan tubuhnya terasa kaku, linu dan perlahan-lahan energinya yang tersumbat mulai dapat ia kerahkan kembali. Setelah memulihkan diri, sang putri hendak mendamprat orang-orang yang telah menotok dan mengikatnya di pilar. Namun dilihatnya si gadis berbaju hijau tengah melepaskan totokan di tubuh Jenderal Sun Jian. Lalu ia memandangi sekeliling, tetapi gadis berbaju kuning yang dicarinya sudah tak kelihatan lagi di ruangan tersebut.
“Terimakasih..” kata Jenderal Sun Jian.
Jenderal Sun Jian menggeleng, “Tidak sepenuhnya semua ini adalah kesalahan kalian. Kami juga bersalah. Sebagai orang-orang kerajaan yang wilayahnya telah diusik, aku dapat memaklumi tindakan kalian.”
Sekali lagi si gadis tersenyum. Kemudian ia berjalan mendekati Heng Dao. Melepaskan tali yang menjerat pergelangan tangan orang tua itu, lalu melepaskan totokan di tubuhnya.
Tampak si orang tua menggeliat, merentangkan tangannya seperti seseorang yang baru bangun tidur. Perlahan sepasang mata orang tua ini terbuka. Ia langsung meraih kendi arak yang tergantung di pinggangnya. Menenggak kendi arak itu! “Gluuukkk.. gluuukk... gluukkk..”
“Aaahh.. segarnya!” desis si orang tua kemudian.
Qianqiao tersenyum tipis lalu katanya, “Mari, ikuti kami! Kalian akan kami antarkan ke atas.”
Sambil melangkah mendekati gadis berbaju hijau itu, Putri Zhou Jing Yi berkata, “Kami baru mau pergi jika Tabib Xian juga ikut bersama kami!”
Gadis berbaju hijau mengangguk perlahan, ia kemudian berpaling ke arah dua gadis berpakaian hitam ketat. “Apa kalian tahu dimana Tabib Xian saat ini?”
“Kami sebelumnya melihat Tabib Xian telah keluar bersama Ratu menuju kepermukaan, namun tak lama setelah itu Ratu kembali lagi seorang diri. Mungkin Tabib Xian telah menunggu kalian di luar... Dan karena itulah Ratu menyuruh kami untuk mengantarkan kalian ke atas.” Ujar salah seorang gadis berpakaian hitam tersebut.
“Mungkin setelah mengambil bunga energi, Tabib Xian memang menunggu kita di atas. Sebaiknya kita ikuti saja mereka.” berkata jenderal Sun Jian.
Di depan istana, tampak dua orang gadis berpakaian hitam ketat dan seorang gadis berbaju hijau berjalan di depan. Mereka melangkah cepat menuju pintu gerbang istana. Putri Zhou Jing Yi, jenderal Sun Jian dan Heng Dao mengikuti dengan pakaian merah yang masih melekat ditubuh masing-masing. Pakaian yang disediakan untuk mereka ketika mereka akan menghadap Sang Ratu.
Tak lama kemudian, mereka semua sudah keluar dari gerbang. Berenang menuju kepermukaan danau!
Di tepi danau, Arya tersenyum melihat kemunculan Putri Zhou Jing Yi dan yang lainnya. Tak berselang lama orang-orang yang muncul di permukaan danau itu telah berdiri di tepi danau, menatap si pemuda tanpa ada yang berbicara.
Tiga gadis kerajaan Danau Lembah Peri itu anggukkan kepala satu persatu, untuk pertama kalinya mereka tersenyum pada Arya.
“Selamat jalan… ku harap kedatanganmu kesini bukanlah yang terakhir kalinya.” Kata gadis berbaju hijau. Rupanya hatinya terasa berat melepaskan kepergian si pemuda.
Arya perlahan mendekati gadis berbaju hijau. Ketika kepala si pemuda mendekat, si gadis cepat-cepat tersurut mundur. Arya menjadi tertawa karenanya.
“Bagaimana mungkin aku akan melupakan gadis-gadis cantik disini. Tentu aku akan datang kembali ke sini untuk memenuhi janjiku pada Ratumu.”
Perkataan pemuda itu membuat semua orang menjadi terheran-heran namun sebelum gadis berbaju hijau bertanya lebih jauh, Arya telah membalikkan badannya. Sambil lambaikan tangan kanannya, dia melangkah menuju ke pepohonan.
Di bawah sebuah pohon si pemuda menghentikan langkahnya, berpaling pada tiga gadis itu. Yang dipandangi kembali mengucapkan ‘selamat jalan’. Arya tersenyum lalu memandangi Putri Zhou Jing yang lainnya yang sejenak kemudian telah berdiri di sampingnya. Kakinya kini kembali melanjutkan langkahnya memasuki hutan, menuju ke arah tenggara.