Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Kemunculan Panglima Kegelapan


Patriark Pao Shaowen berjalan dengan wajah tertekuk, sudah beberapa hari terakhir dia mengerahkan anggotanya untuk mencari keberadaan manusia yang menjadi wadah Raja Kegelapan, namun sampai sekarangpun informasi terkait keberadaannya belum juga diketahui.


Tidak punya pilihan lain, Patriark Pao Shaowen memutuskan akan melakukan ritual guna memanggil Raja Kegelapan. Jika usahanya kali ini juga tidak berhasil, maka semua rencana yang telah disusunnya akan sia-sia.


Rupanya kemunculan hewan iblis dari laut kuantan adalah ulah dari Patriark Pao Shaowen, dia begitu percaya diri bahwa usahanya membangkitkan Raja Iblis pasti akan terwujudkan. Maka dari itu dia mengirim anggotanya dan juga hewan iblis untuk menyusup di tiga kerajaan. Namun siapa sangka jika semua rencananya tersebut sekarang menjadi berantakan, karena kunci satu-satunya untuk membangkitkan Raja Iblis yaitu Raja Kegelapan kini malah menghilang entah kemana.


Jika sampai para hewan iblis mengetahui bahwa Raja Kegelapan kini sudah tidak lagi ada dipihaknya, ia khawatir para hewan iblis tersebut nantinya akan membelot menyerang mereka. Bukan hanya itu, ancaman dari pihak kerajaan serta para pendekar juga turut membuat Patriark Pao Shaowen merasa tersudutkan.


"Bagaimana, apakah semuanya sudah siap?" Tanya Patriark Pao Shaowen pada salah seorang, ketika baru saja dia sampai di altar pemujaan.


Orang yang di tanya hendak menjawab, namun tiba-tiba terdengar suara yang tidak lain adalah Patriark Chao Yun Kwok.


"Ternyata kau sudah lebih dulu ada di sini.."


Patriark Pao Shaowen hanya menoleh sekilas lantas kembali menatap orang yang di tanyanya tadi.


"Semuanya sudah siap, Patriark.." Orang itu menunduk dalam.


Tanpa banyak bicara, Patriark Pao Shaowen dan Patriark Chao Yun Kwok berjalan mendekati patung yang menjadi sesembahan mereka. Seperti yang pernah di jelaskan, patung itu menyerupai manusia yang memiliki dua tanduk, di tangan kanannya memegang tombak garpu dan memiliki ekor panjang bercabang dua. Namun bedanya, sekarang patung itu sudah tidak lagi memiliki ruh semenjak Raja Kegelapan telah mendapatkan wadah baru, yang tidak lain adalah tubuh Chen Ren.


Sekitar 17 anggota Iblis Berdarah juga telah bersiap di posisinya masing-masing, mereka semua berdiri membentuk lingkaran di depan patung iblis.


"Sekarang..." Seru Patriark Pao Shaowen, kemudian dia memotong pucuk rambutnya dengan pisau ditangan kanannya.


Patriark Chao Yun Kwok juga melakukan hal yang sama. Setelahnya, kedua Patriark Iblis Berdarah tersebut lalu menggores pergelangan tangan kiri masing-masing dan kemudian melumuri rambut mereka yang terpotong tadi dengan darah mereka sendiri. Keduanya lantas meletakkan rambut yang telah di basahi darah tersebut ke atas kaki patung iblis di hadapan mereka.


Sementara itu, 17 anggota Iblis Berdarah mulai mengiris pergelangan tangan masing-masing lalu meneteskan darah mereka ke titik dimana mereka berdiri. Darah tersebut mengalir mengikuti jalur cekungan di atas batu yang mereka pijak dan pada akhirnya semua darah tersebut berkumpul di bawah kaki patung iblis.


"Tahap kedua!" Seru Patriark Pao Shaowen.


Semua anggota Iblis Berdarah yang berdiri melingkar mulai komat-kamit membaca mantra, begitu juga Patriark Pao Shaowen dan Patriark Chao Yun Kwok. Setelah selesai membaca mantra, mereka semua lalu mengeluarkan energi kegelapan dari tubuh masing-masing. Energi kegelapan tersebut di tujukan ke patung iblis.


Proses tersebut berlangsung selama beberapa menit, ketika tiba-tiba sepasang mata patung iblis tersebut menyala merah. Tidak lama berselang, terdengar suara berat yang menggema di seluruh ruangan.


"Ada apa kalian memanggilku?"


Mendengar suara tersebut, baik Patriark Pao Shaowen dan Patriark Chao Yun Kwok tersenyum lega dan segera berlutut.


"Maafkan kami yang mulia, kami sudah tidak punya cara lain untuk mencari anda." Balas Patriark Pao Shaowen dengan nada rendah. Dia khawatir Raja Kegelapan akan marah karena ritual ini hanya boleh dilakukan jika situasi benar-benar mendesak.


"Aku tahu apa sedang yang kalian khawatirkan. Tapi untuk sementara waktu aku tidak bisa kembali, saat ini aku sedang menyiapkan tubuh manusia untuk bisa menerima semua kekuatanku. Sebagai gantinya aku tidak ada di sini, aku akan memanggil beberapa panglimaku untuk membantu kalian."


Suara itu menghilang, namun kembali terdengar hanya di kepala Patriark Pao Shaowen dan Patriark Chao Yun Kwok. "Jika kalian mengalami kesulitan, kalian bisa memanggilku dengan teknik ini."


Dua cahaya dari mata patung iblis melesat menuju kepala Patriark Pao Shaowen dan Patriark Chao Yun Kwok. Bersamaan dengan itu, di kepala mereka berdua muncul informasi sebuah teknik maupun mantra yang berguna untuk memanggil Raja Kegelapan.


"Terimakasih banyak yang mulia.." Kata Patriark Pao Shaowen dan Patriark Chao Yun Kwok bersamaan.


Dari tongkat garpu patung iblis muncul bola api, yang lama kelamaan semakin membesar dan hampir menutupi seluruh badan patung. Ruangan ritual tersebut kini menjadi sangat panas, namun anehnya semua orang yang berada di sana hanya merasakan hangat, padahal suhu panas dari bola api tersebut dapat membuat dinding-dinding batu di ruangan tersebut terbakar.


Tidak lama aura di ruangan itu mendadak semakin mencekam, bola api besar tersebut mulai menyusut dan membentuk tiga sosok hitam, berdiri di samping sebelah kanan patung iblis. Ketiga makhluk tersebut tidak memiliki tubuh kasar, mereka hanya berupa asap yang membentuk tubuh menyerupai manusia namun wajah mereka seperti macan, ular dan satunya lagi seperti buaya. Ketiganya sama-sama memiliki dua tanduk di kepala.


"Kalian bertiga, bantulah mereka menguasai kekaisaran ini."


"Kami mengerti dan siap memenuhi perintah, yang mulia." Balas ke-tiga makhluk tersebut.


"Kalian tidak perlu khawatir, tiga panglimaku ini akan melindungi kalian selagi aku tidak ada. Walaupun aku tidak disini, kalian tetap harus menjalankan ritual pengorbanan darah gadis perawan dan bayi. Dua purnama lagi aku akan kembali, dan pada saat itu kita akan membangkitkan Raja Iblis."


Setelah berkata demikian, cahaya merah menyala di mata patung iblis menghilang.


"Hei manusia, sekarang jelaskan apa rencana kalian?" Tanya sosok makhluk yang berwajah menyerupai macan. Dia bernama, panglima Duscha.


Sementara makhluk yang berwajah ular bernama Yeva, dan yang satunya berwajah buaya bernama Todor. Sebenarnya jumlah mereka ada 4, namun yang satunya sudah tewas di tangan Patriark Dai Wubai dari Sekte Pedang Suci yang berada di benua daratan utara. (Episode 38 - Makhluk Asap)


"Untuk saat ini semua rencana kami masih berjalan mulus, namun kami membutuhkan kalian jika terjadi sesuatu di luar perkiraan." Balas Patriark Chao Yun Kwok. Lalu dia menjelaskan semua rencana Iblis Berdarah, yang mereka kedepankan untuk saat ini adalah merebut kekuasaan kerajaan Goading, Dasha dan Guangzhou.


"Baiklah, kalau begitu aku akan melihat sejauh mana perkembangan dari rencana kalian itu." Ucap panglima Yeva, suaranya terdengar melengking, sedikit cempreng.


Semua orang terlihat terkejut mendengar suara makhluk berwajah ular tersebut, mereka tidak menyangka makhluk seseram itu memiliki suara yang bertolak belakang, bahkan terkesan lucu. Mereka semua berusaha menahan diri untuk tidak tertawa, jelas saja mereka tak mau menyinggung makhluk berwajah ular tersebut.


"Jangan tuan, aku khawatir keberadaan kalian justru malah akan merusak rencana kami." Sergah Patriark Pao Shaowen.


"Tenanglah, aku tidak akan merusak rencanamu. Aku hanya ingin melihat sejauh mana kekuatan manusia-manusia di daratan ini." Selepas berkata demikian, panglima Yeva menghilang dari tempatnya.


"Tuan... Ini di luar rencana kami." Patriark Pao Shaowen nampak tidak terima, namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


***** 


Langit mulai temaram terlihat indah mempesona, angin berhembus membawa terbang dedaunan yang berguguran, jauh di ufuk barat matahari sebentar lagi akan tenggelam di bawah garis cakrawala.


Arya tengah duduk di atas dahan pohon memandangi sebuah goa, dia menajamkan indera penglihatannya untuk melihat dengan jelas situasi di dalam sana.


Arya terpaksa menunda rencananya menghancurkan Sekte Iblis Berdarah, sebab situasi saat ini di luar perkiraannya. Keterlibatan hewan iblis yang mengancam kerajaan jelas tidak bisa di sepelekan. Karena itulah Arya harus menyusun rencana se-efektif mungkin agar dapat menyelesaikan masalah ini secepatnya, dan yang pastinya dia juga harus mempertimbangkan korban dari pihak kerajaan maupun para penduduk jika nantinya pertarungan sungguh terjadi. 


Meskipun Arya percaya dengan kemampuannya sanggup menghadapi semua pendekar aliran hitam dan seluruh hewan iblis yang menyusup, tetapi dia tidak bisa serta-merta melakukan penyerangan, sebab jika ia melakukannya maka dia akan di anggap sebagai pemberontak. Arya harus membongkar indentitas semua penyusup terlebih dulu sebelum melancarkan aksinya, dengan begitu tidak akan terjadi kesalah-pahaman.


Setelah membaca situsi keamanan di dalam goa, Arya kemudian mengenakan topeng yang dulu sering di gunakan Zhen Long untuk menutupi indentitasnya, lantas dia berkelebat secepat kilat menerobos masuk dan membunuh penjaga tanpa mengundang perhatian.


Dengan langkah senyap, Arya berjalan perlahan dalam kegelapan. Sampailah dia di ujung goa. Disana, Arya tidak melihat apapun, hanya terdengar suara tetesan air dari batu stalaktit yang meruncing ke bawah dari langit-langit goa.


Meski tidak ada apapun disana, namun Arya terlihat sedang mencari sesuatu, dia tahu jika terdapat sebuah pintu rahasia untuk masuk ke dalam markas penyusup.


Satu persatu batu stalagmit dia gerakkan. Berdasarkan petunjuk dari ingatan penjaga goa yang telah dibunuhnya, untuk membuka pintu rahasia, dia harus menggeser sebuah batu stalagmit yang tidak terlalu besar.


Kreekk..


Suara gesekan batu terdengar memecah kesunyian.


Lantai batu di hadapan Arya terbelah, disana terdapat anak tangga yang terbuat dari batu, menurun ke bawah.


Arya tersenyum kecut, dia cukup terkesan melihat tempat persembunyian ini, karena pastinya para penyusup dari sekumpulan pendekar aliran hitam telah mempersiapkan semua rencana mereka dengan matang. Sampai-sampai tempat persembunyiannya saja begitu sulit di temukan, siapa yang akan menyangka jika di balik lantai batu goa ini terdapat ruangan rahasia.


Seett... Seett..


Beberapa benda tajam menderu membelah angin melesat ke arah Arya.


Rupanya pintu batu tersebut merupakan salah satu sistem keamanan markas ini, yang dengan terdengarnya suara pintu batu tersebut terbuka, maka para penghuni di dalamnya bisa mengetahui jika ada orang yang masuk.


Arya masih terlihat tenang, karena di matanya lesatan beberapa benda tajam tersebut terlihat lebih lambat. Maka dengan beberapa gerakan tangannya, dia berhasil menangkap semua pisau yang mengarah padanya. Kini kedua tangannya menggenggam beberapa bilah pisau.


Namun serangan itu tidak berhenti disana, lesatan beberapa benda tajam dari dalam bawah ruangan lagi-lagi mengarah ke Arya.


Dengan cepat, Arya mengayunkan tangannya, melemparkan beberapa pisau yang berada di tangan kanannya.


Trang... Trang... Akkhhh..


Suara dentingan logam saling beradu, yang di susul beberapa pekikan seseorang dari dalam ruangan dan suara berdebam tubuh jatuh ke lantai.


"Serang..." Terdengar seruan menggema dari dalam ruangan, tidak berselang lama keluar belasan orang berkelebat menyerang.


Bug.. Buugg... Braaakk...


Arya masih berdiri kokoh di tempatnya, tangannya dengan gesit dan lihai menyambut setiap serangan yang datang.


Setiap orang yang berkelebat hendak memukul ataupun menyabetkan senjata, di buat berpentalan menghantam dinding goa.


Ssstt... Ssstt...


Arya mengayunkan tangan kirinya yang memegang beberapa pisau.


Pisau-pisau itupun melesat, sebagian dapat di tangkis lawan namun sebagian lagi menancap tepat ke bagian vital, seperti mata, dahi dan jantung.


Kini tersisa delapan orang yang berdiri di hadapan Arya. Sebagian telah tewas sementara lainnya belum bisa bangkit karena terluka parah. Mereka sedang memulihkan diri.


"Sebenarnya aku paling tidak suka membunuh, tapi melihat kalian, sepertinya kalian memang pantas untuk mati."


Setelah berkata demikian, Arya menghilang dari tempatnya, berlari secepat kilat dan memukul semua lawannya tanpa perlawanan. Sebenarnya bukan tanpa perlawanan, namun karena pergerakan Arya yang tidak dapat di lihat, maka mau tidak mau mereka harus merelakan nyawa.


Nasib kedelapan orang tersebut mati mengenaskan dengan kondisi tubuh berlubang, kepala hancur karena pukulan, sementara dua orang telihat menggantung, tewas dengan tubuh tertancap stalaktit runcing di atas langit-langit goa.


Melihat kematian rekan-rekannya, sisa orang yang tengah memulihkan diri nampak pucat, tubuh mereka tidak bisa berhenti gemetar. Mereka tidak menyangka orang bertopeng tersebut begitu kuat, bahkan dapat mengalahkan mereka semua dalam waktu singkat.


"Tidak perlu repot-repot memulihkan diri, sebaiknya perbaikilah hidup kalian di kehidupan selanjutnya."


Arya menghentakkan kakinya ke lantai, akar-akar mencuat dari lantai batu dan melilit tubuh orang-orang yang masih hidup. Detik kemudian, akar-akar tersebut meremukkan tulang-tulang mereka. Tewas dengan jeritan memilukan.


'Api Suci'


Kedua lengan Arya di selimuti api biru, lalu diarahkannya ke satu persatu mayat. Membakar semua jasad tersebut sampai menjadi abu.


Sebenarnya, teknik api suci milik kakeknya Zhen Long hanya bisa di gunakan dengan api putih, namun Arya telah berlatih keras, merubah aliran energinya agar bisa menggunakan teknik tersebut tanpa menciderainya. Namun tentu saja, tanpa menggunakan api putih, teknik api suci milik Arya tidak sekuat teknik api suci milik Zhen Long.


Di balik topeng, wajah Arya nampak masam, ada perasaan bersalah setelah membunuh mereka semua, sebenarnya perasaan bersalah seperti ini selalu saja menghantui hatinya, karena bagaimanapun nyawa seseorang amatlah berharga. Namun dia tidak punya pilihan lain, jika saja masih terdapat kebaikan di hati lawannya, pasti dia tidak akan membunuh mereka.


Setelah merasa agak tenang, Arya kemudian berkelebat memasuki ruangan bawah goa. Disana ternyata hanya terdapat satu ruangan yang di penuhi bongkahan batu, namun ruangan tersebut cukup untuk menampung puluhan orang.