
Dengan posisi yang masih tengkurap di atas tanah, Zhiyuhan mengerutkan dahi melihat orang-orang nampak seakan ketakutan setelah mengetahui identitas pria gagah yang menyerangnya.
"Hahaha..." Zhiyuhan tiba-tiba tertawa setelah memuntahkan darah. Lalu dia berguling-guling di atas tanah, membuat semua orang heran.
Salah seorang wanita melompat dan mendarat beberapa tombak di samping Musang Api. Wanita itu berpakaian serba putih dengan rambut di sanggul dua dan ikat kepala biru yang melekat melingkar di kepalanya.
"Aku tidak perduli kau benar-benar Musang Api atau hanya mengaku-ngaku saja. Karena kau telah berani mengaku sebagai Musang Api, maka kau harus mati."
Tiba-tiba tanah yang menjadi pijakan wanita itu retak, dan kerikil-kerikil batu serta tanah terangkat ke udara seakan tidak ada gravitasi.
Dalam sekejap kerikil batu serta tanah yang mengambang tersebut meluncur cepat menyerang Musang Api. Sehingga menciptakan ledakan demi ledakan yang sampai menggetarkan seluruh Markas Pedang Suci.
Semua orang segera menjauh agar tidak terkena serangan nyasar, mereka tidak ingin ikut campur pertikaian kedua kultivator tersebut.
Tempat berdirinya Musang Api kini sepenuhnya tertutupi kepulan asap serta debu, sedangkan di sekelilingnya terlihat berjejer batu-batu kerikil serta tanah yang melayang mengepung, siap kembali menyerang.
"Tidak ku sangka aku akan bertemu denganmu lagi, Liu Woo Jhi. Permata putih dari Sekte Sembilan Merpati." Terdengar suara mengudara sebelum kepulan asap tersapu terbawa angin.
Wanita berjuluk Permata Putih menaikkan alis, dia tersenyum kecut melihat luapan energi dari tubuh Musang Api. Meski demikian, wanita tersebut tidak bisa mengukur kekuatannya.
"Setelah ratusan tahun berlalu, ternyata kultivasimu tidak jauh berbeda dari saat terakhir kita bertemu.."
Musang Api tersenyum mengejek, walaupun sudah 300 tahun lebih dirinya menutup diri namun dia masih mengingat dulu kekuatannya sebanding dengan wanita itu. Namun kini kekuatannya sudah jauh berbeda, karena dirinya telah mencapai Pendekar Langit. Sedangkan wanita berjuluk Permata Putih tersebut hanya berada di tahap Pendekar Bintang tingkat 3. Perbedaan yang sangat jauh bagaikan langit dan bumi.
Meski perbedaan mereka hanya selisih satu tahap, namun seorang kultivator tahap Pendekar Langit awal memiliki kekuatan yang setara dengan seratus kultivator Pendekar Bintang puncak. Jangankan selisih satu tahap, selisih satu tingkat saja di tahap Pendekar Bintang sama seperti perbedaan kekuatan antara Pendekar Awal dengan Pendekar Pertapa. Bisa di ibaratkan seperti perbedaan kekuatan antara bayi dengan pria dewasa.
"Sampai kapanpun kau tidak akan bisa membalaskan dendam mu itu, permata putih.. Hahaha..." Musang Api tertawa sambil bersedekap. "Sekarang kekuatan kita sangat jauh berbeda, meskipun ada seribu orang sepertimu, kalian hanyalah semut di mataku yang bisa ku lenyapkan kapanpun dengan apiku."
"Jadi kau benar-benar Musang Api." Liu Woo Jhi mendengus kesal, dia mengeratkan kepalan tangannya lalu menghentakkan kedua tangannya ke arah Musang Api. Yang bersamaan dengan itu, muncul gelombang pasir menggulung tempat berdiri Musang Api hingga membuat cekungan tanah yang dalam.
Mata Liu Woo Jhi terbelalak jantungnya seolah berhenti berdetak ketika tiba-tiba di hadapannya muncul Musang Api yang siap menghantam tubuhnya dengan pukulan api.
Namun sebelum Musang Api berhasil memukul targetnya, tiba-tiba tubuhnya terpental sebab terkena lemparan kerikil yang datang entah dari mana.
Meski hanya terkena serangan kerikil namun serangan tersebut membuat Musang Api terlempar sampai puluhan meter dan merobohkan beberapa pohon yang membentur tubuhnya.
Setelah berhasil menguasai tubuhnya, Musang Api yang masih terhempas tiba-tiba menghilang dan muncul kembali di hadapan Liu Woo Jhi. Dia menatap wanita itu dengan teliti, dia yakin jika serangan tadi bukanlah berasal dari wanita itu.
"Siapapun yang menyerangku tadi, keluarlah atau ku bunuh wanita ini."
Musang Api yang tersulut emosi bersiap kembali menyerang, dia berniat memancing pelaku yang telah menyerangnya tadi menampakkan diri. Kini dia melesat bagaikan burung dan menukik tajam ke arah Liu Woo Jhi, siap menghantamkan pukulan apinya.
Dbuukk... Jderrr...
Suara benturan dua benda keras terdengar nyaring seiring gelombang kejut bertekanan kuat meretakkan tanah hingga radius puluhan meter. Bahkan selubung segel pelindung Markas Pedang Suci sampai bergetar hebat. Dampak benturan energi itu juga membuat awan yang berada di atas pertarungan tersebut nampak terbelah.
"Hentikan!! Jangan membuat keributan di markas kami. Jika kalian ingin bertarung, pergilah dari sini." Terdengar suara bentakan dengan tekanan aura begitu kuat berasal dari atas.
Semua orang mengalihkan perhatian ke arah sumber suara tersebut. Mereka mendapati dua orang berpakaian putih dengan lambang pedang di bahu kanan sedang melayang, menatap marah ke arah Musang Api.
Musang Api yang terkejut pukulannya dapat di tahan tembok akar yang melindungi Liu Woo Jhi, nampak panik karena saat ini tangannya terjebak terlilit oleh akar tembok tersebut.
Saat mendengar suara bentakan, Musang Api lantas mengalihkan pandangannya ke atas. Dia yakin orang itulah yang menghalangi dirinya menyerang Liu Woo Jhi.
"Kau..." Suara Musang Api seolah tersangkut, dia begitu terkejut saat melihat siapa orang yang melayang di atas sana.
Seorang pria berjanggut panjang tersenyum kecut, "Meskipun kau telah mengambil tubuh orang sebagai wadahmu namun mataku ini tidak akan bisa kau tipu. Ternyata kalian sudah mulai bergerak. Baiklah sepertinya aku akan menghabisi kalian semua, di mulai darimu."
Musang Api terlihat begitu ketakutan, dia jelas mengingat siapa pria berjanggut panjang tersebut. Yang tidak lain adalah Xie Huang, salah satu orang yang paling dihidarinya di benua daratan utara.
Musang Api sebenarnya tidak pernah menyangka jika sosok yang ditakutinya itu ternyata berada di Sekte Pedang Suci. Mendapati ancaman diambang mata, Musang Api segera mengerahkan seluruh kekuatannya untuk dapat melepaskan tangannya dari lilitan tembok akar di hadapannya.
"Percuma, kau tidak akan ku biarkan lolos." Ucapan Xie Huang masih mengudara sedangkan sosoknya telah berpindah tempat, membelah tubuh Musang Api dengan tangan kosong tanpa kesulitan seperti membelah tahu.
Separuh tubuh Musang Api jatuh tergeletak dengan darah mengucur deras menciptakan genangan darah di tanah. Sedangkan separuh tubuhnya lagi masih menggantung di udara dengan tangan yang masih terjerat tembok akar.
Semua orang dapat melihat dengan jelas sosok asap hitam yang membentuk tubuh manusia lengkap dengan wajah, mata merah menyala, kuping panjang, mulut lebar yang memperlihatkan dua taring runcing dan memiliki dua tanduk di kepala.
Berbagai pertanyaan mengisi kepala setiap orang.
"Mungkinkah itu yang di katakan nenek sebagai makhluk kegelapan?" Zhiyuhan menaikkan alisnya.
Sementara itu sosok berpakaian putih lain yang melayang di udara dengan secepat kilat menyerang asap hitam tersebut. Dia tidak lain adalah Patriark Dai Wubai.
Meski makhluk itu hanya berupa asap, namun Patriark Dai Wubai dapat menangkapnya dengan sekali gerakan.
"Si.. si.. siapa kau?" Makhluk tersebut nampak begitu ketakutan, dia seperti melihat dewa kematian pada sosok berpakaian putih tersebut. Pasalnya kekuatan Patriark Dai Wubai sangat jauh di atasnya.
"Apakah penting kau mengetahuinya, karena sebentar lagi kau akan ku lenyapkan." Tangan Patriark Dai Wubai yang mencengkram leher makhluk tersebut tiba-tiba menyala jingga. Seiring dengan itu, udara di sekitar mereka berubah menjadi panas seperti menguap.
Raungan keras makhluk tersebut mengudara sampai dapat terdengar jauh puluhan mil, menyebabkan gempa berskala besar hingga membuat pepohonan dan sebagian kecil bangunan pemukiman penduduk runtuh.
"Mau mati saja kau masih berusaha merugikan orang lain." Patriark Dai Wubai memperkuat cengkraman tangannya hingga membuat makhluk tersebut hancur.
Wujud makhluk asap tersebut terlihat seperti di telan sinar jingga, sebelum akhirnya sinar itu menghilang bersamaan dengan udara yang kembali normal.
Seluruh tetua dari berbagai sekte yang melihat kejadian tersebut, nampak canggung sekaligus kagum. Mereka tentu mengenal nama besar Patriark Dai Wubai.
Menyaksikan langsung kekuatan Patriark sekte nomor satu aliran putih benua daratan utara tersebut membuat nyali mereka ciut. Mereka jelas tidak mau menyinggung Patriark Dai Wubai, kejadian tadi sudah cukup menyurutkan mental mereka.
Satu persatu orang yang sebelumnya bersikeras ingin masuk ke Markas Pedang Suci meminta maaf sebelum pamit pergi meninggalkan tempat tersebut. Mereka semua kembali dengan kekecewaan karena tidak bisa menyelidiki cahaya apa yang terpancar dari Markas Pedang Suci, selain penjelasan dari para penjaga gerbang.
"Terimakasih karena tuan berdua telah menyelamatkan saya.." Liu Woo Jhi menelangkupkan tangan sambil menundukkan badan ke arah Patriark Dai Wubai dan Tetua Xie Huang yang berdiri di hadapannya.
"Sama-sama nona, kami sebenarnya juga sedang memburu makhluk seperti mereka. Tidak di sangka salah satu dari mereka malah datang sendiri mengantarkan nyawa." Balas Patriark Dai Wubai ramah dan diakhiri dengan senyuman tipis. Nampaknya Patriark Dai Wubai masih mencemaskan sesuatu.
"Makhluk seperti mereka?" Liu Woo Jhi mengerutkan dahi. "Maaf tuan, sebenarnya siapa makhluk tadi. Dan kenapa dia bisa ada di dalam tubuh Musang Api."
"Hmmm.. jadi itu tubuh Musang Api, empat bersaudara dari Hutan Merah yang telah lama menghilang." Tetua Xie Huang menoleh ke arah Patriark Dai Wubai, dan di balas Patriark Dai Wubai dengan anggukan kepala.
"Nona, sebaiknya anda kembalilah. Tidak ada yang istimewa dari cahaya yang berasal disini. Cahaya itu hanyalah luapan inti energi alam. Kami menutup diri bukan karena merahasiakan hal ini pada orang lain, namun kami hanya tidak mau ada orang luar yang memanfaatkan situasi ini." Ucap Patriark Dai Wubai ramah.
"Sekali lagi terimakasih dan maaf karena aku telah membuat kekacauan disini." Meski kecewa karena rasa penasarannya belum terjawab, Liu Woo Jhi hanya bisa tersenyum sebelum pamit pergi.
Ketika Patriark Dai Wubai dan Tetua Xie Huang hendak terbang, tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda.
"Ternyata ilmu sinar pengusir malam milik anda benar-benar luar biasa, tuan."
Kening Patriark Dai Wubai mengerenyit tebal, tidak banyak yang mengetahui nama teknik yang dimilikinya tersebut, bahkan tetua Xie Huang saja tidak mengetahuinya. Kini justru ada seorang pemuda lusuh yang mengenali tekniknya tersebut.
"Siapa kau sebenarnya?" Patriark Dai Wubai jelas tidak percaya bahwa pemuda yang terlihat seperti pengemis tersebut hanyalah manusia biasa.
"Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku takut." Pemuda lusuh tersebut menutup mukanya dengan kedua tangan lalu duduk berjongkok, membelakangi Patriark Dai Wubai.
Tiba-tiba Patriark Dai Wubai berdiri di hadapan pemuda lusuh tersebut. "Jangan membuatku menanyakan hal itu sekali lagi."
Perlahan pemuda lusuh itu membuka mukanya dan tersenyum lebar, dia memiringkan kepalanya sambil mengedipkan matanya berulang kali.
Patriark Dai Wubai tersenyum kecut, dia sedikit jengkel melihat kekonyolan pemuda lusuh itu.
"Siapa.."
"Huuusstt.." Pemuda lusuh itu meletakkan jari telunjuknya di bibir, dia menengok ke kanan dan kiri seolah sedang memastikan situasi.
Mata Patriark Dai Wubai melebar saat melihat pemuda lusuh itu mengeluarkan tongkat dari dalam tubuhnya.
"Aku mengerti, sebaiknya kita bicarakan di dalam."