
“Apa yang terjadi?” kata kakek itu kembali. Matanya yang juling memandang berkeliling, ke wajah-wajah orang-orang yang berdiri di halaman itu. Kemudian dipandanginya wajah kepala desa Chen Chuankai dan Chen Xule.
Pada saat itu Arya telah menjejakkan kakinya keluar dari kepungan orang-orang. Terlintas dalam benaknya untuk pergi saja dari tempat itu, namun segera diurungkannya karena dia tidak mau tindakannya itu akan semakin memperkuat tuduhan orang-orang tentang dirinya yang ingin menculik gadis-gadis. Untuk itu dia tetap di tempat, menunggu saat yang tepat untuk menjelaskan semuanya agar kesalah-pahaman tentang dirinya dapat diselesaikan dengan cara baik-baik.
Kakek tua bermata juling kemudian melompat menghampiri Arya, dengan sepasang mata julingnya ia memandangi pemuda itu dari atas sampai ke ujung kaki. Arya membalasnya dengan senyuman ramah.
Melihat pikiran kakek dihadapannya itu, tiba-tiba Arya jadi teringat cerita dari kakeknya Zhen Long mengenai orang tua itu. Kakeknya dulu pernah bercerita bahwa selama mengembara di benua daratan timur, ia pernah berjumpa dengan seorang kultivator yang berasal dari daratan tengah sama seperti dirinya. Dan orang itu sudah lebih dulu menetap di daratan timur untuk mengasingkan diri. Arya sama sekali tidak menyangka jika orang yang diceritakan oleh kakeknya itu adalah kakek bermata juling yang terlihat lemah dan sekarang berdiri di hadapannya tersebut.
“Apa terjadi disini, anak muda? Kenapa mereka semua sampai menyerangmu?” tanya si kakek setelahnya.
Arya hendak menjawab, namun tiba-tiba salah seorang dari pengawal desa itu berseru lantang.
“Jangan biarkan dia sampai melarikan diri! Cepat kepung!”
Maka semua orang segera berkelebatan mengurung Arya. Tapi sebelum mereka kembali menyerang si pemuda, si kakek yang sebenarnya bernama Gao Lishi cepat-cepat menghentikan mereka dengan berseru lantang. “Tahan! Biarkan dia bicara!”
Suara si kakek tersebut laksana gelagar guntur, yang bukan hanya keras tapi juga mengandung gelombang kejut hingga membuat semua orang yang ingin menyerang tadi dibuat terpental beberapa tombak karenanya.
Arya yang berada di tengah kepungan orang-orang itupun masih tampak tenang-tenang saja. Bahkan seruan lantang si kakek tidak membuatnya terpengaruh sedikitpun.
Para penjaga desa yang tadi terpental kemudian memandangi si kakek. Mereka tidak mengenali orang tua itu, karena itu terbesit dalam benak mereka bahwa si kakek termasuk kawan si pemuda. Meski begitu tampak keragu-raguan pada diri mereka untuk mengambil tindakan. Kemudian mereka mengalihkan pandangan menatap kepala desa Chen Chuankai untuk menunggu perintah dari Sang kepala desa tua itu.
“Apakah aku sedang berhadapan dengan Pendekar tua yang telah lama mengasingkan diri, seorang pendekar yang berjuluk Si Lengan Api?” Kata Arya yang diakhiri dengan senyuman ramah.
Dahi si kakek mengkerut tebal, wajahnya yang dipenuhi garis-garis usia itupun makin terlihat keriput. Diamatinya si pemuda dengan mata menyorot tajam seolah-olah hendak menembus isi kepala pemuda asing dihadapannya itu. Wajahnya yang tegang kemudian berangsur-angsur menjadi ramah kembali, si kakek menarik nafas dalam-dalam sebelum berkata.
“Siapa kau anak muda? Dan ada urusan apa sampai kau membuat keributan di desa ini?”
Semua orang yang mendengar nama Si Lengan Api di sebut-sebut dalam pembicaraan itu menjadi terkejut bukan main. Meski mereka tidak hidup pada masa dimana Si Lengan Api pernah berjaya di Kekaisaran Ming, namun nama itu tidak pernah dilupakan begitu saja dari masa ke masa. Terlebih si Lengan Api juga pernah menorehkan jasa penting terhadap kedamaian seluruh negeri, dimana karena perannya lah Aliansi Pendekar Kobra dapat dihancurkan.
Kepala desa Chen Chuankai yang terdiam karena sebelumnya merasa sulit untuk memberi jawaban atas pertanyaan si kakek, mulai berjalan mendekati orang tua itu. Memang ia sendiri bertanya kepada dirinya, ‘kenapa ini sampai terjadi’
Si kakek yang bernama Gao Lishi dan berjuluk Si Lengan Api masih menatap Arya hampir tiada berkedip, seakan-akan ia sedang mengingat-ingat ‘Akankah ia pernah bertemu dengan pemuda dihadapannya itu, sehingga pemuda itu dapat mengenalinya padahal penampilannya kini sudah sangat jauh berbeda dari saat dimana dia masih berkecimpung dalam rimba persilatan.’
“Namaku Li Xian, dari Lembah Petir..” kata Arya masih dengan sikap tenang dan sopan. Dia kemudian menggerakkan tangan kanannya. Bersamaan dengan itu, sebuah lempengan logam melayang perlahan ke arah si kakek.
Dengan tangkas si kakek menangkap lempengan logam itu. Diamatinya lempengan logam tersebut yang bukan lain adalah sebuah lencana yang ditengah-tengahnya terukir lekukan petir berwarna biru, sedang di setiap sisinya terdapat batu ruh yang bersinar putih berkilat-kilat. Pada bawahnya sendiri terdapat ukiran sebuah nama ‘Li Xian’.
“Kau seorang Patriark Sekte Lembah Petir...” si kakek buru-buru menelangkupkan kedua tangannya sambil sedikit menundukkan kepalanya kepada Arya.
Perkataan si kakek itu seperti petir yang datang menyambar telinga kepala desa Chen Chuankai serta Chen Xule. Keduanya kini dilanda kecemasan, bagaimana jika pemuda yang diketahui adalah Patriark Sekte Lembah Petir itu tidak terima atas perlakuan mereka.
Tidak ada yang tidak terkejut mendengar perkataan si kakek. Bahkan Nie Zha sendiri yang tidak mengenal Sekte Lembah Petir juga nampak melebarkan matanya, dia tak menyangka bahwa pemuda yang dilihatnya itu adalah seorang Patriark, seseorang yang sudah pasti memiliki kemampuan dan kekuatan diatas rata-rata.
Perkataan itu juga ternyata telah mengejutkan Arya sehingga tanpa sesadarnya ia membuka mulutnya dan tersurut mundur. Ia memang pernah mendengar bahwa Patriark Tao Lian menginginkan dirinya menggantikan posisi pamannya itu sebagai Patriark. Namun ia sama sekali tidak tahu bahwa diam-diam pamannya itu secara tidak resmi telah mengangkatnya menjadi Patriark dengan memberikan lencana itu kepadanya.
Kesenyapan itu kemudian dipecah oleh suara si kakek Lengan Api, “Tidak ku sangka rimba persilatan kini telah mengalami begitu banyak perubahan. Terakhir ku dengar Sekte Lembah Petir mengangkat Tao Lian sebagai Patriark menggantikan Si Tua Petir Kuning yang adalah Patriark sebelumnya. Kini malah ku saksikan sendiri bagaimana Sekte itu sekarang dipimpin oleh pria semuda dirimu.”
Arya tersenyum canggung, lalu katanya, “Sebenarnya Sekte Lembah Petir masih dipimpin oleh Patriark Tao Lian, hanya saja aku juga tidak tahu alasan kenapa pamanku itu memberikan lencana itu kepadaku.”
“Oh, jadi kau keponakannya. Pantas saja... sekarang rasa heranku terjawab sudah. Padahal aku tadi sempat curiga, bagaimana mungkin ada seorang Patriark semuda dirimu. Apalagi kau hanya seorang diri disini, tidak akan mungkin seorang Patriark Sekte keluar dari markasnya seorang diri jika memang tidak ada suatu hal yang benar-benar mendesak.” Si kakek angguk-anggukan kepalanya sambil mengelus janggutnya yang pendek. Lalu sambungnya, “Tapi apakah Patriark Tao Lian itu juga memiliki kultivasi sehebat dirimu, anak muda.?”
Arya agak terkejut, di pandanginya wajah si kakek dengan seksama. Menurutnya tidak mungkin rasanya ada seseorang yang dapat mengetahui kultivasi aslinya jika orang itu tidak berada di tahap Pendekar Naga. Sesaat berselang, nampaklah Arya mengangguk pelan. Dia sudah dapat memastikan bahwa yang dilihatnya dari pengamatan si kakek tersebut darinya hanyalah berada ditahap Pendekar Pertapa. “Benar, kek.. kalau aku yang muda ini bisa berada di tahap ini, bagaimana mungkin pamanku yang lebih tua dan banyak pengalaman tidak lebih hebat dariku.” ucapnya dengan penuh keyakinan.
Tiba-tiba si kakek tertawa tergelak-gelak sampai matanya yang juling berkaca-kaca. Setelah tawanya mereda, kembali ia berkata, “Benar-benar tidak ku sangka, dunia ini memang telah banyak berubah. Ku yakin tak butuh waktu lama, akan lahir lebih banyak lagi orang-orang yang dapat menembus tahapan diatas Pendekar Suci di Kekaisaran ini.” kakek ini berhenti sesaat, lalu dia menghampiri pemuda dihadapannya itu, “Tabib Xian, benarkah kau ini yang bernama Tabib Xian dari Lembah Petir yang namanya sudah membuat geger seluruh Kekaisaran?! Sekarang setelah melihat sendiri kekuatanmu, aku jadi yakin jika memang kaulah yang telah menghancurkan sebuah sekte seorang diri.. beruntunglah aliran putih memiliki benih-benih pemuda seperti dirimu.”
Mendengar perkataan kakek itu detak jantung kepala desa Chen Chuankai dan Chen Xule serasa akan berhenti. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa mereka telah berhadap-hadapan dengan seorang pemuda sakti yang namanya sudah begitu tersohor di seluruh Kekaisaran. Untunglah bahwa segala sesuatunya belum terlanjur. Kalau sampai Arya mengeluarkan segala kesaktiannya maka sulitlah bagi mereka semua untuk dapat keluar dari halaman itu dengan masih bernafas.
Maka, karena digerakkan oleh perasaan hatinya, Chen Xule dan kepala desa Chen Chuankai cepat-cepat melangkah maju ke hadapan Arya, dan bersama-sama mereka membungkuk hormat. Dengan agak terputus-putus karena berbagai perasaan yang berdesakan di dadanya, kepala desa Chen Chuankai berkata,
“Kami mohon ampun ke hadapan tuan muda, Tabib Xian.. bahwa kami telah berbuat suatu kesalahan yang amat besar. Serta mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas kemurahan tuan muda yang tidak sekaligus menghabisi jiwa kami. Dan sekarang kami menyerahkan diri untuk menerima segala hukuman yang seharusnya kami jalani.”
Arya yang masih tidak menyangka bahwa si kakek Lengan Api ternyata dapat mengenali dirinya serta-merta terbangun dari lamunannya. Ia menjadi terharu ketika melihat kepala desa itu tampak ketakutan. Sejak semula ia sudah mengetahui bahwa kepala desa itu sama sekali tak bermaksud jahat kepadanya. Hanya karena perkembangan keadaan saja maka semuanya itu terjadi. Bahkan mungkin di luar dugaan kepala desa tua itu sendiri. Maka berkatalah Arya,
“Tuan, tak ada sesuatu yang harus aku maafkan. Yang sudah terjadi tak perlu disesali. Yang perlu, sekarang biarlah aku mengobati kedua orang-orangmu yang terluka. Tetapi percayalah, aku sama sekali tidak bermaksud untuk benar-benar melukainya.”
Mendengar itu, lega-lah hati kepala desa tua itu. Cepat-cepat ia mengangguk hormat, lalu mempersilahkan Arya masuk ke rumahnya.
Orang-orang yang berada di halaman menyaksikan semuanya itu dengan terheran-heran. Mereka yang pernah mendengar nama Tabib Xian dan pernah mendengar kesaktiannya, segera bercerita dengan suara yang berbisik-bisik.
Sementara itu Arya sudah mulai melakukan pengobatannya. Ternyata luka Yu Buqun dan Da Si King tidak ringan. Untunglah keduanya sudah di beri obat untuk mengatasi luka dalam. Kalau sampai terlambat satu malam saja, mungkin mereka sudah tak tertolong lagi.
Mengetahui jika kedua orang itu masih dalam pengaruh obat yang telah diminumnya. Arya tidak memberikan atau meminumkan obat lagi. Ia hanya menyalurkan energi kehidupan serta teknik penyembuhannya agar mempercepat penyembuhan luka dalam yang dialami kedua orang tersebut.