Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Penyelamat Yang Di Nantikan


Tak tak tak....


Kesunyian, hanya itu yang dapat Arya rasakan. Tempat ini benar-benar bukan tempat yang layak untuk dijadikan sebagai tempat bernaung.


Ketika melewati salah satu ruangan yang tertutup rapat, tercium bau anyir darah yang mengeruak dari ruangan tersebut. 


Arya berhenti dan membuka ruangan itu, ekspresinya menjadi buruk ketika mendapati ruangan itu terdapat beberapa mayat yang terbaring di atas balok kayu, di bawahnya terlihat sebuah wadah untuk menampung darah si mayat, sementara kondisi mayat itu sendiri terdapat koyakan lebar di bagian dada sampai pusar. Beberapa bagian tubuh serta organ dalam mayat tersebut telah hilang.


"Biadab!" Mata Arya memerah, tangannya terkepal erat menahan emosi.


Menurut informasi yang didapatkannya dari pikiran salah satu bandit, Arya mengetahui jika selain menjual anak-anak dan gadis-gadis, bandit taring hitam juga menjual organ dalam serta bagian tubuh manusia.


Arya menutup ruangan itu kembali, lalu melanjutkan langkahnya menyusuri lorong. Semakin ke dalam, Arya samar samar mendengar suara terisak, seketika membuatnya mempercepat langkah kakinya.


Dia mendengus geram saat di depannya terpampang nyata sebuah penjara, lebih tepatnya kurungan besi.


Disana, Arya dapat melihat puluhan anak duduk dengan wajah penuh ketakutan, bahkan diantara mereka tidak menampakkan keinginan untuk hidup, pandangannya kosong, terarah lurus ke depan.


Arya mendekati penjara tersebut, namun wajah puluhan anak menjadi semakin pucat juga ketakutan. Dalam pandangan mereka, Arya merupakan bagian dari bandit yang menangkap mereka.


Mendadak Arya berhenti, dia menyunggingkan senyuman hangat untuk menenangkan mereka semua.


Arya kembali melangkah, wajah mereka semakin pucat, beberapa dari mereka berteriak ketakutan sambil saling menghimpitkan tubuh ke temannya. Namun, ada juga yang masih tenang, meskipun hanya satu dua anak.


"Tenanglah... Aku akan membebaskan kalian semua," Arya berkata dengan nada rendah, dia mencoba membuat anak-anak itu percaya kepadanya.


Seorang anak laki-laki kecil berjalan mendekat, dari wajahnya dia terlihat yang paling berani. "Apakah yang kau katakan benar?" Tanyanya dengan tangan memegang kurungan besi.


"Tentu saja....," Arya tersenyum menenangkan lalu meraih gagang pintu besi di hadapannya, kemudian dia menyuruh anak tersebut untuk sedikit menjauh.


Brak!


Pintu besi hancur dengan sekali tarikan tangannya.


"Kita bebas! Kita bebas!" Anak laki-laki tersebut bersorak senang, dia bahkan melompat kegirangan.


"Terima kasih." Anak laki-laki itu lantas bersujud dari tempatnya berada.


"Terima kasih... " Semua anak yang berada di ruangan itu seketika ikut bersujud, membuat Arya salah tingkah dan hanya bisa menggaruk tengkuk kepala.


"Eh... Apa yang kalian lakukan, cepat berdiri." Arya menghampiri bocah laki-laki yang paling dekat dengannya, lalu menarik bahunya agar dia kembali berdiri.


"Kalian juga berdirilah!" Arya melirik ke semua anak yang masih bersujud.


Mendengar perkataan Arya, semua anak di sana kembali berdiri. Wajah mereka yang semula takut juga tanpa harapan, berubah drastis, bahkan tersurat senyuman di bibir mereka.


Seorang gadis terlihat paling tua, jika melihat dari perawakan tubuhnya, usianya berkisar belasan tahun. Dengan langkah ragu dia perlahan bergerak maju.


"Tuan, terimakasih. Kami semua sudah lama berada di sini, terkurung dalam ruangan gelap ini. Setiap hari kami berharap akan ada orang yang datang menyelamatkan kami...,"


"Namun sampai berapa lama tidak kunjung ada yang datang kemari, kami sudah hampir menyerah dan putus asa untuk dapat bertahan, sampai tuan datang...,"


"Meskipun awalnya kedatangan tuan yang begitu tak terduga membuat kami takut. Kami sungguh sangat berterima kasih," Ucapnya beberapa kali mengambil jeda sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.


Arya tersenyum, kemudian dia bergerak maju dan membelai kepala beberapa anak di hadapannya.


"Kalian bebas sekarang, tidak ada yang akan menangkap atau menculik kalian, karena mereka semua telah tiada," Ucap Arya lembut dengan penuh kasih.


"Ayo kita keluar, apakah diantara kalian ada yang ingin tetap disini?" Arya terkekeh pelan karena semua anak di sana nampak ragu.


Mendengar pertanyaan Arya, seketika mereka semua menggelengkan kepala bersamaan, tidak ada sedikit pun pikiran untuk tetap di sana. Bagaimana bisa kebebasan dibandingkan dengan ruang sel tahanan.


"Haha... Kalau begitu ayo kita keluar!" Arya hendak berbalik, namun sebuah suara kecil terdengar memohon kepadanya.


"Bisakah tuan menyelamatkan saudara perempuanku, dia juga dibawa kemari oleh kawanan bandit."


Arya memandang anak perempuan berumur delapan tahun yang berdiri dengan mata sembab. Dia sebenarnya sudah tahu dan memang akan pergi ke sana.


Arya merendahkan tubuhnya hingga setara dengan tinggi anak perempuan tersebut. "Apakah saudara perempuanmu juga di culik, dimana dia sekarang?"


"Ya, aku rasa mereka juga berada di sini, namun aku tidak tahu dimana mereka." Gadis kecil itu mulai menitikkan air mata.


Arya mengusap lembut gadis kecil itu, "Baiklah, namun kalian keluarlah dulu, biar aku yang membebaskan saudara perempuanmu,"


Sepergian anak-anak itu, Arya memutuskan untuk masuk lebih ke dalam.


Tak lama ia menemukan sebuah pintu bergembok, seketika iapun menendang pintu tersebut.


Bruak!


Pintu itupun hancur berkeping-keping, Arya kemudian masuk.


"Uh.. Uhukk..." Arya dengan cepat memalingkan wajahnya, nafasnya terasa tersedak hingga membuatnya terbatuk. Dia terkejut mendapati belasan wanita dalam kondisi tanpa busana.


"Maafkan aku, aku tidak sengaja melihatnya."


Dengan memejamkan mata, Arya melambaikan tangannya, bersamaan dengan itu muncul pakaian di hadapan belasan wanita tersebut.


"Pakailah, meskipun pakaian itu untuk pria, setidaknya lebih baik dari pada tidak memakai sama sekali," Ucap Arya masih dengan wajah berpaling ke samping dan mata terpejam.


"Apa yang ingin kau lakukan, apakah kalian para bandit sangat suka bermain main?" Seru salah seorang diantara mereka dengan suara marah dan juga benci.


Arya mengerutkan dahi, kemudian dia membuka mulutnya. "Apa yang ada di kepalamu? Jika aku adalah bagian dari mereka, apakah aku akan dengan baik hati melemparkan pakaian kepada kalian?!"


"Tentu saja, apakah kalian pikir wajahku layak menjadi seorang bandit?" Arya berkata tanpa mengalihkan wajahnya.


Belasan wanita itu terlihat berpikir, kemudian saling melirik satu sama lain. Mereka sepakat pemuda tampan itu tidak mungkin bandit yang gemar menculik wanita, karena pastilah di luar sana banyak gadis yang tergila-gila padanya.


"Kami percaya, kau bisa memandang ke depan."


"Apakah kalian sudah memakai pakaian yang aku berikan?" Tanya Arya untuk memastikan.


"Sudah..." Mereka membalas dengan nada lemah.


Huft...


Arya melirik ke arah belasan wanita, perlahan dia memutar kepalanya. Mendapati belasan wanita telah mengenakan pakaian yang merupakan persediaan pakaiannya, dia menghela nafas.


Sementara itu belasan wanita yang dapat melihat wajah Arya seutuhnya, sampai membuka mulut karena sangking terkesima.


"Apakah hanya kalian?" Arya menelisik satu persatu wanita di hadapannya.


Pertanyaan tersebut membuat mereka segera tersadar, "Emm.. Sebenarnya ada puluhan orang, namun setiap beberapa hari sekali para bandit jahat itu akan mengambil satu sampai dua orang dari kami...,"


"Beberapa saat yang lalu dua orang dari kami di bawa pergi, dan setiap yang di bawa pergi tak akan pernah kembali, entah apa yang mereka lakukan terhadapnya." Salah seorang wanita menjelaskan dengan wajah sedih, memikirkan jika dialah yang di bawa oleh para bandit.


"Sudahlah, sekarang kalian sudah aman dan bisa keluar." Arya hendak membalikkan badan.


"Tapi, bagaimana dengan para bandit itu, jika kami bersimpangan dengan mereka, usaha untuk melarikan diri akan sia-sia," Ujar mereka dengan khawatir.


"Heh... Kalian tidak perlu cemas, karena mereka sudah pergi," Arya tersenyum tipis, tangannya menggesek-gesek lehernya, seperti menggorok sebagai isyarat.


"Pergi? Tapi meskipun mereka pergi, mereka pasti tidak akan meninggalkan markas ini begitu lama." Salah seorang diantaranya kembali mengeluarkan suara.


Arya menggaruk pelipisnya kesal, kemudian memandang wanita yang paling cerewet.


"Mereka tidak akan pernah kembali, karena mereka sudah mati dan tidak mempunyai kesempatan itu lagi," Ucap Arya memperjelas.


"Bagaimana mungkin?!" Ucap wanita itu terkejut.


"Kenapa tidak mungkin? Jika kalian ingin terus berlama-lama disini aku tak peduli." Arya berbalik dan pergi keluar.


Saat Arya berjalan menyusuri lorong, pandangannya tanpa sengaja mengarah ke ruangan yang pintunya hancur, tidak jauh darinya. Dia teringat jika ruangan itu adalah ruangan Gu Lun yang di jadikan tempat untuk bercocok tanam dengan para gadis.


Arya lantas bergegas masuk ke dalam. Matanya membulat saat melihat dua mayat wanita berada di atas sebuah ranjang.


Dia nampak terkejut lalu buru-buru mendekati kedua mayat tersebut, kemudian dia dapat melihat jelas, luka sayatan pada pergelangan tangannya.


"Mereka mengakhiri hidupnya sendiri!" Gumam Arya tak percaya. Dia mengepalkan tangannya, ikut prihatin terhadap nasib kedua mayat gadis itu.


Saat keluar dari bangunan, atau lebih tepatnya disebut dengan markas bandit, Arya disambut oleh puluhan orang, yang tidak lain merupakan orang-orang yang dia selamatkan.


Meskipun ekspresi senang karena telah terbebas memenuhi wajah orang-orang di hadapannya, namun Arya melihat beberapa diantaranya memasang wajah tanpa semangat.


Arya mendekati salah satu dari mereka yang nampak tidak memiliki tujuan hidup, wanita itu menunduk namun terpancar jelas aura kesedihan darinya.


Hanya dengan melihatnya saja, Arya sudah tahu apa yang sedang di pikirkan wanita itu. Saat ini wanita itu sedang bingung untuk melanjutkan hidup karena sudah tidak punya siapapun lagi. keluarganya telah tiada karena di bunuh oleh kawanan bandit. 


"Jika kalian tidak mempunyai keluarga, maka ciptakanlah.. Diantara kalian banyak yang mempunyai kondisi serupa..., Dengan latar belakang kejadian ini, kalian tentu memiliki suatu ikatan tersendiri, apa salahnya membangun sebuah kediaman besar untuk kalian semua tempati."


Wanita tersebut menghela nafas rendah, kemudian menengadahkan kepalanya memandang Arya. "Jika membangun kediaman begitu mudah, aku akan membangunkannya dimanapun yang aku inginkan... "


"Kami tak memiliki sepeser pun untuk memulai kembali, bahkan untuk makan nanti saja kami harus berusaha lebih."


"Haha... " Arya tertawa canggung, dia sebenarnya memang berniat membagikan harta untuk mereka semua, namun keburu di serobot perkataan wanita tersebut.


Arya kemudian mengibaskan tangannya. Seketika, di sampingnya muncul gundukan koin perunggu, perak serta emas yang berkilauan terkena paparan sinar matahari.


"Ini adalah harta dari para bandit yang menculik kalian. Ambil saja semuanya untuk keperluan hidup kalian kedepannya...,"


"Aku tak memaksa kalian untuk tinggal bersama, aku hanya memberikan saran untuk beberapa orang yang mempunyai kondisi serupa..., Kalian yang masih mempunyai keluarga sebaiknya kembalilah ke tempat mereka berada."


Ucapan Arya mendapatkan respon anggukan dari semua orang yang berada di hadapannya.


"Terimakasih!" Mereka tanpa aba-aba membungkuk hormat kepada Arya.


Hulao dan Honglong terlihat tersenyum bangga melihat sikap tuannya itu dari kejauhan.


"Kalian terlalu sungkan, aku juga memahami bagaimana kesulitan kalian. Semoga kedepannya hidup kalian akan lebih baik." Arya berkata dengan sorot mata redup, hatinya bergetar seolah juga merasakan kesedihan dan keputusasaan orang-orang yang tertindas.


Tiba-tiba seseorang menarik pakaian Arya, membuat pemuda itu menundukkan pandangannya.


"Eh... " Arya terkejut manakala anak perempuan yang ia temui di gang memeluknya erat.


"Terimakasih... " Terdengar anak perempuan tersebut menangis haru, berkat Arya dirinya dapat berkumpul kembali dengan temannya.


"Sekarang aku harus pergi.." Arya menghela nafas lalu memandang langit. "Hidup tidak bisa di ulang, yang sudah terlanjur terjadi tidak bisa kita batalkan. Kitalah yang harus memutuskan, mau bangkit atau diam saja membiarkan diri tenggelam. Ingatlah, sebuah permata tidak akan dapat dipoles tanpa gesekan."


Arya kembali menatap mereka, lalu menunjukkan tangannya yang terkepal berniat memberi semangat. "Jadikan semua ini sebagai pelajaran, kalian harus hidup lebih baik!"


Pemuda itu tersenyum hangat, lantas berjalan pergi di susul Hulao dan Honglong.


Mereka semua tidak melepaskan tatapan dari punggung Arya, memandang kepergian pemuda penyelamatnya tersebut dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.