
Di depan gerbang kota Guangzhou, terlihat pemuda berpakaian putih-putih berdiri di dampingi dua lelaki berpakaian Pendekar. Mereka tidak lain adalah Arya, Hulao dan Honglong.
Selepas memasuki gerbang, mereka berjalan menyusuri jalanan yang ramai di padati para pedagang yang berjualan di bahu jalan serta para penduduk, pembeli ataupun para pendekar yang berlalu-lalang.
Sampailah mereka berhenti di depan sebuah bangunan besar, di atas pintu masuk bangunan tersebut terdapat papan kayu besar yang bertuliskan 'Asosiasi Lotus Perak'.
Empat penjaga yang sedari tadi berdiri di sana segera menghadang Arya dan kawan-kawan. Para penjaga tersebut hanya diam dengan muka datar, salah satu di antara mereka mengulurkan tangannya.
Arya mengerenyitkan dahi, seingatnya dulu ketika ia memasuki gedung Asosiasi Lotus Perak di kerajaan Lanzhu, para penjaga di sana tidak memungut sepeserpun uang dari para pengunjung.
Arya menyerahkan satu keping emas kepada penjaga tersebut, namun penjaga itu meminta dua keping emas untuk masing-masing orang.
Dengan mendengus kesal, Arya memberikan enam keping emas. Para penjaga itupun lantas membukakan pintu dan menggeser tubuhnya untuk memberikan jalan bagi Arya dan kawan-kawan masuk.
"Apakah ada yang bisa saya bantu, tuan-tuan?" Salah seorang gadis tersenyum ramah. Pandangannya sekilas terpukau oleh ketampanan Arya, namun segera ia menundukkan kepala.
"Berikan ini pada pemimpin kalian." Arya mengulurkan sebuah pelakat emas yang di tengah-tengah terdapat lambang bunga lotus berwarna perak.
Gadis itu mengangguk, melihat pelakat yang di terimanya dia menduga jika Arya adalah pelanggan penting. Maka dengan hormat dia menunduk lalu bergegas pamit.
Sembari menunggu, Arya melihat-lihat koleksi sumberdaya yang di pajang dengan rapi di rak-rak lemari. Pemuda itu beberapa kali mengangguk puas karena kualitas sumberdaya yang di jual disini ternyata kualitasnya jauh lebih baik daripada yang di lihatnya di gedung Asosiasi di kota Lanzhu. Dia juga mendapati beberapa pil buatannya di pajang disana.
Seorang pria berjalan tergesa-gesa menghampiri Arya, dia bernama Li Juan, direktur yang memegang mandat sebagai pengelola gedung ini.
Setelah berdiri di belakang Arya, Li Juan lantas membungkuk memberi hormat. "Tuan, maafkan kami karena kami tidak memberikan sambutan yang layak untuk menyambut kedatangan anda. Kami benar-benar tidak tahu jika anda akan datang berkunjung."
Gadis yang berdiri di belakang Li Juan nampak memasang wajah bingung, dia mempertanyakan siapa sebenarnya Arya sehingga bosnya sekaligus orang yang memiliki jabatan tertinggi di tempatnya bekerja begitu menghormati pemuda itu.
"Apa yang kau lakukan, cepat menunduk." Bentak Li Juan pada gadis di belakangnya dengan suara pelan.
"Bangunlah, jangan terlalu bersikap formal. Aku memang sebelumnya tidak memberikan kabar mengenai kedatanganku, jadi ini bukanlah kesalahan kalian. Sebenarnya ada beberapa hal yang aku perlukan, ku yakin kalian memiliki informasi yang aku inginkan."
"Baiklah, kalau begitu mari ikuti saya, tuan." Sebelum melangkah pergi, Li Juan membisikkan sesuatu yang membuat gadis di sampingnya melebarkan mata.
Gadis itu menatap Arya sekilas, lalu buru-buru menundukkan pandangan.
Arya menepuk pundak gadis itu lalu beranjak mengikuti Li Juan.
Setelah mendapatkan informasi yang dia inginkan, Arya lantas mengeluarkan segunung buah sumberdaya.
Mata Li Juan membulat, rahangnya terjatuh menyaksikan hampir separuh ruangannya kini di penuhi berbagai macam sumberdaya yang memiliki harga jual tinggi.
Muka Li Juan mengerut saat membaca kertas pemberian Arya, daftar nama yang ada di dalam kertas tersebut adalah orang-orang penting di kerajaan Guangzhou. Dia ingin bertanya namun Arya segera menjelaskan apa yang ada di dalam pikirannya, hal itu membuat Li Juan menatap curiga bahwa Arya dapat membaca pikirannya. Namun Li Juan segera menepis kecurigaan tersebut, pasalnya dia sama sekali tidak merasakan adanya energi yang masuk ke dalam pikirannya.
"Kenapa kau seperti takut? Bukankah dengan kemampuanmu, kau sendiri sudah cukup untuk mengatasi semua Pendekar di sini?"
Perkataan Arya memang benar, kemampuan Li Juan yang berada di tahap Pendekar Pertapa jelas dapat mengalahkan semua orang yang ada di kerajaan.
"Bukan seperti itu tuan, tapi kami di larang untuk ikut campur masalah pemerintah. Tugasku hanyalah..."
"Jika kerajaan ini di kuasai pendekar aliran hitam, bukankah hal itu juga akan berdampak pada organisasi kita. Lagipula aku hanya menyuruhmu menyelidiki mereka." Potong Arya.
Melihat Li Juan diam seolah sedang berfikir, Arya kembali membuka suara. "Ku rasa kalian juga sudah mengetahui informasi mengenai hewan iblis yang memasuki daratan ini. Perlu kau ketahui, pemimpin hewan iblis itu saat ini sedang menyamar di dalam kerajaan."
Sontak saja Li Juan menjadi terkejut, "Benarkah apa yang anda katakan itu, tuan..?"
"Karena itulah aku menyuruhmu menyelidikinya, biar aku sendiri yang akan mengatasi mereka." Arya tersenyum tipis, tanpa memperdulikan ekspresi Li Juan, Arya lantas melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Li Juan buru-buru bangkit dan mengejar pemuda itu, dia meminta Arya agar menginap karena hari sebentar lagi akan menjelang malam, namun Arya menolaknya dengan alasan dia ingin memeriksa seluruh kota.
Dengan di antar Li Juan, Arya menemui Hulao dan Honglong yang menunggunya di lantai pertama. Tidak di sangka, di sana juga terdapat beberapa prajurit kerajaan yang juga sedang menunggunya.
Para prajurit tersebut bergegas mencari keberadaan Arya setelah mendengar laporan dari penjaga gerbang mengenai Tabib Xian memasuki kota. Memang hal itu adalah perintah langsung dari Putri Zhao Jing Yi, sang putri yakin bahwa Arya suatu saat akan menyambangi kerajaannya. Untuk itulah Putri Zhou Jing Yi memerintahkan seluruh penjaga gerbang agar melaporkan kepadanya jika suatu saat ada seseorang yang memiliki indentitas Tabib Xian masuk ke dalam kota.
"Maaf, apakah anda yang bernama Tabib Xian?" Salah seorang prajurit berkata ramah sambil memandangi Arya dari atas sampai bawah.
Arya tersenyum lalu menelangkupkan tangan, "Benar, kalian boleh kembali dan laporkan pada Putri Zhao Jing Yi bahwa aku tidak perlu pengawalan. Aku masih memiliki urusan, setelah urusanku selesai nanti aku sendiri yang akan datang ke sana."
Prajurit tersebut menautkan kedua alisnya, dia heran mengapa pemuda di hadapannya itu tahu akan maksud kedatangannya. Namun karena tidak mau ambil pusing, diapun meminta Arya untuk menepati ucapannya karena jika tidak, maka dia nanti akan mendapatkan hukuman dari sang putri.
Arya mengangguk, "Aku mengerti, paling lambat aku datang besok atau lusa."
Selepas kepergian para prajurit tersebut, Arya bersama Hulao dan Honglong keluar dari gedung asosiasi. Mereka berjalan menyusuri jalanan kota, berbaur dengan para penduduk yang sibuk dengan aktivitas masing-masing.
______
Buat kalian yang suka cerita horor, mampir ke channel YouTube saya yang bernama 'Mizan Armand'.
Baru belajar bawain cerita horor 😅
Jadi tolong bantu subscribenya. 👍🙏