Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Meningkatkan Kultivasi Paman


Arya terpaksa mendorong tubuh Patriark Tao Lian sebab dia tidak mau pamannya itu kehabisan energi karena membantunya. Lagipula jika Patriark Tao Lian mengalirkan seluruh energinya untuk menstabilkan kondisi Arya, semua itu tidak akan terlalu membantu.


Selain itu Arya juga khawatir Patriark Tao Lian akan terluka atau bahkan tewas karena saat ini dia belum bisa menyatukan energi Pusaka Legenda. Arya tidak ingin energi yang di serapnya itu justru akan menyerap energi orang yang ada di dekatnya.


"Maaf paman, sebaiknya anda menjauhlah dariku dulu. Jangan khawatir, aku pasti akan baik-baik saja." Arya berkata dengan terbata-bata karena dia juga sedang berusaha menekan energi Pusaka Legenda agar dapat menyatu dengan energi Naga Emas miliknya.


Patriark Tao Lian yang terlempar berusaha bangkit, dia bukannya tidak menyadari bahwa energi kehidupannya terkuras saat membantu menstabilkan Arya. Namun karena khawatir pada keponakannya itu, dia kembali berniat mendekati Arya.


"Berhenti paman!!"


Tiba-tiba seluruh tubuh Arya di selimuti cahaya emas sedikit transparan, lalu muncul seekor Naga Kecil berwarna kuning dengan percikan energi biru mengelilingi tubuh Arya selama beberapa menit sebelum akhirnya masuk ke dalam mulut pemuda itu. Setelah kejadian tersebut, perlahan-lahan cahaya yang menyelimuti tubuh Arya meredup hingga akhirnya menghilang.


Patriark Tao Lian terus menyaksikan kejadian itu dengan ekspresi yang berubah-ubah, timbul perasaan takut cemas terhadap kondisi Arya namun entah kenapa dia juga merasakan perasaan damai ketika merasakan aura emas yang menyelimuti tubuh keponakannya itu.


Untuk beberapa saat Patriark Tao Lian masih mematung, meski cahaya yang menyelimuti Arya telah menghilang namun Patriark Tao Lian nampak ragu untuk mendekatinya sebab sampai sekarangpun Arya masih belum membuka mata.


Dengan perasaan campur aduk, Patriark Tao Lian akhirnya memberanikan diri mendekat untuk mengecek kondisi Arya. Dia khawatir keponakannya itu terluka parah atau mungkin tewas.


Ketika hanya berjarak beberapa langkah lagi dari pemuda itu, Patriark Tao Lian tiba-tiba terpental membentur tembok. Kini tubuh Arya seperti menyerap energi alam dari segala penjuru.


Masih dalam posisi bersila, tubuh Arya perlahan-lahan terangkat ke udara dan energi yang terserap masuk ke tubuh pemuda itu mulai membetuk pusaran energi berwarna-warni.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Patriark Tao Lian bangkit berdiri sambil mengepalkan tangan, dia tidak bisa berbuat banyak karena ia sendiri tidak memahami situasi yang terjadi. "Apapun itu, bertahanlah Xian'er. Kau pasti bisa melewati ini semua."


Tatapan Patriark Tao Lian harap-harap cemas, dia sebenarnya ingin menolong Arya namun energi yang mengelilingi tubuh Arya seperti pusaran angin tersebut sangatlah kuat, bahkan membuat Patriark Tao Lian tidak bisa berdiri dengan baik. Akhirnya Patriark memilih sedikit menjauh, berharap situasi ini segera berakhir.


"Energi kehidupanku.." Patriark Tao Lian mulai merasakan energi kehidupannya tersedot masuk ke dalam pusaran energi yang mengelilingi tubuh Arya.


Tidak punya pilihan lain, Patriark Tao Lian kemudian keluar dari ruangan tersebut, dia sudah membentengi dirinya dengan perisai energi namun hal itu tidaklah bisa melindunginya.


Belasan menit kemudian, pusaran energi berwarna-warni perlahan-lahan menghilang dan tubuh Arya kembali turun duduk di atas lantai.


"Kenapa aku bisa melihat semuanya?" 


Arya yang sedang berusaha menyatukan energi Pusaka Legenda dengan tubuhnya dibuat terkejut ketika dirinya dapat melihat semua kejadian di dunianya dalam radius puluhan mil dengan mata yang terpejam.


"Paman Tao.." Arya dibuat khawatir ketika melihat kondisi Patriark Tao Lian yang semakin melemah.


Patriark Tao Lian akhirnya ambruk kehilangan kesadaran, namun sebelum tubuh Patriark Tao Lian terjatuh ke lantai Arya tiba-tiba muncul menangkap tubuh Patriark Tao Lian.


"Maaf paman." Arya lantas mengalirkan energi kehidupannya untuk membantu memulihkan kondisi dan kesadaran Patriark Tao Lian.


Dalam sekejap Patriark Tao Lian sadarkan diri, dia tersenyum lega melihat Arya baik-baik saja.


Setelah kondisi Patriark Tao Lian membaik, Arya kemudian menjelaskan semuanya. Ekspresi wajah Patriark Tao Lian berubah-ubah, ada sedikit keraguan serta kekecewaan yang tergambar jelas dari wajahnya ketika mendengarkan penjelasan dari Arya.


Patriark Tao Lian jelas terkejut ketika Arya menjelaskan bahwa sebenarnya dirinya menyerap energi tongkat pusaka legenda, bahkan ia juga menyerap keempat energi pecahan Pusaka Legenda lainnya.


"Aku tahu paman sulit percaya jika aku bisa menyerap energi pusaka itu. Namun yang terpenting sekarang salah satu pecahan Pusaka Legenda sudah lenyap, dan meskipun aku tidak bisa menyerap seluruh pecahan Pusaka itu, tetapi setidaknya pusaka itu sudah tidak terlalu menjadi ancaman besar suatu saat nanti." Arya tersenyum untuk membuat Patriark Tao Lian tenang.


"Tapi bagaimanapun hal ini bisa mengancam keselamatan mereka yang menjaga pecahan pusaka lainnya. Jika sampai orang-orang tahu bahwa energi yang kau serap itu adalah energi pusaka legenda pasti mereka semua akan mencari keberadaan pecahan pusaka itu. Aku khawatir hal ini akan memicu perang besar." Wajah Patriark Tao Lian nampak gusar.


"Aku sudah mempertimbangkan semua ini sebelumnya, paman. Untuk saat ini aku memang tidak bisa menyerap seluruh pecahan pusaka itu, tapi tenanglah saja paman, seluruh pecahan pusaka itu sudah terikat denganku. Jika sudah saatnya nanti, aku pasti akan melenyapkan seluruh pecahan itu sehingga tidak akan menimbulkan kerusakan di dunia ini." Arya mengamati Patriark Tao Lian yang masih terlihat gusar.


"Maaf atas tindakanku ini paman. Aku fikir tindakan ini lebih tepat daripada menghancurkannya, sebab jika pusaka itu hancur maka energinya akan menyatu dengan yang lainnya. Tongkat pusaka itu hanyalah wadah, sejatinya kekuatan besar itu berasal dari energi yang bersemayam di dalam pusaka itu." Arya memasang wajah bersalah, sebab kecemasan Patriark Tao Lian ada benarnya. Dengan kata lain tindakannya memang akan memicu terjadinya perang.


Patriark Tao Lian mengerutkan dahi, dia baru sadar jika yang di lakukan Arya adalah tindakan yang memang harus di lakukan. Karena cemas, Patriark Tao Lian sampai melupakan kekuatan sebuah pusaka berasal dari roh pusaka ataupun energi yang ada di dalam pusaka tersebut.


"Paman, aku sebenarnya akan pergi besok. Tapi sebelum aku pergi, aku ingin meningkatkan kultivasi paman." Arya mengeluarkan 3 buah sumberdaya, yaitu buah taring naga merah, anggur kristal giok suci dan labu api biru.


Mengerti isi pikiran Patriark Tao Lian yang tidak mengenali 3 buah sumberdaya tersebut, Arya lantas menjelaskan semua nama-nama ke-tiga buah tersebut berikut dengan kegunaannya.


Patriark Tao Lian menerima tiga buah sumberdaya tersebut dengan tatapan tidak percaya, dia sama sekali tidak menyangka bisa melihat sendiri sumberdaya langka yang hanya pernah dia dengar dari cerita leluhurnya.


"Ku rasa dengan 3 buah sumberdaya ini sudah cukup untuk membuat paman menembus tahapan yang lebih tinggi dari Pendekar Suci." Arya tersenyum melihat ekspresi Patriark Tao Lian ketika mendengar perkataannya.


"Benarkah? tapi mengingat untuk bisa naik satu tingkat pendekar suci saja membutuhkan waktu bertahun-tahun, sepertinya aku tidak bisa menutup diri terlalu lama untuk dapat menyerap seluruh energi dari tiga buah ini. Posisiku sebagai Patriark tentunya di butuhkan banyak orang, Xian'er." Patriark Tao Lian hendak mengembalikan tiga buah sumberdaya tersebut kepada Arya.


"Tenanglah paman, aku pastikan sebelum matahari tenggelam paman sudah menembus tahapan yang lebih tinggi dari Pendekar Suci, yaitu Pendekar Pertapa." Arya berkata dengan wajah serius.


Patriark Tao Lian mengerutkan dahi lalu tertawa pelan. "Itu tidak mungkin, jangan bercanda..."


Ucapan Patriark Tao Lian terpotong karena dia sudah menghilang dari tempat tersebut.