
Di tempat lain, Hulao dan Honglong terus saja menebar teror ke semua orang yang di temuinya. Dalam waktu singkat, setidaknya sudah puluhan orang yang kehilangan nyawa di tangan mereka berdua.
Ketika baru saja memasuki lorong yang lain, Honglong mendapati terdapat sekitar lima puluh orang ada di ujung lorong tersebut. Salah satunya duduk di kursi sambil meminum arak.
Honglong menyeringai, dia menebak pria berbadan kekar dan berkulit gelap yang duduk di kursi tersebut adalah pimpinan para bandit ini. Melihat hanya pria itulah yang memiliki kultivasi tertinggi daripada yang lainnya.
Hampir seluruh orang yang berada di sana dalam kondisi mabuk dan sempoyongan, termasuk pimpinan mereka.
Terlihat juga beberapa wanita yang di paksa menari untuk menghibur para bandit, wajah mereka pucat bahkan ada yang menangis tetapi para wanita tersebut tidak berhenti menari.
Beberapa bandit keheranan saat merasakan terpaan angin, meski dalam kondisi mabuk kesadaran mereka masih tersisa sehingga dapat menangkap situasi. Merekapun langsung memasang sikap siaga sebab yakin tidak mungkin ada angin yang dapat memasuki ruang bawah tanah.
Semua bandit serentak menarik senjata ketika mendapati seorang pria tiba-tiba berdiri di antara para wanita yang sedang menari di tengah-tengah mereka.
Honglong sebenarnya tidak terlalu perduli terhadap nasib para wanita yang ada di sana, namun karena permintaan Arya yang menyuruhnya untuk menyelamatkan semua sandera. Honglong terpaksa melindungi para wanita tersebut dengan segel pelindung.
Wanita-wanita yang sebelumnya menari mulai menangis dan berjongkok ketakutan, mereka menganggap para bandit yang mengeluarkan senjata hendak membunuhnya.
"Siapa kau? Kenapa kau bisa masuk kemari?!" Pimpinan bandit mengeluarkan aura yang menekan. Dia tidak lain adalah seseorang yang berjuluk Cakar Besi.
Seringai tipis tersungging di bibir Honglong, dia sama sekali tidak memperdulikan perkataan orang tersebut. Honglong menghilang dari pandangan semua orang, seiring dengan itu darah para bandit mulai menghiasi ruangan, membuatnya menjadi pemandangan yang mengerikan. Salah seorang gadis bahkan kehilangan kesadaran karena tidak sanggup lagi menyaksikan pembantaian tersebut.
Merasa panik, pimpinan bandit segera mengeluarkan senjatanya yang berupa dua Cakar Besi yang memiliki rantai sebagai pegangan untuk mengendalikan senjata tersebut. Diapun berkelebat menyerang.
Honglong meningkatkan kecepatannya sehingga Cakar Besi tidak dapat melihat pergerakannya. Dalam sekejap, semua bandit telah tewas.
Cakar besi mematung, dia tidak bisa mempercayai kecepatan yang di miliki musuhnya. Namun dengan cepat dia mengendalikan diri karena sadar bahwa dirinya saat ini tengah berada di situasi pertarungan.
"Benda apa yang kau bawa itu, senjata atau mainan.." Cibir Honglong setelah menghabisi semua bandit.
Hanya beberapa menit Honglong berada di ruangan tersebut, tetapi itu sudah lebih dari cukup baginya untuk membuat ruangan ini bersimbah darah. Kini hanya tersisa dirinya, para wanita dan pria yang berjuluk Cakar Besi.
Cakar Besi hendak menyerang, namun mendadak tubuhnya sangat berat untuk digerakkan. Dia berusaha mengangkat kepalanya dan mendapati energi besar tersebut berasal dari Honglong.
Dengan wajah pucat, Cakar Besi menjatuhkan dirinya berlutut dan mulai memohon ampunan, berusaha membujuk Honglong agar mengampuni nyawanya.
"Tuan Pendekar, mohon ampuni nyawaku. Maafkan aku karena telah menyinggungmu, jika aku mati di sini, siapa nanti yang akan membiayai kehidupan keluargaku. Anakku masih kecil..." Cakar Besi menangis terisak, berusaha menyakinkan Honglong agar mengampuni nyawanya.
"Hahaha..." Honglong tertawa tergelak-gelak, dia tidak cukup bodoh untuk termakan sandiwara rendahan seperti itu. "Anak kecil apa anak katak? Hahaha... Apa kau pikir orang-orang yang telah kau culik itu tidak memiliki keluarga yang menunggu kepulangan mereka, hah."
"Tuan, aku sadar ini salahku. Aku akan bertobat dan tidak akan mengulangi tindakanku. Bahkan aku berjanji akan berbuat kebaikan.. Percayalah padaku tuan, aku benar-benar menyesal. Ampuni aku.."
"Baiklah aku akan mengampunimu.." Ekspresi Honglong berubah menjadi dingin, begitu pula dengan tatapan matanya.
Melihat senyuman Honglong membuat Cakar Besi menelan ludah, jantungnya seolah berhenti sejenak sebelum berdetak lebih cepat. Tubuhnya bergetar dan keringat dingin mulai bercucuran, dia memiliki firasat buruk.
"Hmmm, aku akan meringankan dosa dari perbuatan yang akan kau lakukan ke depannya. Bertobatlah dan berbuat baiklah di kehidupan selanjutnya. Mati!"
Honglong dengan cepat menebaskan energi tipis yang merenggut nyawa Cakar Besi, membuat tubuh pimpinan bandit tersebut terbelah menjadi beberapa bagian.
Di ruangan berbeda, Hulao terlihat sedang menatap rakus gelimpangan mayat-mayat bandit yang telah dia bunuh. Nalurinya sebagai hewan buas karnivora yang sudah lama dia tekan mendadak bangkit ketika melihat gelimpangan daging-daging segar terpampang menggoda selera di matanya.
"Apa yang kau pikirkan harimau tua! Sudah ku bilang, kau boleh memakan daging binatang sepuasmu, tapi jangan makan daging manusia!"
Suara Arya menyentak di kepalanya, membuat Hulao menggeleng cepat untuk mengusir nalurinya memakan daging mayat dari para bandit tersebut.
Hulao buru-buru keluar dari ruangan, dia berjalan pelan melangkahi mayat salah satu korbannya. Mayat itu tidak lain adalah seseorang yang berjuluk tombak kembar.
Arya mengalihkan pandangannya ke arah suara teriakan seseorang.
"Yoe?!"
Pria gempal berteriak histeris saat manik matanya menangkap tubuh Min Yoe terbakar sebelum menjadi abu.
Gu Lun mengusap matanya yang tampak merah, kematian adik angkatnya merupakan pukulan telak baginya.
Min Yoe sudah seperti saudara sedarah baginya, telah lama keduanya bersama, susah senang mereka lalui bersama. Kematiannya tentu berat bagi Gu Lun.
Pria gempal itu berdiri sambil menatap tajam Arya, kilatan sengit nampak dari matanya.
"Aku tak akan melepaskanmu, ... masuk ke markasku, membantai anak buahku, dan yang paling tidak bisa ku maafkan adalah kau telah...,"
"Kau telah mengganggu waktu berharga ku!" Teriak marah Gu Lun.
Arya mengerutkan kening, wajahnya yang acuh berubah menjadi dingin saat tahu apa yang di maksud pria di hadapannya dengan 'waktu berharga'.
Emosi Arya tersulut karena 'waktu berharga' yang di maksud pria gempal itu tidak lain adalah kegiatan cangkul-mencangkul dengan gadis-gadis.
"Pak tua, bagaimana perasaanmu jika anak dan istrimu di paksa untuk memuaskan nafsu pria lain?" Ucap Arya dengan wajah memerah.
"Sialan!" Gu Lun melompat sambil mengayunkan pedang yang sudah berada di tangannya.
Wush
Arya menangkis tebasan tersebut dengan sebelah tangan, bahkan tubuhnya sama sekali tidak bergeser sesentipun dari tempatnya.
Mata Gu Lun melebar, namun dia cepat menguasai diri dengan berfikir bahwa di balik baju pemuda itu terdapat tameng besi atau semacamnya sehingga bisa bertahan dari tebasan pedangnya.
Gu Lun segera menarik diri dengan melompat mundur, tapi dia kembali melesat setelah mendarat, memanfaatkan dorongan dari hentakan kakinya untuk memberikan serangan dengan kecepatan dua kali lipat.
Arya masih tidak bergeming dari posisinya, pandangannya tertuju pada pedang yang terhunus ke arahnya. Namun ketika jarak serangan Gu Lin tinggal beberapa meter lagi, Arya tiba-tiba menggerakkan tangannya membuat Gu Lun terhempas membentur tembok dengan begitu keras. Benturan itu bahkan sampai membuat seluruh ruangan bawah tanah bergetar hebat seolah-olah akan runtuh.
Dari balik kepulan asap dan puing tembok, Gu Lun keluar lalu kembali melesat melancarkan serangan.
Hyat...
Sambil melesat Gu Lun mengangkat pedangnya ke atas, kemudian dia menyebetkan pedangnya dengan cepat, menciptakan sebuah siluet tebasan yang mengarah ke tempat Arya berdiri.
Duar!
Tak lama ledakan terjadi, setelah siluet tebasan Gu Lun yang menghantam dinding bangunan.
"Cih!" Gu Lun mendengus, "Jangan harap kau bisa keluar hidup-hidup, kematian adalah akhir yang sudah dipastikan untukmu karena berani mencari masalah dengan bandit taring hitam."
Setelah kepulan asap dari ledakan tersebut menghilang, Gu Lun menyipitkan mata lalu mengedarkan pandangan dengan kewaspadaan penuh. Dia tidak habis pikir bagaimana Arya dapat menghindari serangannya, padahal jelas-jelas dia melihat serangannya tadi mengenai pemuda itu.
Shut...
Merasakan adanya energi yang mengarah dari arah samping, Gu Lun lantas reflek melindungi diri dengan perisai energi.
Meski berhasil menahannya, tetapi Gu Lun harus menerima kenyataan bahwa tangannya patah akibat menahan serangan tersebut. Tubuhnya juga terpental menghancurkan tembok dinding.
Arya tersenyum dingin, lalu tiba-tiba muncul dan meremas kuat tangan kiri Gu Lun sampai hancur. Kini kedua tangan pria gempal itu sudah tidak lagi bisa di gunakan.
Raungan kesakitan terus terdengar dari mulut Gu Lun yang bersandar di reruntuhan tembok. Arya hanya menatapnya dengan dingin.
Setelah beberapa saat, Gu Lun segera mengalirkan Qi untuk menghilangkan rasa sakit yang ia alami. Dia lantas mengangkat kepalanya, menatap Arya dengan bengis.
Meskipun sadar tidak mungkin akan menang, karena dalam kondisi tidak menguntungkan, Gu Lun masih berusaha menyerang dengan memiringkan kepalanya, melesatkan jarum energi dari mulutnya.
Arya tersenyum sinis, dia membiarkan jarum energi tersebut mengenainya karena yakin serangan itu tidaklah akan berdampak apapun terhadapnya.
Melihat serangannya tidak membuahkan hasil meski hanya goresan kecil, Gu Lun mulai pasrah namun dia tetap memasang ekspresi bengis.
"Apa yang kau tunggu! Cepat bunuh aku!" Bentak Gu Lun dengan nada menantang seolah dirinya sama sekali tidak takut pada kematian.
Arya menarik sudut bibirnya, tersenyum dingin. "Setelah menghancurkan kehidupan banyak orang dan berbuat keji, apakah kau kira kau bisa mati begitu saja! Sekarang kau harus merasakan karma, mengalami kesakitan seperti orang-orang yang telah kau tindas."
Dengan tenang dan tanpa beban Arya menarik putus kedua kaki serta tangan Gu Lun, bahkan dia juga menginjak belalai keramat di pangkal kaki pria gempal tersebut, benda itulah yang telah menghancurkan masa depan banyak gadis.
"Apakah itu sakit?" Arya dengan cepat membungkam teriakan Gu Lun, dengan menyumpalkan sebongkah batu ke dalam mulutnya. "Ini hanyalah awal.."
Dengan mata yang mengucurkan air mata, Gu Lun terbelalak tidak habis pikir dengan kekejaman pemuda itu terhadapnya.
Gu Lun masih bisa melihat Arya tersenyum sinis, sebelum kesadarannya tiba-tiba beralih ke dunia lain. Kini Gu Lun berada di dalam lautan larva, tubuhnya dengan cepat melepuh dan akhirnya tewas menyisakan tulang. Namun penyiksaan yang di alaminya tidak berhenti sampai disana, karena setiap kali dia mati, dia akan hidup kembali. Dia terus mengalami penyiksaan demi penyiksaan yang pedih dan sangat menyakitkan.
Arya kemudian berdiri, pandangannya tidak sengaja melihat cincin ruang yang tersemat di jari tangan Gu Lun yang terpotong, dia lantas kembali menunduk dan meraih cincin penyimpanan tersebut.
Arya memeriksa apa yang ada di dalam cincin ruang tersebut dengan indra spiritualnya, tidak lama Arya tersenyum kecut sambil melirik tubuh Gu Lun yang terus kejang-kejang karena sedang berada di ambang hidup dan mati.
Arya kembali berdiri, kemudian berjalan menuju ujung lorong.