Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Kebebasan Sang Pangeran Es


“Dengar! Kami disini bukanlah sebagai tawanan kalian, justru nyawa kalianlah yang berada di tangan kami. Akan tetapi apabila kalian bersedia menunjukkan di mana para gadis-gadis yang ditahan, dengan senang hati kalian akan kami biarkan hidup! Cepat! Jangan sia-siakan kesempatan yang ku berikan ini!” ujar kakek Lengan Api, memberi penawaran. Sebenarnyalah kakek ini sudah tahu dimana letak ruang tahanan dengan membaca pikiran salah seorang diantara mereka. Akan tetapi dia masih berbaik hati untuk memberikan pengampunan jika orang-orang tersebut mau menurutinya, karena bagaimanapun ia sudah lama tidak membunuh.


Belasan orang bertopeng tengkorak saling berpandangan sejenak. Tiba-tiba mereka tertawa terbahak-bahak. Kemudian....


“Haaat...”


Diawali teriakan keras membahana, belasan orang anggota Manusia Iblis itu menerjang. Pedang yang sejak tadi tercekal di tangan, diayunkan ke arah berbagai bagian tubuh kakek Lengan Api.


“Rupanya kalian memilih mati!” desis Nie Zha.


Meski melihat kakeknya dapat menghindari curahan serangan dan yakin pula bahwa kakeknya itu pasti dapat mengatasi belasan orang-orang bertopeng tengkorak tersebut. Nie Zha yang memang sudah menahan marah karena sebelumnya mendapatkan penghinaan dari salah seorang dari orang-orang bertopeng tengkorak, segera saja terjun ke dalam pertarungan. Sekali kakinya bergerak, tubuhnya telah menyelinap di antara kelebatan senjata lawan, gerakannya yang teramat cepat tak ubahnya seperti bayangan. Dan ketika tangan serta kakinya mulai bergerak, tubuh anak buah Manusia Iblis itu telah berpentalan ke sana kemari. Jerit kesakitan dan lolong kematian tampak mengiringi terlemparnya tubuh mereka.


Sementara itu kakek Lengan Api kelihatan mengelaki setiap serangan senjata lawan dengan tenang dan bergerak lambat. Akan tetapi setiap kali melancarkan serangan, gerakannya menjadi cepat. Karena kejadiannya berlangsung demikian cepat dan tak terduga, orang-orang bertopeng itupun sama sekali tidak sempat berbuat apa-apa. Dan tahu-tahu, dadanya telah terpukul dan tertendang. Kelihatannya pelan saja, tapi akibatnya cukup dahsyat. Rasanya, dadanya seperti mendapat serudukan seekor banteng liar yang paling besar!


Tak pelak lagi, tubuh orang-orang bertopeng itu pun terpental disertai jeritan menyayat. Bahkan lebih mirip lolong kematian. Memang, tendangan kakek Lengan Api terlalu dahsyat untuk dapat diterima orang-orang bertopeng itu. Seluruh isi dada mereka langsung hancur berantakan. Darah segar pun mengalir di sudut-sudut mulutnya. Saat itu juga, nyawa satu persatu dari orang-orang bertopeng tengkorak itu melayang ke alam baka, sebelum tubuhnya sempat mencapai lantai batu.


Hanya dalam beberapa gebrakan saja, sudah tidak ada lagi orang-orang bertopeng tengkorak yang masih dapat berdiri tegak. Semuanya telah bergeletakan tanpa nyawa di lantai. Tubuh mereka hancur pada bagian dada dan kepala.


Memang sebelum menuju ke markas Manusia Iblis ini, mereka berdua sudah mendapatkan keterangan dari Arya, bahwa kelompok penjahat-penjahat ini memiliki ilmu sesat dan hanya dapat dibunuh dengan menghancurkan jantung, kepala atau membakar tubuh mereka sampai menjadi abu.


Setelah memperhatikan mayat lawan-lawannya sekilas, kakek Lengan Api dan Nie Zha kemudian mengalihkan pandangan ke arah pintu baja yang terbuka.


Sementara itu, ditempat lain. Fei Lun buka sepasang matanya yang sudah berhari-hari lamanya dalam keadaan pingsan. Tubuhnya terasa lemas, saat itu telinganya menangkap suara hiruk pikuk pertarungan. Dia menduga bahwa ada orang yang datang menyerbu kelompok Manusia Iblis. Untuk beberapa lamanya ia masih mendengarkan dengan seksama suara pertarungan itu. Sesaat berselang barulah dia berusaha mengerahkan sisa tenaga yang ada untuk melepaskan diri dari totokan. Akan tetapi biarpun sudah keluarkan keringan dingin, ia hanya dapat sekedar untuk menggerakkan tangan dan kaki.


Fei Lun mendengus dan menggertakkan rahangnya karena kesal. Dia mendapatkan kenyataan bahwa ia tidak dapat menyalurkan energi Qi nya untuk melepaskan totokan pada tubuhnya, apa lagi untuk menghancurkan borgol yang membelenggu tangan serta kakinya dan lebih-lebih menjebol pintu untuk melarikan diri.


Perlahan-lahan pemuda berambut putih ini merangkak ke pintu. Dia perhatikan keadaan pintu itu sejenak. Meski pintu itu bercat putih, ia dapat memastikan bahwa pintu itu bukanlah terbuat dari batu yang keras melainkan terbuat dari baja yang amat kokoh. Ia lantas berusaha bangkit berdiri. Pada daun pintu tepat di arah kepala ada sebuah lobang berbentuk kotak empat persegi. Tak diketahuinya lobang apa itu adanya dan apa kegunaannya. Fei Lun tempelkan telinga kiri ke daun pintu. Kali ini dia sudah tidak mendengar suara pertarungan, melainkan kini terdengar suara langkah kaki beberapa orang. Mungkin anggota Manusia Iblis itu, pikir si pemuda. Ketika suara langkah kaki itu kian mendekat, Fei Lun menegur.


“Siapa di luar?”


Tak ada jawaban. Tapi suara kaki melangkah itu mendadak berhenti.


“Siapa di luar? Mengapa tidak menjawab?” Fei Lun mengulangi teguran.


Tiba-tiba sret! Kotak kecil di depan kepala Fei Lun terbuka. Si pemuda mundur satu langkah, memandang memperhatikan ke arah kotak lobang. Dia melihat satu kepala yang samar-samar dalam kegelapan. Dua buah mata di balik lobang kecil memandang berkilat, tak berkedip ke arahnya. Kepala itu mendekat hingga kini hanya salah satu matanya saja yang berada dalam kotak.


Fei Lun perhatikan kilatan yang memancar dari mata di dalam kotak. Dia merasa ada satu getaran dahsyat dan panas. Itulah pancaran energi kegelapan. Namun sorot mata itu juga disertai rasa takut yang membuatnya bersikap bimbang.


Dahi Fei Lun berkerut, “Kau siapakah? Anggota Manusia Iblis ataukah orang yang melakukan pertarungan tadi?”


“Kau tak layak bertanya!” bentak orang di luar ruangan. “Jadi yang melakukan pertarungan itu adalah teman-temanmu, hah. Jangan harap kau bisa keluar dari sini.”


Mendengar suara keras tapi bergetar, Fei Lun maklum bahwa orang itu sedang dalam keadaan gusar. Manusia bertopeng tengkorak di luar ruangan hendak menutup kotak di pintu.


Fei Lun cepat berkata. “Tunggu!”


“Apa maumu?”


“Tunggu, jangan pergi. Dengar dulu ucapanku. Kalau kau mau menolongku keluar dari tempat celaka ini, aku akan berikan apa saja yang kau minta. Ketahuilah, aku adalah seorang pangeran. Jadi apapun yang kau..”


“Tak usah banyak bicara. Kami di sini tahu semua siapa dirimu adanya!” tukas orang bertopeng tengkorak itu, bibirnya menyeringai. “Kau tak bisa membujuk diriku. Tidak siapapun di tempat ini bisa dibujuk. Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan.”


Fei Lun terdiam. Namun di lain saat pemuda ini keluarkan tawa panjang.


“Kenapa kau tertawa?” bentak orang bertopeng tengkorak.


“Kukira kau satu-satunya manusia cerdik di tempat ini. Ternyata kau sama saja tololnya dengan manusia-manusia iblis lainnya!”


“Bocah kurang ajar! Jangan berani berlancang mulut di tempat ini!”


“Hemm… Buktinya, kau lebih memilih hidup ditempat ini sebagai kacung dan menolak penawaranku yang pastinya akan membuat hidupmu lebih menyenangkan diluar sana.”


“Kami anggota Manusia Iblis tidak ada satupun yang di inginkan didunia ini. Kecuali melayani Yang Mulia Sang Ketua!”


Tiba-tiba terdengar suara menderu yang di susul suara bergedebuk.


Fei Lun tercekat, ia merasakan udara disekitarnya menjadi panas luar biasa. Di lobang pintu, ia sudah tidak melihat orang yang tadinya berbincang-bincang dengannya. Belum lepas keterkejutannya, mendadak terdengar suara seorang kakek dari balik pintu itu.


“Siapapun yang berada di dalam, menyingkirlah! Aku akan menghancurkan pintu ini.”


Fei Lun mengangguk-angguk, lega-lah hatinya. Siapapun adanya orang yang berkata begitu, pastilah dia bukan orang-orang Manusia Iblis. Maka segera saja dia melompat ke pinggir tembok.


“Sudah, lekas-lah buka pintu ruangan celaka ini!” seru Fei Lun, ia merasa tubuhnya tidak lagi lemas seolah mendapatkan kekuatan lebih setelah mendapat harapan bisa keluar dari ruang tahanan.


Mendengar seruan itu, seorang kakek Lengan Api yang berdiri di luar segera alirkan Qi nya pada kepalan tangan kanannya. Tangan itu menyala merah seperti bara dan begitu tangan itu disentakkan ke pintu...


Dentuman keras membahana mengisi seisi lorong. Asap bercampur taburan batu menutupi pandangan. Obor-obor yang menggantung di dinding-dinding lorong padam terkena sapuan angin dari pukulan.


Dalam kegelapan yang hanya diterangi nyala sinar di pergelangan tangan kakek Lengan Api, tampaklah dihadapan kakek tua itu kini pintu ruangan berikut dindingnya yang terbuat dari baja dan yang telah mengurung Fei Lun, telah hancur.


Kakek Lengan Api geleng-geleng kepala, tak dinyana ruangan itu amat kuat. Bahkan ia harus mengerahkan separuh kekuatan dari pukulannya. Dia maklum bahwa orang yang di kurung disana pastilah bukan orang sembarangan. Maka untuk sejenak ia mengamati keadaan di dalam sambil berjaga-jaga kalau-kalau orang yang ada di dalam ternyata adalah musuh. Sejenak dia terheran-heran melihat seorang pemuda tampan yang berdiri merapat di dinding dalam keadaan tangan dan kaki terborgol. Menurut keterangan yang didapatkannya, kelompok Manusia Iblis hanya menculik gadis-gadis dan bayi-bayi. Lalu kenapa sekarang dia mendapati seorang pemuda.


“Kek, cepat lepaskan belenggu tangan dan kakiku, sebelum mereka datang.” Fei Lun meloncat ke hadapan Kakek Lengan Api. Sepasang tangannya yang terborgol rantai baja dan segel pemusnah energi, diulurkan ke depan.


Kakek Lengan Api mengerutkan dahi, memandangi pemuda itu dari atas sampai bawah. Akan tetapi tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah-langkah banyak orang yang berkelebatan ke arahnya.


“Celaka! Larilah, cepat kau lari sebelum terlambat. Aku di sini tidak apa-apa. Aku akan membantumu lari. Hayo cepat!” Kakek Lengan Api mendorong pemuda itu ke luar dari dalam ruangan itu.


Fei Lun terkejut, heran juga kesal karena dia melihat betapa keadaannya masih terbelenggu, dan kini dia malah disuruh lari. Bagaimana dalam keadaan seperti itu dia dapat melarikan diri. Pemuda ini membalikkan badannya, menghadap kepada kakek Lengan Api, “Kek lepaskan dulu rantai-rantai ini!” ucapnya setengah membentak.


Kakek Lengan Api terkekeh-kekeh sambil garuk-garuk rambutnya. Sekali lagi di pandanginya wajah si pemuda, lalu dengan sikap tak peduli kemudian mentotok beberapa bagian pada tubuh pemuda itu. Pada totokan ke dua belas, tiba-tiba pemuda itu memuntahkan cairan kental berwarna hijau berkali-kali.


“Syukurlah tidak ada satupun Meridianmu yang terluka ataupun rusak akibat racun itu, anak muda.” kakek Lengan Api diam-diam kagum akan ketahanan tubuh Fei Lun. Menurutnya racun perusak inti energi sangatlah ganas, tapi pemuda ini masih dapat bertahan sampai sejauh ini. “Sungguh seorang pemuda yang berkepandaian luar biasa sekali.” pikirnya.


Untuk beberapa saat Fei Lun merasa kepalanya teramat pening, dunia seolah-olah berputar-putar di kepalanya, penglihatannya menjadi gelap. Akan tetapi pemuda itu masih dapat mempertahankan kesadarannya. Bahkan ia juga berusaha agar tubuhnya tidak limbung jatuh.


Kakek Lengan Api meletakkan tangan kanannya di atas pundak Fei Lun. Rupanya sentuhan itu membuat keadaan Fei Lun jadi lebih baik. Lalu tangan kirinya bergerak dan dengan amat mudahnya seperti memutus benang-benang saja, kakek ini telah menggunakan jari-jari tangannya untuk mematahkan belenggu tangan pemuda itu.


Fei Lun mengangkat wajahnya yang tadinya tertunduk lemas dan lalu tersenyum. Wajahnya tampan sekali bila tersenyum, mengusir kemuraman yang membayangi wajah itu. Akan tetapi sebelum pemuda ini membuka suara, tiba-tiba...


Wuuuuttt!


Mereka berdua segera menoleh ketika terdengar suara menderu pukulan jarak jauh yang melesat ke arah mereka.


Menghadapi serangan ini, kakek Lengan Api meniupkan udara dari mulut. Bersamaan dengan itu melesatlah energi angin tipis dan berbentuk jarum, menderu memapasi serangan tersebut.


Blaaarrr!


Benturan dua energi itu menciptakan dentuman yang menggetarkan lorong. Keadaan lorong untuk beberapa saat menjadi terang benderang.


Terlihatlah dua orang berkelebat dan menjejakkan kaki beberapa tombak dihadapan kakek Lengan Api dan Fei Lun.


Akan tetapi, Fei Lun yang mendapatkan kembali kekuatannya dan menaruh dendam pada kelompok Manusia Iblis yang telah menipu bahkan meracuni serta menjebloskannya ke dalam ruang tahanan, langsung menerjang. Fei Lun sudah menghancurkan belenggu baja pada kakinya, ia membuka serangan dengan sebuah pukulan tangan kanan ke arah leher orang sebelah kiri. Dari angin yang berkesiut begitu nyaring dan menebar hawa dingin. Bisa diduga kalau pemuda berambut putih ini mengerahkan energi Qi cukup tinggi.


Tapi orang yang diserang bukan pendekar sembarangan. Dia bernama Tiong-hui dan adalah murid ketujuh terbaik dari sepuluh murid Serigala Iblis Dari Timur, tokoh hitam yang sangat terkenal dan ditakuti di Kekaisaran Tang. Maka, tentu saja serangan seperti itu sama sekali tidak membuat gentar laki-laki berwajah pucat itu.


Sekali lihat saja, Tiong-hui sudah bisa mengetahui jika jurus yang dipakai pemuda berambut putih itu berasal dari kerajaan Istana Es. Dia kenal betul gerakan itu. Juga, ke mana lanjutan serangannya, dan bagaimana cara singkat mematahkannya.


Tiong-hui tersenyum mengejek. Enak saja kaki kanannya melangkah ke belakang. Tidak hanya itu saja. Bersamaan kakinya ditarik mundur, tangan kanannya bergerak menangkap. Dan....


Tappp ... !


Fei Lun terpekik kaget begitu pertarungan baru saja dimulai tangannya sudah tertangkap lawan. Berbagai dugaan terlintas dibenaknya. Namun dia tidak mau menduga-duga, dengan cepat dia sudah melancarkan serangan susulan. Kaki kanannya meluncur cepat ke arah dada Tiong-hui. 


Wuttt..!


Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Tiong-hui sama sekali tidak menghindar. Sambil terus memengangi pergelangan tangan Fei Lun, ia membiarkan dadanya dijadikan sasaran tendangan, akibat selanjutnya sudah bisa diduga.


Bukkk!


“Akh... !”


Telak dan keras sekali tendangan yang dikirimkan Fei Lun menghantam sasarannya. Tapi sungguh aneh. Masalahnya justru dialah yang berteriak kesakitan. Mulutnya menyeringai memperlihatkan kalau dirinya dilanda rasa sakit yang luar biasa.


Tiong-hui yang memang tidak ingin membunuh pangeran ini untuk tujuan tertentu, maka cepat ia hendak menggunakan racun untuk melumpuhkan Fei Lun. Jemarinya yang masih memegangi pergelangan tangan pemuda itu perlahan bergerak meremas. Maka seketika itu juga Fei Lun yang baru memulihkan diri melolong-lolong kesakitan, karena sekujur tulang pergelangan tangannya seperti hancur lebur. Keringat sebesar-besar biji jagung pun bertonjolan di wajahnya.


Kakek Lengan Api tentu saja tidak akan tinggal diam melihat pemuda yang baru dibebaskannya itu tidak berdaya menghadapi lawan yang sebenarnya lebih lemah dari si pemuda. Hanya karena Fei Lun baru saja terbebas dari racun dan energinya belum pulih betul. Maka Fei Lun menjadi tak berdaya seperti itu.


Cepat laksana kilat kakek ini melompat menerjang. Tangannya yang bersinar putih menyambar ke tangan Tiong-hui yang mencengkram erat pergelangan tangan Fei Lun.


Dikarenakan tidak dapat melihat kecepatan kultivator tua itu, maka buntung lah tangan Tiong-hui kena dihantam kakek Lengan Api. Tidak sampai disana, kakek Lengan Api juga menendang dada Tiong-hui sampai terpental jauh menembus gelapnya lorong.


Bruuukk...


Tiong-hui meringis karena sekujur tangannya terasa panas bukan main. Dadanya pun sesak dan sakit seolah tulang-tulangnya patah.


Sementara itu, anggota Manusia Iblis yang satunya segera mengeluarkan goloknya, karena sadar kakek tua yang menjadi lawannya itu teramat kuat. Walaupun dalam hati merasa terperanjat oleh kejadian itu tetapi diluaran ia masih tetap mempertahankan ketenangannya.