Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Kakek Malang


Arya segera mencampakkan jubah putih bergambar tengkorak bertanduk yang dikenakannya, lalu berjalan memasuki ruangan. Begitu dia masuk ke dalam, ia melihat seorang wanita berdiri menyandar di sebuah tiang dan diikatkan di situ! Wanita ini menangis terisak-isak dan menggeleng-gelengkan kepala ketika seorang di antara tiga gadis tanpa busana hendak memberinya minum madu merah dari sebuah cawan, sedangkan dua orang gadis lainnya hendak melucuti pakaiannya.


Sekali tubuhnya berkelebat, Arya telah menotok tiga orang gadis itu sehingga serta-merta mereka bertiga jadi tegak kaku seperti patung. Pemuda ini menggerakkan tangannya kanannya hendak mengusap kepala mereka. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara yang lemah dan halus dari wanita yang terikat di tiang.


“Jangan bunuh mereka!”


Arya mengangguk, ia menengok untuk beberapa saat menatap mata wanita itu. Setelah membaca pikiran wanita itu, pemuda ini tersenyum. Senyuman yang amat menawan sehingga mampu membuat hati yang gundah gulana jadi tenang melihatnya. Senyuman yang mengandung aura aneh sehingga dapat membius dan memikat seseorang, seolah yang dilihatnya itu adalah seorang raja atau dewa yang sedang tersenyum kepada mereka.


Dari hasil membaca pikiran si wanita, Arya dapat mengetahui bahwa wanita itu telah diculik dari desa Daoyao dan akan diangkat atau diresmikan menjadi selir baru ketua Manusia Iblis pada malam ini.


“Aku tidak akan membunuh mereka, tenanglah aku juga mengetahui kalau mereka dalam pengaruh ilmu hitam.” selesai berkata demikian, iapun lantas merenggut putus tali-tali yang mengikat kaki dan tangan wanita itu.


Setelahnya, Arya kemudian mengusap kepala tiga gadis yang tadi dibuatnya kaku tegang. Usapan itu rupanya mengandung kekuatan sihir dan energi emas, akibatnya pengaruh sihir yang membelenggu ke-tiga gadis itupun dapat dihancurkan, usapan itu rupanya juga membuat mereka tak sadarkan diri sehingga ketiganya jatuh tergeletak di lantai.


Si wanita yang sebenarnya adalah janda dari mendiang pendekar Cia Lie Peng, yang juga ibu dari Cia Ling dan Cia Wan, menggosok-gosok kedua pergelangan tangannya yang terasa sakit sambil memejamkan matanya. Ketika ia membuka kembali matanya, maka kedua mata itu menjadi basah dan air mata mengalir turun kembali dengan derasnya. Ia memandang kepada Arya yang pada saat itu telah berjalan menuju ke arah pintu pada ujung lorong. Seolah tidak merasa betapa pakaiannya telah hampir membuat ia telanjang, tiba-tiba ia berlari dan menjatuhkan diri berlutut di depan Arya.


“Kau.. Kau telah menyelamatkan diriku dari bahaya yang lebih hebat dari maut.. Terima kasih, pendekar, terima kasih.. Semoga Yang Maha Kuasa memberi berkah kepadamu..” ucap janda Cia sambil sesenggukan.


Arya tersenyum, namun juga terharu. Ia maklum akan perasaan wanita ini, yang telah berada di tepi jurang kehancuran dan kehinaan yang akan memusnahkan kesuciannya sebagai wanita yang telah berkeluarga. Akan tetapi ketika pandangannya tak sengaja menatap bukit kembar besar yang hampir-hampir tak tertutupi pada dada wanita itu, Arya jadi menelan ludah, dan cepat-cepat membuang pandangan ke depan.


“Nyonya, sudahlah jangan menangis, betulkan letak pakaianmu dulu” Sambil berkata demikian, Arya menutup kedua matanya. Tak tahan ia melihat keindahan ini terbentang di depan matanya. Melihat para penari yang bertelanjang bulat tadi, ia merasa jijik dan muak, akan tetapi kini melihat janda Cia berlutut di depannya dengan pakaian hampir terlepas dari tubuh ia merasa betapa lututnya menjadi lemas dan dadanya berdebar keras. Memang harus diakui bahwa janda Cia memiliki parah yang cantik dan disempurnakan dengan keindahan lekuk tubuh yang menggiurkan. Meski kecantikan wanita ini masih kalah dengan Liu Wei, Ratu Qian Yu, Putri Ming Yu Hua, Nie Zha, Putri Zhou Jing Yi maupun Huang She. Akan tetapi pemandangan wanita cantik yang hampir-hampir telanjang tetaplah membakar gairahnya.


Sebagai seorang laki-laki tulen wajar saja bila dia jadi bergairah melihat tubuh lawan jenis. Namun Arya masih bisa menahan diri agar tidak terus hanyut dalam gelora n*fsunya, bahkan ia justru merasa bersalah karena telah lancang melihat aurat wanita-wanita yang bukan apa-apanya, kekasih bukan apalagi istri.


Sementara itu, ketika mendengar ucapan pemuda dihadapannya ini, barulah janda Cia sadar akan keadaannya. Mukanya menjadi merah sekali dan cepat-cepat ia mengerling kepada wajah pemuda itu. Dia menarik napas dan makin merahlah mukanya, ketika melihat betapa pemuda itu berdiri sambil memejamkan matanya. Ia cepat-cepat membetulkan dan memakai pakaiannya kembali, diikat erat-erat kemudian ia berkata,


“A..aa..apakah a..aa..aku boleh minta bantuanmu sekali lagi, tuu..tuaan pendekar?” ujar janda Cia dengan tergagap karena rikuh dan malu sekali, sebab teringat betapa beberapa saat yang lalu tanpa disadarinya ia telah mempertontonkan tubuhnya yang hampir-hampir telanjang kepada laki-laki yang tidak dikenalinya itu.


“Apakah aku sudah boleh membuka mataku? Dan sudahkah nyonya mengenakan pakaian anda?” sahut Arya balas bertanya.


Janda Cia pandangi wajah Arya. Kini barulah ia menyadari betapa gagah dan tampannya pemuda yang berdiri dihadapannya itu. Untuk beberapa saat dia jadi termangu-mangu karena terpesona.


“Nyonya, sudahkah anda mengenakan pakaianmu?” tanya Arya kembali karena tak kunjung mendapatkan jawaban. Sebenarnya ia sudah mendengar pergerakan wanita itu ketika membetulkan pakaiannya. Ia juga bisa saja menggunakan penglihatan batin untuk melihat keadaan wanita dihadapannya itu, tetapi dia tidak mau lancang. Takut kalau-kalau wanita dihadapannya itu ternyata belum membetulkan pakaiannya.


“Su..sudah..”


Begitu mendengar ucapan itu, Arya membuka matanya, ia nampak canggung. Dengan senyuman yang dipaksakan iapun berkata, “Berdirilah nyonya.. aku sudah tau apa yang anda harapkan. Untuk itu anda tetaplah disini! Setelah semuanya selesai, anda akan dikembalikan kepada suami dan anak-anak anda.”


Janda Cia mengerutkan dahi, ia jadi terheran-heran bagaimana pemuda itu dapat mengetahui bahwa dirinya sudah bersuami dan bahkan memiliki anak. Lebih-lebih pemuda itu juga tahu bahwa dirinya membutuhkan bantuan untuk di antar keluar dari tempat celaka ini. Sebelum wanita ini dapat menyuarakan kebingungannya, Arya tiba-tiba menggerakkan tangan kanannya. Meluncurlah sinar emas dari tangan si pemuda, yang dengan cepat sekali sinar emas itu telah menyebar dan mengurung tubuhnya berikut seluruh ruang tempat dirinya dan tiga gadis yang pingsan berada.


“Maaf, demi keselamatan anda, aku terpaksa melakukan ini. Tunggulah sampai aku kembali.” selesai berkata begitu Arya melakukan pola tangan. Sepuluh jari-jemarinya bergerak cepat dan kemudian tiba-tiba tubuh pemuda itu mengeluarkan sinar emas yang mengepul seperti asap.


Dapat dibayangkan betapa terkejutnya janda Cia melihat kenyataan ketika tiba-tiba asap emas itu membentuk lima sosok manusia yang sama persis keadaannya seperti si pemuda yang telah menolongnya tersebut. Wanita ini bahkan sampai keluarkan seruan tertahan sambil terusut mundur beberapa langkah!


“Selamatkan para gadis dan semua tamu! Setelah itu basmi semua anggota Manusia Iblis!” perintah Arya yang segera dijawab dengan anggukan kepala lima tubuh bayangannya.


Maka dalam sekejapan mata, kelima bayangan itupun telah melesat lenyap dari ruangan itu. Arya sendiri melangkah menuju pintu di ujung lorong. Pemuda ini hanya menggerakkan kakinya satu langkah, tapi tahu-tahu ia telah berada di depan pintu, yang jaraknya sekitar dua puluh meter dari tempat berdirinya semula.


Janda Cia yang menyaksikan semua itu jadi melongo. Setelah dapat menguasai diri, ia lantas mengucek-ngucek matanya. Mengira bahwa semua yang dilihatnya hanyalah serangkaian mimpi belaka! Kini ia melihat pemuda itu telah memasuki pintu ruangan diujung lorong sana.


Sewaktu Arya masuk ke dalam ruangan itu, satu pemandangan yang luar biasa membuat dia sangat terkejut hingga sepasang kakinya laksana terpatri ke lantai. Ruangan itu tak seberapa besar. Meski bagian luarnya kelihatan bagus tapi di dalamnya hanya merupakan dinding lantai dan atap batu yang kasar. Seluruh ruangan diselimuti debu.


Di beberapa sudut laba-laba telah membuat sarangnya. Di tengah-tengah ruangan inilah, kelihatan duduk seorang laki-laki tua bermuka biru, berpipi sangat cekung. Tubuhnya yang kurus tertutup sehelai jubah biru yang luar biasa besarnya hingga bagian bawahnya menutupi hampir seluruh lantai kamar. Kedua tangan orang tua ini buntung sebatas siku, salah satu telinganya melesak ke dalam.


Pada lehernya terikat sebuah rantai baja yang ujungnya dipantek dengan sebuah paku besar ke dinding batu di belakangnya. Orang tua ini memejamkan matanya tak ubahnya seperti sikap orang yang tengah bermeditasi.


“Orang tua, kau siapa?!” tanya Arya sambil melangkah mendekat.


Orang tua itu membuka kedua matanya.


“Eh, Astaga!” Arya merasa bulu kuduknya berdiri. Kedua mata orang tua itu hanya merupakan sepasang rongga yang dalam dan mengerikan!


“Apakah aku sedang berhadapan dengan Dewa?” desis kakek tua malang itu, “Maafkan aku yang tak bisa memberikan penghormatan selayaknya.”


“Hamba memang telah lama menunggu dan sangat merindukan kematian. Jika benar Anda adalah Dewa Kematian, maka dengan teramat sangat hamba mohon cabutlah nyawa tua renta yang malang ini.” ucap kakek itu dengan menghiba namun juga nampak tegar.


“Bukan, aku bukanlah dewa. Aku hanyalah anak manusia yang kebetulan tersesat masuk ke tempat ini.” ucap Arya.


Orang tua itu tertawa. “Jika kau bukan Dewa, lalu kenapa aku merasakan aura dewa pada tubuhmu? Sewaktu ku dengar kau memasuki ruangan ini, aku heran mengapa kau bisa masuk tanpa menghancurkan segel pelindung yang ditempatkan diruangan terkutuk ini. Sebab itulah ku kira kau adalah Dewa. Tapi tak jadi mengapa, meskipun kau bukanlah Dewa Kematian yang ku harapkan kedatangannya untuk mencabut nyawa ini. Tapi kedatanganmu juga membuatku gembira. Setidaknya dengan perantaraan dirimu, aku dapat  mengharapkan sesuatu yang telah aku idam-idamkan dan yang ku rindu-rindukan selama ini.”


Arya kerutkan dahi. Dipandanginya kakek itu lebih teliti. Astaga, ternyata kedua kaki orang tua itu sebatas lutut juga telah buntung! Lain daripada itu, dari dua tangan dan kakinya yang buntung itu meneteskan darah yang jatuh ditampung dalam cawan hitam besar.


“Benar-benar laknat terkutuk yang kejam luar biasa!” kecam Arya geram. “Orang tua, siapa orangnya yang telah melakukan kekejaman ini padamu? Dan kenapa pula kau sampai dirantai begini rupa?”


Orang tua itu menghela nafas, “Muridku sendiri yang melakukannya.” jawabnya penuh iba dan penyesalan.


“Muridmu?!” kejut Arya.


“Tak perlu terkejut atau heran orang muda. Di dunia ini memang penuh dengan orang-orang sesat dan kejam.”


“Kalau aku boleh bertanya, siapa muridmu itu?” Arya jadi tambah penasaran.


“Masakan kau tidak bisa menerka. Muridku adalah Sung Tiang Le.”


Arya kerutkan kening sembari mengingat-ingat, “Maaf, aku tidak pernah mengenal maupun mendengar nama orang itu.”


“Gelarnya adalah Serigala Iblis Dari Timur.”


Arya tampak terkejut, untuk beberapa lamanya ia kembali pandangi orang tua malang itu dengan seksama. ‘Jika muridnya saja adalah ketua Manusia Iblis, yang bersekutu dengan makhluk kegelapan. Bisa jadi orang tua ini tak kalah pula sesat dan jahatnya.’ pikirnya.


Tiba-tiba orang tua itu terkekeh-kekeh, “Aku tahu apa yang sedang bergejolak dalam benakmu, anak muda. Terserah kau mau menilai apa tentang diriku. Tapi akan aku ceritakan sekelumit mengenai diriku. Itupun jika kau mau percaya, kalaupun tidak, akupun tak akan ambil perduli.”


Arya angguk-anggukan kepala. Dan kemudian bercerita lah kakek itu.


“Dulu aku adalah kultivator yang melakukan pengembaraan ke berbagai benua. Memang seperti perkiraanmu, anak muda. Aku memang berasal dari golongan sesat. Banyak sudah kejahatan yang telah aku lakukan. Sepanjang usiaku, aku hanya menuruti nafsu dan mengejar kesenangan-kesenangan sesaat. ” kakek itu menghela nafas. Wajahnya nampak muram seolah penuh penyesalan.


“Beratus-ratus tahun lamanya aku mengembara bersama kawan-kawanku. Pengembaraan itu kami lakukan guna mengikuti seorang kultivator tua bernama Zhen Long atau yang lebih di kenal dengan gelar Legenda Pendekar Naga. Kami mengincar kitab kuno dan pusaka yang dimiliki oleh orang itu. Tetapi setiap kali kami bertarung dengannya, kami selalu dikalahkan. Bahkan sudah banyak di antara teman-temanku yang tewas ditangan orang itu. Dan karena selalu dikalahkan itulah, aku merasa terhina dan diremehkan. Timbullah api dendam yang bergelora di dalam hatiku atas kematian teman-temanku. Seiring berjalannya waktu ambisiku untuk mendapatkan kitab kuno dan pusaka langka berganti dengan tekad untuk menebus semua kekalahanku sekaligus untuk membalaskan kematian teman-temanku pada si Legenda Pendekar Naga itu.” kakek itu menghentikan ceritanya sesaat. 


“Akan tetapi setelah bertahun-tahun aku meningkatkan kekuatan dan sudah siap untuk bertarung dengannya lagi. Legenda Pendekar Naga itu telah lenyap entah kemana. Aku mencarinya sampai ke segala penjuru dunia ini. Waktu tak terasa berlalu begitu cepat, mengikis segala ambisi serta api dendam yang berkecamuk dalam hatiku. Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya pencarianku tak menemui hasil, tanpa terasa aku sudah mulai jemu akan kehidupan yang aku jalani ini. Seperti halnya malam berganti siang. Demikianlah perumpamaan diriku yang mulanya diselimuti kegelapan berganti dengan cahaya harapan untuk memperbaiki kehidupanku yang selalu berkecimpung dalam kesesatan. Aku mulai sadar bahwa kehidupan yang selama ini ku jalani benar-benar tak ada gunanya, hanya merugikan orang lain dan memuaskan diri sendiri dengan kesenangan yang semu belaka.” kakek itu tersenyum, dari rongga matanya yang tak memiliki bola mata itu tampak mengalir air membasahi pipinya.


“Sedikit demi sedikit aku mulai merubah kehidupanku. Meskipun mulanya aku merasa aneh dan tak terbiasa dengan kehidupan baruku, tapi aku menemukan sebuah kebahagiaan batin yang tak bisa aku gambarkan keindahannya. Aku menemukan kebahagiaan setiap kali aku menempatkan diriku pada kemaslahatan sesama. Dari sinilah aku menemukan kedamaian batinku, aku juga mulai menyadari bahwa sesungguhnya manusia diciptakan hakekatnya untuk saling mengasihi dan berguna bagi seluruh makhluk hidup. Kejahatan yang selama ini aku lakukan malah justru membuat batinku kalut malut, gelap dan tak bisa memahami apa tujuan Tuhan menghendaki diriku hidup di dunia ini”


Arya masih memposisikan dirinya sebagai pendengar yang baik. Meskipun sebenarnya-lah ia sempat terkejut ketika mendapatkan kenyataan bahwa kakek ini pernah memiliki selang-sengketa dengan kakeknya Zhen Long. Tetapi ia hanya diam saja, namun kini ia tiba-tiba mengeluarkan dua kendi arak, “Kek, ceritamu sangat menarik. Mari minum dulu, pasti kakek merasa haus karena terlalu banyak bicara, he..he...”


Melihat si kakek tak memiliki tangan, pemuda ini mendekati kakek itu hendak meminumkan isi kendi arak yang dibawanya ke mulut kakek tersebut. Akan tetapi kakek itu berkata,


“Arak yang bagus.. baunya harum sekali. Ah, aku sampai lupa, sudah beberapa lamanya aku tak pernah lagi merasakan rasanya arak. Nah, lemparkan saja kendi itu, anak muda. Engkau tak perlu susah-susah meminumkan kendi itu ke mulutku.”


Arya kerutkan dahi. Meski heran bagaimana cara orang tua malang itu minum, namun dia mengangguk saja karena maklum bahwa kakek dihadapannya itu bukanlah manusia biasa. Maka iapun segera melemparkan kendi itu ke arah si kakek.


Maka terjadilah peristiwa yang mengagumkan! Kendi itu melayang beberapa jengkal dari muka si kakek. Tutup kendi itu copot dengan sendirinya. Kemudian air arak di dalamnya keluar dan melayang masuk ke mulut si kakek.


Arya tersenyum, “Rupanya kakek ini memiliki kemampuan telekinesis seperti diriku.” batinnya.


____________


Harap jangan di sangkut-pautkan cerita ini dengan agama, sejarah maupun logika. Harus dimaklumi cerita ini hanyalah fiktif belaka, yang berdasarkan dari imajinasi pengarang. Bukan Kitab Agama, Buku Pelajaran Sejarah bukan pula Realita.


Author sengaja melibatkan Dewa dan Ke-Tuhanan dalam cerita ini untuk kesinambungan cerita. Ada manusia, adanya alam semesta berikut seluruh makhluk hidup, tentulah ada penciptanya.


Anggap saja Dewa seperti halnya malaikat, dan Tuhan adalah Pencipta dan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatunya.


Atau anggaplah Dewa memiliki tingkatan derajat, seperti Dewa Indra yang berperan sebagai pembantu Dewa Trimurti (Wisnu, Brahma, Siwa).


Atau pula dewa-dewa yang menjalankan perintah dari Sang Budha.