Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Merubah Wujud


Arya mendarat tidak jauh dari rombongan orang yang sedang mengawal dua kereta kuda. Salah satu kereta kuda tersebut berisi penuh barang-barang, sedangkan satunya lagi di tempati manusia. Arya menebak, mereka adalah para pendekar yang di sewa untuk mengawal barang beserta pemiliknya.


Melihat seorang pemuda muncul dari balik pohon, semua pendekar yang mengawal kereta kuda tersebut menjadi waspada. Mereka segera menarik senjata bersiap jika terjadi penyerangan.


"Maaf jika aku mengganggu perjalanan kalian, aku hanya ingin bertanya dimana desa Shanyin berada." Arya berkata sopan sambil menelangkupkan tangan.


Para Pendekar tersebut mengerutkan dahi, mereka mencoba mengukur kemampuan Arya. Merasa kemampuan pemuda itu tidaklah menjadi ancaman, merekapun menyarungkan kembali senjatanya.


Arya memang sudah menekan Kultivasinya ke tahap Pendekar Menengah agar tidak menarik perhatian dan kecurigaan.


"Apakah kau yakin akan pergi ke desa Shanyin? Desa itu masih sangat jauh." Salah satu Pendekar menatap Arya dengan teliti. Menurutnya dengan kemampuan yang di miliki pemuda itu, pergi ke tempat jauh seorang diri akan sangat mengancam keselamatannya.


Mendadak wajah Arya menunjukkan ekspresi buruk. Benar saja tidak berselang lama, Hulao dan Honglong tiba-tiba muncul di sampingnya. Dia sudah menyuruh mereka untuk bersembunyi agar tidak membuat para pendekar tersebut takut.


Belum sempat para Pendekar menarik senjata, Honglong sudah mencengkram salah satu dari mereka.


"Apa yang kau lakukan.." Bentak Arya geram.


"Tuan, aku hanya ingin mengambil sedikit energi kehidupannya untuk merubah penampilanku menjadi seperti orang ini." Balas Honglong sebelum berkelebat kembali berdiri di samping Arya.


Menyaksikan seekor tupai bisa berbicara, para pendekar di buat begitu terkejut. Mereka segera menenangkan diri dan lantas berkelebat menyerang.


Hulao langsung melesat maju menyabut semua serangan yang datang dengan sangat cepat. Hanya dalam beberapa tarikan nafas Hulao sudah melumpuhkan mereka semua. Kini semua pendekar tersebut di buat tidak sadarkan diri.


"Kalian sudah merusak rencanaku." Umpat Arya kesal.


"Maaf tuan.." Honglong tersenyum lebar lalu merubah wujudnya menjadi orang yang telah ia serap enegi kehidupannya.


Orang-orang yang berada di dalam kereta kuda nampak begitu ketakutan, mereka tidak berani melihat keluar. Kini mereka hanya bisa pasrah jika barang-barang yang mereka bawa di rampas.


Hulao berjalan ke tempat Arya dengan wujud manusia, dia menatap Arya dengan wajah datar. "Maaf tuan, ini semua adalah ide tupai gendut itu." Ucapnya sambil menunjuk Honglong.


Arya mendengus pelan sebelum mengeluarkan energi hijau yang dia arahkan ke semua Pendekar yang tergeletak pingsan.


"Ayo pergi..." Arya segera menghilang, di susul Hulao dan Honglong.


Beberapa saat setelah kepergian Arya dan kedua siluman peliharaannya, para pendekar yang tergeletak pingsan lantas siuman. Mereka nampak linglung, dan kemudian bangkit berdiri.


**** 


Embun masih membuat suasana pagi sejuk, para penduduk terlihat berlalu lalang memulai aktifitas keseharian mereka. Arya bersama Hulao dan Honglong terlihat berjalan di antara kerumunan orang, Arya berniat mencari kedai karena menurutnya disanalah tempat yang cocok untuk mendapatkan informasi yang dia inginkan.


Sebenarnya Arya sudah mengorek informasi terkait keberadaan desa Shanyin dari ingatan para pendekar yang ia temui sebelumnya, namun informasi yang di dapatkannya tidak terlalu mendetail.


Setelah memasuki kedai, mereka mendapati beberapa meja sudah terisi pengunjung. Hulao dan Honglong nampak tidak sabar ingin segera mengisi perut mereka dengan makanan dari bangsa manusia, mereka memang sudah sangat bosan hanya makan buah sumberdaya selama berada di dimensi milik Arya.


Di pojok ruangan ada meja yang lebih lebar, dengan kursi panjang di dua sisinya. Arya mengajak mereka ke meja besar tersebut, lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan yang enak.


Pelayan tersebut nampak tercengang, meskipun hatinya juga merasa senang saat Arya memesan 20 porsi. Pelayan itupun bergegas memberitahu juru masak untuk secepatnya membuatkan makanan yang di pesan pemuda tersebut.


Setelah memesan makanan, tidak ada perbincangan di antara Arya, Hulao dan Honglong, sebelum terdengar suara "Duuuutt!" disertai bau busuk yang menyengat.


"Sialan tupai tengik! Buang kentut sembarangan!" Maki Hulao yang duduk di samping Honglong seraya memukul kepala tupai siluman yang kini sudah menjelma wujud manusia.


"Hahaha, maaf aku kelepasan. Perutku sedikit mulas." Honglong beralasan sambil nyengir kuda.


"Pemuda, kalau kau mau kentut, tahanlah barang sebentar. Kami sedang makan." Seorang pria tua berpakaian seperti pendekar memprotes kelakuan Honglong. Semua pengunjung jadi ikut memperhatikan Honglong yang sedang mengelus-elus kepalanya yang sakit akibat pukulan Hulao.


"Maaf kek.." Honglong nampak tersenyum canggung mengingat usianya jauh lebih tua dari kakek tersebut.


Dengan sopan Arya mempersilahkan semua pengunjung untuk memesan kembali, hal itu membuat beberapa di antara mereka berseru girang.


"Pemuda yang tampan dan dermawan, pasti istrinya akan secantik bidadari."


Ketika Arya sedang menyantap makanannya, tidak berselang lama tiba-tiba terasa ada aura pembunuh yang samar-samar tertuju ke ruangan tersebut.


"Jangan bertindak bodoh lagi, atau kalian akan menerima hukuman dariku." Arya memasang wajah dingin, menatap Hulao dan Honglong.


Baik Hulao dan Honglong seketika pucat, dan tiba-tiba...


Braaakk...


Dua siluet hitam menabrak jeruji jendela yang terbuat dari kayu.


Blaaarr..


Pertemuan dua energi pukulan beradu menimbulkan suara keras, daya kejutnya menghempaskan makanan di atas meja-meja pengunjung. Tapi tidak dengan makanan yang ada di atas meja Arya. Pemuda itu bersama dua temannya terlihat masih asik menyantap makanannya, sama sekali mereka tidak memperdulikan serangan tersebut.


Energi pukulan itu berasal dari seseorang berpakaian hitam yang baru saja menerobos masuk, dan dari seorang pengunjung yang duduk seorang diri di tengah ruangan.


"Yang tidak ada urusan silahkan pergi!" Suara lelaki dari balik cadar terdengar jelas. Dia melepaskan Qi, menunjukkan kekuatannya yang berada di tahap Pendekar Kaisar tingkat awal.


Karena tidak mau mencari masalah dan karena semua makanan sudah di tanggung Arya, semua pengunjung segera pergi keluar kedai. Kini di dalam ruangan kedai tersebut hanya tinggal dua orang penerobos dan targetnya, serta rombongan Arya.


"Bagi yang tetap tinggal, resiko di tanggung sendiri." Kembali pria bercadar hitam memperingatkan, tujuannya adalah Arya, Hulao dan Honglong.


"Kalian kalau mau bertarung sebaiknya di luar, di sana ada halaman luas. Kenapa malah mengusir kami yang sedang makan. Otak kalian dimana." Arya berdiri sambil menunjuk ke arah halaman lalu menujuk kepalanya sendiri.


"Diam kau, ayah cepat serang dia." Bentak penerobos yang satunya, dari suaranya dia adalah seorang wanita. Dan dari cara dia memanggil, dua penerobos itu adalah anak dan ayah.


"Hahaha.. orang tua dan anak tidak tahu malu! Bukankah sudah ku katakan, aku tidak akan menikahi putrimu. Kenapa kalian terus mencariku? Bahkan malah ingin membunuhku." Pengunjung yang di serang angkat bicara. Meski penampilannya seperti seorang lelaki yang terlihat muda, namun Arya dapat mengetahui umurnya yang berkisar 40'an tahun.


"Biadab! Kali ini ku pastikan kau tidak akan bisa lari lagi." Teriak pria bercadar bersiap menyerang, tapi..


"Wooii.. kalau ingin bertarung keluarlah sana! Kasian pemilik kedai, kalian bisa menghancurkan tempat ini." Arya kembali ikut campur.


"Pemuda sialan! Apa urusanmu! Pemuda yang bernama Chenku ini adalah seorang bajingan, dia telah menghamili anakku tapi dia tidak mau bertanggung-jawab. Jika kami bertarung di halaman, dia nanti akan kabur lagi." Pria bercadar menjelaskan dengan emosi.


"Orang tua keras kepala! Kalau dia kabur, itu karena kau tidak becus menangkap calon mantumu itu." Ketus Honglong.


"Siapa yang calon mantu, anak gadisnya saja yang kegatalan. Aku tidak pernah mengajaknya, tapi dia yang terus mengikutiku. Hingga suatu malam yang dingin aku tidak sengaja menidurinya." Chenku mencibir.


"Jahanam! Matilah kau!" Wanita bercadar melesat seraya mengayunkan pedangnya.


Dengan mudah Chenku menghindar melompat ke belakang, ia menendang meja untuk membalas serangan.


"Braaakk!"


Pria bercadar menghantam hancur meja yang melesat ke arah putrinya. Pertarungan tidak dapat di hindari.


"Hanya lelaki pengecut yang mengingkari tanggung-jawab. Kasian gadis itu, ia harus menderita dan menanggung aib selamanya." Celoteh Hulao sambil melirik ke arah pertarungan.


"Bukankah kalian para hewan juga sering gonta-ganti pasangan, tidak bertanggungjawab." Arya terkekeh pelan.


Hulao dan Honglong melotot, "Itu dulu ketika kami masih menjadi hewan biasa, tapi sesudah kami memiliki pikiran, kami sudah tidak pernah lagi gonta-ganti pasangan." Kilah Hulao sedikit ketus.


"Hahaha... Benarkah?" Arya menaik turunkan alisnya.