Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Tubuh Raja Kegelapan


Perintah dari Patriark Pao Shaowen segera di laksanakan. Dengan cepat anggota inti Sekte Iblis Berdarah menyebar ke seluruh komplek tempat peristirahatan serta tempat-tempat latihan guna menyampaikan pengumuman terkait di perintahkannya para pemuda untuk berkumpul di halaman yang berlokasi di depan gedung utama.


Pada saat bersamaan, Chen Ren yang tengah berupaya keluar dari Markas Iblis Berdarah terpaksa harus bersembunyi di dalam drum tangki yang berisi air. Karena pada saat itu ada gerombolan murid yang akan melewati tempatnya melintas.


Beberapa murid yang melewati drum tangki itu berhenti sejenak karena melihat tanah yang ada di bawah drum penyimpanan air tersebut basah. Salah satu dari mereka berniat mengecek apakah drum tersebut bocor, namun ketika dua meter lagi orang itu mencapai drum tersebut, terdengar teguran dari seorang murid inti yang menyuruh mereka untuk bergegas pergi ke halaman gedung utama.


Murid inti itupun sebenarnya heran tetapi karena menurutnya drum bocor hanyalah masalah sepele, diapun memilih untuk tidak memperdulikannya dan berlalu pergi.


Sesudah tidak terdengar lagi suara langkah kaki, Chen Ren lantas sedikit membuka lempengan kayu yang menjadi penutup drum tangki tempat persembunyiannya. Beberapa menit setelah memastikan dan di rasanya sudah cukup aman, Chen Ren kemudian keluar dari tangki tersebut. 


Sepanjang perjalanan Chen Ren berjalan mengendap-endap dan berusaha agar tidak menimbulkan suara sebab ia sadar bahwa kini dirinya tengah berada di dalam kandang musuh yang semua penghuninya adalah seorang Pendekar. Jika sampai ketahuan maka tamatlah sudah riwayatnya.


Di tengah usahanya melarikan diri, Chen Ren yang tidak mengenal seluk beluk tempat dirinya berada nampak kebingungan untuk menentukan arah kemana ia akan pergi. Namun ketika sudah keluar dari komplek perumahan dia melihat adanya jajaran pepohonan yang nampak rimbun, diapun melangkah memasukinya berharap jika sudah melewati hutan kecil tersebut dia akan menemukan tembok pertahanan sebagaimana sebuah markas pada umumnya.


Tetapi baru saja berjalan puluhan meter menyusuri hutan, Chen Ren di hadapkan dengan jalan buntu. Bukan tembok pertahanan yang dia temukan melainkan sebuah tembok tidak kasat mata, sebuah segel pelindung yang sangat kuat. Dan hal itu cukup membuat harapan Chen Ren pupus.


Tanpa kenal lelah, Chen Ren terus berusaha menghancurkan segel pelindung tersebut dengan pedangnya tanpa menimbulkan kegaduhan, namun berapa kali pun dia mencoba tetapi tetap saja segel pelindung tersebut terlalu kuat sehingga semua usahanya hanya berbuah sia-sia. 


Karena kesal, Chen Ren lantas mengalirkan Qi ke bilah pedangnya, berfikir jika tidak bisa menghancurkannya dengan serangan biasa maka dengan menggunakan Qi dia berharap akan dapat menghancurkan segel pelindung tersebut. Namun Chen Ren segera sadar dan mengurungkan niatnya karena tidak mau mengambil resiko. Sebab jika ia melakukannya maka benturan energi yang akan terjadi nantinya bakal menimbulkan kegaduhan, dan hal itu pastinya akan mengundang perhatian para penghuni Markas Iblis Berdarah.


Chen Ren kemudian kembali berjalan, kini dia menyusuri sepanjang batas segel pelindung berharap menemukan gerbang masuk, sampailah dia di sebuah lokasi yang sedikit lapang. Di sana Chen Ren melihat adanya sebuah bangunan yang terlihat seperti gerbang, di sekitarnya terdapat beberapa patung manusia bertanduk yang memegang tombak garpu dan memiliki ekor bercabang dua.


Dengan sedikit penasaran serta ragu, Chen Ren berjalan mendekat. Tanpa sadar dia melewati tirai kabut tipis, Chen Ren seakan memasuki dimensi lain sehingga dirinya dan para penjaga disana tidak dapat saling melihat. Entah kenapa Chen Ren tiba-tiba begitu tertarik pada tempat tersebut, sampai akhirnya Chen Ren memasuki gerbang yang membawanya menuju ke ruangan bawah tanah.


Pada awalnya lorong bawah tanah tersebut begitu gelap dan pengap, tetapi ketika Chen Ren menginjakkan kaki menuruni tangga, tiba-tiba tembok kiri kanan mengeluarkan api yang menjalar seakan memberi petunjuk arah.


Chen Ren sedikit terhenyak, muncul perasaan ragu dihatinya untuk melanjutkan langkah. Diapun bergegas membalikkan badan berniat kembali. "Ada apa ini?"


Tanpa dapat terkontrol, tubuh Chen Ren seperti di kendalikan oleh sesuatu di luar dirinya. Dengan muka masam Chen Ren terus melangkahkan kakinya menuju ke pintu batu yang terdapat simbol aneh dan ukiran tengkorak serta sebuah patung yang sama persis seperti patung yang terdapat di luar.


Ketika berjarak sepuluh langkah, tiba-tiba pintu batu itupun terbelah membuka dengan sendirinya. Cahaya langsung menerangi ruangan di dalam sana, membuat padangan Chen Ren beberapa saat menjadi buram.


"Hahaha..." Terdengar suara tawa dengan nada berat berkepanjangan mengema di seluruh ruangan.


Seketika bulu kuduk Chen Ren meremang, jantungnya berdegup kencang, membuat ketakutan yang selama ini ia pendam mengeruak keluar. Memang Chen Ren sudah membulatkan mental untuk tidak takut mati ketika memutuskan menjadi pendekar, namun bukan perasaan takut mati yang ia rasakan saat ini tetapi entah ketakutan macam apa yang ia sendiri tidak mengerti.


Selarik cahaya merah melesat seperti laser menarik tubuh Chen Ren dan membawanya melayang sampai akhirnya mendarat dihadapan sebongkah patung bertanduk satu di dahi.


"Bocah, aku tahu kau memiliki dendam. Jika kau bersedia menjadi wadah dari kekuatanku, aku pastikan kau akan bisa membalaskan dendam mu itu."


Chen Ren yang dilanda perasaan takut, terlihat celingukan mencari sumber suara tersebut. Namun ketika merasakan adanya aura kuat di hadapannya, dia baru sadar jika suara tersebut berasal dari patung yang ada dihadapannya.


"Apa ini hanya mimpi? Bagaimana mungkin patung bisa bicara." Chen Ren membatin sambil mengerutkan dahi menatap patung dihadapannya dengan seksama.


Tiba-tiba mata patung itupun menyala merah, yang seketika membuat tubuh Chen Ren roboh dengan posisi berlutut setengah bersujud.


"Aku tidak memberikanmu pilihan, bersedia atau tidak kau tetap harus menjadi wadahku. Hahaha." Perlahan suara tawa itupun mereda, lalu keluarlah asap hitam dari patung tersebut dan kemudian masuk ke dalam mulut Chen Ren.


Tubuh Chen Ren menggelepar seperti ikan yang berada di daratan, ia mengalami rasa sakit yang teramat sangat seperti di dalam tubuhnya terdapat magma yang begitu panas. Membuatnya seolah sedang terbakar dari dalam dan merasakan seperti nyawanya akan terlepas dari raga.


Beberapa menit kemudian, tubuh Chen Ren mulai stabil hingga akhirnya dia dapat berdiri dengan muka yang menunjukkan kebingungan. Butuh waktu bagi Chen Ren untuk mencerna situasi yang di alaminya, hingga tidak sadar bahwa ada suara langkah kaki yang sedang menuju ke tempatnya.


Seorang tetua yang melihat pintu ruangan persembahan terbuka, lantas segera melesat ingin memastikan keadaan di sana. Pasalnya ada ataupun tidak ada orang di sana, pintu ruangan tersebut akan selalu tertutup. Orang yang datang bersama tetua itu dibuat kebingungan, mereka tidak tau harus bertindak apa sebab mereka adalah anggota baru yang datang ke tempat tersebut untuk menjalani ritual peresmian.


Melihat ada seseorang sedang berdiri di depan patung pemujaan, tetua itupun tanpa basa-basi langsung berkelebat dan mendarat tepat di hadapan orang tersebut.


"Siapa kau? Dan apa yang kau lakukan disini.." Tetua Iblis Berdarah yang bernama Cui Lueshang mengulurkan tangannya sebagai isyarat meminta lencana dari Chen Ren.


Didera kepanikan karena keberadaannya diketahui, Chen Ren lantas melarikan diri dengan berkelebat secepat mungkin yang dia bisa agar dapat keluar dari ruangan bawah tanah tersebut sebelum lebih banyak lagi anggota Iblis Berdarah yang datang.


Tentu saja Tetua Cui Lueshang tidak berfikiran jika pemuda itu adalah hantu, sebab ia merasakan aura kegelapan yang terpancar dari tubuh pemuda itu. Tetua Cui Lueshang lantas berkelebat ke tempat orang-orang yang datang bersamanya, yang pada saat itu mereka sedang berdiri di depan pintu ruangan.


"Apa kalian melihat kemana penyusup itu pergi?"


Ke-empat orang yang di tanyai itupun nampak kebingungan, mereka baru saja tiba dan tidak melihat adanya orang lain di dalam sana selain tetua tersebut. Maka dengan serempak merekapun mengelengkan kepala.


Di tempat lain, Patriark Pao Shaowen dan Patriark Chao Yun Kwok yang merasakan aura Raja Kegelapan sudah terbebas langsung bergegas keluar dari ruangan masing-masing lalu mereka menuju ke tempat persembahan. Namun terlambat, sebab yang mereka dapati hanyalah Tetua Cui Lueshang dan empat orang anggota baru yang akan di baptis.


"Siapa dari mereka yang memiliki tanda luka bakar di dada?" Patriark Chao Yun Kwok mengamati ke-empat orang yang dibawa tetua Cui Lueshang.


"Maaf Patriark, mereka adalah anggota baru dan aku sudah memeriksa mereka, tapi mereka tidak memiliki tanda di dada seperti yang Patriark maksud." Tetua Cui Lueshang menunjukkan ekspresi heran sebab tidak biasanya kedua Patriarknya tersebut datang ke tempat persembahan secara bersamaan.


Sontak saja perkataan Tetua Cui Lueshang membuat Patriark Pao Shaowen dan Patriark Chao Yun Kwok kebingungan. Meski belum mengecek keadaan di dalam ruangan, tetapi mereka berdua sudah bisa memastikan bahwa tidak ada keberadaan orang lain selain mereka.


"Selain kalian apakah ada orang lain yang sebelumnya masuk ke ruangan ini?" Patriark Pao Shaowen berkata datar yang di akhiri seringai tipis.


Menyadari kemarahan Patriark Pao Shaowen, Tetua Cui Lueshang segera berlutut dan menyuruh ke-empat orang yang bersamanya juga ikut berlutut.


"Ampun Patriark, tadi aku sempat melihat seorang pemuda yang aku kira adalah penjaga namun sebelum aku mengecek indentitasnya, pemuda itu tiba-tiba menghilang." Tetua Cui Lueshang berkata dengan begitu gugup.


Patriark Pao Shaowen mengangguk pelan, namun tiba-tiba ke-empat orang yang berlutut bersama tetua Cui Lueshang ambruk dengan kondisi tubuh yang terpotong-potong.


Melihat hal itu, tetua Cui Lueshang menelan ludah, tubuhnya bergetar serta berkeringat dingin. Dengan cepat diapun lantas bersujud.


"Apa kau masih mengingat wajah pemuda itu?" Patriark Pao Shaowen berkata datar.


Tanpa berkata, tetua Cui Lueshang mengangguk membenturkan kepalanya ke lantai.


Sementara itu, Chen Ren yang baru menyadari jika kecepatan dan kekuatannya naik drastis terlihat menyeringai tipis sambil memeriksa perubahan energi di dalam tubuhnya. Chen Ren terus berkelebat, lebih tepatnya dia terbang dengan kecepatan tinggi sampai tanpa sadar ia sudah menembus segel pelindung Markas Iblis Berdarah.


Merasa memiliki kekuatan yang cukup untuk menghadapi Arya, Chen Ren terbang menuju ke desa terdekat untuk menanyakan arah lokasi Lembah Petir berada.


Namun ketika baru saja niat itu terlintas, terdengar suara yang menggema di dalam kepalanya.


"Kau ingin pergi kemana bocah? Tubuhmu belum cukup kuat untuk menampung kekuatanku. Kembalilah dan tingkatkan dulu kualitas tubuhmu." 


"Siapa kau?" Chen Ren berhenti mengambang di udara sambil celingukan.


"Aku adalah Raja kegelapan, kekuatan yang kau miliki saat ini adalah dariku. Kau harus menuruti keinginanku jika tidak, aku bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah kau bayangkan."


"Kembali ke mana? Aku bukan anggota mereka dan aku tidak sudi menjadi budakmu.. keluarlah dari tubuhku, aku tidak membutuhkanmu!" Bentak Chen Ren seraya berusaha mengeluarkan energi asing di dalam tubuhnya.


"Hahaha... Tubuhmu ini sudah menjadi milikku."


Tiba-tiba tubuh Chen Ren menggelinjang hebat dan jatuh menghatam tanah dengan kerasnya. Di saat Chen Ren sedang berusaha menahan kesakitan, suara Raja Kegelapan kembali terdengar di kepalanya.


"Berhentilah mencoba mengeluarkanku, percuma saja kau hanya akan menyakiti tubuhmu. Ikuti saja perintahku, maka semua kekuatanku akan menjadi milikmu. Dengan kekuatanku kau bisa mendapatkan gadis pujaanmu itu dan bahkan aku  akan membantumu menjadi penguasa dunia ini."


Chen Ren mulai luluh, dia membenarkan ucapan Raja Kegelapan, sebab semakin dia berusaha mengeluarkan energi kegelapan maka syaraf-syarafnya serasa akan terputus. Dengan sedikit pertimbangan Chen Ren akhirnya menuruti Raja Kegelapan dengan tidak lagi berusaha mengeluarkan energi kegelapan di dalam tubuhnya.


"Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu tapi aku tidak mau kembali ke Markas Iblis itu." Wajah Chen Ren meringis dengan tubuh terlentang dan mata terpejam.


Raja Kegelapan tentu saja menolak, ia terus membujuk Chen Ren agar kembali ke Markas Iblis Berdarah, sebab seluruh anggota Iblis Berdarah adalah pengikutnya. Namun karena Chen Ren terus bersikeras menolak, maka dengan sedikit pertimbangan Raja Kegelapan akhirnya membiarkan pemuda itu. Yang terpenting bagi Raja Kegelapan saat ini adalah menguasai tubuh Chen Ren sepenuhnya, maka dengan begitu tanpa bantuan dari Iblis Berdarah sekalipun, dia sendiri sudah cukup untuk membangkitkan Raja Iblis berserta seluruh pasukan Iblis untuk menginvasi dunia ini.


Dengan arahan Raja Kegelapan, Chen Ren kemudian memutar arah tujuannya yang semula hendak pergi ke Lembah Petir menjadi pergi ke Kekaisaran Yun. Menurut Raja Kegelapan, Kekaisaran Yun adalah tempat yang cocok bagi Chen Ren dapat beroperasi seorang diri karena Kekaisaran Yun lebih dominan di kuasai oleh para Pendekar aliran hitam.


Chen Ren di haruskan bertapa dalam kurun waktu yang belum dapat di tentukan, dan dia juga di suruh memakan tujuh gadis perawan setiap sebulan sekali dengan dalih demi meningkatkan kekuatan serta fisiknya.