Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Mengobati Sang Raja


Kini Arya bersama Putri Zhou Jing Yi, jenderal Sun Jian serta Heng Dao telah menuju ke kamar perawatan Sang Raja. Ternyata begitu mereka memasuki kamar itu, disana telah berdiri seorang pria berbaju kebangsawanan. Pria itu berparas gagah, tubuhnya tegap dan sorot matanya memancarkan kewibawaan. Selain itu, pria tersebut juga memiliki ciri-ciri yang berbeda dari kebanyakan orang. Dimana rambutnya yang hitam terdapat beberapa helai rambut putih di bagian poninya.


“Jing'er, kau telah membuatku cemas! Beberapa waktu yang lalu aku sangat kebingungan mencari-carimu kemana-mana. Ku dengar dari penjaga gerbang, kau pergi mencari obat untuk ayahanda. Bagaimana apakah kau telah berhasil mendapatkannya?” Berkata pria itu. Dia tidak lain adalah pangeran mahkota Zhou Yao Huan, kakak kandung Putri Zhou Jing Yi.


Sang putri berjalan mendekati pria itu. Kemudian menelangkupkan tangannya kepada sang kakak, “Maafkan aku karena tidak meminta izin terlebih dulu pada Huan Gege. Aku saat itu terlampau buru-buru.” sang putri mengambil sesuatu dari sakunya, lantas memperlihatkannya kepada sang kakak. “Tetapi kabar baiknya, kami telah berhasil mendapatkan bahan yang dibutuhkan untuk membuat pil untuk mengobati ayahanda.”


Paras Zhou Yao Huan yang semula muram serta-merta menjadi berseri mendengar kabar baik dari sang adik. Dia tersenyum lebar, lalu sambil menepuk-nepuk pundak adiknya, ia berkata. “Kalau begitu lekas-lah kau minumkan pil itu pada ayahanda.”


Putri Zhou Jing Yi mengangguk. Sesampainya ia di samping ranjang Raja Zhou Lun yang masih terbaring tak sadarkan diri. Sang putri sejenak menoleh kearah Arya. Dilihatnya si pemuda tersenyum lalu berkata.


“Izinkan aku memeriksanya terlebih dahulu, Tuan Putri..”


“Kemarilah..” Sahut Putri Zhou Jing Yi.


Pangeran mahkota menaikkan alisnya. Ia memang baru kali ini bertemu muka dengan Arya. Tapi paras pemuda itu terasa tidak asing baginya. Maka terlontarlah pertanyaan dari mulutnya, “Siapa pemuda ini?”


“Dia bernama Li Xian, atau orang-orang lebih sering memanggilnya dengan sebutan Tabib Xian. Dia lah yang telah membantu mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk mengobati ayahanda. Dia pula lah yang telah membuat pil yang ada padaku ini.” Setelah berkata begitu, Putri Zhou Jing Yi lalu mulai bergerak duduk di ranjang sebelah kanan Ayahandanya.


“Pantas, pantas aku seperti pernah melihat wajahmu. Aku telah mendengar berita mengenai dirimu. Tak disangka hari ini aku bisa beruntung bertemu dan bahkan mendapatkan bantuan darimu.” Pangeran Zhou Yao Huan tersenyum, “Kalau begitu silahkan periksa-lah. Aku berharap kau dapat menyembuhkan ayahandaku..”


Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Arya berkata, “Anda terlalu berlebihan, pangeran. Disini aku hanya mencoba mengobatinya dengan baik, sejauh-jauh kemampuanku. Namun segala sesuatunya terserah atas kemurahan Tuhan Yang Maha Pengasih.” Kemudian kepada Jenderal Sun Jian, ia berkata, “Aku memerlukan air hangat, Tuan. Mengingat sudah lama Raja tak sadarkan, air hangat akan memperlancar peredaran darahnya juga mengurangi rasa dahaganya.”


Jenderal Sun Jian yang sejak tadi diselimuti kegelisahan seakan-akan terbangun dari tidurnya. Dengan serta-merta ia pun segera melangkah meninggalkan ruangan itu untuk mengambil air hangat.


Sejenak kemudian, Arya telah duduk di sisi kiri Sang Raja. Ia mengamat-amati tubuh Raja itu sesaat, lalu tangannya bergerak memeriksa nadi dan tubuh Raja Zhou Lun. Dia harus memastikan tidak ada kesalahan dalam proses penyembuhannya nanti. Kemudian desisnya, “Obat yang ku buat memang dapat mengobati racun yang bersarang dalam tubuh Raja. Tetapi maaf, kalian jangan terkejut jika nanti tubuh Raja akan kejang-kejang bahkan menjerit-jerit kesakitan.”


“Apapun itu, aku tak keberatan” jawab Putri Zhou Jing Yi, “Yang terpenting, aku ingin ayahandaku segera sembuh.”


Pangeran mahkota segera mendekat, lalu katanya, “Bisa kau jelaskan kenapa obatmu akan membuat ayahandaku kesakitan? Apakah kondisinya sudah sebegitu parahnya?!”


Arya tersenyum, “Raja adalah orang yang hebat. Namun racun itu telah menyebar hampir ke seluruh tubuhnya. Pil yang akan digunakan untuk mengobatinya nanti akan saling bentrok dengan racun itu, sehingga hal itu akan membuatnya merasakan kesakitan yang teramat sangat.” sejenak diperhatikannya wajah Sang pangeran dan Putri Zhou Jing. Ia dapat melihat kecemasan yang membayang dari raut wajah mereka berdua. Kemudian Arya kembali melanjutkan perkataanya, “Bagaimana apakah kalian sanggup melihat ayah kalian kesakitan? Jika tidak, berarti kalian lebih memilih ayah kalian tersiksa oleh racun itu, sampai akhirnya...”


“Cukup!” Seru pangeran Zhou Yao Huan, “Tak perlu kau meneruskan penjelasanmu. Tapi apa kau yakin obatmu itu pasti dapat menyembuhkan Raja?”


Sengaja pangeran Zhou Yao Huan menyebut ayahnya dengan sebutan ‘Raja’ untuk menekan Arya. Sebagai seorang anak tentu tidak akan sanggup melihat orang tuanya kesakitan, apalagi sampai melihat orang tuanya meninggal. Begitulah yang dirasakan oleh Pangeran Zhou Yao Huan dan Putri Zhou Jing Yi saat ini.


Arya menggeleng lemah, “Sudah ku katakan, disini kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Selebihnya tergantung pada kekuasaan Tuhan.” untuk menenangkan hati keduanya, Arya lantas melanjutkan. “Tenanglah, aku percaya pada obatku. Tapi bagaimanapun yang namanya obat hanyalah perantara. Obat memiliki dua sisi. Bisa menyembuhkan juga bisa melukai. Semua tergantung pada kadar dosis yang digunakan serta kondisi fisik orang yang mengonsumsinya.”


Pangeran Zhou Yao Huan angguk-anggukan kepalanya. Ditatapnya mata Arya lekat-lekat. Perlahan rasa percaya kepada si pemuda telah menyurutkan kecemasannya. “Baiklah, aku mengerti! Sekarang aku izinkan kau mengobatinya."


Arya tersenyum, kemudian pandangannya beralih kepada Putri Zhou Jing Yi, “Tuan putri, minumkan pil itu sebutir saja. Jika dalam waktu dekat Raja tak segera sadarkan diri, tunggulah sampai hari esok, baru anda boleh meminumkan satu pil lagi.”


Dengan dada yang berdebar-debar dan hati-hati sekali Putri Zhou Jing Yi kemudian memasukkan Pil Bunga Anggrek Hantu ke mulut Raja Zhou Lun.


Setelah itu, Arya mengulurkan tangan kanannya menyentuh dada Raja Zhou Lun. Dari tangannya itu terlihat energi keemasan yang merangsek ke dalam tubuh Sang Raja. Arya tengah membantu melebur pil yang telah ditelan itu agar masuk ke dalam inti energi Sang Raja!


Beberapa tarikan nafas kemudian, secara ajaib Sang Raja mulai sadar dan membuka mata. Namun tak berselang lama, Raja Zhou Lun tiba-tiba berteriak-teriak kesakitan. Tubuhnya menggelepar-gelepar seperti cacing kepanasan. Teriakan Sang Raja bahkan menggetarkan seluruh istana dan terdengar jauh sampai ke dalam kota.


Sontak Putri Zhou Jing Yi dan pangeran Zhou Yao Huan menjadi tegang. Terasa oleh dada mereka seperti di tusuk-tusuk ribuan pedang ketika menyaksikan ayah mereka sendiri tengah berjuang melawan rasa sakit sedemikian rupa.


Dengan susah payah Putri Zhou Jing Yi menahan dirinya. Tetapi bagaimanapun juga ia adalah seorang gadis yang sedang menyaksikan ayahnya dalam keadaan yang gawat. Karena itu, maka ia ternyata tidak dapat bertahan lebih lama. Tiba-tiba ia berlari ke sudut ruangan, menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang basah oleh air matanya. Tetapi gadis yang memiliki rambut emas ini berusaha untuk tidak terisak.


Arya segera mengerahkan energi keemasan yang sekejap saja telah menyelimuti seluruh ruangan. Dia melakukan hal itu untuk meredam gelombang suara Sang Raja, serta agar suara teriakan tersebut tidak sampai menghancurkan gendang-gendang telinga orang-orang yang ada di ruangan tersebut.


Beberapa lama kemudian, teriakan dan gerakan tubuh Raja Zhou Lun mulai mereda, sampai akhirnya berhenti total. Tampaklah Sang Raja perlahan-lahan mulai bangkit, namun sesuatu terjadi. Raja Zhou Lun memuntahkan darah biru kehitam-hitaman. Ia memuntahkannya banyak sekali.


Bersamaan dengan itu, udara di seluruh ruangan tersebut menjadi berbau busuk, seperti aroma bangkai! Bau busuk menyengat itu bahkan membuat Heng Dao tak kuasa sampai muntah karenanya.


Pangeran Zhou Yao Huan dan Putri Zhou Jing Yi segera menutup hidung. Mereka mengerahkan Qi berusaha untuk sedikit mengurangi bau busuk tersebut.


Arya tersenyum mendapati hal itu, dia menarik kembali energi keemasan miliknya untuk kemudian mundur, melangkah ke arah jendela yang ada diruangan tersebut. Di bukannya jendela itu, lalu mengerahkan elemen anginnya untuk mengusir udara bau yang memenuhi seisi ruangan.


“Ayah!” seru Putri Zhou Jing Yi. Air matanya yang telah mengering kini mengalir kembali membasahi pipinya yang putih mulus. Lantas buru-buru gadis ini mendekati Raja Zhou Lun. Seperti gadis kecil yang sangat merindukan ayahnya!


Sejenak Raja Zhou Lun tampak seperti orang linglung. Tak ada jawaban yang keluar darinya. Matanya tampak kosong menyorot ke depan.


“Ayah, kau mendengarku?! Seru Putri Zhou Jing Yi kembali sambil goyang-goyangkan tubuh ayahnya tersebut. “Ini aku Jing'er... Berkatalah ayah! Jangan membuatku cemas.!”


Pada saat itu pintu kamar terbuka, masuklah Jenderal Sun Jian dan beberapa perwira kerajaan. Mereka menjadi termangu-mangu di depan pintu ketika melihat Raja mereka kini telah sadarkan diri. Mereka menjadi haru melihat kejadian itu!


Tangan Sang Putri serta-merta berhenti mengguncang-guncangkan tubuh Raja Zhou Lun ketika dirasakannya ada sentuhan serta usapan pada rambutnya.


“Iya aku mendengarkanmu, Jing'er.. anak gadisku yang sudah besar kenapa menangis seperti anak kecil?! Seka-lah tangismu! Apa kau tak malu dilihat kakakmu dan orang-orang yang ada disini.” ucap Raja Zhou Lun dengan lirih sambil membelai-belai rambut anak gadisnya itu.


Arya kemudian memandang kepada jenderal Sun Jian, “Jenderal, apa anda sudah membawakan air hangat yang aku minta?”


Mendengar suara Arya, jenderal Sun Jian segera menghampiri. Ia menyodorkan sebuah kendi yang berisikan air hangat.


Namun Arya menggeleng, lalu katanya. “Berikanlah titik air hangat itu di bibir Raja. Ingat hanya setitik-setitik saja. Kalau terlampau banyak meskipun diminta, itu akan berbahaya baginya. Mungkin justru pernafasannya akan tersumbat oleh air yang tidak dapat mengalir dengan lancar di tenggorokannya. Untuk saat ini jangan biarkan Raja banyak bicara dan bergerak. Kondisinya masih lemah! Ia butuh istirahat untuk memulihkan diri.”


Jenderal Sun Jian mengangguk paham. Kemudian didengarnya Arya kembali berkata,


“Aku minta yang kurang berkepentingan, lebih baik meninggalkan ruangan ini.. Udara menjadi terlampau panas dan tipis, sehingga pengaruhnya tidak menguntungkan bagi Raja.” Arya menoleh ke arah Raja Zhou Lun, lalu berkata, “Pekerjaanku disini sudah selesai. Jadi aku mohon diri.”


Dengan cepat jenderal Sun Jian menahan pundak Arya. “Tunggulah! Bagaimanapun kami telah berhutang budi padamu. Jangan membuat kami seolah seperti orang-orang yang tak tahu terimakasih. Tetaplah di kerajaan ini setidaknya sampai Raja Zhou Lun benar-benar sembuh.”


Arya tak segera menjawab, tetapi pandangannya kembali dilayangkan ke arah Raja Zhou Lun, lalu beralih kepada Putri Zhou Jing Yi dan Pangeran Zhou Yao Huan. Sesaat kemudian barulah ia menjawab. “Baiklah, jika itu kehendak anda. Tapi aku minta untuk di pertemukan dengan anak kecil yang beberapa hari lalu telah dibawa Tuan Putri kesini.”


Jenderal Sun Jian tersenyum puas. Dia kemudian memanggil salah seorang anak buahnya. Ternyata yang dipanggil itu adalah panglima Lin Yo. Seseorang yang pernah diobatinya ketika dalam keadaan kritis sewaktu terjadi pertempuran melawan pasukan hewan iblis dan anggota Iblis Berdarah tempo hari lalu di kawasan kerajaan.


Panglima Lin Yo menatap Arya dengan seksama. Dia masih ingat betul postur tubuh, telinga serta bentuk bibir pemuda dihadapannya ini sama persis seperti manusia bertopeng yang dulu pernah memberinya pil, sehingga ia selamat dari kematian. Terpancar berbagai pertanyaan dari sorot matanya ketika memandangi si pemuda.


Arya senyum-senyum karena tahu apa yang sedang dipikirkan oleh panglima Lin Yo.


“Antarkan pemuda ini ke tempat anak kecil yang bernama Lu Ping..” Kata jenderal Sun Jian kepada panglima Lin Yo.


“Maaf jenderal, Lu Ping siapa?”


“Anak kecil yang beberapa hari lalu di bawa ke istana oleh Tuan Putri.”


“Oh,” Panglima Lin Yo angguk-anggukan kepalanya. “Baik jenderal!”


Demikianlah, Arya di bawa keluar dari ruangan. Sebelum pemuda itu menghilang dari pandangan, Putri Zhou Jing Yi, Raja Zhou Lun dan Pangeran Zhou Yao Huan sempat melihat pemuda itu.


Tak lama kemudian, rupanya Heng Dao juga meminta izin pamit. Ia segera mengikuti Arya.