
Tawa Raja Lin Yon Jun berhenti, lalu keluarlah pertanyaan darinya. “Pendekar Naga Emas, aku rasa kedatanganmu kali ini pastilah bukan suatu yang kebetulan.” Wajah Raja Lin Yon Jun berubah serius. “Kau pasti sudah melihat sendiri bagaimana kondisi diluar istana. Kerajaan baru saja di serang! Dan bodohnya, kami sama sekali tidak tahu menahu apa maksud dari penyerangan itu dan siapa pelaku penyerangan itu adanya.”
Di amatinya wajah Arya, dilihatnya pemuda berambut kuning itu mengangguk perlahan. Kemudian didengarnya pula pemuda itu menjawab. “Sebelumnya aku minta maaf, Yang Mulia. Kedatanganku ini sebenarnya memang ingin menjelaskan hal yang terjadi disini.”
Raja Lin Yon Jun mengangguk, dia dapat melihat kesan pada pemuda itu seperti kecewa dan terbebani oleh sesuatu. “Kau tidak perlu memanggilku seperti itu. Tak perlu sungkan-sungkan, panggil saja Jun Gege. Aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri.”
“Eh..” Arya mendesah, dia terkejut atas pernyataan Raja muda di hadapannya itu. Dipandanginya Raja Lin Yon Jun lalu pandangannya beralih pada semua anggota kerajaan yang juga terkejut serta terheran-heran. Arya menghela nafas sebelum berkata. “Aku hanyalah manusia rendah jelata. Bagaimana anda sudi mengangkat saudara? Tak pantas rasanya aku menerima penghargaan besar begitu rupa.”
Raja Lin Yon Jun tersenyum, ia memang sedikit banyak mengenal kepribadian Arya yang rendah hati. Baginya Arya adalah pemuda baik, oleh sebab itulah dia sama sekali tidak memperdulikan status diantara mereka. Dia sebenarnya juga ingin mengenal pemuda di hadapannya itu lebih jauh. Dapat menjalin hubungan baik dengan Arya adalah hal yang sangat dia harapkan, apalagi jika dia berhasil membuat Arya menyetujui untuk dijadikan pengawal pribadinya, pastilah hal itu akan menguntungkan bagi kerajaannya.
Tangan kanan Raja Lin Yon Jun bergerak, lantas menepuk-nepuk bahu Arya. Masih dengan senyuman terkembang, Raja muda ini kemudian berkata. “Kau telah berkali-kali berjasa kepadaku, juga kepada kerajaan ini. Apa salahnya jika aku mengangkat kau sebagai saudaraku? Sebenarnya aku masih ingin kau bersedia menjadi punggawaku, tapi aku mengerti kau adalah orang persilatan. Karena itulah aku tak akan memaksamu. Tapi untuk keinginan yang satu itu kau harus mau!"
Tanpa menunggu jawaban dari Arya, Raja Lin Yon Jun menoleh ke arah Jenderal Yong We, meminta pedang sang jenderal. Kemudian tiba-tiba Raja muda ini menggores telapak tangan kanannya dengan ujung pedang tersebut sehingga mengeluarkan darah.
“Ku harap kau juga mau menggores telapak tanganmu.”
Arya mengerenyitkan dahi, dia tahu apa yang akan dilakukan Raja Lin Yon Jun. Dengan canggung dia mengalihkan pandangannya ke arah semua petinggi-petinggi kerajaan. Dilihatnya Jenderal Yong We tersenyum, panglima Chong Quon dan Raja Obat mengangguk.
Kemudian ditatapnya kembali Raja muda dihadapannya itu. Meski sudah tahu maksud Raja Lin Yon Jun namun Arya tetap keluarkan pertanyaan. “Untuk apa Yang Mulia?”
“Gores sajalah!” Desak Raja Lin Yon Jun.
Arya mengangguk. Dengan pergunakan ujung jari telunjuk tangan kanannya lalu digoreskannya telapak kirinya sampai mengeluarkan darah.
Mata semua orang terbelalak bukan lantaran apa yang dilakukan Arya. Menggores kulit atau benda apapun menggunakan ujung jari yang dialiri Qi memang bukanlah hal yang mengherankan. Tapi apa yang keluar dari kulit telapak tangan pemuda itulah yang telah mengherankan semua orang. Cairan berbau harum serta berwarna putih sedikit bercahaya yang keluar dari telapak tangan Arya itulah yang membuat mereka semua kebingungan.
“Apa yang kau lakukan? Cairan putih apakah itu?” Bertanya Raja Lin Yon Jun sambil mengamati telapak tangan Arya.
Arya garuk-garuk rambutnya dengan canggung. “Bukankah tadi Yang Mulia memintaku untuk menggores telapak tanganku?”
“Ya, tapi yang aku inginkan adalah darahmu bukan cairan putih itu.”
Sambil terkekeh pelan Arya menjawab. “Inilah darahku Yang Mulia. Bedanya jika darah Yang Mulia merah, maka darahku berwarna putih.”
Semua orang semakin keheranan mendengar perkataan Arya. Bahkan Raja Obat sendiri yang banyak tahu tentang struktur tubuh manusia juga nampak mengerutkan keningnya. Ditatapnya Arya dengan sorot mata yang menunjukkan kekaguman.
Raja Lin Yon Jun menekan rasa herannya. Lalu menempelkan erat-erat telapak tangan kanannya ke telapak tangan kiri Arya. Kemudian kedua tangannya diacungkan tinggi-tinggi ke udara. Dan karena tak dapat membendung lagi perasaan hatinya maka berserulah Raja kerajaan Goading ini,
“Hari ini di bawah penyaksian kalian, aku mengangkat saudara terhadap pemuda yang telah pernah berjasa pada diriku dan kerajaan.”
Arya nampak canggung, sekali lagi dilihatnya semua orang yang ada disana. Kali ini para petinggi kerajaan meletakkan tangan kanannya ke dada sebagai penghormatan kepadanya. Dilihatnya pula kawan-kawannya dari Sekte Lembah Petir yang tersenyum-senyum ke arahnya.
Raja Lin Yon Jun tersenyum. “Darahku dan darahmu telah bercampur. Maka dengan ini kau telah menjadi saudaraku. Tak perlu canggung, sekarang di kerajaan ini kedudukanmu sama sepertiku.” Sambil menarik tangan Arya, Raja muda ini berkata. “Mari kita rayakan hal ini..” Ucapnya dengan semangat.
Arya ditarik dibawa menuju ruangan perjamuan kerajaan. Di sana semua orang duduk di kursi yang telah disediakan. Tak berselang lama, puluhan pelayan datang dengan membawa makanan serta minuman hidangan. Setelah menyajikan makanan dan minuman di atas meja perjamuan yang panjang, para pelayan tadi segera membungkuk sebelum keluar dari ruangan.
Selepasnya acara makan selesai, tiba-tiba saja Raja Lin Yon Jun bertanya. “Saudaraku, tadi kau mengatakan akan menjelaskan sesuatu. Jadi sekarang mulai lah katakan apa yang ingin kau jelaskan itu.”
Arya mengangkat pandangannya. Sorot matanya menyorot serius menatap Raja Lin Yon Jun. Dipandangi seperti itu membuat dada Raja Lin Yon Jun berdebar-debar. Raja muda ini mencoba meraba-raba apa yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh Arya. Karena tak tahan menunggu Arya yang masih terdiam memandanginya, maka terloncatlah katanya dengan suara serius pula,
“Ada apa saudaraku? Kenapa kau tak segera menerangkannya malah memandangiku seperti itu?!”
Seolah terbangun dari tidur, Arya terhenyak. Pemuda ini tersenyum lalu mengibaskan tangannya di atas meja.
Suasana sesaat menjadi hening. Semua orang memandangi apa yang di keluarkan Arya. Di atas meja kini terpentang buah-buahan yang kesemuanya berbentuk aneh. Namun mereka mengenali bahwa buah-buahan itu adalah sejenis sumberdaya yang mengandung energi Qi melimpah.
Pandangan Arya kemudian beralih tertuju kepada Raja Lin Yon Jun, “Yang Mulia, sepertinya kau memiliki tubuh unik. Tapi sayangnya hal itu tidak baik bagi anda.”
Arya memang sudah mengenal Raja Lin Yon Jun lama bahkan sebelum Raja muda itu dinobatkan sebagai raja. Tapi baru kali ini dia dapat melihat apa yang ada didalam diri Raja Lin Yon Jun sebenarnya, yang diam-diam telah membuatnya khawatir.
Raja Lin Yon Jun malah tertawa mengekeh. “Baik atau tidaknya tergantung pada pemiliknya. Aku sudah tau ke arah mana pembicaraanmu itu. Tak usah dipikirkan hal itu, sekarang lekaslah terangkan saja apa yang ingin kau jelaskan tentang kejadian penyerangan ini.”
Sebenarnya Raja Lin Yon Jun diam-diam juga merasa heran, kenapa Arya bisa mengetahui tentang permasalahan pada tubuhnya. Akan tetapi Raja muda ini berfikir mungkin Arya mendapatkan keterangan mengenai permasalahan tubuhnya ini dari Raja Obat atau Huang She. Oleh sebab itulah Raja Lin Yon Jun tenang-tenang saja dan malah masih bisa tertawa.
Arya menghela nafas, “Aku tidak bisa membantumu sekarang. Tapi suatu saat nanti aku berjanji akan mengusahakan menyembuhkan Yang Mulia.”
Raja Lin Yon Jun segera memotong. “Berhentilah memanggilku seperti itu. Sekarang kita adalah saudara. Panggil aku Jun Gege!”
Arya mengangguk. “Baiklah, sekarang aku akan menjelaskannya..”
Sebelum menjelaskan, Arya terlebih dahulu meminta maaf lalu pemuda inipun dengan singkat menerangkan perihal kejadian yang terjadi di kerajaan Goading. Dia menjelaskan bahwa dia-lah yang telah membuat semua orang tertidur, dia juga mengatakan bahwa dia pula yang diam-diam menumpas semua Pendekar aliran hitam berikut hewan iblis yang menyamar di kerajaan ini.
Semua orang terdiam, memasang telinga baik-baik mendengarkan penjelasan Arya. Setelah pemuda itu selesai dengan keterangannya, Raja Lin Yon Jun lantas mengajukan pertanyaan yang memang sebenarnya ada dibenak semua petinggi kerajaan,
“Jadi semua orang bercadar itu adalah orang-orangmu? Siapakah sebenarnya mereka adanya? apakah mereka juga adalah orang-orang dari Lembah Petir?”
Arya menggeleng. “Maaf, Aku tak bisa menerangkan banyak soal mereka.”
Meski semua orang tidak puas atas jawaban Arya, namun mereka tidak berani bertindak kurang sopan dihadapan Raja Lin Yon Jun.
“Baiklah, siapapun mereka itu tidak lagi penting. Aku percaya padamu, Xian'er. Yang terpenting sekarang apakah menurutmu masih ada penyusup di kerajaan ini?”
Sekali lagi Arya menggeleng, “Mereka telah aku tumpas sampai bersih. Anda tidak perlu khawatir.”
Raja Lin Yon Jun dan semua orang mengerutkan dahi. Jawabannya Arya itu seolah-olah seperti sikap menyombongkan diri. Akan tetapi bukanlah hal itu yang menjadi persoalan, melainkan perkataan Arya tadi seolah-olah menunjukkan bahwa tidak ada pihak lain yang membantunya dalam pembersihan para pendekar aliran hitam berikut hewan iblis yang menyusup di kerajaan ini.
Melihat semua orang memandanginya dengan penuh selidik, Arya baru menyadari kesalahan dari ucapannya tadi. “Maafkan aku, maksudku bukan aku saja yang menumpas mereka tapi orang-orang bercadar juga turut serta membantuku.”
Yang berkata kemudian adalah Jenderal Yong We, “Maafkan atas kelancanganku, Yang Mulia.” Sang Jenderal menundukkan kepalanya ke arah Raja Lin Yon Jun.
“Silahkan saja jenderal.” Kata Raja Lin Yon Jun pula, mempersilahkan Jenderal Yong We membuka suara.
“Terimakasih Yang Mulia” Jenderal Yong We mengalihkan pandangannya kepada Arya. “Kalau aku boleh bertanya, bagaimana anda bisa mengenali para penyusup itu? Apakah anda dan orang-orang bercadar itu yakin tidak akan keliru menurunkan tangan membunuh orang yang salah.?”
Arya tersenyum, dia dapat memahami kekhawatiran Sang Jenderal. Maka kemudian diapun menjawab. “Sebelum memulai pembersihan, aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya termasuk bagaimana cara mengenali mereka dalam penyamaran. Tapi aku dan orang-orang bercadar perlu mengatakan, kami turut merasa bersalah karena bagaimanapun pembersihan itu telah memakan korban setidak-tidaknya para prajurit yang tewas akibat dampak pertarungan serta gedung-gedung yang hancur.”
Raja Lin Yon Jun segera menyahut, “Tidak perlu minta maaf, seharusnya akulah yang berterima-kasih pada kalian. Aku percaya kalian telah melakukan segala sesuatunya dengan penuh pertimbangan. Tapi mengenai korban dan kerusakan, itu sudah sewajarnya terjadi dalam pertempuran.”
Raja Lin Yon Jun menghela nafas sesaat, lalu melanjutkan perkataannya. “Jasa kalian sudah sepatutnya mendapatkan penghargaan. Tapi sayang sekali orang-orang bercadar itu tak mau menunjukkan diri. Maka dari itu, penghargaan ini akan aku berikan padamu, Xian'er.”
“Jasa hanyalah jasa Yang Mulia. Hanya sekedar kenang-kenangan indah. Bagiku jasa tidak berarti mengharapkan balas imbalan.” Jawab Arya pula.
Mata Raja Lin Yon Jun mendelik, dia seperti tidak suka di panggil ‘Yang Mulia’ oleh Arya. Tapi Arya hanya balas tersenyum, dia tidak enak hati memanggil seorang raja dengan sebutan namanya saja apalagi di hadapan para bawahannya.
Raja Lin Yon Jun memegang bahu pemuda itu. “Kau tak boleh lagi menolak. Ini adalah kewajiban bagi kerajaan Goading untuk berterimakasih pada orang yang telah menorehkan jasa besar terhadap kami.” katanya lalu melanjutkan, “Aku akan membuatkan patung dirimu yang akan di tempatkan ditengah kota sebagai pengingat atas semua jasa besarmu terhadap kerajaan dan kota ini. Bagaimana menurutmu?”
“Haah..” Arya mendesah, matanya melebar terkejut atas perkataan Raja Lin Yon Jun, “Terima kasih Yang Mulia, terima kasih... Tapi itu sangat berlebihan.”
“Ini sudah menjadi keputusanku.” Sahut Raja Lin Yon Jun sambil tersenyum dan tepuk-tepuk bahu Arya.