
Matahari baru saja pulang ke peraduan. Prajurit yang ditugaskan mencari bantuan ke sekte terdekat telah berdatangan, mereka memasuki gerbang kota Goading dalam waktu yang tak terpaut lama. Sambil membawa serta anggota-anggota sekte yang telah bersedia dimintai bantuan, para prajurit itu mulai memasuki kawasan istana.
Dari sekian banyak sekte yang dimintai bantuan, saat ini baru 4 sekte yang telah bersedia membantu. Sisanya mungkin menyusul atau bahkan menolak untuk mengulurkan bantuan, pasalnya bagaimanapun sekte-sekte itu perlu mempertimbangkan kerugian dari korban anggota-anggota mereka yang akan dikirimkan membantu ke kerajaan.
Sudah tiga sekte yang menolak dengan alasan mereka tidak ingin mencampuri urusan kepemerintahan dan lebih mementingkan membangun kekuatan sektenya sendiri. Penolakan itu memang tidak bisa dipersalahkan, pasalnya sekte-sekte itu tidak terikat dalam sistem kepemerintahan. Tapi dari sudut pandang kemanusiaan, penolakan itu jelas adalah kesalahan besar karena bagaimanapun mereka tinggal di kawasan kerajaan, sebab itulah mereka memiliki kewajiban untuk mempertahankan dan melindungi orang-orang serta tanah air mereka sendiri dari musuh-musuh yang berniat merebut atau menguasai wilayah kekuasaan kerajaan Goading. Terlebih mereka adalah tokoh-tokoh aliran putih dan netral, yang memiliki visi dan misi melindungi serta membantu orang-orang yang lemah, serta pula memberantas keangkara-murkaan yang ditimbulkan oleh orang-orang aliran hitam dan sesat.
Sebenarnya penolakan itu telah dipertimbangkan matang-matang. Selain tidak ingin mencampuri urusan kerajaan, penolakan itu juga diperkuat oleh perhitungan mereka atas kekuatan musuh. Rupanya ledakan besar yang terdengar hampir sepanjang hari serta goncangan hebat akibat pertarungan yang terjadi adalah penyebab terbesar bagi mereka memutuskan untuk tidak turut membantu. Sekte-sekte itu sadar atas kekuatannya sendiri dan kekuatan musuh yang akan dihadapi, karenanya mereka memilih menghindari kerugian atas kematian dari anggota-anggotanya bilamana mereka terjun ke dalam pertempuran yang berlangsung di kerajaan.
Ketika anggota-anggota sekte yang berdatangan itu telah memasuki gerbang kawasan istana, sontak mereka mengerenyitkan dahi terheran-heran. Sebelum memasuki kota kerajaan Goading, mereka semua telah bersiap bertarung namun kini setelah tiba di dalam kawasan istana maka sikap mereka seketika bertambah tegang.
Didepan mata mereka semua, terpampang di mana-mana darah membanjir! Di satu tempat terlihat pula bertebaran sosok-sosok tubuh tanpa nyawa! Bau anyir darah memegapkan nafas, menggerindingkan bulu roma! Dapat mereka simpulkan bahwa pertarungan yang telah terjadi pastilah sangat besar. Korban yang tewas bergelimpangan teramat banyak, mati dalam cara berbagai rupa. Ada yang terbabat putus batang lehernya. Ada yang robek besar perutnya sampai ususnya menjela-jela. Kepala yang hampir terbelah, kepala yang pecah, dada yang tertancap tombak. Kutungan-kutungan tangan serta kaki!
Disekitar lapangan luas itu keadaan juga tak kalah mengerikan! Bangunan-bangunan yang berderet-deret disana hancur porak-poranda! Bahkan tembok beton pertahanan yang kokoh mengelilingi kerajaan ini juga sebagian mengalami kerusakan, jebol!
“Tuan, keadaan disini benar-benar mengerikan! Tapi aku tidak melihat adanya pertarungan ditempat ini.” Berkata salah seorang anggota dari Sekte Sungai Hijau.
Prajurit yang datang bersama anggota Sekte tersebut menganggukkan kepala perlahan, lalu jawabnya. “Pertarungan di tempat ini memang telah selesai. Untuk lebih jelasnya, kalian bisa menanyakannya nanti kepada Yang Mulia.” Prajurit itu mengalihkan pandangannya ke arah dimana terdapat gelimpangan mayat-mayat yang telah di kumpulkan. “Keadaan disini tentunya tidak sedap untuk dilihat. Oleh sebab itu, lebih baik mari aku antarkan menghadap Yang Mulia.”
Maka demikianlah mereka semua berjalan mengikuti prajurit tersebut menuju ke bangunan istana kerajaan Goading yang megah.
Di dalam ruangan perjamuan. Arya dan Raja Lin Yon Jun masih asyik mendiskusikan masalah yang ditimbulkan oleh Sekte Iblis Berdarah. Sampailah dimana tetua Lin Hai meminta izin untuk membuka suara,
“Yang Mulia, kedatangan kami ke sini adalah suatu kebetulan karena tak sengaja melihat pertarungan antara Li Xian dan makhluk yang disebut panglima kegelapan itu. Atas kejadian itu, kami pikir akan sangat membantu bilamana kami mendapatkan sedikit bantuan dari anda. Yang Mulia, ku harap anda sudi mengulurkan bantuan kepada kami.” Sampai disini tetua Lin Hai menghentikan perkataannya. Dilihatnya Raja muda kerajaan Goading itu nampak mengerutkan kening, maka melanjutkanlah penuturan tetua Sekte Lembah Petir ini. “Bantuan yang kami harapkan juga menyangkut persoalan yang ditimbulkan oleh Sekte Iblis Berdarah. Melihat kekuatan yang dimiliki sekte itu kami harap Yang Mulia sudi kiranya memberikan bantuan, dengan menyiapkan pasukan untuk bergabung bersama kami membumi-hanguskan markas mereka.”
Serentak, mereka yang duduk di ruangan perjamuan itu, berpaling kepada tetua Lin Hai. Orang-orang kerajaan Goading merasakan getaran di dalam dada masing-masing. Getaran kemarahan yang tersulut oleh peristiwa yang di alami kerajaan mereka akibat perbuatan dari Sekte Iblis Berdarah. Tekad membalas dendam berkecamuk dalam hati orang-orang kerajaan Goading.
Raja Lin Yon Jun menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti sedalam-dalamnya perasaan yang sedang membakar hati para punggawanya. Perasaan yang menyangkut harga diri kerajaan. Dari ekspresi para punggawanya itu, dia dapat melihat bagaimana mereka juga nampak sangat berminat untuk ikut serta ambil bagian dalam rencana tetua Lin Hai untuk menyerang markas Sekte Iblis Berdarah. Namun dia juga dapat melihat adanya keragu-raguan dari sorot mata para punggawanya itu. Keragu-raguan mengenai kemampuan mereka sendiri sesudah melihat dan mengukur seberapa besar kekuatan yang dimiliki pihak musuh.
Bukan saja Raja Lin Yon Jun, tetapi hampir setiap orang dari Lembah Petir, bahkan Liu Wei dan Huang She yang masih muda serta belum berpengalaman juga dapat melihat perasaan orang-orang kerajaan itu.
Namun hati orang-orang kerajaan Goading menjadi agak tentram ketika pandangan mereka beralih tertuju ke arah Arya yang terlihat tetap tenang dan teguh hati. Dari keterangan-keterangan yang sebelumnya telah di sampaikan oleh pemuda itu, mereka menjadi sedikit percaya diri. Dengan keberadaan pemuda berjuluk Pendekar Naga Emas ini dipihak mereka, maka kemenangan tidak mustahil mereka capai.
Tentunya mereka juga telah mempertimbangkan kemampuan orang-orang misterius yang berada dibelakang Arya. Mereka masih ingat betul bagaimana sekumpulan orang-orang bercadar dapat menghabisi seluruh anggota iblis berdarah dan hewan iblis yang menyusup. Serta bagaimana Arya dapat bertarung imbang melawan panglima kegelapan yang memiliki kekuatan diluar nalar.
Mengingat hal tersebut, maka terlontarlah pertanyaan dari Jenderal Yong We yang memang sangat penasaran dengan siapa adanya Arya sebenarnya,
Dilihatnya Arya tersenyum namun tak segera menjawab. Keterdiaman pemuda itu membuat suasana menjadi canggung. Jenderal Yong We, Raja Obat, Panglima Chong Quon, Raja Lin Yon Jun dan juga seluruh petinggi-petinggi kerajaan yang juga menyimpan rasa penasaran itu menjadi berdebar-debar seolah tidak sabar menunggu jawaban dari pemuda itu keluar.
Berbeda halnya dengan yang dipikirkan oleh orang-orang Lembah Petir termasuk tetua Lin Hai. Mereka memang telah mengenal asal-usul Arya. Namun nyatanya mereka juga diam-diam menyimpan rasa penasaran tersendiri terhadap pemuda itu. Rasa penasaran mengenai siapa sebenarnya guru dari pemuda itu, hingga bisa membuat Arya menjadi sehebat sekarang ini.
Setelah memandangi orang-orang yang tengah menatapnya, Arya menghirup nafas dalam-dalam dan mulailah pemuda ini membuka suara. “Adalah hal yang wajar kalian menanyakan hal itu.” Pemuda ini menoleh ke arah Jenderal Yong We, namun ketika ia akan melanjutkan perkataannya tiba-tiba pintu ruangan terdengar diketuk dari luar.
Semua orang sontak saja serentak menoleh ke arah pintu. Disana mereka melihat pintu mulai terbuka, maka muncullah seorang prajurit. Menilik dari pakaian prajurit itu, ia adalah seorang kepala prajurit.
Tentu geram lah semua orang. Kedatangan prajurit tersebut telah merusak suasana hingga membuat Arya menghentikan penjelasannya. Maka berdirilah Jenderal Yong We, dengan suara berat setengah membentak jenderal Yong We menatap tajam prajurit tersebut,
“Ada masalah mendesak apa sampai kau datang kemari?! Disini kami sedang membahas hal yang penting!”
Mendengar bentakan itu, prajurit tersebut merasakan tubuhnya gemetaran. Maka lekas saja ia berlutut, kedua tangannya di telangkupkannya ke depan, dengan pandangan mata lurus menatap ke lantai. Tetapi demikian, prajurit tersebut tidak segera menjawab. Bentakan Jenderal Yong We membuat mulutnya terbungkam karena merasa telah melakukan kesalahan besar.
“Eheeemm...”
Terdengar suara mendehem memecah ketegangan yang terjadi di ruangan itu.
Semua orang yang semula menatap ke arah prajurit yang berlutut di depan pintu seketika menoleh ke sumber suara. Wajah Jenderal Yong We yang geram seketika berganti pucat pasi. Sang jenderal buru-buru membungkuk dalam-dalam. Ia baru sadar telah berbuat lancang! Penjelasan Arya yang terpotong oleh kedatangan prajurit tadi telah membuatnya melupakan keberadaan Raja Lin Yon Jun di ruangan itu. Rupanya rasa penasaran sang jenderal sudah teramat dalam terhadap Arya.
“Maafkan aku, Yang Mulia.” Ucapnya lirih dengan masih membungkukkan badan.
“Sudahlah, lain kali jangan terlalu terbawa perasaan! Angkat tubuhmu, jenderal!” Kata Raja Lin Yon Jun pula dengan suara tegas berwibawa.
“Baik, saya mengerti dan akan selalu saya ingat Yang Mulia. Sekali lagi maafkan saya, Yang Mulia.” Selesai berkata begitu, jenderal Yong We lantas menenggakkan tubuhnya lalu duduk kembali di kursinya.
Raja Lin Yon Jun mengangguk. Pandangannya kemudian dialihkan kepada prajurit yang masih berlutut di depan pintu sana. Kemudian berkatalah Raja muda ini, “Kemarilah! Sampaikan keterangan apa yang kau bawa!”
Tanpa menunggu lama, prajurit yang berlutut itu segera bangkit. Dengan langkah perlahan, prajurit ini sampailah di dekat sang Raja. Maka menjura lah prajurit ini sebelum menyampaikan keterangan, “Beberapa prajurit yang dikirimkan untuk meminta bantuan pada sekte-sekte terdekat sudah tiba dengan membawa serta anggota-anggota sekte-sekte itu, Yang Mulia.”
Merekahlah senyuman Raja Lin Yon Jun mendengar kabar baik yang dibawakan prajurit itu. “Baguslah! Kembalilah pada tugasmu! Aku akan menemui mereka.”
Sekali lagi prajurit tersebut menjura dalam-dalam. Kemudian ia beringsut mudur tiga langkah sebelum memutar tubuh lalu melangkah keluar.