
Patriark Dai Wubai kemudian menarik nafas dalam-dalam. Keragu-raguan di dalam hatinya sedikit mulai mereda, ia mulai mempercayai Arya. Patriark Dai Wubai kini tengah memikirkan sikap apa yang akan diambilnya. Ia mencoba mencari jalan yang paling baik yang dapat ditempuhnya untuk menghadapi keadaan ini. Maka berkatalah ia kemudian,
“Untuk persoalan yang pertama, anggaplah aku dapat mempercayaimu.. Tapi aku akan tetap menyelidikinya sampai semuanya benar-benar jelas.” Patriark Dai Wubai melihat Arya masih berdiri dengan tenangnya, bahkan pemuda itu balas tersenyum. Seolah-olah sama sekali tidak terpancar kegelisahan yang terbayang dalam sikap pemuda tersebut.
Kemudian secara mengejutkan Patriark Dai Wubai menghilang dari tempatnya berdiri. Orang tua ini tiba-tiba telah berdiri tepat dihadapan Arya. Untunglah bahwa Arya tidak kehilangan kesiagaan, sehingga dengan tangkasnya ia meloncat. Menghindari sambaran tangan orang tua tersebut.
Namun ternyata, loncatan Arya yang melampaui kecepatan sambaran tangan Patriark Dai Wubai itu benar-benar telah menarik perhatian orang tua ini. Sehingga membuat Patriark Dai Wubai menjadi penasaran sekali. Rasa-rasanya sangat mustahil seseorang bisa menghindari kecepatan serangannya, terlebih ia melakukannya dengan tidak terduga. Maka desisnya, “Aku tak percaya kau hanya berada ditahap Pendekar Fana.”
Arya tersenyum tenang. Ia tahu bahwa Patriark Dai Wubai tidak benar-benar ingin mencelakainya. Melihat dari serangannya tadi, ia dapat mengetahui bahwa Patriark Dai Wubai sama sekali tidak mempergunakan tenaga yang dilambari Qi. Sehingga apabila serangan tadi mengenainya, maka ia yakin tidak akan sampai mengalami luka-luka. Tetapi karena tidak mau mengambil resiko, diapun reflek bergerak menghindar.
“Sekarang jelaskan, kenapa kau menyerap energi pusaka legenda?!” Berkata Patriark Dai Wubai dengan tatapan penuh kesungguhan. Tatapannya begitu tajam layaknya elang mengintai mangsanya.
Patriark Dai Wubai tidak hanya mengetahui bahwa didalam tubuh pemuda itu terpancar energi pusaka legenda, tetapi ia juga dapat merasakan jika energi itu tidak lagi terpusat pada satu titik yakni sebuah wadah atau tongkat seperti yang dimilikinya. Selain itu orang tua ini juga telah mendapatkan bisikan dari tongkat pusaka legenda yang bersemayam ditubuhnya, jika pemuda itulah yang telah menyerap energi pusaka legenda beberapa waktu silam.
Dada Arya berdebar-debar mendengar kata-kata itu. Ia sama sekali tidak menduga bahwa orang tua dihadapannya tersebut telah mengetahui jika dia-lah yang telah menyerap energi pusaka legenda. Kini ia berusaha dengan sungguh-sungguh agar ia dapat memberikan penjelasan sebaik-baiknya. Semakin kisruh kalimatnya, maka semakin panjang waktunya yang terbuang.
Maka setelah sejenak ia berdiam diri, barulah Arya dapat mengatakan dengan teratur, apa yang menyebabkannya terpaksa harus menyerap energi pusaka legenda. “Aku melakukan hal ini karena permintaan dari seseorang. Seseorang yang ditugasi menjaga pusaka legenda. Ia memintaku untuk menghancurkan pusaka itu karena khawatir ia tidak sanggup lagi menjaganya. Terlebih waktu itu terjadi kerusuhan yang disebabkan oleh para kultivator, mereka berniat merampas pusaka itu dari Sekte Lembah Petir.”
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Patriark Dai Wubai mempertimbangkan penjelasan Arya itu dengan cermatnya. Dicobanya untuk menilai segala segi sebaik-baiknya. Sudah tentu, bahwa pemuda itu berbuat demikian sesuai dengan keadaan yang mendesak. Dan ia tidak dapat menganggapnya bersalah.
“Kek,” berkata Arya, “Mungkin perbuatanku menurut anda memang keliru, tapi anda tidak bisa sepenuhnya menyalahkanku karena bagaimanapun sikapku itu didasari oleh permintaan seseorang yang berhak atas pusaka itu.”
Sekali lagi Patriark Dai Wubai mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Alasanmu memang tidaklah salah. Tapi dari perkataan barusan, bukankah kau dimintai untuk menghancurkannya bukan malah menyerapnya.?”
Arya tertegun, dia dapat menangkap kecurigaan orang tua dihadapannya tersebut. Kecurigaan bahwa ia menyerap energi pusaka legenda untuk kepentingannya sendiri. Arya terbungkam karenanya. Dia tahu maksud dari perkataan Patriark Dai Wubai. Jika ia menghancurkan pusaka legenda tersebut, maka energi pusaka itu akan berpindah dan menyatu ke pecahan pusaka legenda lainnya. Dan yang terpenting Sekte Lembah Petir sudah terlepas dari tanggung-jawab beratnya dalam menjaga pusaka itu.
Karenanya dia menjadi gelisah, jika ia mengatakan alasannya dengan terus terang, mungkinkah orang tua dihadapannya itu dapat mengerti. Arya menarik nafas dalam-dalam, dicobanya memeras otaknya untuk memberikan penjelasan sebaik-baiknya. Dia sudah terlanjur mengatakannya, untuk itu dia harus berhati-hati agar persoalan ini tidak semakin larut menyudutkannya.
Setelah beberapa saat terdiam, dengan penuh keragu-raguan diapun akhirnya menjawab. “Menurut pertimbanganku, lebih baik menyerapnya untuk mencegah hal buruk yang akan timbul kedepannya akibat pusaka itu. Maaf jika perbuatanku itu anda rasa telah keliru atau bahkan membuat anda marah.”
Patriark Dai Wubai merasakan perubahan sikap Arya. Ia kini melihat bahwa pemuda itu nampak gelisah, tidak setenang sebelumnya. Namun dia tidak boleh kehilangan pertimbangan. Usianya yang sudah tua dan telah banyak pengalaman, mengharuskannya agar dapat menghadapi setiap persoalan dengan kepala dingin, tidak boleh mudah terbakar oleh ***** dan kepentingan diri sendiri. Maka kemudian dia pun berkata,
“Aku pikir itu hanyalah alasanmu saja. Yang sebenarnya kau inginkan dari energi pusaka legenda adalah untuk meningkat kekuatanmu sendiri. Bukankah begitu?”
Tepat seperti yang diduga Arya, Patriark Dai Wubai pasti akan tetap mempersalahkannya. Tetapi ia tidak ingin membiarkan keadaan menjadi semakin tegang dan terus tersudutkan. Karena itu ia segera berkata. “Pusaka itu memang seharusnya dilenyapkan agar tidak ada kekisruhan di dunia ini. Aku khawatir jika pusaka itu jatuh ke tangan yang salah...”
Patriark Dai Wubai cepat memotong, dia mulai terbawa emosi. “Bicaramu seolah kau adalah seorang pahlawan yang bisa menentukan baik buruknya keadaan dunia ini.” orang tua ini menghela nafas berat, lalu lanjutnya. “Kau tahu pusaka itu adalah warisan turun temurun yang harus dijaga. Kami mendapatkan petunjuk bahwa hanya dengan pusaka legenda inilah dunia ini akan dapat diselamatkan dari kehancuran.”
“Lalu apakah yang anda inginkan sekarang?” Desis Arya perlahan. Ia merasa tidak bisa menghindar lagi. Apapun yang akan di jelaskannya nanti tetap saja orang tua itu akan menyalahkannya.
Patriark Dai Wubai tersenyum tipis, “Kembalikanlah energi pusaka legenda yang telah kau serap itu.!”
Arya menghela nafas, dia sudah menduganya. Tetapi pemuda berambut dan bermata kuning ini menggeleng lemah. “Aku tidak dapat melakukannya. Energi itu telah aku segel di dalam tubuhku. Jika aku mengeluarkannya, maka hal itu akan membuat tubuhku lemah bahkan bisa saja lumpuh.”
Patriark Dai Wubai mendengus kasar, sepasang tangannya dilipatkannya didepan dada. Dengan nada berat, orang tua ini berkata. “Maafkan aku, untuk hal ini aku terpaksa harus memaksamu.”
Sejenak arena itu menjadi sepi. Dalam ketegangan yang semakin memuncak itu, Zhiyuhan menjadi pening sendiri. Dilain sisi dia harus berpihak pada Patriark Dai Wubai, namun disisi lain dia juga harus melindungi Arya. Maka meloncatlah pemuda ini ke dekat Patriark Dai Wubai.
“Kek,” kata Zhiyuhan kemudian, “Apa anda benar-benar serius?! Aku pikir sebaiknya anda mempertimbangkannya dengan kepala dingin. Menurutku penjelasan pemuda itu juga ada benarnya.”
Dalam diamnya, Patriark Dai Wubai menatap pemuda di sampingnya itu dengan tatapan mata menyorot tajam dan dingin. Tatapan orang tua ini seakan mengatakan ‘Jangan ikut campur! Minggir lah!’
Dipandangi seperti itu, Zhiyuhan menelan ludah. Dia dapat mendengar Patriark Dai Wubai itu berbicara didalam kepalanya. Maka dengan terpaksa pemuda inipun melompat menjauh. Dia kali ini benar-benar tidak bisa ikut campur.
Yang kemudian terdengar adalah suara Patriark Dai Wubai bergetar, “Bersiaplah, anak muda! Jika kau bisa menang dariku. Maka di lain waktu aku berjanji tidak akan memaksamu untuk mengembalikan energi pusaka legenda itu.”
Disudut lain, Arya masih terdiam mematung. Pemuda ini memang sudah mendengar cerita dari kakeknya Zhen Long mengenai kehebatan orang tua dihadapannya tersebut. Bilamana hari ini dia terpaksa harus bertarung dengan orang tua ini, dia merasa hatinya menjadi kecut. Dia sudah mendapatkan gambaran bahwa tidak ada kemungkinan baginya untuk dapat mengalahkan Patriark Dai Wubai yang memiliki kultivasi Pendekar Langit puncak. Tapi rupanya dia tetap bersikukuh mempertahankan sikapnya yang dianggapnya benar. Sesaat pemuda ini mengalihkan pandangannya ke arah Zhiyuhan yang menatapnya dengan sorot mata tegang.
“Persiapkan dirimu!” berkata Patriark Dai Wubai mulai berjalan perlahan menghampiri Arya. “Kalau kau tidak berusaha untuk membela diri, jangan menyalahkan aku, kalau tubuhmu ku buat babak belur.”
Arya mengepalkan tangannya, “Bukan maksudku untuk berlaku kurang sopan kepada orang tua. Aku datang untuk menepati janjiku, dan menjelaskan segala sesuatunya. Tetapi aku disudutkan kepada suatu keharusan untuk berkelahi. Meskipun demikian, aku minta sebelum perkelahian ini berlangsung, kakek bersedia menciptakan segel pelindung disekitar tempat ini, agar pertarungan kita tidak merusak tatanan alam.” Arya menghela nafas sesaat, lalu tangannya bergerak seperti melemparkan bola-bola sinar keemasan ke empat penjuru. Bola-bola sinar keemasan tersebut kemudian meledak di udara dan merambat membungkus area bukit cinta membentuk kubah energi.
“Marilah, aku sudah siap.” kata Arya sesudahnya.
Patriark Dai Wubai mengangguk. Orang tua ini lalu mengangkat tangan kanannya ke atas. Dari tangan orang tua ini kemudian keluar puluhan larik sinar putih keperakan yang menyebar cepat ke segala penjuru. Larikan sinar-sinar putih itu kemudian membentuk sebuah tembok transparan yang berbentuk kerucut menyelubungi bukit cinta.
Menyaksikan apa yang dilakukan kedua orang itu membuat dada Zhiyuhan semakin bergetar. Ia sadar berada di dekat pertarungan antara orang-orang sakti tersebut, pastinya akan sangat berbahaya bagi keselamatannya. Maka lekas saja dia melompat menjauh. Sebelum tubuhnya menjejakkan tanah, pemuda ini rupanya telah menyelubungi tubuhnya dengan teknik segel pelindung miliknya.
Terdengar suara Patriark Dai Wubai menggema, pertanda orang tua itu telah kerahkan energinya. “Aku akan mulai sekarang..”
Demikianlah orang tua itu tahu-tahu sudah berkelebat memulai dengan serangannya. Ujung jari tangan kanannya mematuk deras sekali ke kepala Arya, seperti seekor elang menyambar mangsanya. Untunglah bahwa Arya sudah dalam posisi siaga, sehingga dengan tangkasnya ia memutar tubuhnya setengah lingkaran ke samping. Menghindari sambaran serangan tersebut.
Angin pukulan serangan Patriark Dai Wubai meluncur deras menghantam pepohonan yang berdiri di belakang tempat Arya sebelumnya. Pohon-pohon itu seketika rubuh, kemudian terbakar.
Gagal dalam serangan pertama, Patriark Dai Wubai kembali melanjutkan serangannya dengan kaki, sedangkan kedua tangannya bersilang melindungi dada. Melihat serangan ini, Arya terkejut. Ia kenal gerakan pembukaan ini. Gerakan jurus orang tua tersebut sama seperti jurus yang dimilikinya. Dia memang pernah mendengar dari kakeknya Zhen Long, bahwa kakeknya itu pernah bekerjasama dalam menciptakan beberapa jurus bersama dengan Patriark Dai Wubai. Jurus-jurus itu kemudian di bukukan dalam sebuah kitab yang bernama ‘Tujuh arah mata angin’
Tetapi Arya tidak sempat berpikir banyak. Sebab ia segera sibuk melayani lawannya, yang bergerak menyambar-nyambar dengan gerakan-gerakan yang begitu cepat dan tangguh. Akhirnya Arya tidak dapat hanya bersikap mengelak dan menghindar saja. Ia tidak bisa hanya bersikap mempertahankan diri terus-menerus. Untuk mengurangi kebebasan gerak lawannya, ia harus ganti menyerang.
Serangan Patriark Dai Wubai semakin lama menjadi semakin hebat pula. Tangannya bergerak-gerak dengan cepat dibarengi gerak kakinya yang ringan dan gesit. Sekali tangan orang tua itu sudah berubah menyambar kening. Tetapi Arya adalah murid Legenda Pendekar Naga, dan ia juga adalah murid Dewa Petir. Dia sudah menguasai jurus yang digunakan orang tua itu, karena itulah dia dapat membaca arah serangan lawan berikutnya bagaimana cara menanggulanginya.
Sengaja Arya mempergunakan jurus yang sama, namun jurusnya itu sudah dia kembangkan sehingga memiliki bentuk-bentuk yang agak berlainan dari gerakan Patriark Dai Wubai.
Setelah beberapa saat, barulah Patriark Dai Wubai mulai menyadari dan mengenali gerakan-gerakan Arya yang juga agaknya sama seperti ilmunya sendiri, mempunyai sumber yang sama. Nampaklah sekelumit senyuman aneh dibibir orang tua itu.