
Teriakan seorang gadis terhenti ketika lengan si penculik bergerak menotok urat suaranya. Selanjutnya dengan gerakan ringan si penculik berkelebat cepat ke arah hutan rimba di belakang bukit.
Kecepatan bergerak orang ini memang sangat mengagumkan. Dengan lincah ia terus menerobos masuk ke dalam hutan rimba. Tak lama bayangan si penculik yang memanggul korbannya tersebut lenyap ditelan rimbunnya pepohonan dan semak belukar.
Ternyata si penculik ini berpikiran cerdik. Dia tak terus merambah hutan rimba. Tapi segera membelok ke arah timur. Dan menuju ke arah muara sungai yang harus melewati bukit berbatu-batu.
Secara kebetulan tampak sebuah perahu tertambat di tepi muara. Entah perahu milik siapa. Tak berfikir lama segera laki-laki ini bergerak melompat mendekati.
“Bagus, perahu ini sepertinya memang disediakan untukku!” gumamnya dengan tertawa menyeringai. Ringan sekali gerakannya. Sekali berkelebat dia telah jejakkan kakinya di tengah perahu.
Perahu yang agak lumayan besar tersebut hanya bergoyang sedikit. Kemudian dengan cepat dia membaringkan gadis dalam panggulannya ke atas geladak.
Sekali lengannya menarik, putuslah tambang pengikat perahu tersebut. Kemudian dengan dayung ditangannya dia mendorong perahu yang ditumpanginya itu ke tengah sungai.
Tak lama perahu itupun telah meluncur cepat membelah air menuju ke hilir dan terus ke laut lepas. Dalam beberapa saat saja perahu tersebut sudah tak kelihatan lagi.
Pemuda ini tertawa menyeringai. Ternyata dia tak lain dari Chen Ren, yang sekarang di kenal dengan nama Wu Sha atau berjuluk Pendekar Bunga Darah. Mendapatkan julukan demikian karena setiap kali pemuda ini muncul, pasti ada saja korban yang tewas ditangannya. Kebanyakan dari korbannya adalah gadis-gadis perawan.
Gadis yang dibawanya itu adalah Nie Zha, yang diculiknya dari Sekte Tongkat Suci.
Kini sepasang mata pemuda tersebut mulai memancarkan bir*hi, menatap sosok tubuh gadis cantik yang tergolek tak sadarkan diri di geladak perahu.
Dayungnya tak dipergunakan untuk mengayuh lagi, dan membiarkan perahunya terapung-apung tanpa arah dipermainkan gelombang. Sementara sepasang matanya mulai menjalari sosok tubuh gadis dihadapannya. Menyusuri setiap lekuk tubuh sang gadis cantik tersebut dengan mata berbinar-binar.
Sekejap kemudian Wu Sha telah meletakkan dayungnya di sisi buritan. Lantas melangkah lebar-lebar mendekati sang korban.
“Haha... sungguh beruntung aku mendapatkan gadis semanis ini. Wu Sha memang pandai memilih gadis cantik!” Gumamnya memuji dirinya sendiri.
Bagaikan seekor serigala yang siap melahap mangsanya, lengan pemuda ini menjulur.... Dan...
“Bret! bret! Brebeet!”
Dalam beberapa kali gerakan saja dia telah membuat pakaian si gadis koyak-koyak.
Napas Wu Sha memburu. Hidungnya kembang-kempis. Air liurnya menetes dan matanya yang j*lang berbinar-binar merayapi bagian-bagian tubuh sang gadis yang membuat darahnya serasa panas bergolak. Kejap berikutnya dia telah lepaskan pakaian atasnya.
Sementara ombak terus mempermainkan perahu mengombang-ambingkan kesana kemari. Di saat itu, tiba-tiba angin bertiup keras. Cuaca mendadak menjadi gelap. Entah dari mana munculnya tahu-tahu pusaran angin menyapu ombak, hingga perahu itu seketika menjadi berputar-putar.
Pemuda ini sontak terperanjat melihat kejadian aneh itu. Lengannya terayun, maka bersamaan dengan itu dia telah memegang pedang ditangannya. Lalu berpegangan kuat pada sisi badan perahu.
“Apakah yang terjadi?!” Hardiknya dalam hati. Wajahnya berubah serius. Wu Sha merasa mungkin ada hewan iblis atas siluman penghuni laut ini tengah mencari perkara dengannya.
Diiringi kilatan petir yang menyambar-nyambar tiba-tiba terdengar suara tertawa yang membuat berdiri bulu kuduk.
“Hoahaha...haha...haha... Chen Ren, kenapa kau pergi dari pertapaan dan malah mengumbar n*fsumu disini! Kau harus terus fokus pada tujuanmu! Kedepannya kau akan banyak menghadapi tantangan! Oleh karena itu kau harus menghadap kembali kepertapaan untuk menyempurnakan ilmu yang kau miliki...!”
Sepasang mata Chen Ren atau Wu Sha terbelalak mendengar suara yang membangunkan bulu kuduk tersebut. Disamping rasa kesal dan terkejut, pemuda ini segera menjawab.
“Baiklah... Aku akan segera kembali! Tapi biarkan aku sejenak menikmati gadis ini dulu!” suara lantang Wu Sha membaur diantara deru angin dan deburan ombak.
“Sudah ku bilang beberapa kali, tahanlah keinginanmu! Fokuslah untuk meningkatkan kekuatanmu. Jika kau telah sanggup menerima semua kekuatanku. Barulah kau boleh melakukan apapun sesukamu.”
“Huuhh..” Wu Sha mendengus. Tak ada jawaban darinya.
“Cepatlah pergi! Lupakan gadis itu!”
Wu Sha mengerutkan dahi, dan ia masih mendengar suara itu berkata, “Aku merasakan adanya energi dua orang diatas Pendekar Suci sedang menuju ke tempatmu. Karena itu cepat tinggalkan tempat itu.”
Dengan menganggukkan kepalanya, Wu Sha rundukkan badannya hendak membawa gadis yang terkapar di geladak. Namun tiba-tiba tubuh pemuda itu sekejapan mata telah diselimuti energi kegelapan.
Pusaran angin masih membuat perahu tersebut berputar-putar. Tetapi semakin lama semakin perlahan. Cuaca ternyata telah kembali menjadi cerah. Ombak telah menjadi tenang seperti sedia kala. Camar-camar laut tampak mulai terlihat beterbangan diatas permukaan air. Perahu itu telah berhenti berputar dan terombang-ambing dipermainkan ombak kecil. Sesekali menimbulkan suara gemericik air yang menampar badan perahu.
Sosok tubuh gadis itu masih terkapar m*mbugil di geladak. Akan tetapi aneh! Si pemuda yang bernama Wu Sha kini sudah tak kelihatan lagi berada di atas perahu. Ya! Si pemuda memang telah lenyap dibawa pergi energi kegelapan... Hanya pakaian atasnya saja yang tergeletak di geladak.
Sebuah perahu kecil meluncur dari kejauhan mendekati perahu yang terapung-apung ini. Perahu kecil itu dinaiki oleh dua orang kakek dan nenek tua renta yang rambutnya sudah memutih.
Si kakek mengenakan jubah bulu yang dijahit bersambung-sambung dari sejenis binatang pemakan ikan. Sedangkan si nenek pasangannya, mengenakan jubah kembang-kembang warna-warni. Sepintas mereka seperti sepasang remaja yang tengah memadu kasih dengan berperahu menikmati keindahan alam dan laut. Hanya saja keduanya bukanlah remaja lagi, tapi sepasang kakek dan nenek yang sudah keriput.
Anehnya bukan si kakek yang mendayung perahu, akan tetapi justru si nenek pasangannya yang mempergunakan dayung mengayuh perahu kecil tersebut.
Sedangkan si kakek enak-enakkan duduk bersila. Yang lebih aneh adalah gerakan mendayung si nenek tua tersebut. Tampaknya dia cuma sesekali mengayuh dayungnya, namun gerakan meluncur perahu kecil itu demikian cepatnya.
Siapa adanya kakek dan nenek berpakaian aneh itu? Ternyata mereka adalah dua orang tokoh kultivator dari daratan lain. Si kakek adalah seorang tokoh yang bergelar si Cambuk Sakti. Dan si nenek pasangannya, bergelar si Musang Betina Mata Empat. Gelar mereka kedengarannya sangat aneh. Tapi di wilayah selatan nama gelar tersebut sangat terkenal dan ditakuti para kultivator.
Kedua orang tua yang tengah berperahu ini memang bertujuan menuju wilayah benua daratan timur. Si nenek segera memutar kemudi. Karena dia melihat adanya kejanggalan pada perahu itu yang terapung-apung di tengah laut seperti tiada yang mengemudikan. Hatinya tertarik untuk mengetahui siapa si pemilik perahu, dan apa yang telah terjadi.
Gerakannya sangat ringan ketika sepasang kakinya hinggap di geladak perahu.
Baru saja ujung kakinya menyentuh papan perahu, terdengar si nenek berteriak kaget. Sepasang matanya membelalak menatap sosok tubuh yang tergeletak didepannya.
“Ada apa, sobat Musang Betina?” teriak si Cambuk Sakti mendengar si nenek tersentak seperti orang terkejut. Walaupun dia telah berdiri dan julurkan kepala untuk melihat ke dalam perahu yang terapung itu, tetapi karena terhalang tubuh si nenek yang hinggap di geladak perahu itu membelakanginya, pandangan matanya menjadi terhalang.
Tak sabar menunggu jawaban si nenek, kakek ini hentakkan kakinya, tubuhnya segera melayang untuk kemudian menyusul melompat ke perahu tersebut. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara bentakan si nenek membelah udara.
Gerakan lengan si nenek yang mengibas tersebut menyambar tubuh si Cambuk Sakti yang tengah melambung di udara.
“Kembali ke tempatmu, kakek tua bangka!”
Tentu saja laki-laki tua ini jadi terkejut karena tahu-tahu dia merasakan sambaran angin keras yang menghantam ke arahnya. Mau tak mau dia gunakan sepasang lengannya untuk menangkis serangan.
Plak!
Dikarenakan si Cambuk Sakti tak menggunakan tenaga penuh untuk menangkis, tubuhnya serta-merta terpental balik. Nyaris saja dia tercebur ke laut! Akan tetapi satu energi aneh dari sepasang lengannya telah menarik perahu kecil yang ditumpangi itu meluncur mendekat. Hingga dengan aman dia dapat menjejakkan kakinya lagi diperahunya semula.
Seketika wajah si kakek ini berubah merah. Hatinya agak mendongkol atas perbuatan si nenek kawan seperjalanannya tersebut.
“Apakah yang kau lihat, nenek keriput hingga kau menolak aku untuk turut melihatnya?” teriak si Cambuk Sakti meluapkan rasa penasarannya.
Gerakan benturan energi tadi cukup membuat kaki si nenek bergeser setapak dari tempatnya berdiri. Badan perahu yang dipijaknya agak oleng dan bergoyang. Si nenek kumandangkan suara tertawa aneh. Lalu balikkan tubuh ke arah si Cambuk Sakti.
“Maaf, sobat tua, kukira kau bukanlah seorang kakek mata keranjang makin tua makin j*lang, bukan? Di dalam perahu ini ada tergeletak seorang gadis yang kukira dalam keadaan pingsan. Akan tetapi keadaan pakaiannya tidak karuan, dan hampir-hampir tak berpakaian sama sekali. Itulah sebabnya aku melarangmu melihatnya!”
Penjelasan si nenek Musang Betina Mata Empat membuat si kakek jadi membelalakkan mata karena terkejut.
“Oo... pantas... pantas, tanpa hujan angin kau menyerangku.. rupanya itulah sebabnya...!” berkata si kakek dengan manggut-manggutkan kepala.
“Benar, kuharap kau memaafkan sikapku barusan, sobat tua Cambuk Sakti!” sahut si nenek dengan tersenyum.
“Tak apa! Lalu apa yang harus aku lakukan?” Kakek ini goyang-goyangkan tangannya, seraya jatuhkan pantatnya kembali duduk dilantai papan perahu.
“Kau tunggulah sebentar! Nanti kalau sudah aman, baru kuperkenankan kau naik ke perahu ini!” kata si nenek sambil membalikkan tubuh. Kemudian ia segera bergegas memeriksa keadaan si gadis tersebut.
Benarlah, gadis itu hanya pingsan saja. Namun dia mengetahui bahwa sang gadis tersebut dalam keadaan tertotok.
“Hm, agaknya seseorang telah berniat memperkosanya. Tapi belum sampai terjadi...” gumam si nenek dengan mengerutkan keningnya. Matanya menatap pada seonggok pakaian bagian atasan, diatas geladak. Disambarnya pakaian atas itu, lalu diperiksanya.
Sejenak sepasang mata si nenek jadi melebar, kemudian gumamnya dalam hati. “Energi kegelapan! Jadi di daratan ini juga ada orang-orang yang bersekongkol dengan makhluk-makhluk alam bawah.”
Benar, si nenek memang dapat merasakan sisa-sisa energi kegelapan yang menempel di pakaian si pemuda yang tidak lain adalah Chen Ren alias Wu Sha alias Pendekar Bunga Darah.
Sejenak kemudian, si nenek kembali menoleh ke arah si gadis. Lantas dia mengibaskan tangannya, yang dengan demikian munculah seperangkat pakaian yang dikeluarkannya untuk menutupi bagian tubuh terlarang si gadis.
“Sepertinya aku harus menyelidiki siapa adanya manusia sesat yang tak tahu adat itu? Untunglah.... gadis ini masih suci. Terlambat sedikit saja aku datang, mungkin bukan hanya kesucian gadis ini saja yang akan terenggut, tapi juga nyawanya mungkin akan melayang. Aku harus segera membuka totokan dan menyadarkannya" pikir si nenek.
Cepat-cepat dia julurkan lengannya untuk membuka jalan darah yang tertutup dibeberapa tempat tubuh gadis tersebut. Lalu memijit-mijit tengkuk si gadis untuk menyadarkannya. Tak lama gadis itupun membuka matanya. Terbelalaklah mata gadis ini ketika melihat seorang perempuan tua berada dihadapannya.
“Oh, siapa kau?” hardik gadis bernama Nie Zha dengan wajah pucat. Ketika dia melihat pakaiannya sobek-sobek dan keadaan tubuhnya sedemikian rupa, dia tersadar akan apa yang telah terjadi. Segera dia teringat bahwa dirinya telah ditotok dan dibawa lari oleh seorang laki-laki yang membuat kerusuhan di Sekte Tongkat Suci.
Detik itu juga tiba-tiba dia menjerit histeris, lalu jatuh terkulai tak sadarkan diri...
Si Musang Betina Mata Empat jadi geleng-gelengkan kepala, seraya menghela napas.
“Kukira belum saatnya aku menanyakan kejadian yang telah menimpa pada anak ini. Entah siapa bocah perempuan ini...? Sebaiknya ku bawa saja dia ke perahuku!” pikir si nenek.
Pakaian yang terselampir di atas tubuh si gadis segera dipasangkannya pada tubuh gadis tersebut. Kemudian si nenek mengeluarkan sesuatu dari dalam jubahnya. Ternyata sebuah kain sutera hitam. Kain tersebut lalu dipergunakan untuk membungkus tubuh Nie Zha. Setelah selesai, cepat-cepat dia menggendong tubuh si gadis.
“Gadis ini perlu pertolongan, sobat Cambuk tua! Kita akan membawanya, aku belum bisa menanyakan apa yang telah terjadi, karena dia kembali pingsan...! Seseorang telah menotoknya!” Kata si nenek menatap si Cambuk Sakti yang tengah memandang ke arahnya.
“Matamu memang tajam, nenek keriput. Pantaslah kau mencurigai perahu yang terapung-apung ini! Entah anak gadis siapa bocah perempuan ini?” kata si kakek Cambuk Sakti memandang gadis dalam gendongan si nenek setelah wanita tua ini melompat ke perahunya.
“Hm, kini giliran kau yang mengayuh perahu!” berkata si Musang Betina tanpa menanggapi kata-kata kawan seperjalanannya tersebut.
“Heheh... heh... baik, aku memang sudah bosan duduk-duduk saja!” tertawa si Cambuk Sakti.
Selesai berkata, mendadak tubuhnya melompat ke udara dengan gerakan salto yang indah. Gerakan ini dilakukan si orang tua untuk berpindah tempat duduk di buritan perahu. Ilmu meringankan tubuh si Cambuk Sakti memang tak berada di bawah si nenek. Bahkan mereka sebenarnya juga bisa terbang. Tetapi mereka tidak mau buang-buang energi untuk melakukan hal itu. Dengan ringan kaki si kakek menjejak di lantai papan buritan perahu tanpa menimbulkan goyangan sedikitpun.
Tak lama dia telah jatuhkan pantatnya duduk diatas perahu. Dan sesaat kemudian perahu kecil itupun telah meluncur cepat bagaikan terbang diatas air..
Si Musang Betina Mata Empat telah pula duduk dengan mengendong tubuh gadis yang masih tak sadarkan diri ini.