Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Undangan


Didalam kepulan debu, Arya memandang kedepan dengan penuh waspada. Indera pendengaran dan instingnya ia kerahkan sepenuhnya untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada serangan kejutan. Sesaat kemudian matanya yang kuning dapat melihat pancaran energi yang tengah melesat cepat ke arahnya.


Benar saja dari balik kepulan debu yang menyelubungi tempat itu, Patriark Dai Wubai menerjang laksana kilat. Sepasang pedang energi yang bersinar putih di tangannya membabat kian kemari dalam sebuah jurus yang bernama Pedang Suci Membelah Mega.


Sepasang pedang energi itu berkelebat ganas hampir tidak kelihatan karena cepatnya. Angin deras bersiuran mengibar-ngibarkan pakaian Arya yang telah rusak sebagian. Angin deras ini bukan sembarang angin karena bila menyambar kulit maka kulit itu terasa perih dan panas bukan main! Dan setiap tebasannya itu senantiasa mengeluarkan suara mendengung seperti auman harimau.


Sekejap saja Arya telah terkurung sambaran-sambaran sepasang pedang energi Patriark Dai Wubai. Mata dan kulit tubuhnya perih terkena angin tajam yang menderu-deru. Telinganya berdengung-dengung oleh suara yang mengaung yang keluar dari setiap tebasan itu.


Tiba-tiba tubuh Arya berkelebat dan lenyap detik itu juga. Tangan dan kakinya yang diselimuti petir sambar menyambar kian kemari, membuat gerakan menghindar dan menyerang bagian-bagian yang terbuka dari Patriark Dai Wubai. Tapi mana dia sanggup menghadapi sepasang pedang energi yang dahsyat dan melebihi tingkat kultivasinya tersebut. Apalagi Patriark Dai Wubai menggunakan salah satu jurus andalannya yang sudah mencapai tingkat kesempurnaannya.


Maka dalam jual beli serangan sesaat, pemuda itu terdesak hebat. Lengah sedikit saja pastilah pinggang atau perut atau dada atau tenggorokannya akan kena disambar sepasang pedang energi si orang tua. Hanya dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi dan kelebihan dari mata Naga Emas yang dimilikinyalah maka Arya dapat menghindari sambaran-sambaran dan bacokan-bacokan tersebut. Berkali-kali Arya melepaskan pukulan-pukulan mengandung energi petir yang dahsyat. Namun energi pukulannya terbendung bahkan dihantam buyar oleh angin tajam yang menderu yang keluar dari sepasang pedang energi Patriark Dai Wubai.


Tidak mau terus-terusan dalam posisi terdesak, tiba-tiba Arya menjatuhkan tubuhnya ke bawah. Bersamaan dengan itu tangan kanannya dengan jari-jari ditekuk ke dalam meluncur ke arah sambungan siku lawan. Percikan petir berbagai warna berkilat-kilat menderu ganas.


Tapi rupanya Patriark Dai Wubai yang sudah kenyang pengalaman bertarung ini telah memperkirakan apa yang akan dilakukan Arya. Maka pada detik itu pula kaki kanannya menyapu dari atas ke bawah, mencari sasaran di kepala si pemuda.


Mau tak mau Arya terpaksa tarik kembali tendangannya lalu gulingkan diri di tanah. Namun ternyata Patriark Dai Wubai masih terus memburu, sepasang pedang energi dikedua tangannya menebas-nebas ke arah Arya yang bergulingan mencari selamat.


Maka ketika Arya sudah berhasil berdiri, Patriark Dai Wubai mengehentikan serangannya. Dengan nafas memburu, orang tua ini lantas berkata. “Apa masih ada lagi jurus milik Zhen Long yang belum kau tunjukkan?”


Arya mengangguk, dilihatnya paras si orang tua tersebut. Sekelumit senyuman tersungging di bibir pemuda ini. Ia sekarang dapat mengerti bahwa rupanya Patriark Dai Wubai sebenarnya hanyalah ingin menjajaki sampai dimana ilmu milik Zhen Long yang telah dikuasainya. Pemuda ini juga dapat membaca isi hati Patriark Dai Wubai yang ternyata sudah yakin jika dirinya adalah murid Zhen Long.


Patriark Dai Wubai mengerutkan dahi. Sepanjang pertarungan, dia telah melihat bahwa pemuda dihadapannya itu telah menggunakan sekurang-kurangnya dua puluh jurus milik Zhen Long. Tetapi ternyata pemuda itu masih menyimpan jurus lainnya. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa di usia yang masih muda, pemuda dihadapannya itu dapat menguasai jurus-jurus tingkat langit yang dimiliki Zhen Long dalam usianya yang masih belasan tahun.


Selain itu, masih banyak tanda tanya yang berputar-putar dibenaknya mengenai Arya. Mengenai jurus-jurus aneh yang baru kali ini dilihatnya dari pemuda itu, mengenai kultivasi yang hanya berada ditahap Pendekar Fana namun pemuda itu mampu bertahan bertarung dengannya sampai sejauh ini. Jika itu adalah pendekar fana pada umumnya, pasti orang tersebut akan mengalami luka-luka atau setidak-tidaknya terkuras energinya terlebih bertarung menggunakan jurus-jurus tingkat langit yang mengharuskan penggunanya mengerahkan banyak energi.


Sementara itu, diufuk timur matahari sudah semakin naik. Kegelapan yang menyelimuti seantero alam berganti terang benderang. Cahaya sang mentari merambat menerpa dua manusia yang saling berhadap-hadapan di puncak bukit cinta tersebut.


Si orang tua menghela nafas panjang. Tiba-tiba sepasang pedang energi di tangan kanan dan kirinya lenyap. Energi yang menyelimuti tubuhnya juga sedikit demi sedikit memudar hingga akhirnya lenyap sama sekali.


“Sudahlah, lebih baik kita akhiri pertarungan ini.” Patriark Dai Wubai memandang lekat-lekat kepada Arya. Kemudian sepasang kakinya mulai berjalan menghampiri pemuda itu.


“Sebenarnya aku hanya ingin memastikan sesuatu darimu... Dalam pertarungan tadi aku sudah mendapatkan gambaran dengan jelas. Jadi ku rasa untuk selebihnya kita bicarakan segala sesuatunya dengan cara baik-baik.” Selesai berkata begitu, Patriark Dai Wubai menghentikan langkahnya. Pandangannya di edarkannya berkeliling. Di puncak bukit cinta, di sekitarnya tersebut sudah tidak ada lagi tumbuhan-tumbuhan yang hidup bahkan batu-batu besar di tempat itupun semuanya telah hancur berantakan.


Sekali lagi pandangannya kembali tertuju kepada Arya. Orang tua ini dapat melihat bahwa pemuda dihadapannya itu masih memasang sikap waspada. Maka tertawalah ia! Dengan loncatan ringan, orang tua ini sudah berdiri dua tombak di hadapan si pemuda.


Arya melihat orang tua itu tersenyum, lalu di dengarnya Patriark Dai Wubai itu berkata sambil menengadahkan kepalanya ke arah matahari,


“Matahari itu masih tetaplah matahari yang dulu, masih sama dengan matahari ratusan tahun yang silam. Dulu, di suatu puncak gunung, aku juga pernah bertarung dengan gurumu si tua Legenda Pendekar Naga itu. Sayang sekali waktu itu aku harus menelan kekalahan. Aku harus mengakui bahwa ketinggian ilmu gurumu itu lebih hebat dariku.” Patriark Dai Wubai berhenti sesaat, diaturnya jalan nafasnya. “Akan tetapi pertarungan itu membuat kami lebih dekat. Atas kekalahanku waktu itu aku berniat membayarnya, suatu saat nanti aku harus bisa mengalahkannya.”


Dan Arya masih terus mendengar Patriark Dai Wubai berbicara, “Mendengar pengakuanmu sebagai murid Zhen Long. Aku jadi berhasrat membuktikannya. Sebenarnya aku masih penasaran sekali dengan jurus-jurus yang dimilikinya. Dan jurus-jurus itu kini ku lihat telah kau kuasai. Tapi sayangnya kultivasimu terlalu rendah untuk bisa memaksimalkan jurus-jurus yang luar biasa milik si tua Zhen Long itu.”


Arya mendengarkan dengan sungguh-sungguh, sambil manggut-manggut ia mencoba membaca pikiran Patriark Dai Wubai. Kemudian terdengar kembali suara si orang tua.


“Dari beberapa jurus yang kau keluarkan, aku melihat jika jelas selain Zhen Long, kau juga pasti memiliki guru lain yang tak kalah hebatnya. Tapi aku tak mau mempersoalkan hal itu... Sekarang yang harus aku katakan padamu ialah, kau harus mempertanggung-jawabkan energi pusaka legenda yang telah kau serap.” Patriark Dai Wubai mengamati wajah Arya dengan seksama. Tapi akhirnya dia hanya bisa menghela nafas berat karena tak bisa membaca pikiran pemuda itu.


“Masih banyak yang ingin aku ketahui darimu. Tapi mengingat kau adalah murid sahabatku, aku akan mencoba menaruh kepercayaanku kepadamu. Dan untuk saat ini aku tak akan memaksamu mengeluarkan energi pusaka legenda yang telah kau segel dalam tubuhmu itu.


Tapi sebagai gantinya kau harus mau menggantikan keberadaan energi pusaka legenda yang ada ditubuhmu itu! Lebih jelasnya kau harus bersedia bergabung bersama kami jika seandainya makhluk kegelapan yang akan mengacaukan dunia ini muncul.”


Arya mengerutkan keningnya, “Baiklah... Kalau itu yang anda inginkan, aku tak akan lari dari tanggung-jawab.”


Patriark Dai Wubai mengangguk. “Baguslah, ku rasa tak ada lagi yang perlu kita bahas. Untuk itu aku akan pergi dulu. Bulan sepuluh hari empat belas, tepat ketika bulan purnama naik datanglah ke gunung wugong di benua daratan tengah. Kami akan menunggumu disana.”


Arya akan membuka mulutnya, namun Patriark Dai Wubai telah menghilang dari hadapannya. Pemuda ini kemudian memandang keatas, dimana Zhiyuhan berada. Namun dilihatnya Zhiyuhan hanya tersenyum dan mengangguk, lalu lenyap tak berbekas.


_________


Maaf kalau flashback pertarungan di kerajaan Goading terlalu panjang. Mungkin bagi sebagian dari kalian terasa membosankan. Author fikir kalau tidak diceritakan maka untuk kedepannya ceritanya jadi ga nyambung.


Author sadar bahwa cerita yang author sajikan tidaklah dapat memuaskan kalian semua. Untuk itu silahkan beri masukan, karena itu sangat membantu bagi saya untuk mengembangkan ceritanya agar lebih menarik.