
"Hiyaaat ... ! Haaat ... !"
Teriakan keras susul menyusul di selingi suara berdentrang pedang dan ledakan merobek kesunyian malam.
Di sebelah timur terlihat dua belas orang tidak dikenal tengah di kepung lautan prajurit. Meski dikepung dan diserang demikian rupa, namun dua belas orang itu terus merangsek sedikit demi sedikit ke pusat perkemahan.
Sekali gebrak prajurit-prajurit itupun dibuat bermentalan, beberapa diantaranya bahkan membentur senjata kawannya sendiri hingga tubuhnya tertembus senjata tersebut.
Dua belas orang yang tidak dikenal itu bukannya tidak pernah tersentuh tebasan ataupun tusukan senjata dari para prajurit. Namun meski tubuh mereka di tusuk ataupun terpotong, anehnya tubuh dua belas orang itu kembali utuh.
Tentu saja para prajurit yang menyaksikan hal itu menjadi terheran-heran. Namun mereka tidak bisa berbuat banyak selain terus menghujani serangan demi serangan. Berusaha menutup rapat-rapat jalan agar dua belas orang itu tidak semakin mendekati pusat perkemahan.
Tiba-tiba seseorang berkelebat dan langsung menghantamkan tendangan ke tubuh salah seorang dari orang-orang yang tidak dikenal itu.
“Siapa kalian? Kenapa kalian membuat kerusuhan ditempat kami?!” Bentak jenderal An Nantian dengan lantang.
Bentakan sang jenderal serta merta membuat pertarungan berhenti sejenak. Mereka semua menoleh ke arah jenderal An Nantian.
Orang yang tadi kena di tendang, segera bangkit berdiri. Dadanya remuk, karena itulah dia tidak memperdulikan ucapan sang jenderal. Segera orang itupun melesat menyerang!
Ketika orang itu menghentakkan parangnya, maka yang kemudian terjadi orang itu terpental oleh gelombang angin yang luar biasa. Dan saat orang ini hendak menyerang lagi, dia baru sadar bahwa yang berada didalam genggamannya kini hanyalah tinggal tangkainya saja. Rupanya parang itu patah. Kekuatan sapuan angin sang jenderal ternyata melampaui kekuatan tebasannya.
Selagi orang itu masih tegak dengan terkesima, terdengarlah suara Jenderal An Nantian.
“Jawablah, siapa kalian? Dan kenapa membuat keonaran disini?!”
“Kami adalah anggota Sekte Iblis Berdarah.. Kami datang membawa niat baik, tapi para prajurit ini menolak kami, bahkan mereka menyerang kami.” jawab orang itu kemudian.
Jenderal An Nantian mengerutkan dahi. Dia menghubungkan kedatangan orang-orang yang mengaku anggota Sekte Iblis Berdarah tersebut dengan penjelasan Tie Mole. Mungkin mereka dapat mengetahui tempat ini dari pengakuan Tie Mole. Melihat kedatangan mereka yang hanya berjumlah dua belas orang, tentunya mereka tidak berniat mencari permusuhan. Maka bertanyalah sang jenderal kemudian, “Lalu apa tujuan kalian?”
Tiba-tiba tanpa dapat dilihat oleh mata, seseorang telah berdiri dua tombak dihadapan sang jenderal. Orang itu tersenyum lalu menelangkupkan tangannya.
“Aku adalah Yan Heishan,” berkata orang itu, “Kedatangan kami disini untuk mengajukan bantuan pada kalian.”
“Bantuan? Bantuan apakah maksudmu?” desis sang jenderal.
Pria yang bernama Yan Heishan, seorang tertua terkuat Sekte Iblis Berdarah ini tidak segera menjawab. Pandangannya diarahkannya sejurus pada Pangeran Tong Shun. Dari pakaian orang yang dilihatnya itu, Yan Heishan segera dapat menduga bahwa orang itu bukan lain adalah Sang Pangeran.
Yan Heishan menyeringai, tiba-tiba tubuhnya berkelebat ke tempat Pangeran Tong Shun. Pergerakannya yang sangat cepat membuatnya seolah menghilang dari pandangan. Namun Jenderal An Nantian masih bisa melihat gerakan Yan Heishan, kalau tidak percuma saja dia menjadi seorang jenderal yang memiliki kultivasi Pendekar Pertapa.
Cepat sosok sang jenderal berkelebat. Kedua tangannya kirimkan pukulan jarak jauh ke arah kepala Yan Heishan. Dua gelombang angin menderu mendahului tangan yang memukul, jelas jika sang jenderal mengerahkan hampir segenap tenaga luar dan dalamnya.
Jdaaaarrr....
Ledakan api menyebar di udara! Untung Yan Heishan sempat menahan serangan tersebut. Jika tidak, mungkin saat ini tubuhnya telah terbakar bahkan hancur jadi serpihan-serpihan daging.
Yan Heishan berseru tertahan. Sosoknya terpelanting ke samping dan terjajar sampai lima tombak. Kejap lain tubuhnya roboh dengan pinggang menghantam tanah terlebih dahulu. Yan Heishan masih bisa sunggingkan seringai. Jubah bagian lengannya robek dengan kulit memerah di baliknya!
Yang terdengar kemudian adalah suara bentakan keras membahana, “Jahanam! Kubunuh kau!”
Meski hanya terdengar suara menggema. Namun yang sebenarnya jenderal An Nantian tengah terbang melesat menyerang. Kedua tangannya bergerak lepas-kan pukulan ‘Kabut Neraka’.
Namun belum sempat kabut hitam melesat keluar dari kedua tangannya, tiba-tiba kedua tangan sang jenderal mental ke belakang. Kejap kemudian tubuhnya terdorong keras dan terjengkang jatuh di atas tanah!
Apa yang terjadi? Saat sang jenderal hendak kirimkan serangan, beberapa anggota Iblis Berdarah lainnya segera kirimkan pukulan jarak jauh. Sang jenderal yang fokus pada Yan Heishan tidak menyadari serangan tersebut sehingga dia tidak sempat menghindar.
Dengan menahan marah dan sakit, jenderal An Nantian perlahan-lahan bangkit. Menatap tajam pada Yan Heishan yang kini sudah berdiri bersama sebelas anggota Sekte Iblis Berdarah lainnya. Sebelum dia keluarkan bentakan, Yan Heishan telah mendahului berkata.
“Aku hanya ingin berbicara dengan orang-orang penting di dalam pasukan ini. Siapa orangnya yang bernama pangeran Tong Shun?!” Suara Yan Heishan menggema ke segala penjuru. Tanah pun ikut bergetar oleh gelombang suaranya.
Pangeran Tong Shun mengerutkan keningnya. Kemudian perintahnya kepada seorang punggawa di sampingnya. “Bawa Tie Mole ke hadapanku.”
Punggawa itupun segera mohon diri. Tidak butuh lama ia telah menemukan Tie Mole sedang berdiri terpaku beberapa tombak di depan kemah. Tanpa berbicara apapun, punggawa ini langsung menarik Tie Mole dengan paksa.
Sementara itu Jenderal An Nantian sudah kembali terlibat pertarungan dengan lima orang anggota Iblis Berdarah. Para pendekar aliran hitam dan anggota Sekte Kelabang Racun juga tidak tinggal diam lagi, mereka semua kini terjun ke dalam arena pertarungan, membantu jenderal An Nantian menghadapi dua belas anggota Sekte Iblis Berdarah.
Yan Heishan dan rekan-rekannya jelas sadar sekuat apapun mereka, mustahil bagi mereka untuk dapat menghadapi seluruh pasukan yang ada di perkemahan ini. Namun demikian, Yan Heishan dan yang lainnya percaya pada kemampuannya yang tidak dapat dibunuh kecuali lawannya itu tahu kelemahan mereka. Maka karena itulah mereka tampak begitu percaya diri.
Ribuan prajurit yang layaknya lautan manusia itupun cepat menyingkirkan ketika pertarungan semakin meluas. Mereka jelas tidak mau mati konyol. Namun meski telah menjauh tetapi masih ada beberapa diantara prajurit yang tetap terkena serangan nyasar. Dan yang terkena serangan nyasar tersebut seketika tewas di tempat!
Sementara itu, Tie Mole telah dibawa kehadapan pangeran Tong Shun.
“Kau mengenal orang-orang itu?” tanya sang pangeran.
Tong Shun mengangguk, dengan nada bergetar dia menjawab. “Merekalah orang-orang yang telah membunuh semua anak buahku, pangeran.”
“Ilmu apa itu?” desis sang panglima. Ia segera melompat mundur, begitupun dengan yang lainnya. Kejadian yang dilihatnya barusan rupanya membuat nyali mereka sedikit turun.
Orang yang tubuhnya terpotong tadi bangkit berdiri. Kini orang itu tertawa terbahak-bahak. Di antara tertawanya terdengar ia berkata, “O, prajurit yang malang. Kenapa kalian keras kepala sekali. Tak seorangpun dapat menghalangi kemauan kami. Menyerahlah dan tunduk pada kekuasaan Sekte Iblis Berdarah!”
Mendengar itu, dada para panglima itupun menjadi terbakar. Mereka tidak terima direndahkan seperti itu. Meski lawan memiliki kemampuan aneh seolah tidak dapat mati, merekapun sudah tidak lagi perduli. Akan dilakukan cara apapun untuk membungkam mulut orang itu selamanya!
Dipihak lain, pertarungan pendekar aliran hitam serta anggota-anggota sekte Kelabang Racun nampak sengit. Ledakan demi ledakan terus terjadi membuat tanah bergetar tiada henti. Kemah-kemah atau gubuk-gubuk yang berdiri di dekat pertarungan mereka telah rata dengan tanah, hancur terkena dampak pertarungan tersebut.
Tiba-tiba diantara hiruk-pikuk pertarungan, terdengar suara keras membahana.
“Hentikan!”
Jenderal An Nantian dan para panglima yang mengenali suara tersebut segera melompat menjauh.
Beberapa saat pertarungan terhenti. Mereka semua memandangi pangeran Tong Shun yang sedang berjalan mendekat ke arena pertarungan.
“Aku pangeran Tong Shun,”
Yan Heishan yang mendengar itu tampak menyeringai, “Baguslah, kau berani menunjukkan diri. Kalau tidak semua orang-orang ini akan mati percuma.” katanya dengan nada dingin.
Pangeran Tong Shun menggeram, tangannya sudah terkepal erat. Namun demikian, dicobanya untuk menahan diri. Dia percaya pada kemampuan orang-orangnya, namun meski begitu dia juga ingin tahu apa tujuan orang-orang Iblis Berdarah tersebut mencarinya.
“Katakanlah apa tujuan kalian datang kesini mencariku?!” kata sang pangeran dengan nada bergetar menahan amarah.
“Kami datang menawarkan bantuan. Dan kalian tidak mempunyai pilihan lain selain menerimanya!” balas Yan Heishan sinis.
“Keparat! Ku robek mulutmu!” bentak Jenderal An Nantian dengan tubuh gemetar oleh kemarahannya yang semakin memuncak. Sekali ia menggeretakkan giginya, kemudian setapak ia melangkah maju sambil menunjuk wajah Yan Heishan.
“Tahan! Tetap di tempatmu, jenderal!” kata pangeran Tong Shun tegas.
Terdengarlah Yan Heishan tertawa tergelak-gelak, “Keliru aku memilih kata. Yang benar adalah kami memaksa kalian tunduk pada kami.”
Mendengar kata-kata Yan Heishan itu, maka telinga Pangeran Tong Shun serasa tersentuh api. Ia sudah tidak dapat lagi menahan kemarahannya. Tangannya pun kemudian menjadi gemetar dan dengan serta-merta ia berkata, “Lancang! Rupanya kalian adalah orang-orang gila yang datang kesini hanya untuk mencari mampus!”
Yan Heishan maju selangkah, ditatapnya pangeran Tong Shun dengan tajamnya, dan tiba-tiba kedua tangannya telah menggenggam dua belah pedang pendek. “Silahkan kita buktikan, siapa yang gila dan siapa yang mencari mampus. Menolak artinya mati!”
Tiba-tiba Yan Heishan menjadi tersentak ketika tahu-tahu jenderal An Nantian telah berada di atas kepalanya. Ketika tombak pendek baja sang jenderal terayun ke kepalanya, Yan Heishan sama sekali tidak berkisar dari tempatnya.
Yan Heishan yakin pada energi kegelapan yang telah dikeluarkannya. Ia memang ingin bertarung jarak dekat, dengan begitu energi lawan akan tersumbat oleh energi kegelapan milikinya. Karena itu sengaja ia tidak mengelak, tetapi dibenturnya serangan itu dengan kedua pedang pendeknya.
Duuuarr...
Benturan senjata mereka menciptakan ledakan kuat yang menggoncangkan tanah. Gelombang kejutnya membuat semua orang yang berada didekat situ jadi terpental ataupun terseret mundur.
Kaki Yan Heishan amblas di tanah sampai selutut, sedang Jenderal An Nantian terhempas terjungkir-balik di udara lalu mendarat di tanah dengan tubuh terhuyung-huyung.
“Enegi apa itu?!” desis jenderal An Nantian dalam hati. Tangannya terasa panas luar biasa, tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas dan energinya tidak dapat mengalir lancar.
Sebelum pertarungan berlanjut, tiba-tiba salah seorang anggota Sekte Iblis Berdarah yang bernama Su Tingchen berkata, “Kami sebenarnya tidak mengharapkan perkelahian ini. Tapi karena prajurit kalian telah menyerang kami terlebih dahulu mohon dimaklumi jika kami menjadi tersulut emosi.”
Sun Tingchen melangkah ke tempat Yan Heishan, kemudian kembali ia berkata. “Keperluan kami mendatangi kalian, karena kami tahu bahwa kalian sedang merencanakan penyerangan terhadap kerajaan Goading. Untuk itu kami datang meminta kalian agar bersedia bergabung sengan Sekte kami.”
Mendadak jenderal An Nantian tertawa, “Kalian kira kami bodoh. Kalian sendiri telah gagal mengkudeta kerajaan Goading dan sekarang malah datang kesini dengan sombongnya mengatakan ingin membantu kami. Hahaha...”
Perkataan jenderal An Nantian itu seolah-olah tepat menikam dada orang-orang Sekte Iblis Berdarah. Telinga mereka terasa panas mendengar tawa memuakkan sang jenderal. Kepala mereka seakan-akan seperti terbakar, siap meledakkan amarah. Namun karena kemarahan yang meluap-luap itu, mereka jadi terdiam.
Melihat sikap kawan-kawannya, buru-buru Sun Tingchen berkata, “Kau salah, kami datang kesini bukan untuk mengemis-ngemis meminta kalian bergabung dengan kami. Kalian harus tahu anggota Sekte kami berjumlah ribuan, bahkan lebih banyak dari para prajurit kalian disini. Itupun belum terhitung dengan anggota-anggota sekte aliran hitam lain yang telah bergabung dengan kami.”
Semua orang terdiam. Perkataan Sun Tingchen itu telah menyadarkan pikiran para anggota Sekte Kelabang Racun dan anggota sekte lainnya. Memang berita mengenai Sekte Iblis Berdarah telah sampai ditelinga mereka. Hal ini membuat mereka jadi bimbang. Adalah sangat menguntungkan jika mereka mau bergabung dengan Sekte Iblis Berdarah, karena selain akan mendapatkan pasukan yang lebih banyak, mereka juga akan mendapatkan kekuatan kegelapan dimana tubuh mereka seolah tidak akan dapat mati. Tapi meski begitu mereka juga tidak mau menjadi budak. Mereka telah mendengar desas-desus bahwa semua anggota sekte yang bergabung dengan Sekte Iblis Berdarah telah di ikat dengan suatu energi kegelapan sehingga sekte-sekte tersebut seolah-olah menjadi budak karena tak bisa lepas dari jeratan energi kegelapan yang ada ditubuh mereka.
Patriark Yong Guifai mendekati pangeran Tong Shun, dengan suara berbisik ia berkata. “Pangeran, menurutku penawaran mereka juga menguntungkan bagi kita. Mereka memang memiliki banyak anggota. Karena itu lebih baik kita bergabung saja bersama mereka. Dengan adanya banyak pasukan, maka kekuatan kita akan jauh lebih besar. Jangankan untuk mengkudeta kerajaan Goading, untuk menguasai Kekaisaran saja tidaklah mustahil dilakukan. Tapi sebelum menyetujui ajakan mereka, pangeran sebaiknya harus mengajukan persyaratan, yakni minta lah agar mereka tidak mengikat kita dengan energi kegelapan.”
Pangeran Tong Shun mengerutkan dahi. “Energi kegelapan? Apa maksudmu?”
“Ku dengar, sekte-sekte yang berhasil mereka tundukkan kabarnya di ikat dengan energi kegelapan agar mereka tidak bisa menolak apapun perintah mereka, apalagi berani untuk berkhianat.”
Pangeran Tong Shun mengangguk, kepada Sun Tingchen kemudian ia berkata, “Baiklah kami bersedia bergabung bersama kalian. Tapi dengan satu syarat.. Kita disini saling menguntungkan dan memiliki tujuan yang sama. Jadi untuk itu aku minta, aku dan semua orang-orangku tidak kalian ikat dengan energi kegelapan. Kami tidak Sudi menjadi budak kalian..”
Yan Heishan tersenyum, “Baiklah, kami setujui persyaratan kalian... Kalau begitu mari kita tinggalkan tempat ini. Sebaiknya kita secepatnya menuju ke sekte iblis berdarah. Di sana kita akan menyusun langkah-langkah apa yang harus kita kerjakan selanjutnya.”
Demikianlah, semua orang kemudian berkemas-kemas. Dan sesaat kemudian, ribuan orang tersebut seolah-olah seperti air yang mengalir meninggalkan halaman yang kotor dari perkemahan itu. Semakin lama rombongan itu terlihat semakin panjang. Mereka masuk lebih dalam ke tengah-tengah hutan yang gelap pekat. Yang tampak kemudian hanyalah sinar-sinar obor di kejauhan, di antara kepadatan pohon-pohon raksasa dan semak-semak belukar.