
Selepas menyelesaikan proses membuka gerbang ke ketiga, yaitu gerbang kehidupan. Arya lantas melesat ke tempat Patriark Tao Lian, dan mendapati pamannya itu masih belum menyelesaikan proses membuka gerbang pertama untuk menembus tahap yang lebih tinggi dari Pendekar Suci.
Memang seseorang yang menempuh jalan keabadian di haruskan membuka 5 gerbang yang ada di dalam dirinya. Lima gerbang tersebut adalah, gerbang penyucian hati, gerbang pengetahuan, gerbang kehidupan, gerbang kematian dan gerbang keabadian.
Tidak semua orang bisa membuka lima gerbang, sebab setiap orang memiliki potensi yang berbeda-beda dan takdirnya masing-masing.
Ada dua cara untuk membuka lima gerbang tersebut. Pertama yaitu dengan kemampuan dan tekad orang itu sendiri. Dan yang kedua dengan cara instan, cara ini disebut cara sesat karena orang yang melakukannya akan menyerahkan tubuhnya dikuasai sisi gelap.
Arya sendiri sudah membuka gerbang kedua saat dirinya sudah mendapatkan kembali ingatan Kaisar Dewa Naga Emas.
Sembari menunggu proses penyucian hati yang tengah di lakukan Patriark Tao Lian, Arya berusaha mengembangkan semua teknik serta jurus yang telah dikuasainya. Pemuda itu juga menyempatkan diri membuat banyak pil dan melukis ketika sedang merasa bosan.
Kini Arya terlihat sedang berlatih jurus Taichi di atas danau pulau kehidupan, semua gerakan jurus tersebut sudah ia kembangkan, bahkan ada beberapa gerakan yang berhasil dia gabungkan dengan teknik lainnya sehingga menciptakan sebuah jurus baru.
Tebasan Pelangi Angkasa.
Arya menggerakkan tangannya seperti menebas dengan tangan kosong.
Sebuah energi tipis transparan melesat ke arah tebing yang berada di ujung danau.
Kreeekkk.. Jdduuummm..
Tebing tersebut seketika meledak menjadi serpihan bebatuan. Dan bahkan pepohonan yang berada di belakang tebing tersebut tumbang karena tidak dapat menahan kuatnya gelombang kejut energi tersebut.
Arya menggaruk-garuk kepalanya, "Kenapa malah jadi begini.."
Arya yang berniat melancarkan teknik Tebasan Pelangi Angkasa, tetapi yang keluar justru malah jurus Tebasan Angin Melingkar. Dia sudah berkali-kali mencoba Teknik Pelangi Angkasa, namun dari semua percobaannya hanya satu kali saja dia dapat melakukannya.
Saat itu Arya sedang melatih teknik elemen cahaya, dia tidak sengaja menciptakan jurus yang sangat dahsyat. Yang dia beri nama 'Tebasan Pelangi Angkasa'. Jurus gabungan antara Taichi dengan Cahaya Kebinasaan.
"Sepertinya ada yang salah.."
Ketika Arya hendak mencoba kembali menggunakan teknik Tebasan Pelangi Angkasa, tiba-tiba muncul sembilan Naga di hadapannya.
"Tuan, bukankah anda sudah mengatakan jika tidak akan berlatih di sini. Lihatlah anda telah menghancurkan tempat ini." Ucap Nuwa dengan nada marah.
Arya melebarkan mata saat menyadari kerusakan yang diperbuatnya, dimana hampir seluruh pepohonan dan tebing-tebing yang berada di sekitar danau kehidupan porak poranda. Lantas dia kembali menatap Nuwa sambil menyunggingkan senyuman canggung.
"Hehe.. maaf aku lupa, tadi aku terlalu bersemangat." Arya mengusap tengkuknya dengan mimik muka bersalah.
"Kata maaf tidak akan memperbaiki semuanya." Naga Hitam yang bernama Guza mendengus kesal, sehingga terlihat kedua lobang hidungnya mengeluarkan asap panas.
Jika saja pemuda itu bukanlah reinkarnasi Kaisar Dewa Naga Emas dan juga orang yang telah berjasa membantu mereka menghadapi Chaizu. Sudah pasti Guza akan menghajar pemuda itu karena telah merusak tempat suci mereka.
"Aku benar-benar lupa, aku berjanji akan memperbaiki semua kerusakan ini."
"Tidak perlu tuan, biar kami saja yang akan membereskan tempat ini. Tapi tuan harus selalu ingat, jangan berlatih lagi disini." Meski marah namun Nuwa masih menghormati Arya sebagai Dewa mereka.
"Tidak, ini semua adalah kesalahanku. Jadi memang seharusnya aku yang bertanggung-jawab." Arya lantas mengalihkan pandangannya ketika merasakan keberadaan energi yang melayang di atas mereka.
Pemuda itu tersenyum ketika mendapati Patriark Tao Lian akhirnya telah menyelesaikan penyucian hati. Dia dapat merasakan aura putih yang terpancar dari tubuh Patriark Tao Lian.
"Maaf, apakah aku mengganggu urusan kalian?" Patriark Tao Lian nampak canggung, dia malu karena kondisi tubuhnya kotor dan bau.
Patriark Tao Lian tidak terlalu terkejut ketika melihat Naga yang ada di hadapan Arya, sebab dia sudah melihat salah satunya. Namun meski demikian, Patriark Tao Lian masih penasaran ada hubungan apa antara Arya dengan para Naga tersebut.
"Paman, sebaiknya anda mandilah dulu. Setelah itu, tunggulah aku di atas bukit."
Selepas berkata demikian, Arya kemudian menciptakan puluhan tubuh bayangan yang sama persis seperti dirinya.
Patriark Tao Lian nampak begitu terkejut, dia mencoba mencari Arya yang asli namun semua Arya yang dilihatnya tersebut memiliki aura serta energi kehidupan yang sama.
Salah satu Arya terlihat mengeluarkan puluhan botol, puluhan botol tersebut melayang dan berpencar ke seluruh bayangan Arya. Selepas masing-masing Arya memegang satu botol, mereka semua lantas menyebar dan hanya menyisakan satu Arya di atas danau tersebut.
"Paman, kenapa anda masih di sana?" Arya mendongakkan kepalanya menatap Patriark Tao Lian yang masih mengerutkan dahi keheranan, melayang di udara.
"Bagaimana bisa kau melakukan semua itu, Xian'er?"
Patriark Tao Lian mengangguk, dia kemudian menceburkan dirinya ke danau. Sementara itu para Naga terlihat melebarkan mata ketika menyaksikan pepohonan di sekitar danau tumbuh dengan sangat cepat. Hanya dalam beberapa tarikan nafas, area terbuka di sekitar danau yang sebelumnya porak poranda, kini di padati rimbunnya pepohonan kembali.
Mengerti maksud tatapan Nuwa kepadanya, Arya kemudian menjelaskan bahwa dia dapat mempercepat pertumbuhan makhluk hidup dengan ramuan yang ada di dalam botol, yang dia bagikan ke semua bayangannya tadi.
Mengetahui jika para Naga tidak dapat mempercayainya, Arya menatap Naga merah yang bernama Snowfan.
"Apa kau ingin aku membuatmu menjadi lebih tua sepuluh ribu tahun dari penampilanmu saat ini."
Snowfan melebarkan matanya, beringsut mundur. Naga merah tersebut nampaknya takut jika Arya benar-benar melakukan hal itu.
Arya tertawa pelan karena membayangkan bagaimana penampilan Naga merah tersebut jika dirubah lebih tua sepuluh ribu tahun.
"Meski anda dapat memperbaiki kerusakan yang anda perbuat, namun kami tidak mau lagi melihat anda merusak tempat suci ini lagi. Ku harap anda selalu mengingatnya.." Ucap Nuwa sebelum pergi meninggalkan Arya, dan di susul para Naga lainnya.
Arya menghela nafas panjang, dia dapat memahami kemarahan para Naga terhadapnya. Karena bagaimanapun dialah yang salah, tidak sepantasnya seorang tamu berlaku seenaknya bahkan merusak tempat milik tuan rumah.
"Ku harap kalian memaafkanku, aku juga ingin pamit karena setelah ini aku akan kembali." Ucap Arya di dalam pikiran kesembilan Naga yang telah terbang jauh.
*****
Arya dan Patriark Tao Lian tiba-tiba muncul dari ruang hampa. Mereka kini kembali berada di dalam ruangan yang berada di bawah makam leluhur Lembah Petir.
"Bagaimana perasaanmu paman?" Arya tersenyum melihat Patriark Tao Lian yang nampak belum terbiasa dengan perubahan energi di dalam tubuhnya.
"Pikiranku dan hatiku sekarang jauh lebih tenang namun aku masih belum terbiasa dengan kekuatan ini."
"Itu wajar saja paman, aku juga pernah berada di posisi seperti paman sekarang." Arya mengeluarkan beberapa buku lalu menyerahkannya ke Patriark Tao Lian. "Agar bisa menggunakan kekuatan paman secara maksimal, paman harus bermeditasi untuk menyelaraskan dan membiasakan diri dengan kekuatan paman."
Patriark Tao Lian mengangguk, "Lalu, ini buku apa?"
Arya tersenyum, "Melihat anda memiliki roh energi burung Garuda petir, aku menuliskan beberapa teknik yang cocok dengan roh energi anda, paman. Selain itu, aku juga memberikan segel pelindung yang lebih kuat agar tidak ada lagi orang luar yang dapat menyusup ke markas ini."
Patriark Tao Lian mengerutkan dahi, dia membuka mulutnya namun tidak ada kata yang keluar. Patriark Tao Lian sampai dibuat bingung harus mengucapkan apa untuk mewakilkan perasaannya terhadap semua kebaikan Arya kepadanya.
"Paman, aku melakukan semua ini juga demi kebaikan Lembah Petir, bagaimanapun tempat ini juga adalah rumahku." Arya tersenyum dengan tulus.
Arya kemudian menepati janjinya, dia menjelaskan semuanya terkait pulau kehidupan, tentang apa hubungan dirinya dengan para Naga, dan tentang teknik Tubuh Bayangan Semesta yang membuatnya bisa menciptakan tubuh tiruan yang sama persis seperti dirinya.
"Meski aku sudah mengetahui keistimewaanmu, namun tetap saja melihat perkembanganmu secepat ini dan mendengar semua yang telah kau lalui, itu semua sangat membuatku terkejut dan merasa kecil." Patriark Tao Lian tersenyum kecut.
"Hahaha.." Arya tertawa pelan, lalu memasang wajah serius. "Paman, setiap orang memiliki potensi berbeda-beda, dan aku memiliki semua keistimewaan ini juga pastinya menanggung tanggung-jawab yang besar pula. Karena itulah aku tidak bisa menetap disini terlalu lama sebab aku memiliki banyak tugas yang harus aku selesaikan."
Arya mengeluarkan dua botol berukuran sedang, "Ini adalah beberapa bibit tanaman sumberdaya yang telah aku kumpulkan." Arya memperlihatkan satu botol lainnya. "Sedangkan yang ini berisi cairan pusaran waktu. Gunakanlah untuk mempercepat pertumbuhan bibit sumberdaya, tetapi jangan sampai cair ini terkena langsung dengan kulit anda, jika itu sampai terjadi maka paman akan menjadi tua."
Patriark Tao Lian mengangguk, dia telah melihat sendiri bagaimana Arya dapat dengan cepat menumbuhkan pepohonan di sekitaran danau kehidupan.
Matahari mulai tenggelam menjadikan kegelapan menyelimuti kehidupan, bulan sudah nampak di langit di temani kerlipan jutaan bintang dan indahnya suara binatang malam.
"Kegelapan pasti akan selalu hadir setiap harinya, begitupun dengan kehidupan. Tidak ada kehidupan yang tidak pernah di hantam suatu masalah." Ucap Patriark Tao Lian setelah keluar dari makam leluhur bersama Arya. Dia memandangi bulan, lalu menatap para anggotanya yang masih menjaga di sana.
"Jadi Xian'er benar-benar membawaku ke dunia lain." Batin Patriark Tao Lian setelah memastikan tidak ada perubahan banyak di makam leluhur, dimana masih terdapat banyak bekas kerusakan akibat pertarungan sebelumnya.
"Paman, ayo kita kembali.." Arya teringat jika dirinya masih memiliki janji dengan Yin Feng untuk berlatih bersama.
Perkataan Arya menyadarkan lamunan Patriark Tao Lian. Sebelum mereka meninggalkan makam tersebut, Patriark Tao Lian menyuruh semua anggotanya untuk kembali sebab sudah tidak ada lagi yang perlu di jaga di sana.
Setelah sampai di depan gedung utama, Patriark Tao Lian menghentikan Arya yang hendak pergi. Namun sebelum Patriark Tao Lian mengatakan sesuatu, Arya segera memotong.
"Paman tidak perlu menyiapkan jamuan dan memperkenalkanku pada semua orang. Lagipula sebaiknya paman bermeditasi untuk dapat secepatnya menyelaraskan diri dengan kekuatan paman saat ini."
Sebelum Patriark Tao Lian membuka suara, Arya sudah menghilang dari pandangannya.
"Bocah itu.." Patriark Tao Lian menghela nafas panjang lalu memasuki gedung utama.