
Gadis berbaju hijau dan kuning membawa Putri Zhou Jing Yi, jenderal Sun Jian dan Heng Dao ke satu ruangan. Tak ada lagi perlawanan berarti dari mereka, sebab kini ketiga orang itu dalam kondisi tertotok, terlebih kedua tangan mereka terikat dan tak ubahnya seperti manusia biasa yang tak memiliki energi.
Mereka kemudian di tempatkan dalam posisi berdiri tegak melingkari sebuah pilar besar. Tak lama setelah itu, gadis berbaju kuning bernama Qian Si melangkah mendekat. Tampak ia mengibas-ngibaskan tangan kanannya beberapa kali. Bersamaan itu pula, dari tangan si gadis muncul larikan sinar yang lantas menggulung dan mengikat tubuh ketiga orang tersebut di pilar besar.
“Kalian beruntung Ratu kami tak memerintahkan untuk menjebloskan kalian ke ruang tahanan.” Cibir gadis berbaju kuning.
Putri Zhou Jing Yi memaki-maki dalam hati. Sedang jenderal Sun Jian sibuk memikirkan cara untuk bisa melepaskan diri. Sementara Heng Dao memilih memejamkan matanya, tenggorokannya terasa hambar karena sudah lama tak dibasahi air arak, kalau orang tua ini bisa bicara sudah pasti ia akan memohon-mohon supaya gadis-gadis itu bersedia untuk menuangkan arak ke mulutnya.
“Sebaiknya lepaskan totokan mereka. Lagipula tubuh mereka terikat benang lentera sutra. Mereka tak akan bisa melarikan diri.” Berkata Qianqiao.
Gadis bernama Qian Si menggeleng, “Mereka pantas mendapatkan ini. Telingaku sudah muak mendengar teriakan dan umpatan gadis itu. Aku yakin saat ini dia masih mengumpat-umpat dalam hatinya.”
“Jangan berlebihan! Kalau Tabib Xian tahu kita memperlakukan mereka seperti ini, pemuda itu pasti akan marah pada kita.”
“Aku tak perduli...” Ketus Qian Si.
Gadis berbaju hijau memegang pundak Qian Si, “Kau masih ingat tugas yang perintahkan Ratu untuk kita?” sebagai jawaban Qian Si hanya mengangguk malas, “Nah, apa kau ingin menyalahi aturan dari Ratu.”
“Sepertinya kau lah yang tak bisa menangkap maksud dari Ratu sesungguhnya. Bukankah ratu menyuruh kita untuk mengawasi mereka dengan ketat? Menurutku dengan menotok dan mengikat mereka di pilar adalah tindakan yang paling tepat. Dengan begitu sudah tak ada lagi kemungkinan bagi mereka untuk bisa kabur.”
Qianqiao si gadis berbaju hijau menghela nafas sambil gelengkan kepala.
****
Air danau beriak dibarengi gelembung-gelembung yang naik kepermukaan. Kejap kemudian muncul dua sosok mulai kepala sampai akhirnya kelihatan seluruh tubuhnya. Dua sosok tersebut bukan lain adalah Arya dan Ratu Qian Yu. Mereka untuk sesaat berdiri saling berpandangan, mengambang diatas permukaan air.
Tiba-tiba Arya melesat, hentakan sepasang kakinya membuat air danau terbelah. Ratu Qian Yu segera menyusul. Tak butuh waktu lama, keduanya telah sampai di bibir pulau.
Di sekeliling pulau tampak tumbuh pohon-pohon besar dan tinggi seolah menyangga langit. Melihat rapatnya pohon-pohon tersebut satu sama lain, jelaslah bahwa pohon-pohon tersebut sengaja ditanam demikian rupa membentuk pagar tinggi yang kokoh.
Ratu Qian Yu tampak menggerakkan kedua tangannya seperti menghantam ke depan. Rupanya gadis ini sedang membuka segel pelindung dihadapannya agar mereka dapat masuk ke dalam pulau ini.
Si gadis menoleh dan menganggukkan kepala kepada si pemuda. Dan sang pemuda sendiri balas tersenyum. Demikianlah mereka lantas berjalan memasuki kerapatan pohon-pohon besar yang berdiri berjejer-jejer tegak didepan sana.
Di sebelah dalam tumbuh lagi berbagai pohon serta semak belukar rapat. Lalu menyusul pedataran yang penuh dengan batu-batu karang lancip tinggi diselingi oleh batu hitam besar-besar. Selewatnya daerah berbatu-batu ini tanah pulau menurun seperti kubangan kawah. Inilah yang dinamakan Pulau Danau Lembah Peri.
Terhitung sudah enam kali Ratu Qian Yu membuka segel pelindung yang berlapis-lapis di sepanjang perjalanan yang mereka lalui.
Di bawah sorotan matahari yang menembus melalui sela-sela dedaunan pohon, Arya memandangi sebuah telaga kecil di hadapannya. Disampingnya Ratu Qian Yu kemudian berkata,
“Aku hanya bisa mengantarkanmu sampai disini..”
Arya menoleh dan tersenyum, “Terimakasih banyak, anda sampai mau repot-repot mengantarkanku ke tempat ini.”
“Tidak masalah, lagipula aku juga ingin mengawasimu. Aku khawatir kau melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan ditempat ini.”
Baru saja Ratu Qian Yu selesai berkata demikian, semak belukar satu tombak dari tempat mereka berdiri bergerak-gerak. Arya dan Ratu Qian Yu tersentak kaget. Namun mereka jadi saling pandang dan senyum-senyum tatkala dari gerumbulan semak belukar itu menyeruak beberapa burung merpati yang melesat terbang ke udara.
“Disanalah letak bunganya,” tunjuk ratu Qian Yu jauh ketengah telaga. Meski ia sudah tahu bahwa tanpa diberitahu pun Arya sudah pasti telah mengetahuinya, namun untuk meredakan dan mengalihkan kecanggungan dalam hatinya ia tanpa sadar mengatakan demikian.
Arya tersenyum melihat pipi merah merona si gadis dari samping, maka berkatalah ia kemudian. “Kalau begitu aku mohon izinmu Ratu.”
Tanpa menunggu lagi tanggapan Sang Ratu, Arya mulai berjalan memasuki permukaan air, hanya bekas riak air saja yang tertinggal dari setiap langkah kakinya. Semakin lama semakin cepat langkahnya. Kurang dari lima tarikan nafas, si pemuda telah menginjakkan kakinya ditepi pulau sana.
“Huuhh...” Desis Sang Ratu, “Bodoh, kenapa aku sampai lupa menanyakan siapa ia sebenarnya.” gumamnya dalam hati.
Kembali gadis ini membatin, “Melihat dari energi kehidupannya, dia memang seperti manusia, tetapi auranya memancarkan layaknya naga langit. Mungkinkah dia jelmaan naga langit yang bereinkarnasi atau...” Sang Ratu cepat-cepat gelengkan kepala. Kembali perhatian tercurah kepada Arya yang telah memasuki jajaran pepohonan diujung pulau depan sana.
Sementara itu, Arya nampak keluarkan keringat dingin. Sebenarnya sejak berada di tepi telaga ketika masih bersama Ratu Qian Yu, dia sudah merasakan energinya ditarik secara paksa. Kini setelah semakin dekat dengan Bunga Anggrek Hantu, tarikan energi tersebut semakin kuat terasa.
Dihadapannya saat ini tampak hamparan jamur yang mungkin berjumlah ratusan bahkan ribuan. Ukuran jamur-jamur itu sendiri berbeda-beda, ada yang setinggi betis sampai setinggi pinggul.
Ditengah-tengah hamparan jamur tersebut, tegak berdiri beberapa tangkai bunga. Walau bunga itu agak sedikit berbeda dari gambaran yang ada di kitab pengobatan surgawi, namun bunga yang disebut Ratu Qian Yu dengan nama ‘Bunga Lily Ekor Kadal’ di sana sudah cukup untuk menyembuhkan Raja Zhou Lun.
Dari keterangan di kitab pengobatan surgawi, tidak ada orang yang dapat memetik Bunga Anggrek Hantu karena sangat berbahaya, dimana jika tersentuh, energi kehidupan mereka akan terserap habis oleh bunga tesebut, bahkan tubuh merekapun akan berakhir menjadi abu-abu. Hanya ada satu cara untuk mengambil bunga itu, yakni harus memotong tangkainya dari jauh lalu membiarkan bunga itu tergeletak ditanah paling sebentar sehari semalam. Sedang untuk mengambilnya seseorang harus bisa menarik kelopak bunga itu dengan menggunakan Qi tanpa menyentuh. Barulah setelah bunga tersebut sudah keluar dari hamparan jamur yang mengelilingi sumber hidupnya (tangkainya) barulah bunga itu bisa di pegang.
Tentu Arya tidak mau membuang-buang waktu dengan mengikuti petunjuk dari kitab pengobatan surgawi. Rupanya pemuda ingin mencoba menggunakan caranya sendiri.
Tampaklah kini tubuh Arya mulai dijalari energi Naga Emas yang merayap dari perutnya hingga ke sekujur tubuhnya. Setelah tubuh pemuda itu sepenuhnya diselimuti enegi emas yang tampak berkilauan, ia mulai melangkahkan mendekati bunga ditengah-tengah hamparan jamur tersebut. Benar saja, sesuai yang sudah diperkirakan Arya, bunga energi ini tidak bereaksi apa-apa terhadapnya.
Seperti yang pernah dialami Arya ketika hendak menyerap energi pusaka legenda. Semula memang energi kehidupannya diserap paksa oleh pusaka tersebut, namun setelah ia mengerahkan Energi Naga Emas miliknya, ternyata energinya tersebut dapat menolak penyerapan energi, membuat energi kehidupannya tidak dapat di serap oleh benda apapun, termasuk oleh bunga energi ini.
Sesudah memetik bunga energi, Arya segera berkelebat kembali menemui Ratu Qian Yu yang memang sudah mewanti-wantinya dengan cemas.
Secercah senyuman serta-merta tersungging di bibir merah merekah Sang Ratu ketika dilihatnya Arya kembali tanpa kekurangan suatu apa. Si pemuda yang masih melayang di udara, melaju ke tempat Sang Ratu menjadi berdebar-debar dadanya ketika dilihatnya si gadis melemparkan senyuman begitu indah mempesona kepadanya. Hampir-hampir bunga yang tergenggam ditangan kanannya terlepas dan keseimbangan tubuhnya goyah akibat debaran jantungnya.
Sigap Ratu Qian Yu segera melompat karena mengira Arya akan tercebur ke telaga. Gadis ini mengulurkan tangannya ke arah Arya, namun tiba-tiba energinya tersedot oleh bunga energi, sekejap saja tubuhnya menjadi lemas. Akibatnya tubuh mereka pun bertubrukan! Keduanya spontan saling berpegangan erat, hingga posisi mereka kini saling berpelukan. Untuk beberapa saat mereka saling bertatap mata dalam jarak yang kurang dari sejengkal.
“Byuuurrr..”
Tubuh keduanya amblas tercebur ke dalam telaga. Tampak pertama-tama keluar kepala Ratu Qian Yu menyembul dipermukaan air. Sedang Arya menyusul kemudian. Rupanya Arya terlebih dulu menyelam mengejar bunga energi yang terlepas dari genggamannya hanyut ke dalam air ketika dirinya tercebur.
Didahului garuk-garuk rambutnya, Arya lantas berenang ke tepi.
Sejenak suasana menjadi canggung, sebelum si pemuda menghampiri Ratu Qian Yu dan berkata, “Maaf Ratu, aku harus secepatnya kembali untuk mengolah dan mengekstrak bunga energi ini untuk mengobati Raja Zhou Lun.” Ratu Qian Yu tak menjawab, bahkan menoleh pun tidak. Kembali Arya berkata, “Aku minta anda melepaskan teman-temanku. Aku akan menunggu mereka di luar.”
Perlahan sekali Ratu Qian Yu memutar tubuhnya menghadap Arya. Sesaat dilihatnya muka si pemuda, tanpa mengucapkan apapun ia kemudian merundukkan kepalanya.
Kepada Arya selama ini Sang Ratu selalu memandangnya dengan mata tak berkedip dan sikap gagah, maka kini dia diam membisu dengan menundukkan kepala. Diam-diam saat itu Arya dapat membaca pikiran Ratu Qian Yu, sejenak ia menjadi termangu-mangu, merasa iba terhadap perempuan cantik bermata biru ini.
“Aku sudah tahu permasalahan apa yang telah memberatkan kalian selama ratusan tahun, dan aku juga tahu kutukan apa yang telah jatuh atas diri kalian. Tapi maaf aku tak bisa menolong.”
Sontak Ratu Qian Yu menatap Arya. Tampaklah sepasang kelopak matanya berkaca-kaca. Tanpa dapat diduga, si gadis cepat sekali menubruk dan memeluk Arya sambil menangis sesenggukan.
Arya yang bingung harus berbuat apa, tampak diam terpaku seolah-olah membiarkan saja si gadis menangis sepuasnya dalam pelukannya. Ketika terasa olehnya pakaian dibagian dadanya basah oleh air mata si gadis. Perlahan dan dengan lembut sekali tangan pemuda ini mengusap-usap punggung lalu membelai rambut si gadis.
Setelah tangis si gadis mereda, Arya lalu dengan hati-hati sekali memegang bahu, mendorongnya sedikit agar si gadis melepaskan pelukan pada tubuhnya.
Ratu Qian Yu masih menunduk sambil menyeka air mata yang mengalir menggenangi seluruh mukanya. Akan tetapi tiba-tiba Sang Ratu mengatakan sesuatu yang membuat Arya melotot sangking kagetnya.
“Jadi kau sudah tidak perjaka?”
Arya merasa kulit mukanya menjadi panas. Kata-kata tersebut seperti mengiang berkali-kali dalam otaknya. Sehingga membuatnya kini tak ubahnya seperti patung yang melotot dengan sorot mata kosong melompong.
Kesedihan yang dirasakan Sang Ratu mendadak sirna menjadi cemas. Dalam keadaan seperti itu, gadis ini tepuk-tepuk pipi si pemuda. Meski tepukan itu pelan, tetapi karena didasari perasaan cemas maka tak sengaja ia mengerahkan Qi pada setiap gerakan tangannya. Hal itu membuat kepala Arya tertoleh ke kanan dan kiri dengan keras berulangkali.
Segera Arya tersadar, maka tangannya langsung mencengkeram kedua tangan Sang Ratu. Dengan begitu berhentilah tepukan yang dilakukan si gadis.
“Hemmm… Aku tak pernah menikah, memang di kehidupanku sebelumnya aku pernah memiliki kekasih. Tapi sekarang... Aku bukan manusia tanpa rasa. Aku pernah melihat wajah-wajah cantik, aku pernah melihat hal-hal yang dianggap terlarang, aku juga pernah mendengar sesuatu yang kotor. Tapi jika berhubungan badan, itu belum pernah aku melakukannya...” Terlontarlah ucapan Arya seperti arus sungai yang mengalir begitu saja tanpa dapat terkontrol.
Ratu Qian Yu jadi senyum-senyum memandangi Arya dengan gemasnya. Lalu berucap lah ia, “Lalu kenapa tadi kau bilang tak bisa membantuku?”
Dada Arya terasa berdesir, karenanya ia tak segera dapat menjawab.
Seolah menegaskan, Sang Ratu kembali berujar. “Bukankah kau seorang tabib. Sebagai tabib yang baik bukankah seharusnya kau mengobati setiap pasienmu sampai sembuh? Kalau ada seseorang menderita sakit. Tak ada obat penyembuhannya kecuali melakukan hubungan badan. Jika diminta apakah kau akan melakukannya?”
“Ratu, aku tak bisa menjawab pertanyaanmu…” kata Arya lalu dia memandang lekat-lekat pada perempuan cantik bermata biru itu. “Ratu...” kata Arya setengah berbisik. “Apakah kau menderita sakit? Apakah pertanyaanmu ada hubungannya dengan dirimu?”
Ratu Qian Yu melotot, “Tak usah berpura-pura. Tadi katamu kau sudah tahu permasalahan kami. Kalau kau mau aku berterus-terang, baiklah.” sang Ratu menarik nafas dalam-dalam, di tatapnya Arya dengan air muka sedemikian seriusnya. “Aku tidak menderita sakit. Tapi hidupku dalam kutukan. Kutukan itu hanya bisa dimusnahkan jika ada seseorang perjaka melakukan hubungan badan denganku dan dengan cinta kasih yang murni, semata-mata tulus untuk menolong…”
Meski Arya sudah mengetahuinya, namun mendengarnya langsung dari mulut Sang Ratu berparas jelita tersebut. Mau tak mau debaran jantungnya menjadi kian kencang. Darahnya naik sampai ke ubun-ubun membuat mukanya merah seperti tomat.
Sejenak kembali terbayang dalam benaknya mengenai masalalu Sang Ratu Penguasa Kerajaan Danau Lembah Peri ini.
Ratusan tahun yang silam, Ratu Qian Yu dan juga semua anak buahnya dahulunya adalah bangsa peri dari negeri atas awan. Hidup mereka penuh kebahagiaan walau dalam alam yang tidak sama dengan alam manusia. Namun dalam kehidupan itu terdapat larangan-larangan yang tak boleh dilanggar. Satu ketika mereka bermain-main dan mandi di air terjun, di dunia manusia. Pada saat itulah mereka tertipu serta tergoda oleh bujuk rayu segerombolan pemuda. Singkat cerita, mereka akhirnya setuju mengikuti gerombolan pemuda tersebut. Tidak sampai di sana saja. Mereka bahkan sampai melakukan hubungan badan. Meski begitu setelah melakukan perbuatan yang tak pantas tersebut, keperawan*n mereka masih tetap terjaga. Karena memang itulah kekhususan mereka dibandingkan bangsa manusia.
Akhirnya mereka sadar jika telah melakukan perbuatan yang melanggar aturan. Sekembalinya mereka di negeri atas awan, penguasa disana mengusir mereka, mengutuk menjadi setengah manusia setengah ikan. Jika badan mereka tersentuh air laut, bagian pinggang sampai ujung kaki mereka akan menjadi ikan. Mereka tidak akan bisa kembali ke dalam keadaan semula untuk seterusnya kecuali ada seorang pemuda perjaka yang mencintai mereka setulus hati dan melakukan hubungan badan dengan tulus semata-mata mau menolong…
Dalam keterdiaman pemuda ini, Sang Ratu kembali berkata. “Jadi bagaimana kau mau menolongku atau tidak?”
Arya memijit keningnya yang terasa pening. Ia tak berani menatap Sang Ratu karena wajahnya yang memelas dan air gadis itu membuatnya tak sampai hati untuk memandangnya. Pemuda ini menjadi heran pada dirinya sendiri. Bagaimana tidak? Sudah berapa nyawa yang telah ia habisi tanpa belas kasihan. Sekarang dihadapan air mata seorang gadis, hatinya menjadi lumer, bahkan menatap wajahnya saja ia tak sanggup.
Maka dengan suara terbata-bata dan masih sambil menundukkan kepalanya, Arya kemudian berkata, “Ratu... Untuk melakukan itu, aku...” Arya usap-usap tengkuknya. “Pasti ada cara lain untuk menghilangkan kutukan itu.”
“Menurutmu, cara lain itu seperti apa? katakanlah…”
Arya geleng-gelengkan kepalanya, “Tetapi kenapa musti aku yang kau mintai untuk menolong? Kenapa tak engkau minta saja kepada pemuda lain?”
Wajah sang Ratu berubah merah mengelam. Sepasang matanya yang biru memancarkan sinar aneh. Dia seperti hendak meledak marah, namun perlahan akhirnya dia tundukkan kepala. Kepala itu kemudian digelengkan.
“Meski kami telah melakukan perbuatan hina dina, tapi kami bukanlah gadis-gadis rendah bukan pula perempuan yang nakal. Aku tak pernah meminta pada siapapun. Aku tak akan pernah melakukannya kecuali jika aku menyadari bahwa aku menyukai dan merasa cinta terhadap orang itu…”
Arya melirik Sang Ratu, dalam hati dia berdesis. “Jadi… dia mencintaiku… Ah, bagaimana ini! Aku ingin menolongnya tapi…” Dipandanginya wajah sang ratu dengan perasaan semakin iba. Perlahan lahan dia berdiri menghampiri. “Ratu… Kalau ada cara lain yang bisa ku lakukan, aku pasti akan menolongmu. Maafkan diriku…”
Sambil menundukkan kepala menyembunyikan sepasang matanya yang berkaca-kaca Ratu Qian Yu mengangguk. “Aku kecewa besar. Bukan terhadap dirimu, tetapi terhadap nasib diriku dan kawan-kawan. Namun walaupun kecewa ada rasa bahagia. Bahagia bahwa aku pernah bertemu dengan seorang pemuda berhati jujur, berjiwa besar. Hanya satu ku pinta, jika kelak kau berubah pikiran hendak menolongku, datanglah kemari.”
“Tapi bagaimana dengan syaratmu itu?” tanya Arya.
“Kau harus tetap menjalankannya. Kalau bisa sering-seringlah datanglah kemari. Aku pasti sangat merindukanmu.” jawab Sang Ratu sambil memegangi kedua telapak tangan Arya. Sepasang tangan mereka saling mengeratkan. Masing-masing mereka saling menundukkan kepala.
Sejenak mereka berdua larut dalam kesenyapan dan perasaan masing-masing. Untuk mencairkan kecanggungan, Arya pun berujar.
“Aku akan berusaha mencari petunjuk untuk memecahkan persoalan ini..”
Ratu Qian Yu hanya mengangguk, kemudian sepasang tangannya bergerak meraba pangkal lehernya. Setelah mendapatkan sesuatu disana, ia lantas menyodorkan tangan kanannya yang kini menggantung sebuah kalung emas putih yang berliontin batu permata berbentuk pipih persegi kepada Arya.
Arya tak berani menolak. Khawatir Ratu Qian Yu akan tambah berduka. “Terima kasih,” katanya seraya menerima kalung itu. “Aku akan menyimpannya baik-baik…”
“Aku tak ingin kau menyimpannya seperti barang tak berguna, tapi aku ingin kau memakainya.”
Arya tersenyum canggung sambil usap-usap tengkuknya. Pemuda ini mengangguk pelan, kemudian memakai kalung tersebut. Sesaat si pemuda meraba pangkal lehernya. Disana kini telah terdapat tiga kalung. Satu dari mendiang ibunya, satunya lagi dari Liu Wei, sedang yang baru ia kenakan ialah kalung pemberian Ratu cantik jelita dihadapannya ini.