
Matahari sudah condong ke barat, beberapa saat lagi senja akan tiba. Ketika itu Arya sedang menyusun ranting-ranting kering untuk kemudian dinyalakannya sebagai api unggun, setelahnya ia lantas membuat bumbu masakan dibawah sebuah pohon besar dan rindang. Disana memang hanya ada pemuda itu seorang, karena Kakek Lengan Api tengah pergi untuk mencari binatang buruan, sedang Nie Zha mandi di sungai yang tak jauh dari sana.
“Ah, air sungai ini rasanya segar sekali.” desah Nie Zha setelah memunculkan kepalanya dari permukaan air sungai.
Nie Zha yang tengah asyik mandi di air sungai sama sekali tak menyadari bahwa ada seseorang yang mengendap-endap bahkan berhasil mengambil pakaiannya. Sedemikian terlenanya dia dengan sejuknya air sungai, gadis itu tak menyadari bahwa keindahan tubuhnya telah membuat lelaki itu mabuk kepayang. Si gadis terkejut bukan kepalang ketika dia mengetahui ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
“Huh, kurang ajar! Siapa kau!” bentak Nie Zha seraya buru-buru merendahkan tubuhnya masuk ke dalam air.
Disana, ditepi sungai berdiri seorang laki-laki berambut panjang yang sebagian telah memutih dibiarkan jatuh bergerai menutupi sebagian bahu dan wajahnya yang pucat dan berkulit tipis. Sepasang matanya menyorot berkilat-kilat penuh b*rahi. Laki-laki ini mengenakan pakaian gombrang berwarna coklat tua.
Lelaki itu perdengarkan suara tawa mengekeh, “He..hehe.. mengapa kau membenamkan diri ke dalam air, gadis cantik.?!” mata lelaki itu menyorot penuh n*fsu memandangi wajah Nie Zha seraya tertawa terkekeh, “Kau tak akan kehilangan secuilpun dari tubuhmu kalau kau tetap memamerkannya kepadaku... He..he..he..”
“Keparat setan alas! Pergi kau!” bentak Nie Zha yang semakin geram, wajahnya yang putih menjadi merah padam karena amarah serta malu.
“Pergi...?! Jangan, jangan begitu cantik, bagaimana kalau aku ikut mandi saja. He..heheh.."
“Pergi kau!” Nie Zha menghentakkan tangan kanannya ke depan, selarik sinar merah menebar hawa panas menderu ke arah lelaki tersebut, “Pergi kau!”
Sambil jilati bibirnya laki-laki tersebut bergerak cepat menghindar, “Sayang sekali, gadis cantik, aku sudah terlanjur menyukai wajah cantikmu, moleknya tubuhmu.. he..heheh..” lelaki itu mulai melangkah, “Sayang, sayang sekali jika kecantikan itu tidak dinikmati... Ha..ha..haha..”
Melihat lelaki itu sudah memasuki air, dada Nie Zha menjadi bergejolak, kenangan tak mengenakan sewaktu nyaris diperkosa terbayang kembali, membuat tubuh gadis ini bergetar hebat sehingga ia melupakan segala kemampuan yang dimilikinya. Dengan sisa-sisa kesadarannya iapun berteriak keras, “Tolong!!... Kakek tolong aku!!”
“Jadi ada kakekmu disekitar sini, huh.. suruh dia datang kesini, biar aku hajar dan aku ikat, agar kakekmu itu dapat melihat bagaimana aku berenang menikmati betapa nikmatnya tubuhmu.. ha..ha..ha..”
Arya yang sedang duduk dibawah pohon rindang mendengar teriakan Nie Zha. Panca inderanya yang terlatih membuat pemuda itu begitu sigap dan segera berkelebat mendekati sungai, dimana Nie Zha sedang kalang kabut menghadapi lelaki yang memperhatikan tubuhnya terus-menerus sambil tertawa-tawa.
Melihat sosok lelaki yang berjalan memasuki air, mendekati Nie Zha, Arya jadi kertakkan rahang, wajahnya menegang. Baru saja ia hinggap di tepi sungai, pemuda ini keluarkan bentakan keras, “Kurang ajar! Siapa kau, haah... Berani-beraninya mengintip orang mandi, tidak tahu malu..”
Selesai berkata begitu, Arya hentakkan tangan kanannya ke depan. Segelombang angin laksana badai menderu dahsyat melabrak dan menghempaskan lelaki tersebut sampai menghantam bongkahan batu besar. Dan batu itupun meledak hancur berkeping-keping.
Arya memandangi lelaki tergeletak tak bergerak itu beberapa lama, kemudian pandangannya beralih menatap Nie Zha yang masih berada didalam air sungai, “Kau tak apa-apa, Nie Zha?”
“Jangan melihat ke arahku! Kalau kau berani melihat, aku akan menganggapmu sama dengan orang itu!” seru Nie Zha dengan pipi memerah.
“Emm.. maaf! Aku lupa bahwa kau tak mengenakan pakaian.” Arya cepat-cepat lempar mukanya ke samping, “Aa.. baiklah, aku akan kembali.”
Baru saja Arya melompat hendak pergi, Nie Zha berseru, “Tunggu! Tunggu! Ambilkan pakaianku dulu..”
Tubuh Arya yang sedang melesat melayang di udara itu, mendadak berhenti tegak seperti layaknya berdiri diatas tanah. Matanya melirik ke arah pakaian yang tergeletak di dekat salah satu bongkahan batu ditepi sungai. Tangannya bergerak mengayun, bersamaan dengan itu pakaian itupun melayang seperti tersapu angin mengarah ke tempat Nie Zha berada.
Selepas Arya pergi, Nie Zha segera mengenakan pakaiannya.
“Dasar lelaki tak tahu diri! Kemampuannya tak seberapa tapi berlagak hebat, huh..” gerutu Nie Zha, dia mulai berjalan menghampiri lelaki yang tergeletak sekarat tersebut.
Setelah dekat, gadis ini baru sadar bahwa lelaki kurang ajar tersebut dalam kondisi pingsan. Tiba-tiba kaki kanannya bergerak menendang ke bagian dada lelaki tersebut. Tendangan itu rupanya membuat lelaki tersebut tersadar.
Dengan menyeringai menahan sakit yang mendera seluruh tubuhnya, lelaki ini pandangi Nie Zha dengan sorot mata nanar, sangat bertolak belakang dengan tatapannya sewaktu pertama kali dia memandangi gadis itu dengan penuh n*fsu.
Kemudian terdengar Nie Zha berkata dingin, “Bagus... Kau harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah kau lakukan.”
Lelaki itu masih menyeringai kesakitan, jangankan untuk membalas ucapan si gadis, untuk menggerakkan tubuhnya saja ia tidak mampu.
Nie Zha tersenyum bengis, “Kenapa kau diam?! Apakah kau sekarang jadi tuli ataukah bisu! Ooh, mungkin kau kesakitan, baiklah aku akan membantumu menambah rasa sakit itu! Nah terimalah!”
Begitu selesai berkata, Nie Zha langsung melayangkan tendangan, kali ini sasarannya adalah muka si lelaki. Maka terdengarlah pekik kesakitan dari lelaki tersebut. Tubuhnya terpental seperti bola memantul-mantul menghantam beberapa bongkahan bebatuan besar di tepi sungai.
Tubuh si lelaki akhirnya berhenti setelah terlempar sejauh sepuluh tombak. Tampak tubuh lelaki itu tergolek dengan muka yang berlumuran darah. Seluruh kepala lelaki itu benjol-benjol akibat benturan dengan batu. Pada bagian telinga kirinya nampak sobek panjang. Hidungnya bengkok karena ditendang Nie Zha.
Tidak sampai disana, Nie Zha kembali mendekati lelaki tersebut. Cepat tangannya yang putih mulus itu menekan dada lelaki yang bidang dan dipenuhi bulu-bulu itu dengan sekeras-kerasnya. Membuat lelaki itu menggeletar-geletar dan meraung-raung kesakitan.
“Jawab pertanyaanku dengan sejujur-jujurnya!” geram Nie Zha dengan mata mencorong penuh kemarahan.
“Ba.. bbaabb.. baaiikk..”
“Aaa... Aa.. aku Yo Tiat Sun..”
“Dari mana asalmu?”
“Aakku.. sa..salah se..seorang perampok yang menamakan diri se..sebagai se.serigala dari Changbai.”
Dahi Nie Zha mengkerut, dia memang tidak mengenali nama kelompok perampok tersebut, “Apa yang kau lakukan disini? Mana kelompokmu?”
“A..aaku tak me..melakukan.. apa-apa.. Aku hanya seorang di..diri,”
“Bohong!” bentak Nie Zha. “Apa pekerjaan kelompok kalian adalah mengintip orang mandi?”
“Ti...tidak, aku.. aku baru kali ini me..melaku..kannya.”
“Baru kali ini?!” tegas Nie Zha dengan sorot mata tajam.
“Eemm.. Tidak.. ti..dak.. mmm..maksudku baru dua kali, eh.. bukan.. bukan.. tiga.. tiga.. tiga kali... ya, ya, tiga kali.”
“Benaaarkah?!!” ucap Nie Zha lembut namun tangannya yang menekan dada lelaki tersebut semakin ditekan lebih kuat.
“Aaahh.. ja..ja..jangan..jangan! Aaahh..” lelaki itu menggeletar-geletar, “Aa..aku akan menga..ku.. de..dengan sejujurnya. Aa..aakuu se.sering sering sekali melakukannya, bahkan bukan hanya mengintip te..tetapi bah..bahkan memaksa untuk mandi bersamanya.”
“Oohh.. jadi kau telah menodai banyak gadis!” Nie Zha tersenyum.
“Iii...ii..iya..”
“Bagus! Aku suka dengan jawaban itu.” tangan kiri Nie Zha tiba-tiba telah menggenggam sebilah pedang.
Melihat itu, si lelaki mendelik ketakutan sambil berusaha memberontak untuk melepaskan diri. Namun usahanya sia-sia belaka karena tekanan tangan Nie Zha rupanya sangat kuat seperti ditimpa bongkahan batu sebesar rumah beratnya.
Dengan cepat sekali gadis itu mencabut pedangnya dan ditusukkannya pada k*lamin lelaki yang terlentang sekarat dihadapannya itu.
Maka jelas saja, lelaki tersebut menjerit-jerit kesakitan.
“Pergi! Pergi kau lelaki keparat!” Nie Zha mengigit bibirnya berusaha meredakan gejolak amarahnya. “Sebelum aku berubah pikiran dan justru ingin membunuhmu, ayo cepat pergi!”
Sementara itu, Arya yang dalam perjalanannya menuju ke tempat api unggun. Mendadak berhenti! Ia memutar tubuhnya ke belakang ketika mendengar jeritan. Maka diapun kembali ke arah sungai. Pemuda ini berhenti diantara pepohonan besar. Dia melihat segala perbuatan Nie Zha terhadap lelaki itu, dia juga mendengar semua percakapan mereka.
Arya geleng-gelengkan kepala saat melihat gadis itu menusukkan pedangnya ke s*langkangan lelaki tersebut. Dalam hati ia merasa iba terhadap nasib lelaki tersebut yang pasti telah hancur masa depannya. Meski menyayangkan sikap Nie Zha namun dia memaklumi jika gadis itu sedang terbakar amarah karena teringat kejadian yang hampir merenggut kesuciannya. Ia sendiri juga pernah melakukan perbuatan demikian malah lebih kejam lagi.
Perbuatan Nie Zha tersebut mengingatkan Arya pada kejadian sewaktu dia menghancurkan markas Bandit Taring Hitam, dimana waktu itu dia bahkan memotong kedua tangan dan kedua kaki ketua bandit tersebut. Bahkan pula ia menginjak hancur s*langkangan ketua bandit tersebut serta memberikan kematian yang perlahan-lahan dan amat menyakitkan.
Waktu itu Arya terbawa emosi karena sepak terjang kekejaman kelompok bandit tersebut, yang mana telah menculik gadis-gadis dan anak-anak, memperkosa gadis, menjual korban mereka dan bahkan menjual organ tubuh anak-anak yang terlebih dulu dibunuhnya. Ia melakukan hal itu karena berfikir bahwa perbuatannya itu adalah pembalasan yang setimpal atas segala kekejaman kelompok bandit tersebut.
Maka, Arya tersenyum tipis karena Nie Zha masih bisa menahan diri untuk tidak membunuh lelaki tersebut. Namun pemuda ini cepat-cepat mengejar manakala dilihatnya Nie Zha diam-diam mengikuti lelaki yang mengaku anggota perampok serigala dari Changbai itu. Dia maklum bahwa gadis tersebut rupanya ingin mengetahui dimana markas kelompok perampok tersebut.
Tap...
Nie Zha yang berjalan mengendap-endap mengikuti lelaki tadi, sontak terperanjat ketika tahu-tahu Arya melompat turun berdiri dihadapannya.
“Ayo kita kembali, kakekmu sudah menunggumu.” ucap Arya dan tanpa perdulikan tanggapan si gadis, ia langsung menarik tangan Nie Zha untuk ikut bersamanya.
Sementara itu, lelaki bernama Yo Tiat Sun berlari sekuat tenaganya sambil menahan rasa sakit yang amat sangat. Namun bagaimanapun lukanya teramat parah, darahnya terus mengucur dari kepala dan pahanya, sehingga semakin lama lelaki itupun menjadi semakin lemah. Larinya menjadi terhuyung-huyung karena tenaganya sudah habis dan pada akhirnya ia jatuh bergulingan beberapa kali. Matanya terasa menjadi gelap dan kepalanya menjadi sangat pening. Seakan-akan sebuah bintang di langit telah jatuh menimpanya.
Dengan sisa-sisa tenaganya, lelaki itu membalikkan badannya yang tadinya tengkurap menjadi terlentang. Setelahnya ia mencoba untuk memperbaiki pernafasannya. Tetapi terasa bahwa nafas itu semakin lemah. Setelah beberapa lama dalam keadaan demikian, Yo Tiat Sun lalu menotok beberapa bagian dari tubuhnya sendiri.
Merasa rasa sakitnya telah sedikit berkurang dan darahnya pun telah berhenti mengalir dari luka-lukanya. Iapun lalu berusaha mencari tempat yang lebih aman. Sasarannya adalah pohon besar yang tak jauh darinya. Dengan merangkak dia akhirnya dapat merapatkan badannya pada pohon tersebut. Nafasnya terengah-engah seolah paru-parunya akan berhenti bekerja.
Segera ia duduk bersila, menghimpun energi Qi nya untuk berusaha menyembuhkan lukanya sendiri. Beberapa lama kemudian, ketika matahari telah bersembunyi dalam peraduan, Yo Tiat Sun akhirnya membuka matanya. Luka-lukanya kini sudah tidak begitu menyakitkan lagi. Maka iapun segera bangkit berdiri dan lalu berkelebat menerabas semak belukar untuk kemudian kembali ke markasnya.