Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Ujian Menjadi Prajurit


Arya melangkah menyusuri jalan utama, ketika dia melihat seorang pengemis tua, tidak di duganya pengemis tua itu menoleh, menatapnya dengan mata yang sepenuhnya putih.


"Ketetapan telah di tentukan, perjalanan masih terlalu panjang. Kejadian-kejadian besar menantimu."


"Apa kau bicara denganku, kek?" Arya mengerutkan dahi, tersenyum dan lalu memasukkan koin emas ke mangkuk di tangan si kakek.


"Kegelapan akan membuatmu terlempar jauh."


Arya memandangi kakek itu dengan seksama, "Terimakasih kek, semoga kita bertemu di lain kesempatan. Maaf aku sedang terburu-buru."


"Tak lama lagi gelap akan datang, ku harap sinar mentari secepatnya datang. Ah, tapi apa gunanya cahaya untuk mata yang buta."


Arya menghentikan langkah, membalikkan badan menatap si kakek pengemis yang berjalan tertatih dengan tongkat di tangan sebagai penguat langkahnya.


***** 


Siu Liong berdiri sejajar dengan Hulao dan Honglong, mereka kini berada di depan gerbang kerajaan. Sementara ke-empat teman-temannya sedang menjalankan misi penyelidikan.


"Aku Siu Liong, saudara kepala prajurit Su Tang. Tolong sampaikan ke saudaraku, aku ingin bertemu dengannya."


Salah satu penjaga mengembalikan lencana milik Siu Liong, lalu menatap rekannya. "Kalian berlima antar mereka menemui kepala prajurit Su Tang."


"Baik.."


Gerbang di buka, kelima penjaga tersebut mengantar Siu Liong, Hulao dan Honglong memasuki kawasan kerajaan, menuju kediaman Su Tang.


Setelah berbasa-basi dan memperkenalkan diri, Hulao lantas menjelaskan maksud kedatangannya bersama Honglong kepada Su Tang.


"Kebetulan, saat ini kerajaan memang sedang membutuhkan prajurit untuk menjaga keamanan di paviliun tuan putri." Su Tang menatap Hulao dan Honglong bergantian. "Masalahnya untuk menjadi prajurit penjaga di sana, setidaknya kalian harus berada di tahap Pendekar Panglima. Sementara ku lihat kalian tidaklah memiliki aura pendekar... Jadi sebaiknya.."


Honglong tertawa pelan, namun tawanya tidak berlangsung lama sebab Hulao cepat-cepat membekap mulutnya.


Su Tang menatap heran, "Ada apa? Memangnya apa yang lucu?"


"Maafkan saudaraku ini tuan, sepertinya dia sedang tidak fokus, mungkin pikirannya sedang mengingat kembali kejadian lucu yang kami alami sebelumnya." Hulao beralasan, tangannya masih membekap mulut Honglong karena dia tidak ingin tupai tengik itu merusak rencana.


Su Tang menghela nafas, lalu membuka suara. "Hmmm... Untuk menjadi prajurit terendah sekalipun setidaknya kalian harus memiliki kemampuan. Tapi jika kalian memang membutuhkan pekerjaan, aku bisa memasukkan kalian berkerja sebagai tukang cuci di dapur atau tukang bersih-bersih. Apakah kalian bersedia dengan pekerjaan itu?"


Mata Honglong melotot, dia tidak terima di rendahkan seperti itu. Menjadi seorang prajurit saja sudah mencemari reputasinya sebagai pendekar fana, apalagi menjadi tukang cuci dan bersih-bersih.


Menyadari kemarahan Honglong, Hulao semakin mempererat bekapan tangannya, "Tuan, sebenarnya kami ini seorang pendekar. Hanya saja ruh energi kami memang tidak bisa di ukur oleh orang lain. Jika bolehkan, izinkan kami menjalani ujian itu."


Su Tang menatap Hulao, ada ketidak percayaan dari tatapannya.


"Benar yang dikatakannya Su Tang, mereka memanglah seorang pendekar." Ucap Siu Liong menimpali.


Su Tang menatap Siu Liong, lalu kembali memandangi Hulao dan Honglong, "Baiklah, jika begitu aku ingin melihat kemampuan kalian."


Setelah berkata demikian, Su Tang kemudian mengajak mereka keluar.


"Dia benar-benar menghinaku.." Honglong mendengus kesal menatap Su Tang yang berdiri di depan kediamannya, sementara dihadapannya kini terdapat seorang prajurit yang berada di tahap Pendekar. Prajurit inilah yang akan menjadi lawan untuk menguji Honglong.


"Kalian sudah siap?" Seru Su Tang dari kejauhan.


Baru saja Su Tang selesai berseru, prajurit yang berhadapan dengan Honglong sudah terlempar, nangkring di atas dahan pohon, tak sadarkan diri.


Mata Su Tang melebar menunjukkan keterkejutan yang teramat sangat, dia sama sekali tidak dapat melihat pergerakan Honglong. Yang dapat dia lihat hanyalah tahu-tahu prajurit yang menjadi lawan Honglong telah terlempar.


Di pihak lain, Hulao masih beradu dengan prajurit yang menjadi lawannya. Hulao terlihat hanya terus menghindar, namun dia terpaksa melompat mundur ketika mendengar suara Honglong.


"Harimau tua, menghadapi seorang prajurit saja kenapa kau kewalahan. Dasar lemah!" Ejek Honglong dengan tatapan merendahkan.


Mata Hulao menatap Honglong tajam, rahangnya mengeras karena kesal. Di hadapannya, prajurit yang menjadi lawannya berlari menyerang.


Dengan tatapan yang masih tertuju pada Honglong, Hulao tiba-tiba menggerakkan tangannya.


Bruuukk..


"Kau bilang apa? Kewalahan! Menghadapimu saja aku tidak perlu repot-repot berkeringat." Cibir Hulao dengan nada dingin.


"Omong besar, kalau begitu buktikan..!"


Honglong hendak melesat menyerang, namun sebelum mereka kembali bertikai, tiba-tiba di kepala mereka terdengar bentakan Arya mengancam. Membuat Hulao dan Honglong seketika terdiam.


***** 


Arya terus berjalan menyusuri jalanan kota, sampai akhirnya dia berhenti dan mendekati salah satu pedagang yang menjual ubi bakar di pinggir jalan.


Sembari mengantri di antara para pembeli, Arya memandangi pedagang ubi bakar tersebut, sesaat kemudian tersungging seringai tipis di bibirnya.


Memang sudah berulang kali Arya menggunakan teknik pembaca pikiran terhadap orang-orang yang ditemuinya memiliki energi Qi. Dan hal itu cukup membuat energinya terkuras. Kini akhirnya usahanya membuahkan hasil, dari sekian banyak orang yang dicurigainya, baru sekarang dia menemukan seseorang yang memang sedang ia cari.


Setelah menelisik dengan teknik pembaca pikiran, Arya dapat memastikan bahwa pedagang ubi bakar tersebut adalah salah satu pendekar aliran hitam yang di suruh Iblis Berdarah untuk menyusup di kerajaan Guangzhou.


Di rasa telah mendapatkan informasi, Arya lantas meninggalkan tempat pedagang ubi bakar tersebut. Tindakannya cukup menarik perhatian si penjual ubi bakar.


"Tuan, bersabarlah sebentar. Aku akan secepatnya melayani anda.." Ucap si penjual ubi bakar seolah kecewa salah satu pelanggannya pergi. Tapi yang sebenarnya, dia merasa pemuda itu telah mengetahui penyamarannya.


Arya membalikan badan, "Aku baru teringat jika aku memiliki sesuatu yang harus aku kerjakan. Jadi maaf aku tidak bisa terlalu lama menunggu."


"Baiklah tuan, semoga harimu menyenangkan." Ucap pedagang ubi bakar dengan ramah, namun dalam hatinya dia merasa tidak asing dengan wajah Arya.


Sembari melayani pesanan pembeli, si penjual ubi bakar berfikir keras dan mengingat-ingat dimana dia pernah melihat Arya. Akhirnya dia ingat jika wajah Arya memiliki kemiripan dengan sketsa wajah Tabib Xian yang pernah dilihatnya.


Dengan buru-buru, penjual ubi bakar tersebut membereskan barang-barang dagangannya. "Maaf, mendadak badanku sakit. Jadi sekarang aku harus tutup dan pergi ke tabib."


Beberapa pembeli yang masih mengantri nampak kesal, namun mereka mau tidak mau akhirnya membubarkan diri.


Si pedagang ubi tersebut segera mendorong gerobak dagangannya, dia ingin mengabarkan hal ini secepatnya pada rekan-rekannya. Namun di tengah perjalanan, di tempat yang sepi dia merasa ada yang membuntuti.


Sambil celingukan dengan hati yang was-was, pedagang ubi tersebut berbelok ke arah yang seharusnya bukan menjadi tujuannya.


Dari balik pohon, Arya tersenyum kecut. Dia tidak menyangka jika keberadaannya dapat tercium. "Rupanya kau memiliki insting yang baik.." Batin Arya lalu tiba-tiba dia menghilang dari tempat tersebut.


"Loh kenapa buru-buru pulang?"


Mendengar suara yang tidak asing, si penjual ubi bakar berhenti mendorong gerobaknya. Dia menoleh ke kanan dan mendapati Arya tengah duduk di atas tumpukan batu bata.


"Tuan, kau membuatku kaget saja. Eh, kalau tidak salah anda yang tadi tidak jadi membeli ubi bakarku, bukan? Apakah sekarang anda ingin membeli ubi bakar?" Si penjual ubi bakar nampak terkejut, namun buru-buru dia menenangkan diri.


Arya menggeleng pelan dan kemudian berjalan mendekati si penjual ubi bakar tersebut.


"Ku rasa kau sudah sangat mengetahui segala resiko dari pekerjaanmu ini, bukan? Apakah kini kau sudah siap akan ku kirim menemui iblis neraka?" Arya cengengesan, seolah dia hanya bercanda.


Namun perkataan Arya di tanggapi serius oleh si penjual ubi, wajahnya yang semula ramah seketika berubah buruk.


"Heh, kenapa udara disini mendadak menjadi panas? Coba kau lihat gerobakmu itu, mungkin saja kau lupa mematikan bara api." Arya mengalihkan pandangannya, menatap ke arah gerobak yang berada di depan si penjual ubi.


Nampaknya si penjual ubi tidak mau terkecoh, dia masih memandangi Arya dengan penuh kewaspadaan, khawatir jika pemuda itu tiba-tiba menyerang.


"Hahaha... Rupanya kau sudah menyadari siapa aku?" Arya terkekeh pelan, kemudian tatapannya mendadak dingin sebelum pemuda itu menggerakkan tangannya.


Si penjual ubi yang sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi, buru-buru melompat ke samping saat Arya mengangkat tangannya. Si penjual ubi tersenyum kecut ketika mendapati Arya mengangkat tangannya hanya untuk mengaruk rambut.


"Heh, ada apa denganmu..?" Arya menunjukkan ekspresi yang seolah terkejut.


"Kau ingin mempermainkanku! Jangan kira aku takut denganmu!" Bentak si penjual ubi, lalu mengambil sebilah pisau dari balik bajunya.


"Oh benarkah? hmm, kalau begitu sekarang temuilah ajalmu." Dengan secepat kilat Arya mengulurkan tangannya ke arah si penjual ubi, yang seketika itu pula si penjual ubi tersebut lenyap dari tempatnya berdiri.


Arya memang sengaja mengirim si penjual ubi ke dalam dimensi miliknya, tentu setelah ia memastikan tidak ada orang lain yang melihat tindakan tersebut. Jika Arya membunuhnya saat itu juga, pastilah hal itu akan mengundang perhatian orang-orang sekitar.


Seolah tidak pernah terjadi apa-apa, Arya kemudian berjalan menuju ke tempat persembunyian ataupun tempat pertemuan para penyusup.