
Perlahan-lahan mata Arya kembali normal, dia menggeleng pelan menatap Ye Han yang tergeletak di tanah, lalu turun ke hadapan semua Pendekar. Sebelum Arya membuka mulut, seorang kakek tua yang berpakaian sama seperti Ye Han melesat berdiri di hadapannya.
"Kau apakan anakku!" Hardik Patriark Ombak Karang dengan mengeluarkan aura pendekar yang hanya di tujukan kepada Arya.
"Aku hanya memberinya pelajaran kek. Jangan marah-marah seperti itu, nanti kakek cepat tua." Arya berkata ramah, di akhiri dengan senyuman hangat.
"Kepalamu! Aku memang sudah tua. Apa kau ingin mengejekku." Bentak Patriark Ombak Karang tersebut. "Bocah, mataku ini masih awas. Sembuhkan anakku atau kau akan menerima akibatnya."
"Maaf kek, anak anda itu memang pantas mendapatkannya. Lagipula yang ku lakukan itu tidak melanggar aturan. Aku tidak membunuhnya, aku juga tidak menghancurkan Kultivasinya. Aku hanya membuatnya cacat dan membuatnya hilang ingatan saja. Apakah yang ku lakukan itu salah?"
"Kurang ajar! Enteng sekali mulutmu berkata, bocah sialan..."
Patriark Ombak Karang tersebut tiba-tiba berada di belakang Arya, telah siap menghantam pemuda itu.
"Lah, memangnya aku salah apa kek?" Arya mengelak berputar ke samping.
"Kau telah membuat cacat anakku, tapi kau tidak tahu kesalahanmu! Apa kau sudah kehilangan otak." Patriark Ombak Karang tersebut terus memperpendek jarak dan melakukan serangan jarak dekat secara brutal.
"Karakter anak anda dapat terlihat jelas dari cara dia memperlakukan orang yang menurutnya tidak dapat melakukan apapun untuk membalasnya." Arya terus menghindar tanpa sekalipun memberikan serangan.
"Orang seperti anak anda itu jika tidak di sadarkan maka dia akan terus bertindak semena-mena, karena itulah aku menghilangkan ingatannya agar dia bisa merubah sikapnya."
"Aku tahu, sebenarnya anda ingin anakmu itu menjadi orang baik. Tapi karena rasa sayang yang berlebihan, anda terlalu memanjakannya. Aku yakin mendiang istri anda pasti tidak akan setuju dengan cara anda mendidiknya seperti itu."
Patriark Ombak Karang berhenti menyerang, dia melompat mundur seraya menatap Arya dengan seksama.
"Bagaimana kau bisa tahu istriku sudah tiada?"
Arya tersenyum, "Umur ada batasnya kek. Ku lihat kakek sudah tua, pastinya istri kakek juga tua dan telah meninggal. Aku hanya menebaknya saja, eh tidak tahunya tebakanku benar." Arya menggaruk tengkuknya sambil nyengir.
"Kurang ajar! Jadi kalau istriku masih hidup, kau menyumpahinya mati."
Patriark Sekte Ombak Karang memperagakan pola tangan yang rumit, dia mengerahkan salah satu teknik andalannya, 'Seribu Elang Menerkam Mangsa'.
Arya memperhatikan gerakan Patriark Ombak Karang tersebut, dia juga mempertajam pendengarannya untuk menangkap mantra yang di ucapkan kakek itu.
Kepulan energi berupa asap perak mengepul keluar dari tubuh Patriark Ombak Karang, lalu naik ke atas dan menyebar sampai membentuk pasukan Elang yang berkilauan seperti logam perak ketika terkena sinar matahari.
Arya berdecak kagum, lalu segera mengerahkan 'Jurus Pedang Bayangan - Tebasan Seribu Pedang' untuk mengimbangi teknik lawannya itu.
Kini di atas tempat pertarungan mereka di penuhi ribuan energi berupa pedang dan elang perak. Yang masing-masing telah beradu kekuatan.
Semua Pendekar yang menonton menggeleng dan ada pula yang mengucek mata. Mereka tidak habis pikir Pendekar semuda itu memiliki energi besar yang mampu menciptakan ratusan pedang energi. Sekarang mereka percaya kabar tentang kemampuan Tabib Xian bukanlah omong kosong.
"Apa pasukan burung kakek sudah siap?" Teriak Arya pada Patriark Ombak Karang yang berada puluhan meter di hadapannya.
Seolah tidak mendengar, Patriark Ombak Karang tersebut terpaku memandangi ratusan pedang yang melayang di atas kepala Arya.
Tidak mendapatkan jawaban, Arya kembali berteriak lantang. "Apa kakek sudah tuli? Aku bilang, Apakah pasukan burung kakek sudah siap?"
"Bocah itu sepertinya memang sudah tidak waras." Patriark Ombak Karang berdecak kesal, dia menganggap teriakan Arya seperti orang gila. Bukankah lebih baik pemuda itu berkata pelan dengan menggunakan Qi, daripada berteriak-teriak seperti orang gila.
"Bocah, aku tidak sedang bercanda. Bersiaplah dengan seranganku."
Arya tertawa pelan, "Terimakasih sudah memperingatkan. Baiklah, mari kita bermain-main kakek ombak."
Patriark Ombak Karang mengeleng pelan, lalu menghentakkan kedua lengannya mulai mengerahkan seluruh pasukkan elangnya untuk menyerang.
Arya tidak mau ketinggalan, dia dengan cepat mengontrol setiap energi pedangnya untuk menyambut serangan pasukan elang yang datang.
Suara dentingan logam begitu ramai memenuhi udara, sementara Arya dan Patriark Ombak Karang tidak bergerak dari posisinya. Mereka tengah sibuk mengendalikan tekniknya masing-masing.
Mata semua orang tidak berkedip seakan tidak mau kehilangan momen pertarungan tersebut sedetikpun, mereka benar-benar di perlihatkan suatu pertunjukan yang menarik, sebuah pertarungan antara dua Pendekar beda generasi namun memiliki kelihaian yang setara dalam bidang mengontrol ratusan energi.
Suara bising benturan ratusan energi dari pertarungan tersebut terdengar sampai ratusan meter, hingga mengundang perhatian orang-orang untuk menuju ke tempat kegaduhan tersebut.
Beberapa menit berlalu, kini telah banyak energi elang maupun pedang yang menghilang sebab telah hancur dalam jual beli serangan.
"Kek, apa kita hanya akan terus menonton seperti ini? Ah, aku tahu sepertinya kakek tidak bisa bertarung jika sedang menggunakan teknik itu." Arya berkata di dalam pikiran Patriark Ombak Karang.
Patriark Ombak Karang terbelalak, dia tidak menyangka pemuda itu bisa menggunakan telepati. Sebuah teknik yang dia ketahui dapat membuat penggunanya memanipulasi pikiran seseorang, seperti hipnotis, mencuri informasi dari pikiran seseorang atau lain sebagainya.
Sekarang Patriark Ombak Karang baru mengerti kenapa Arya dapat mengetahui jika istrinya telah tiada dan alasan mengapa dia memanjakan Ye Han. Tetapi Patriark Ombak Karang masih tidak habis pikir, mengapa dirinya tidak menyadari hal itu ketika Arya tengah mengorek informasi darinya. Seharusnya dia bisa merasakan adanya energi lain yang ingin mencuri pikirannya, namun kenyataannya dia tidak merasakan apa-apa.
Mendapati perkataannya tidak di tanggapi, Arya memilih menciptakan sebuah kursi dari akar dan lalu duduk santai sambil memandangi pertempuran antara pasukan pedang milikinya dengan segerombolan energi elang milik si kakek ombak.
"Bocah itu.." Patriark Ombak Karang lagi-lagi di buat melebarkan mata terkejut melihat Arya begitu santai seolah mengendalikan ratusan energi pedang bukanlah hal yang sulit.
Arya tersenyum lebar ketika mendapati Patriark Ombak Karang sedang menatap ke arahnya. "Kek, tidak baik seserius itu melawan bocah sepertiku, lebih baik kakek santai saja. Aku punya minuman enak buat kakek, aku yakin kakek akan menyukainya."
Arya mengeluarkan satu sarang madu, lalu melemparkannya ke arah Patriark Ombak Karang.
Setelah menangkapnya, Patriark Ombak Karang tersebut memandangi sarang madu di tangannya dengan ekspresi heran.
"Itu madu lebah giok yang berguna untuk meningkatkan stamina dan memperkuat fisik. Tenang saja itu bukanlah racun." Arya tertawa pelan karena dapat menangkap kecurigaan Patriark Ombak Karang tersebut.
Patriark Ombak Karang membuang muka, dia kembali berkonsentrasi untuk mengendalikan tekniknya.
Seiring berjalannya waktu, orang-orang anggota Lembah Petir berdatangan memenuhi sekitaran lokasi lapangan tempat pertarungan. Mereka di buat keheranan ketika melihat seorang pemuda yang terlihat begitu santai menghadapi seorang kakek tua yang berkemampuan Pendekar Suci. Berbagai opini di ucapkan mereka.
"Apa Tabib Xian sudah menyinggung kakek tua itu sampai membuatnya marah."
"Tidak mungkin, Xian Gege itu baik dan ramah. Pasti kakek tua itulah yang mencari masalah dengan Xian Gege." Gadis bermata biru berkata ketus.
"Jadi kau mengenalnya?" Tanya gadis di sebelahnya, dialah anak Tetua Lin Hai yang bernama Lin Yanyu.
"Tentu saja aku mengenalnya, Xian Gege pernah melatihku dan murid-murid lainnya. Dia juga adalah tamu penting Patriark."
Lin Yanyu mengangguk, berdasarkan perkataan dari gadis bermata biru tersebut dia menarik kesimpulan bahwa Arya adalah pendekar tua yang merubah penampilannya menjadi muda, sama seperti ayahnya. Kini Lin Yanyu tidak terlalu terkejut lagi melihat Arya mampu mengimbangi Patriark Ombak Karang tersebut.
"Hajar kakek tua itu Xian Gege, aku yakin kau pasti dapat mengalahkannya." Seru gadis bermata biru memberi semangat.
Nafas Patriark Ombak Karang mulai terengah-engah, dia sudah menghabiskan banyak energi serta konsentrasi. Tanpa sadar kakek tua itupun menyesap sarang madu lebah giok di tangannya.
Setelah merasakan manisnya madu tersebut, Patriark Ombak Karang memejamkan mata menikmati setiap kenikmatan yang memenuhi rongga mulutnya. Perlahan-lahan dia merasakan energi hangat yang mengalir ke setiap syarafnya, Patriark Ombak Karang terkejut ketika mulai merasakan perubahan tubuhnya lebih bertenaga.
Bersamaan dengan konsentrasi Patriark Ombak Karang yang teralihkan, semua energi elang perak lenyap. Melihat hal itu, Arya tersenyum dan segera menarik tekniknya lalu meminum madu di tangannya.
"Darimana kau mendapatkan madu senikmat ini?" Patriark Ombak Karang mendarat di hadapan Arya.
"Sudah ku bilang, pasti kakek akan menyukainya." Arya tersenyum lebar. "Aku akan memberikannya lagi beserta lebahnya sekalian, agar kakek nanti tidak akan kehabisan stok madu itu. Apa kakek mau?"
Patriark Ombak Karang mengangguk cepat, "Berapa yang harus ku bayar?"
"Aku tidak perlu uang kek... Anggap saja itu sebagai hadiah dan sebagai permintaan maafku karena telah melukai anak kakek." Arya berkata ramah.
Seketika sikap Patriark Ombak Karang berubah, dia langsung menyerang Arya. Namun serangannya dapat di patahkan Arya dengan mudah.
Gelombang energi dari pukulan serangan tersebut meledakan tanah di sekitar mereka. Semua orang berusaha menutupi mata agar tidak kemasukan kepulan debu, beberapa orang bahkan terhempas terkena gelombang kejut dari ledakan tersebut. Semua anggota Lembah Petir dibuat keheranan dengan apa yang terjadi, sebelumnya mereka melihat Arya dan kakek tua itu sedang berbincang-bincang ringan seolah mereka sudah baikan namun secara tidak terduga tiba-tiba terjadi ledakan. Mereka tentu saja tidak mampu melihat kecepatan gerakan pukulan dari Patriark Ombak Karang.
Mata Patriark Ombak Karang melebar, ia terkejut bukan main sebab serangannya yang menggunakan 80 persen kekuatannya dapat di tangkis Arya hanya dengan sebelah tangan. Dia mulai sadar jika kemampuan pemuda itu berada di atasnya. Jika tidak, sudah bisa di pastikan pemuda itu akan mati atau setidaknya mengalami luka parah.
Arya mendengus kesal, "Kenapa kakek menyerangku? Kalau tidak mau madu, ya bilang saja, jangan main pukul. Apa kakek mau aku pukul?"
Patriark Ombak Karang yang panik spontan menendang Arya, namun kakinya di tangkap pemuda itu lalu ditarik dan dilemparkannya sampai menghantam tanah.
Melihat sesuatu keluar dari kepulan debu, semua orang segera mempertajam mata untuk dapat melihat siapa sosok tersebut. Mendapati sosok yang terlempar itu adalah Patriark mereka, semua anggota Sekte Ombak Karang berkelebatan untuk membantu.
Arya mengibaskan tangannya, seketika kepulan debu tersapu terbawa angin. Dia mendapati beberapa orang sedang menatapnya penuh kemarahan.
Tanpa basa-basi, semua tetua Ombak Karang bersama-sama menyerang. Sementara itu, Patriark Ombak Karang yang baru bangkit ingin menghentikan semua tetuanya, namun terlambat, semua anggotanya tersebut sudah bertukar serangan dengan Arya.
"Apa kalian tidak malu sebagai seorang pendekar melakukan pengeroyokan seperti ini?" Arya terus menangkis setiap serangan yang datang.
"Sialan, dia bisa membaca formasi ombak melingkar." Salah seorang tetua membatin sambil melirik ke arah temannya.
Seakan mengerti, orang itu segera berpindah posisi melakukan gerakan secara acak. Tindakan tersebut segera di ikuti semua tetua lainnya.
"Hmm... Ingin mengecohku. Tidak semudah itu paman." Arya menghentakkan kakinya, meluncur ke udara dan melayang di atas semua lawannya.
Arya kemudian melakukan pola tangan, dia mencoba meniru teknik Patriark Ombak Karang, yaitu 'Teknik Seribu Elang Menerkam Mangsa'.
Asap biru keluar dari tubuh Arya lalu menyebar membentuk ribuan elang berupa petir biru. Meski ukurannya tidak seperti elang pada umumnya, namun pasukan elang itu terlihat mengerikan dengan kilatan petir yang membuat semua orang bergidik ngeri melihatnya.
Mata Patriark Ombak Karang melebar, dia awalnya tidak menyadari jika Arya sedang menggunakan tekniknya karena elemen yang di gunakan pemuda itu berbeda dari tekniknya. Namun setelah mengamati lebih teliti, Patriark Ombak Karang akhirnya menemukan kesamaan dari teknik pemuda itu dengan tekniknya, yaitu energi dasar dari teknik tersebut.
Semua tetua Ombak Karang tidak kalah terkejutnya, mereka kompak saling melirik satu sama lain. Sadar dalam kondisi terancam, mereka kembali membentuk formasi sambil menggunakan jurus pengendalian air untuk memperkuat pertahanan.
Namun sebelum mereka membentuk pertahanan dengan sempurna, tiba-tiba ada sesuatu yang aneh, semua tetua Ombak Karang mendadak merasakan seperti ada energi yang membuat mereka tidak leluasa bergerak.
Melihat konsentrasi lawannya menurun, Arya tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia segera melesat turun memukul mereka satu-persatu dengan pergerakan yang tidak dapat di lihat oleh mata. Satu persatu tetua Ombak Karang tersebut dibuatnya berpentalan ke segala arah.
Setelah selesai melancarkan serangan, Arya sejenak mengedarkan pandangannya untuk melihat kondisi para tetua Ombak Karang, lalu dia menarik kembali tekniknya sebab dia memang tidak ingin melukai mereka. Arya menghilang dan tiba-tiba berdiri tepat di hadapan Patriark Ombak Karang.
"Aku tahu kakek marah padaku karena telah melukai anak kakek sampai cacat." Arya menyerahkan sebutir pil. "Minumkanlah pil itu, dia akan sembuh. Tapi maaf aku tidak bisa mengembalikan ingatannya. Ku harap dengan ini anak kakek bisa berubah menjadi lebih baik."
Patriark Ombak Karang tersentak karena tidak bisa melihat pergerakan Arya. Dia segera memasang kuda-kuda khawatir jika pemuda itu akan menyerang. Namun setelah beberapa menit tidak ada serangan, diapun tersenyum lebar. Kini dia yakin bahwa pemuda itu benar-benar berniat ingin menyembuhkan putranya.
"Namaku Ye Guanyu, maaf telah menyinggungmu, Tabib Xian."
Sekilas Arya nampak tersenyum sebelum membalikkan badan menuju ke tempat para tetua Ombak Karang yang terkapar.
Dengan buru-buru Patriark Ye Guanyu berkelebat ke tempat Ye Han tergeletak, lalu dengan segera meminumkan pil pemberian Arya kepada anak semata wayangnya tersebut.
Benar saja, beberapa menit kemudian Ye Han tersadar dengan luka-luka yang mulai membaik. Ye Han menatap bingung kepada ayahnya sendiri lalu mengedarkan pandangan melihat sekeliling. Patriark Ye Guanyu tersenyum lega, lantas mengusap rambut anaknya itu dengan lembut.
"Tenanglah anakku, aku ini ayahmu.. namamu adalah Ye Han. Aku tahu sekarang kau pasti sedang kebingungan, nanti saja ayah akan menjelaskan semuanya." Setelah berkata demikian, Patriark Ye Guanyu membantu Ye Han bangkit.
Sementara itu, semua tetua yang di sadarkan Arya langsung bangkit dan bersiaga. Mereka khawatir jika Arya akan mencelakai mereka. Namun mereka menjadi keheranan saat pemuda itu memberikan masing-masing dari mereka sebutir pil.
Tanpa mengucapkan apapun Arya berkelebat menemui semua anggota Aliansi Pendekar Surgawi.