
Beberapa orang sontak terkejut saat melihat seorang pemuda keluar dari lorong, dengan cepat mereka menarik senjata dan menyerang.
Arya terlihat tenang menyambut setiap serangan yang datang. Hanya dalam beberapa gerakan, belasan orang yang menyerangnya di buat berpentalan.
Pria berpenampilan paling muda bangkit, kemudian menatap Arya, matanya memancarkan kemarahan.
"Brengsek! Ku bunuh kau!" Pria berpenampilan paling muda tersebut tersulut emosi.
Dia kemudian bergerak cepat menuju Arya, namun saat jarak keduanya hanya beberapa meter, sebuah bayangan menerjang dan menghantam perutnya.
Dugk... Bruak!
Pria berpenampilan paling muda itu terhempas menuju tempat temannya berada, sontak temannya menangkap dan menahannya.
Pemuda itu mengelap darah di sudut bibirnya, lalu menatap ke arah Arya. Dia kini mendapati terdapat dua pria sudah berdiri di samping pemuda itu.
"Ayo maju! serang bersama, aku tak percaya dia dapat mengalahkan kita semua." Seru pria yang menghunuskan senjatanya, siap bertarung.
Beberapa orang mulai mengeluarkan senjata, beberapa diantaranya menggunakan pedang dan lainnya mengunakan belati dan golok.
Hulao menyeringai tipis sebelum mengayunkan lengannya, bersamaan dengan itu keluar energi api berbentuk cakar yang melesat membakar mereka semua menjadi abu.
"Hei, apa yang kau lakukan! Jangan membunuh mereka dengan cepat!! Aku masih ingin bermain-main." Rutuk Honglong menatap Hulao dengan kesal.
"Bukankah kau juga melakukannya tadi.." Hulao tersenyum kecut.
"Huuufftt..." Honglong mendengus kasar. "Dasar lemah!"
"Cepatlah membereskan mereka semua. Waktu kita tidak banyak." Ucap Arya kemudian berkelebat menuju ke salah satu lorong.
Saat Arya sedang berlari di udara menyusuri lorong, tiba-tiba dari berbagai arah berlesatan beberapa siluet bayangan manusia.
Hyat..
Sekumpulan orang melesat cepat ke arah Arya, dengan senjata masing-masing.
Arya reflek memutar tubuhnya di udara, dia mengapit tombak yang mengincar dadanya dengan ketiaknya. Dengan cepat Arya menangkis semua serangan dengan tombak tersebut sambil berputar-putar di udara.
Benturan senjata menggema di lorong tersebut, Arya menjejakkan kakinya di lantai, lantas menerabas maju seraya mengayun-ayunkan tombak dengan sebelah tangan saat bersimpangan dengan lawan-lawannya.
Sekali ayunan, tewas. Hanya membutuhkan beberapa tarikan nafas untuk membuat setengah dari puluhan orang yang menghadang jalannya tewas.
Melihat teman-temannya dengan begitu mudah kehilangan nyawa, anggota bandit taring hitam yang tersisa meneguk ludahnya kasar.
Glug!
"Siapa yang dengan berani datang mengacau?!" Tiba tiba terdengar teriakan lantang terdengar bersamaan dengan keluarnya seorang pria berpenampilan sangar.
"Wakil ketua!" Seru sisa anggota bandit taring hitam yang masih bernyawa.
Ekspresi pria sangar yang di panggil wakil ketua itu seketika seolah tengah terbakar, wajahnya memerah padam, telinganya bagaikan cerobong yang mengeluarkan asap.
"Beraninya kau membunuh orang-orang ku! kau harus membayar atas perbuatanmu!" Pria berwajah sangar itu mengeram marah, matanya merah seolah tersiram larutan cabai.
Dengan mata menatap tajam, pria berwajah sangar itu mengeluarkan pedang, kemudian melesat ke arah Arya dengan amarah mengendalikan dirinya. "Ku bunuh kau!"
Arya terkekeh, mendengar perkataan begitu percaya diri keluar dari mulut pria berwajah sangar tersebut. Dia menggelengkan kepalanya jengah.
Huh..
"Tak tahu diri!"
Hyatt...
Pria berwajah sangar melesat cepat dengan pedang di tangannya, saat jarak keduanya hanya beberapa meter dia menarik tangannya ke belakang, dan mengayunkannya kuat-kuat.
Arya menarik tubuhnya ke belakang, membuat pedang pria sangar menghantam lantai.
Brak!
Mendapati serangannya berhasil dihindari, dengan secepat kilat pria sangar itu menarik pedangnya dan mendorong, mengincar perut Arya.
Arya mengayunkan tombaknya, membuat pedang di tangan pria sangar terdorong ke atas.
Bersamaan dengan itu, Arya meninju pria sangar itu dengan tangan kirinya.
Bugk!
Bruak!
Pria itu melayang terbang, dan terjatuh saat tembok memaksanya berhenti.
Huk huk..
Seteguk cairan kental berwarna merah keluar bersamaan dengan batuk, pria sangar mengelap sudut bibirnya dengan lengannya.
Cuih..
Pria sangar itu meludah ke samping, sekali lagi cairan berwarna merah meloncat keluar dari mulut.
Dengan bantuan tembok sebagai penyangga dia berusaha bangkit, dengan perlahan iapun kembali berdiri.
Seorang pria hitam kurus yang berada di salah satu barisan belakang anggota bandit taring hitam, berjalan mengendap, perlahan kakinya melangkah, sesekali dia melirik Arya.
Beberapa saat, dia sudah berhasil menyelinap, menghela nafas kemudian lari sekuat tenaga untuk melaporkan kejadian tersebut kepada ketuanya, ketua bandit taring hitam, Gu Lun.
Arya tersenyum samar, dia bukan tidak mengetahuinya, tetapi dia memang sengaja membiarkannya agar seluruh bandit taring hitam keluar.
"Sialan, untuk pertama kalinya aku merasakannya. Beberapa tahun terakhir aku tak pernah sekalipun kalah," Umpat Min Yoe, yang tak lain si pria sangar.
"Itu karena kau selalu menunduk, kau tak pernah melihat seberapa tinggi langit. Pemikiranmu yang sempit tidak akan membuatmu berkembang terlalu jauh." Cibir Arya dengan nada tajam.
"Mungkin yang kau katakan ada benarnya, meskipun aku sedikit tertarik kepadamu, namun kau harus tetap mati! Siapapun yang menerobos markas bandit taring hitam akan binasa, bagaimanapun caranya." Min Yoe menatap Arya dengan tatapan tenang, berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang sedang kacau.
"Hahaha... Meskipun sudah mendengar perkataanku kau masih tidak bisa menilai. Aku salut padamu." Arya menggelengkan kepalanya, tingkat pemahaman pria berwajah sangar yang menjadi lawannya ternyata begitu mengkhawatirkan, bahkan tidak bisa menangkap makna tersirat dalam perkataannya.
"Kau jangan terlalu sombong, aku hanya lengah sesaat. Aku tak percaya kau lebih kuat dariku." Min Yoe tetap bersikukuh, menunjuk Arya dengan telunjuk serta wajah memerah marah.
"Sudah tidak ada obat!" Arya yang kembali menggelengkan kepalanya.
"Apa maksudmu!" Hardik Min Yoe dengan emosi.
"Kau bodoh sampai ke tulang, tidak ada yang bisa mengobati penyakit bodohmu itu." Arya mengatakan dengan wajah mengejek.
"Kau!" Seolah tersumbat, perkataan Min Yoe tersekat di mulutnya.
Shut!
Sedetik kemudian bayangan pria sangar tersebut sudah lenyap dari tempatnya berdiri.
Arya menarik sudut bibirnya, kemudian melontarkan tombaknya asal lurus ke depan.
Trang!
Min Yoe mendadak muncul dari belakang dan dengan segera dia melepaskan serangan, kemampuan Arya memang jauh di atasnya, sama sekali tidak kesulitan mengatasi kecepatan Min Yoe.
Min Yoe mundur beberapa langkah, wajahnya terlihat sangat masam, tersirat rasa tidak percaya dalam wajahnya.
"Siapa sebenarnya pemuda ini? Usianya masih muda tapi kecepatannya benar-benar luar biasa." Batin Min Yoe mulai gusar.
"Bagaimana bisa kau melakukannya?" Min Yoe menunjuk Arya dengan raut wajah suram.
"Sudah aku katakan, bodoh juga merupakan penyakit, harus di sembuhkan!" Arya memasang wajah acuh.
"Aku tak percaya, kau pasti menggunakan cara curang, ... ya, kau pasti curang!" Min Yoe dengan wajah pucat berkata asal.
Min Yoe kemudian menghunuskan pedangnya, dan lagi-lagi dia melesat. Kali ini dia menyerang dari arah depan, dia masih berpikir pemuda yang menjadi lawannya lebih lemah darinya.
Seeppptt... Creeeesss..
Pedang Min Yoe tertahan dalam genggaman tangan Arya. Pedang itu berubah merah bara sebelum meleleh menyisakan gagang yang masih berada dalam genggaman pemiliknya.
Min Yoe melotot lalu segera melompat mundur, namun naas tubuhnya tiba-tiba di selimuti jilatan api, yang dalam sekejap membuatnya kehilangan kesadaran, alhasil ia tewas menjadi abu.