
Dentuman keras tiada henti dan goncangan tanah membuat semua orang terus saja dilanda kecemasan berkepanjangan. Matahari mulai menyingsing ke ufuk barat, langit biru silih berganti kemerah-merahan seiring munculnya serangkaian ledakan dan Gelagar petir di angkasa.
Demikianlah para penduduk dan orang-orang kerajaan mulai sadarkan diri setelah seharian terbius akibat serbuk yang di tebar oleh para bayangan Arya sewaktu memulai pembersihan para pendekar aliran hitam.
Ketika para prajurit terbangun dari tidur panjangnya di halaman kerajaan, pandangan mereka langsung terbentur pada tebaran orang-orang yang terbaring dan ada pula yang kondisinya tewas mengenaskan dengan tubuh tercerai berai. Sesaat mereka termangu berusaha mencerna situasi yang terjadi dan apa yang mereka alami sendiri.
Beberapa perwira segera memerintahkan para prajurit untuk memeriksa setiap sudut kerajaan dan sekaligus memperketat keamanan. Sebagian lagi bertugas menyingkirkan mayat-mayat yang berserakan.
Di tengah halaman luas mayat-mayat yang kondisinya tidak lagi utuh dikumpulkan, sementara putungan-putungan kepala dari korban yang terpenggal dipisahkan untuk mengindentifikasi siapa saja yang tewas. Setelah itu para prajurit menunggu arahan selanjutnya dari atasan mereka. Akan di apakan mayat-mayat ini, apakah di makamkan atau di kembalikan pada sanak keluarganya.
Sementara itu, di dalam istana, panglima Chong Quon, jendral Yong We dan para petinggi-petinggi kerajaan lainnya buru-buru menuju kediaman Raja Lin Yon Jun untuk memastikan keselamatan sang raja muda tersebut. Kejadian ini tentu saja membuat mereka sangat cemas, mereka beranggapan bahwa tujuan penyerangan ini adalah mengincar raja mereka.
Baru saja Raja Lin Yon Jun membuka matanya, dia dibuat terperanjat dan langsung berdiri menuju pintu kamarnya. Tidak biasanya ada yang berani mengganggu waktu istirahatnya. Dia heran kenapa seseorang mengetuk pintu kamarnya seperti tergesa-gesa. ‘Pasti ada hal yang sangat penting dan mendesak.’ demikian pikir sang raja muda tersebut.
Begitu pintu kamar terbuka, jenderal Yong We langsung melayangkan pertanyaan. “Maaf Yang Mulia. Apa Yang Mulia baik-baik saja?!”
Baik jenderal Yong We, panglima Chong Quon serta yang lainnya menatap Raja Lin Yon Jun dari atas sampai bawah. Seakan-akan mereka tidak ingin ada sejengkal pun bagian dari tubuh sang raja muda tersebut terlewat dari pengamatan mereka.
Dengan dahi mengerenyit, Raja Lin Yon Jun menatap satu persatu orang-orang di hadapannya itu. Karena tak kunjung ada jawaban yang keluar darinya, maka terdengarlah lagi pertanyaan, kali ini dilontarkan oleh salah satu mentrinya.
“Yang mulia.. Apakah ada sesuatu yang terjadi atas diri Yang Mulia?! Atau ada seseorang yang masuk ke dalam kamar anda?”
“Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Aku sama sekali tak mengerti! Aku baru saja terbangun. Sekarang jelaskan permasalahan apa yang terjadi! Kenapa kalian terlihat begitu cemas?” Raja Lin Yon Jun menatap pedang yang tergenggam di tangan Jenderal Yong We. Meski pedang itu belum di keluarkan dari sarungnya namun dari sikap sang jenderal, dapat terlihat bahwa sang jenderal tersebut telah siap menghadapi apapun permasalahan yang mungkin diperlukan adanya pertarungan.
Meski sudah mendengar sendiri jawaban yang keluar dari Raja Lin Yon Jun namun Jenderal Yong We dan yang lainnya terus saja mengamati raja muda tersebut. Seakan mereka masih memerlukan pembuktian bahwa raja muda tersebut tidak mengalami suatu apa.
Jenderal Yong We melirik ke dalam kamar, lalu menarik nafas dalam-dalam. “Maafkan atas kelancangan kami Yang Mulia. Kami sangat khawatir pada keselamatan anda. Apa Yang Mulia tidak merasakan sesuatu atau keanehan pada diri anda?”
Kembali Raja Lin Yon Jun dibuat mengerenyitkan dahi mendengar perkataan tersebut. Lalu di cobanya untuk memeriksa keadaan tubuhnya sendiri. Barulah ketika dia merasakan bahwa aliran Qi nya kacau, maka diapun sekelumit dapat meraba apa permasalahan yang membuat para petinggi-petinggi kerajaannya ini menjadi cemas dan secara bersama-sama mendatanginya.
“Aliran Qi milikku seperti tersumbat oleh sesuatu. Apakah kalian juga mengalaminya?” Berkata Raja Lin Yon Jun mulai gusar.
Sejenak semua orang terdiam tidak ada yang menjawab. Lalu tiba-tiba terdengar derap langkah kaki. Semua orang yang disana sontak saja memalingkan pandangan ke arah mana suara langkah kaki itu berasal.
Seorang pria paruh baya berjubah putih panjang dengan motif garis-garis berhenti berjalan karena semua orang menatap ke arahnya. Pria paruh baya itu bukan lain adalah Huang Tianzhi atau lebih dikenal dengan sebutan Raja Obat.
“Tidak ada yang perlu di khawatirkan, tuan. Tapi mereka semua mengalami gejala yang sama. Sama-sama terhambat aliran darah dan Qi, serta pingsan dalam waktu yang lama seperti halnya kita.”
“Pingsan?! Kita semua di buat pingsan! Sebenarnya apa yang terjadi? Apa semua ini ulah dari anggota Sekte Iblis Berdarah?” Raja Lin Yon Jun berkata dengan nada marah sambil kepalkan kedua tangannya.
Raja Lin Yon Jun memang telah mendengar kabar mengenai adanya penyusup di dalam kerajaan dari panglimanya yang kembali dari pertemuan di Sekte Lembah Petir. Namun sampai sejauh ini pasukan khusus yang diperintahkannya untuk menyelidiki kasus ini tidak banyak mendapatkan informasi terkait siapa saja penyusup tersebut.
“Mungkin saja semua ini memang perbuatan mereka, tetapi yang terpenting adalah Yang Mulia selamat. Akibat kejadian ini banyak dari prajurit kita yang tewas. Mayat-mayat mereka semua bertimbun-timbun seperti tebangan batang pohon di halaman depan gerbang.” Jenderal Yong We menghela nafas sesaat lalu lanjutnya. “Kami masih menyelidiki kejadian ini lebih lanjut. Selain itu masih ada yang perlu kita pastikan. Di luar sana langit terus saja mengeluarkan kilatan petir, beberapa kali juga terdengar ledakan di atas udara. Bahkan para prajurit yang berjaga di kota memberikan kesaksian, mereka melihat adanya pertarungan di dalam kerajaan pagi tadi. Dan kesaksian itu di perkuat dengan adanya bekas-bekas pertarungan serta beberapa bangunan yang hancur.”
“Pertarungan?” Pikir Raja Lin Yon Jun, dia berusaha mencerna serangkaian peristiwa serta keterangan yang diterimanya tersebut untuk dapat menyingkap apa yang sebenarnya terjadi.
Tiba-tiba terdengar seseorang berkata sambil berjalan ke tempat mereka. “Benar! Pagi tadi aku melihat sendiri, memang terjadi pertarungan di sini. Tidak, lebih tepatnya di atas udara. Waktu itu aku ingin melihat lebih dekat pertarungan itu, tetapi kekuatan mereka benar-benar diluar kemampuanku. Jadi aku hanya melihatnya dari jauh.”
Kedua orang itu kemudian memberi hormat setelah berada di hadapan Raja Lin Yon Jun.
Sekali lagi Raja muda itupun mengerenyitkan dahi. Kali ini semua orang yang ada di sana juga dibuat terheran-heran. Mendengar kata-kata orang itu, semua orang seakan-akan menjadi beku di tempatnya. Darah mereka serasa berhenti mengalir. Namun dengan demikian maka mulut mereka justru seakan-akan terbungkam.
Orang yang berkata tadi adalah Pendekar khusus yang di datangkan dari Kekaisaran Tang, kemampuannya sendiri di atas Pendekar Suci. Jika orang itu mengatakan kekuatan orang yang bertarung tersebut diluar kemampuannya, itu artinya siapapun yang bertarung tersebut sudah dapat di pastikan mereka bukanlah berasal dari Kekaisaran Ming.
Memang semenjak kejadian pemberontakan yang dikepalai pangeran Tong Jiao dan Ibunya selir Tong Lia, para petinggi-petinggi kerajaan Goading sepakat untuk mendatangkan Pendekar dari Kekaisaran Tang untuk memperkuat keamanan kerajaan Goading. (Untuk lebih jelasnya, baca episode 68-80 dalam novel PNE season 1)
Kebingungan semua orang kemudian terpecah oleh perkataan pendekar khusus yang satunya. “Kami tidak ikut campur karena kami melihat orang-orang yang berpihak pada kita dapat menguasai pertarungan. Jumlah mereka banyak dan semuanya memakai penutup wajah.”
Masih dengan ekspresi kebingungan, Raja Lin Yon Jun kemudian berkata. “Bagaimana kau bisa menyimpulkan jika orang-orang yang menutupi wajahnya itu berpihak pada kita?”
“Sekali lihat saja kami sudah dapat memastikan hal itu Yang Mulia. Orang-orang yang menutupi wajahnya itu bertarung melawan hewan iblis. Karena itulah kami sangat yakin jika mereka berpihak pada kita.”
“Kami baru-baru ini mendengar adanya kelompok hewan iblis dari laut kuantan memasuki daratan ini. Kami juga sudah mendapatkan informasi terkait apa tujuan dari kedatangan mereka. Mereka hendak membangun kekuasaan di daratan ini dan merebut kekuasaan di beberapa wilayah. Tapi kami tidak menyangka jika mereka sudah bertindak sejauh ini sampai menyusup ke dalam kerajaan ini.” Berkata pula Pendekar khusus yang satunya.
Mendengar demikian, Raja Lin Yon Jun dan yang lainnya nampak terkejut bukan main.
“Aku kira mayat binatang yang bertebaran di luar sana adalah siluman. Aku sama sekali tak mengira jika itu adalah hewan iblis.” Desis Jenderal Yong We pelan, namun cukup terdengar oleh semua orang yang ada di sana.
Dua Pendekar khusus tersebut mengangguk paham. Mereka tidak menyalahkan dangkalnya pengetahuan orang-orang mengenai hewan iblis, sebab hanya sedikit sekali hewan iblis yang hidup di daratan timur. Itupun hewan-hewan iblis tersebut selalu menjaga jarak dari kehidupan manusia. Mereka khawatir keberadaan mereka akan mengundang perhatian para pendekar, terlebih terhadap para pendekar yang memang memburu hewan iblis dengan tujuan meningkatkan kemampuan serta kultivasi mereka.