
Ditengah situasi yang sangat kacau, para prajurit segera mengarahkan para penduduk untuk menjauhi titik pertarungan. Sebagian penduduk berhasil di ungsikan, namun tidak sedikit yang tewas sebelum sampai ke tempat pengungsian.
Kini beberapa hewan iblis yang terdesak, berusaha memecah perhatian dengan memancing bayangan Arya untuk bertarung di daratan. Dengan begitu, mereka berfikir lawannya tidak akan menyerang dengan kekuatan penuh.
Rencana para hewan iblis terbukti efektif, karena kini situasi pertarungan berbanding balik, semua bayangan Arya nampak terdesak. Selain dipaksa untuk terus bertahan, seluruh bayangan Arya juga dipaksa untuk melindungi para penduduk dari ancaman serangan para hewan iblis.
Dampak pertarungan mereka benar-benar sangat dahsyat, hampir seperempat kota Guangzhou dibuat hancur rata dengan tanah. Tidak terhitung lagi para penduduk yang tidak bersalah tewas menjadi korban. Kerugian materi juga di rasakan orang-orang yang rumahnya ataupun tempat usahanya hancur akibat pertarungan.
Beralih ke situasi di luar kota.
Di sebelah tenggara dari tembok yang mengelilingi kota Guangzhou, terlihat pepohonan bertumbangan. Hutan yang semula rimbun, kini menjadi area terbuka sejauh ribuan meter. Semua itu tidak lain akibat dampak pertarungan antara Xue Xuanzi dengan bayangan Arya.
Alasan kenapa sebelumnya bayangan Arya dapat membawa Xue Xuanzi, karena pada saat itu Xue Xuanzi tengah terjerat pengaruh ilusi. Akan tetapi ketika baru saja dia dibawa keluar dari tembok kota, pengaruh ilusi tersebut tiba-tiba lenyap, membuat Xue Xuanzi tersadar dan langsung mengamuk sejadi-jadinya.
Setelah bertarung selama belasan menit, kini barulah hewan iblis jelmaan dari Xue Xuanzi, di buat terpental setelah terkena bogem mentah yang di lancarkan bayangan Arya.
Keduanya nampak sedikit berimbang, rupanya hewan iblis jelmaan Xue Xuanzi memiliki kultivasi yang setara dengan bayangan Arya. Mereka sama-sama berada di tahap Pendekar Fana, hanya saja bayangan Arya sedikit lebih unggul beberapa tingkat.
Xue Xuanzi segera bangkit, dia tidak mau memberikan kesempatan sedikitpun pada lawannya untuk kembali melancarkan serangan. Maka selagi bangkit, dia diam-diam menyiapkan sebuah teknik. Tangannya di kibaskan ke depan, bersamaan dengan itu, pepohonan yang berserakan di sekitarnya terhempas, melesat ke arah depan.
Disisi lain, tubuh bayangan Arya yang sedang melesat memburu berniat kembali menyerang, mau tidak mau dia harus mengurungkan niatnya. Arah lajunya yang semula lurus menerjang, buru-buru dia membuang diri ke samping.
Dengan memapak udara kosong, bayangan Arya melompat berjungkir-balik di atas udara, menghindari setiap pepohonan yang melesat menargetkan dirinya.
"Tidak ku sangka di daratan rendah ini terdapat manusia sehebat dirimu, baiklah.. kali ini aku akan mulai serius."
Xue Xuanzi menjulurkan kedua tangannya ke depan, sekejap kemudian tiba-tiba kedua tangannya bersinar merah bara. Sinar itu terlihat merayap ke ujung telapak tangannya, sebelum akhirnya membentuk sebuah golok besar yang menyala merah.
"Bukan aku yang hebat, tapi kaulah yang lemah.." Bayangan Arya tersenyum sinis, namun dalam hatinya dia sedang gusar. Dia harus lebih hati-hati karena wujudnya hanyalah tubuh tiruan, dengan kata lain dia akan lenyap jika terkena serangan.
"Kau akan melihat sendiri siapa yang lemah setelah aku menebas putus lehermu itu." Bersamaan dengan suara hardikan itu, sosok Xue Xuanzi lenyap dari pandangan dan tiba-tiba muncul di belakang tubuh bayangan Arya, bersiap membabatkan goloknya ke batang leher targetnya
Mata bayangan Arya sontak melebar ketika merasakan kemunculan energi dari arah belakang. Untung saja dia masih bisa reflek membungkukkan badan sambil menghentakkan tendangan dengan tumitnya ke belakang.
Tendangan itu sejengkal lagi mengenai dagu Xue Xuanzi yang berkepala anjing tersebut, namun Xue Xuanzi juga berhasil mengelak mundur. Bersamaan dengan gerakan mengelak, tangan kanannya yang tadi hendak membabat batang leher, kini dia hujamkan ke kaki bayangan Arya.
Melihat kakinya akan terbebas, bayangan Arya yang sedang melancarkan tendangan sambil bersalto segera menghentakkan tangan kanannya. Serangkum bola angin dahsyat melesat menghantam laju golok di tangan Xue Xuanzi.
Duuuarr...
Keduanya sama-sama terpental, namun sekejap kemudian mereka kembali bertukar serangan di udara. Melompat-lompat berganti-ganti tempat pertarungan.
Gerakan mereka yang teramat cepat menyebabkan angin menderu kencang laksana topan. Serangan energi yang mereka lancarkan hanya membuat lokasi pertarungan menjadi semakin porak poranda.
Ledakan demi ledakan menyebabkan gempa berskala sedang, bekas ledakan serangan energi itu sendiri meninggalkan jejak lubang tanah yang menganga lebar serta dalam.
Bayangan Arya sama sekali tidak menggunakan senjata, hanya saja dia melapisi tubuhnya dengan elemen api dan petir untuk menangkis maupun menahan keganasan golok dari lawan.
Xue Xuanzi menebas secara brutal mengincar batang leher, namun yang di serang tiba-tiba lenyap meninggalkan kobaran api. Dari arah samping kiri, bayangan Arya tahu-tahu muncul sudah dalam posisi siap menghujamkan tinju berkilatan petir ungu ke arah batok kepala Xue Xuanzi.
Jdduuubb... Bruuuuakk... Duuuarr...
Suara hantaman tinju mengenai batok kepala, di susul suara benda jatuh dan di tutup suara ledakan keras membahana.
"Hanya segitu kemampuanmu.." Bayangan Arya tersenyum menyeringai memandangi kepulan debu yang membumbung tinggi di bawahnya. Dia sangat yakin bahwa Pukulan Halilintar yang dilancarkannya tadi pasti akan menghancurkan batok kepala hewan iblis berkepala anjing tersebut.
Namun, tiba-tiba dari balik kepulan debu berlesatan puluhan energi berwarna merah berbentuk pisau sebelum disusul melesatnya sosok tubuh yang tidak lain adalah jelmaan Xue Xuanzi.
Tubuh bayangan Arya terkesiap, dia benar-benar tidak habis pikir lawannya masih dapat bertahan dari Pukulan Halilintar yang bahkan sanggup meratakan gunung.
Dengan sia-sia waktu yang dimilikinya, bayangan Arya buru-buru menggerakkan kedua tangannya ke depan berputar searah jarum jam, lalu dihentakannya kuat-kuat ke arah lawan.
Tubuh bayangan Arya dalam sekejap mata telah terselubungi kubah energi angin transparan, itu adalah teknik perisai angin berputar melanda awan.
Lesatan puluhan energi berupa pisau yang menyala merah terlihat terhisap ke dalam kubah perisai yang menyelubungi bayangan Arya, lalu muncul kembali berbalik arah menargetkan Xue Xuanzi.
Yang di targetkan nampak terkejut bukan main, teknik yang dilancarkan untuk menyerang malah kini justru berbalik menyerangnya sendiri, itulah yang membuatnya keheranan bukan kepalang.
Xue Xuanzi lekas menghindar namun pergerakannya tidak sanggup untuk menghindari semua pisau energi tersebut. Alhasil, dia harus merelakan beberapa bagian tubuhnya tertusuk pisau energinya sendiri.
Pada saat bersamaan, tubuh banyangan Arya mendapatkan pesan telepati dari Arya yang asli. "Gunakan serangan api atau cahaya untuk melenyapkan makhluk itu."
Maka tanpa membuang-buang waktu, bayangan Arya lekas menciptakan pedang energi dari elemen cahaya, lalu lenyap dari tempatnya melayang.
Xue Xuanzi yang tengah mengalirkan Qi nya untuk mengurangi rasa sakit karena tertusuk pisau energi, seketika menjadi lebih waspada saat mendapati lawannya menghilang. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menajamkan indera perasa dan instingnya untuk mengantisipasi adanya serangan kejutan.
Barulah ketika Xue Xuanzi mendongakkan kepalanya ke atas, dia mendapati sekelebat bayangan tengah menghunuskan pedang bercahaya putih berniat menusuk kepalanya.
Xue Xuanzi buru-buru bergerak melompat ke samping, namun cahaya yang berpendar dari pedang yang di hunuskan lawannya itu membuat tubuhnya seketika melemah. Jangankan untuk melompat, mempertahankan posisi terbangnya saja dia sudah begitu kewalahan.
Tubuh Xue Xuanzi akhirnya meluncur jatuh ke bawah sebelum...
Jleeebbb..
Pedang cahaya yang di hunuskan bayangan Arya dengan telak menusuk batok kepala Xue Xuanzi sampai pecah.
Dengan tertancapnya pedang di kepala Xue Xuanzi, maka tubuhnya yang semula hendak meluncur jatuh kini tertahan menggantung di udara.
Terlihat Xue Xuanzi tewas dengan mata melotot, darah hitam mengucur deras melumuri kepalanya, moncongnya yang panjang ternganga menjulurkan lidahnya.