
Arya cepat-cepat bersembunyi dibalik tirai manakala mendengar suara langkah kaki beberapa orang berasal dari lorong sebelah kanan. Pemuda ini jadi kerutkan kening, rupanya orang yang berlari-larian tersebut adalah tiga orang gadis tanpa busana alias tel*njang bulat. Suatu pemandangan yang amat indah bagi kaum lelaki! Akan tetapi sebaliknya, Arya justru merasa risih bahkan jengah. Pemuda ini tak berani melihat tubuh gadis itu, matanya di pejamkan namun pendengarannya di curahkan untuk mengetahui kemana gadis-gadis itu pergi.
Begitu suara langkah kaki gadis-gadis itu menjauh, Arya segera keluar dari balik tirai dan cepat mengikuti tiga gadis tadi. Dia sebenarnya hendak menuju ke lorong bawah tanah, dimana para sandera di sekap. Akan tetapi kemunculan tiga gadis tadi membuatnya penasaran.
Dengan hati-hati dan sembunyi-sembunyi Arya mengintai dan mengikuti tiga orang gadis tadi, berjalan melalui sebuah lorong sempit. Tiba-tiba ketiga orang gadis tadi menghentikan langkah kaki mereka karena jalan itu buntu. Mereka menghadapi sebuah dinding batu yang tebal. Di sebelah kiri terdapat sebuah patung serigala batu. Mereka memutar kepala patung serigala batu itu ke kanan, dan terdengarlah suara bergeret dengan terbukanya dinding batu itu!
Ketiga orang gadis itu kemudian melangkah masuk. Begitu mereka masuk, tertutuplah kembali jalan tadi. Jika dilihat sekilas, sepertinya tak mungkin orang akan menduga bahwa di situ terdapat sebuah pintu tembusan!
Arya semakin tambah penasaran. Memang ia tak bisa membaca pikiran tiga gadis tadi, sebab tiga gadis itu selalu membelakanginya. Syarat utama untuk membaca pikiran ialah Arya harus menatap mata si target yang ingin dia baca pikirannya. Seperti kata orang ‘mata adalah jendela hati’, begitulah kurang lebihnya.
Setelah menanti beberapa saat pemuda ini lantas memutar kepala serigala batu di dinding tersebut. Begitu pintu terbuka, ia cepat melangkah masuk dan melanjutkan pengejaran.
Lagi-lagi ketiga gadis itu menjumpai jalan buntu. Sama seperti sebelumnya, disana terdapat pula sebuah patung serigala hitam yang lebih besar dan lebih mengerikan. Arya mengira bahwa rahasianya untuk membuka pintu didinding itu terletak pula pada kepala serigala batu itu yang harus diputar, akan tetapi ternyata tidak demikian. Seorang gadis nampak memasukkan tangannya ke dalam mulut serigala batu yang lebar itu, tangannya bergerak menarik sesuatu di dalam mulut patung serigala. Dengan demikian terbukalah sebuah pintu pada dinding yang tadinya rapat di dinding itu!
Seperti halnya juga tadi, Arya berhasil masuk ke dalam pintu rahasia ini setelah merogoh mulut patung serigala dan menarik lidah patung serigala itu. Sebenarnya dia tak perlu melakukan itu, sebab hanya dengan mengerahkan teknik berpindah dimensi, ia sudah dapat melewati pintu rahasia itu. Akan tetapi dia tak mau buang-buang energi untuk hal yang tidak perlu.
Kini pemuda ini telah tiba di depan sebuah pintu, yakni pintu terakhir. Akan tetapi syarat untuk membuka pintu ini bukan merupakan suatu rahasia, melainkan lebih hebat dan berbahaya lagi. Tampak yang menjaga di depan pintu bukanlah seekor patung serigala yang mengandung rahasia, melainkan seekor siluman serigala hitam sesungguhnya! Serigala ini amat besar, bulunya hitam bagaikan arang. Sepasang matanya liar mengkilat, sedangkan moncongnya yang merah itu terbuka, lidahnya terjulur keluar di antara dua baris gigi yang runcing dan tajam melebihi pisau belati!
Sekali lihat saja, Arya sudah dapat mengetahui bahwa siluman serigala tersebut memiliki kultivasi diatas Pendekar Suci. Tepatnya berada ditahap Pendekar Fana tingkat dua. Dapat diperkirakan bagaimana penjagaan disana ditempatkan siluman sekuat itu, pastilah ruangan didalam sana teramat penting.
Setelah mengelus-elus leher dan menepuk-nepuk kepala siluman serigala hitam yang besarnya seperti anak sapi itu. Ketiga wanita tadi lalu membuka daun pintu dan berjalan masuk dengan lenggang mereka yang amat menggiurkan.
Arya senyum-senyum, berjalan dengan gagahnya menghampiri siluman serigala tersebut. Akan tetapi baru saja ia mendekat, siluman serigala hitam itu tiba-tiba menggeram dan memasang sikap siap menerkam.
Di terkam sedemikian rupa oleh siluman serigala yang mengerikan itu, Arya berlaku tenang bahkan masih menyunggingkan senyuman. Ia miringkan tubuh ke kiri, lantas kepalan tangan kanannya menghantam lambung serigala itu.
Buuukkk!
Tubuh siluman serigala itu bagaikan dilemparkan oleh tenaga yang amat dahsyat sehingga terbanting ke dinding batu. Dinding itu sendiri berhamburan, jebol dan mengepulkan asap tebal. Akan tetapi dari kepulan asap terdengar suara menggeram. Detik berikutnya, dari kepulan asap melesat bayangan besar hitam dan menyerang Arya.
Arya geleng-gelengkan kepalanya, meskipun dia tadi hanya mengerahkan pukulan dengan tenaga luar yang tidak seberapa. Tetapi dengan pukulan itu dia bisa menghancurkan bongkahan baja besar dan amat keras. Namun kenyataannya, pukulannya itu hanya membuat siluman serigala itu terlempar tanpa mengalami luka.
“Rupanya anjing kecil ini memiliki elemen logam.” desis Arya dalam hati.
Tampak siluman serigala itu telah menyerang lagi dengan mulut terbuka lebar-lebar, menerkam dan hendak menggigit leher! Arya masih tenang, ia geser tubuhnya kesamping ketika siluman serigala itu beberapa jengkal lagi akan mencaplok lehernya. Tiba-tiba dengan gerakan yang cepat sekali, ia mengulurkan tangan kiri menangkap kaki depan siluman serigala itu, menyentakkannya ke bawah sehingga siluman serigala itu terbanting.
Jbruuuuaaakk!
Bersamaan dengan terbantingnya tubuh siluman serigala itu menghantam lantai, seluruh ruangan itupun tergoncang keras. Untuk beberapa lamanya siluman serigala itu tergeletak tak sanggup bangkit lagi.
“Lihat baik-baik! Akulah raja dari semua binatang maupun siluman.” ucap Arya dengan suara amat berwibawa, begitu ia melepaskan topeng tengkorak dari wajahnya.
Siluman serigala itupun menatap Arya, matanya terbelalak ketika melihat aura penguasa dari tubuh pemuda itu. Dengan menyeringai kesakitan, siluman serigala itupun buru-buru berdiri. Tiba-tiba saja siluman serigala itu menempelkan keningnya ke lantai layaknya sikap orang bersujud.
“Kau telah aku bebaskan dari pengaruh sihir.. sekarang jalankan perintahku! Hancurkan setiap orang bertopeng di tempat ini! Kau mengerti?!” ucap Arya.
“Baik, aku mengerti Yang Mulia!” sahut siluman serigala itu dengan tandas.
Arya menoleh, telinganya mendengar suara beberapa orang berkelebatan menuju ke arahnya. Kepada siluman serigala, ia berkata, “Pertama-tama, kau uruslah orang-orang itu!”
Siluman serigala mengangguk-angguk, sikapnya yang tadinya jinak, kini kembali menjadi buas. Sekali empat kakinya di genjotkan, tubuh siluman serigala ini meluncur bagai peluru, menyambut kelebatan orang-orang yang hendak menuju ke ruangan ini.
Kraaaakk! Bruuukk!
Satu orang topeng tengkorak yang lengah dan tak mengira sama sekali bahwa siluman serigala itu hendak menerkamnya. Sontak terperanjat, akan tetapi sudah terlambat. Kepalanya telah terkoyak buntung oleh gigitan siluman serigala itu. Tubuhnya langsung roboh begitu kepalanya copot.
Siluman serigala itu goyang-goyangkan kepalanya. Diantara barisan gigi-giginya yang tajam, terdapat kepala orang bertopeng tengkorak. Siluman serigala ini menggeram, dan kemudian melemparkan putungan kepala di mulutnya ke arah seorang biksu.
Belasan orang-orang bertopeng tengkorak dan lima biksu terkejut bukan main, melihat siluman serigala yang harusnya tunduk dan jinak terhadap mereka kini tahu-tahu menerkam ganas.
“Ada apa, Biao? Jangan mengamuk, tenanglah! Kalau kau lapar kami akan memberikanmu daging... Kami kemari karena mendengar suara benturan keras. Sebenarnya apa yang terjadi disini?” ucap kakek botak bernama Luo Tian Chi, dia adalah seorang murid terkuat pada urutan ke delapan dari sepuluh murid Serigala Iblis Dari Timur. Meskipun marah tapi kakek ini tidak berani menyerang ataupun menghukum siluman serigala yang bernama Biao itu, sebab ia sadar bahwa kemampuannya sendiri masih kalah bila dibandingkan serigala hitam tersebut.
Tiba-tiba siluman serigala yang bernama Biao tersebut meraung keras dan panjang, membuat seluruh kawasan gedung terguncang. Ternyata dia menyebarkan sejenis aura penguasa tak kasat mata yang segera menyeruak memenuhi udara.
Semua orang topeng tengkorak terkesiap, begitu pula lima biksu. Mereka cepat mengelak ketika mendadak Biao telah menerjang. Mula-mula mereka hanya terus berkelit, akan tetapi mau tak mau merekapun balas menyerang jika tak ingin tewas di terkam siluman serigala yang mengamuk ini.
Belasan orang bertopeng tengkorak pergunakan berbagai senjata berusaha melumpuhkan serigala hitam tersebut. Namun percuma, setiap kali tombak, pedang, golok dan gada mereka yang mengenai serigala itupun malah dibuat terpental. Jangankan untuk menggores tubuh serigala itu, untuk memotong sehelai bulunya saja mereka tak mampu.
Memang selain memiliki elemen logam, Biao juga mempunyai semacam ilmu kebal. Dia tidak akan mampu dilukai hanya dengan senjata biasa.
Dalam waktu singkat, Biao telah membunuh tiga orang-orang bertopeng tengkorak yang terdekat dengan gigitan dan cakaran. Dikarenakan Biao sudah lama menjadi penjaga kelompok Manusia Iblis, tentu dia sudah tahu betul kelemahan mereka sehingga dalam waktu singkat orang-orang topeng tengkorak dibuat kalang kabut.
Empat biksu sebisa mungkin berusaha mengalihkan perhatian Biao, sedang Luo Tian Chi tampak komat-kamit membacakan mantra untuk menaklukan siluman serigala besar tersebut. Cahaya hitam seketika muncul dari kedua telapak tangannya. Begitu kedua tangannya di sentakan, cahaya hitam itupun menyeruak melesat mengurung kepala Biao, membuat serigala besar itupun kelimpungan terseok-seok.
Biao merasakan kepalanya pening, dia menyerang apapun yang ada di sekitaranya mengunakan cakar, taring dan ekornya secara membabi buta. Satu persatu orang-orang bertopeng tengkorak tewas, sisanya segera mundur menjauh.
Melihat kematian para anak buahnya, Luo Tian Chi mendengus marah. Akan tetapi ia tidak akan berani membunuh siluman serigala itu, karena bagaimanapun ia tahu bahwa serigala itu adalah peliharaan kesayangan gurunya ‘Serigala Iblis Dari Timur’.
Luo Tian Chi dan empat biksu yang merasa bahwa Biao sudah dalam kendali mantra penakluk, segera mendekat untuk meringkus serigala tersebut, agar siluman itu tidak menggila dan mengamuk lagi. Akan tetapi situasi tiba-tiba berubah menjadi kepanikan ketika Biao tahu-tahu bergerak cepat menerkam kepala salah seorang biksu. Kepala itupun ditelan bulat-bulat, sementara badan biksu itu sendiri roboh dengan leher mengucurkan darah.
Biao yang marah segera semburkan bisa racun hitam dari mulutnya ke arah para topeng tengkorak. Kejadian itu amat tiba-tiba dan cepat sekali, sehingga para topeng tengkorak tak sempat menghindar. Racun itu menyebar melelehkan semua bangunan berikut orang-orang bertopeng tengkorak hingga tak tersisa.
Untung Luo Tian Chi masih sempat melesat terbang ke udara, akan tetapi tangan kanannya keburu kena semburan racun hitam. Maklum bahwa racun hitam itu amatlah ganas dan dapat menyebar cepat serta melelehkan tubuh layaknya lilin dimakan api. Iapun segera memutus tangannya sendiri yang sudah menghitam.
“Sial, kenapa serigala ini jadi menggila dan mengamuk seperti ini. Apa mungkin pengaruh sihir dari guru telah lenyap?!” Luo Tian Chi terbang terseok. Amarahnya benar-benar jadi mendidih! Beberapa kali ia memekik menahan sakit karena proses regenerasi tangannya yang perlahan-lahan mulai tumbuh.
“Grrrr... Manusia rendah, jangan kira aku akan takluk pada sihir kalian.” Biao menggerak-gerakkan seluruh tubuhnya. Tiba-tiba tubuhnya memancarkan sinar ungu dan kejap kemudian selubung sinar kuning yang membungkus tubuhnya hancur.
Tiga biksu yang tengah memulihkan diri dari semburan racun, cepat-cepat melompat menjauh. Mereka nampak panik mendapati siluman serigala itu dapat melepaskan diri dari selubung mantra penakluk.
Dilain pihak, begitu tangannya yang buntung kembali tumbuh seperti sedia kala, Luo Tian Chi langsung keluarkan tongkat pusakanya. Tongkat itu berwarna hitam legam, dengan kedua ujungnya runcing seperti mata pisau. Ia memutar tongkatnya di udara, kejap kemudian Luo Tian Chi sudah menerjang dengan tusukkan tongkatnya menargetkan kepala siluman serigala.
Biao dengan tenang menggerakkan tubuhnya ke sana kemari. Semua serangan Luo Tian Chi luput dan mengenai tempat kosong. Manakala pada suatu kesempatan....
Tak! Blaaarrr!
Luo Tian Chi memekik ketika tendangan terkaman cakar mengenai pergelangan tangannya. Tangannya putus! Tongkat di tangannya pun ikut pula terlempar.!
Sebelum Luo Tian Chi sempat berbuat sesuatu, kaki Biao yang baru saja menerkam pergelangan tangannya berputar cepat mengancam rahangnya. Gerakan itu begitu cepat dan tiba-tiba, sehingga Luo Tian Chi tidak sempat menghindar.
Krak...!
Terdengar suara berderak keras ketika tulang leher Luo Tian Chi patah terpenggal. Tubuhnya terlempar ke belakang. Tamatlah sudah nyawanya!
Biao memandangi mayat Luo Tian Chi yang tanpa kepala itu untuk sejenak. Dengan sekali sentakan, mayat itupun ditendang menuju ke arah tiga biksu yang terkesiap menyaksikan kematian pimpinannya.
Serentak tiga biksu itu menghindar. Sebelum mereka sempat menghimpun energi Qi, tahu-tahu dari depan melesat sesosok bayangan hitam besar. Bayangan itu langsung melesat ke arah biksu yang paling gemuk.
“Aaaaauuuu...!”
Buru-buru biksu gemuk itupun menangkis terkaman cakar dengan golok besar yang memang telah digenggamnya sejak tadi-tadi. Terkaman Biao amat kuat, akibatnya tubuh biksu gemuk itupun terpental berguling-guling menghantam dinding ruangan. Sesaat kemudian, ia sudah berdiri dengan golok yang telah patah.
Biao tidak membiarkan ketiga biksu tersebut memulihkan diri dan menghimpun Qi. Dengan diawali raungan dahsyat, siluman serigala ini kembali menerkam biksu gemuk yang berada sendirian, terpisah dari rekan-rekannya.
Tapi biksu gemuk rupanya sudah bersiaga sebelumnya. Begitu siluman itu melompat, segera tubuhnya dilempar ke belakang sambil menyabetkan golok besarnya yang telah patah separuh.
Takkk...!
Telak dan keras sekali senjatanya menghantam kepala serigala hitam itu. Namun akhirnya, justru tangannya yang tergetar hebat. Sementara siluman serigala itu tampak tidak terpengaruh sama sekali.
Kedua biksu lainnya tidak membiarkan biksu gemuk menghadapi siluman itu sendirian. Mereka segera bergerak membantu. Berkali-kali mereka mengeluh bahkan menahan nafas ketika hampir-hampir kena di terkam. Biarpun mereka menyerang bertiga, saling bahu membahu menyerang dan bertahan, akan tetapi siluman serigala itu memang harus diakui lebih kuat daripada mereka bertiga. Tendangan ataupun sabetan senjata yang mereka lancarkan serta dapat mengenai Biao, tapi semua itu seolah-olah tidak dirasakan oleh siluman serigala tersebut.
Sebaliknya, setiap cakaran, tubrukan, maupun tamparan sang serigala, membuat mereka kalang-kabut menghindarinya.
“Aaauuu...!”
Untuk kesekian kalinya sambil mengeluarkan lolongan menggetarkan seisi ruangan, Biao menerkam Biksu gemuk.
“Aaakh...!"
Biksu gemuk menjerit melengking. Terkaman sang serigala tak dapat dielakkannya. Tubuhnya langsung terjengkang. Kini sang siluman serigala berada di atas tubuhnya.
Meskipun kedua bahunya telah robek, akan tetapi biksu gemuk itu tidak mau menyerah begitu saja. Dengan sekuat tenaga, ditahannya leher serigala yang berusaha hendak menggigit lehernya.
Dua orang rekannya tidak tinggal diam. Mereka segera melesat menghampiri kawannya. Tapi terlambat...!
“Aaakh...!”
Biksu gemuk menjerit memilukan tatkala gigi- gigi sang serigala mengoyak lehernya hingga kepalanya buntung. Sesaat tubuhnya menggelepar, kemudian diam tidak bergerak lagi.
Dua biksu terpaku melihat kematian temannya. Dan di saat itulah Biao kembali menerkam. Kaki kanan depannya berhasil mencakar muka salah seorang biksu tinggi kurus.
Prattt.!
Kembali terdengar pekik kematian. Biksu tinggi kurus memekik tertahan. Tubuhnya terjungkal dengan tubuh terbelah dua. Biao yang mengetahui kelemahan anggota Manusia Iblis, segera melahap jantung biksu tersebut. Demikianlah nyawanya telah melayang menyusul rekannya.
Kini tinggal satu biksu berdagu lancip. Tidak mungkin baginya menghadapi siluman serigala yang luar biasa ini. Maka iapun berusaha mencari kesempatan untuk melarikan diri.
Ketika Biao lengah, tanpa buang-buang waktu lagi biksu ini langsung melesat kabur. Tapi Biao tidak membiarkan lawannya lolos begitu saja. Sambil mengeluarkan lolongan yang menggidikkan bulu roma, siluman itu menerkam biksu tersebut.
“Aaakhh!”
Biksu dagu lancip itupun memekik tertahan ketika punggungnya ditubruk serigala hitam. Tubuhnya langsung jatuh terguling-guling. Dan sebelum dia sempat berbuat sesuatu, taring-taring sang serigala telah bersarang di tengkuknya. Tubuh biksu ini menggelepar-gelepar sesaat. Begitu Biao mencengkeram kepala biksu ini sampai hancur, nyawanya pun minggat seketika.
Setelah sejenak memandangi gelimpangan para korbannya yang tewas, siluman serigala ini mengeluarkan suara gerengan pelan. Sepertinya dia merasa puas atas kemenangannya. Kemudian siluman serigala ini berlari menuju ruang pesta untuk mencari korban-korban lainnya.