Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Zhiyuhan Pemuda Penyair


"Tong! Tong!.. Tong! Tong!" Suara kentongan dipukul bertalu di tengah malam buta, pertanda ada perampok. 


Warga desa Jilin terbangun dengan kepanikan. Para lelaki mengambil apapun yang bisa dipakai sebagai senjata.


"Tong! Tong! Tong!... Tong! Tong! Tong!" Kentongan tiga-tiga tanda kebakaran terdengar.


Kepala desa menyambar pedangnya, dia kemudian membangunkan anaknya yang baru berusia enam tahun dan lalu mengajaknya ke ruang belakang. Ada sebuah bangku panjang yang nampak usang di pojok ruangan.


Kepala desa tersebut menggeser bangku panjang itu dengan sebelah tangannya, terlihatlah lobang beranak tangga. "Zhiyuhan, masuklah! Lobang ini menuju ke gubuk di tepi sawah. Tetaplah di sana sampai pagi.!"


Rumah kepala desa tersebut memang berada di pinggir desa yang berdiri di bagian depan sebuah bukit kecil. Dan di belakang bukit itu terdapat persawahan yang luas, memang desa Jilin di kelilingi persawahan.


Kepala desa tersebut sudah tidak memiliki istri, sebab istrinya telah meninggal sesaat setelah melahirkan Zhiyuhan. Dia bantu seorang wanita tua yang dipekerjakannya untuk mengasuh Zhiyuhan sejak bayi, sebab jabatannya sebagai kepala desa membuatnya tidak bisa merawat Zhiyuhan sepanjang waktu.


Zhiyuhan menuruti perintah ayahnya itu. Dia tidak pernah menduga bahwa itu adalah terakhir kali dia melihat ayahnya.


"Mengganggu tidurku saja." Zhiyuhan berkata pelan sambil terus menelusuri lorong di dalam tanah. Sampailah dia di ujung lorong yang terlihat tertutupi semak belukar, Zhiyuhan lantas menyibak semak belukar tersebut dan lalu keluar. Di depannya terlihat berdiri sebuah gubuk.


Zhiyuhan melangkah memasuki gubuk dan kembali melanjutkan tidurnya. Dia tidak memperdulikan suara kentongan yang terus terdengar, seandainya perduli pun dia tidak tahu artinya.


**


Sinar matahari pagi menerobos memasuki celah kecil di dinding gubuk, Zhiyuhan terperanjat.


"Dimana aku? Kenapa aku tidur di sini?" Zhiyuhan bangkit dan keluar.


Bocah kecil itu berjalan dengan malas memutari bukit untuk menuju ke rumahnya. Baru seperempat jalan, matanya terbelalak ketika mendapati kondisi desanya. Kepulan asap masih membumbung tinggi.


Zhiyuhan segera berlari menuju rumahnya dan mendapati hal yang serupa. Rumahnya kini telah roboh, dengan puing-puing yang mengeluarkan asap.


"Ayah!! Bibi..." Zhiyuhan memanggil ayahnya dan pengasuhnya sampai suaranya serak. Hanya asap yang tertiup angin, yang membuat matanya semakin perih.


Zhiyuhan kemudian berlari menyusuri jalanan desa, tidak ada yang ditemuinya kecuali mayat-mayat yang bergelimpangan disana sini. Sampai mata kecilnya mendapati jasad terlentang, dengan kondisi dada yang tertancap pedang.


"Ayaah..!!!" Jeritan pilu Zhiyuhan mengangkasa.


Dua hari dua malam, anak kecil itu terus menunggui jasad ayahnya, dan di hari ketiga pandangannya gelap.


Zhiyuhan terbangun, dia mendapati seorang wanita tua yang seluruh rambutnya telah memutih sedang duduk bersila sambil mengunyah sesuatu yang membuat mulutnya merah.


"Hiks! Hiks! Sudah sadar kau rupanya bocah. Siapa namamu?"


"Namaku Xiao Zhiyuhan.. Lalu siapa nenek?"


Sejak saat itulah Xiao Zhiyuhan menuliskan kisah hidupnya sebagai seorang calon kultivator di bawah bimbingan nenek tersebut.


Zhiyuhan yang menyukai membaca syair, mulai senang membuat syair sendiri dan mendapatkan dukungan dari gurunya. Bahkan Zhiyuhan di buatkan teknik khusus oleh sang nenek untuk menjadikan syairnya sebagai jurus melumpuhkan lawan.


Sifat gurunya yang sedikit gila membuat Zhiyuhan tertular. Zhiyuhan baru tahu julukan gurunya saat dia turun gunung, yaitu Mawar Gila dari Gunung Wutai. Di juluki demikian karena tingkah dan perbuatannya yang membunuh siapa saja, yang membuat perkara dengannya. Selain itu jurusnya yang bernama Mawar Neraka, membuatnya di takuti oleh banyak kultivator benua daratan barat.


Dua puluh tahun Zhiyuhan di latih nenek Mawar Gila, dan akhirnya dia di beri perintah untuk turun gunung.


Tugas pertamanya yaitu mengabarkan kepada semua orang yang menjaga pecahan Pusaka Legenda, bahwa sebentar lagi akan muncul makhluk kegelapan yang akan membawa malapetaka. Dia diperintahkan untuk menyatukan semua pecahan Pusaka Legenda.


Nenek Mawar Gila mengetahui itu semua dari petunjuk alam. Ketika ia sedang bertapa menyatukan diri dengan alam, dia mendapatkan bisikan yang menyuruhnya agar menyatukan semua pecahan Pusaka Legenda demi dapat mencegah para makhluk kegelapan menguasai dunia.


Dari bisikan itu pula nenek Mawar Gila mengetahui bahwa Xiao Zhiyuhan, anak kecil yang di temukannya diantara puing-puing reruntuhan desa Jilin sebenarnya adalah reinkarnasi Dewa Penyair. Setelah mengetahui demikian, keterkejutan serta rasa penasarannya selama ini terhadap kecepatan perkembangan dan keistimewaan tubuh Zhiyuhan terjawab sudah.


Zhiyuhan mengerutkan dahi bukan karena heran terhadap kelakuan gurunya tersebut, tetapi dia tidak paham maksud dari perkataan gurunya itu.


Mengerti isi pikiran Zhiyuhan, nenek Mawar Gila menjelaskan jika orang-orang yang menempuh jalan kultivasi di benua daratan timur di sebut pendekar. Sedangkan untuk menjelaskan mengenai pecahan Pusaka Legenda, nenek Mawar Gila kemudian mengeluarkan tongkat hitam yang memiliki ukiran guratan indah berwarna merah menyala.


"Kau adalah pewarisku, maka dengan ini aku mewariskan tongkat pusaka ini kepadamu. Jagalah dengan baik-baik! Bawalah tongkat pusaka ini dan satukan dengan ke-empat pecahan tongkat lainnya." Nenek Mawar Gila menyerahkan tongkat tersebut kepada Zhiyuhan.


Zhiyuhan menerima tongkat pusaka tersebut dan menatapnya dengan penuh kekaguman, dia merasakan energi besar yang terpancar dari tongkat tersebut.


Nenek Mawar Gila menggeleng pelan, meski sudah memperkirakan bahwa Zhiyuhan dapat memegang tongkat pusaka tersebut tanpa kesulitan. Namun mengetahuinya langsung adalah hal yang berbeda.


Nenek Mawar Gila kemudian menghela nafas panjang lantas menceritakan asal usul tongkat tersebut, dia juga menjelaskan bagaimana tongkat Pusaka Legenda tersebut bisa ada di tangannya.


Puluhan ribu tahun silam, salah seorang murid leluhur pertama kultivator di tugaskan untuk menjaga pecahan Pusaka Legenda yang bersemayam di dalam goa yang berada di gunung Wutai. Murid tersebut adalah seorang kultivator wanita, yang berjuluk Bidara Kematian.


Tidak seperti murid lainnya, yang mana mereka semua membangun sekte guna memperkuat perlindungan pecahan Pusaka Legenda yang mereka jaga. Wanita itu lebih memilih menjaga pecahan Pusaka Legenda seorang diri, namun di sisa-sisa akhir hayatnya dia mengangkat seorang murid untuk dijadikan sebagai penerus untuk melanjutkan tugasnya.


Nenek Mawar Gila sendiri adalah pewaris ke 16 dari penjaga tongkat tersebut. Kini ia memutuskan untuk mewariskan tongkat tersebut kepada Zhiyuhan karena nenek Mawar Gila berniat bertapa untuk mencapai Pendekar Naga.


**** 


Mengingat pesan dari nenek Mawar Gila, pemuda lusuh yang bernama Xiao Zhiyuhan membatalkan niatnya yang ingin kembali ke benua daratan timur. Dia merasa ada baiknya menyambangi Markas Sekte Pedang Suci selagi dirinya sedang berada di benua daratan utara.


Tidak membutuhkan waktu lama, selepas mengetahui lokasi keberadaan Sekte Pedang Suci dari seseorang yang di tanyainya. Zhiyuhan kini sudah tiba di depan segel pelindung yang menyelubungi Markas Pedang Suci. Dia menggelengkan kepala ketika melihat banyaknya orang yang nampak sedang bernegosiasi dengan para penjaga gerbang agar diperbolehkan masuk.


"Maaf, kami benar-benar tidak bisa mengizinkan kalian masuk. Sebagai seorang tamu, seharusnya kalian juga patut menghormati keputusan tuan rumah." Ucap salah seorang penjaga dengan di aliri Qi, sehingga perkataannya dapat di dengar berjibun orang yang ada di depan gerbang.


Sebagian terlihat berdecak kesal, mereka menggeleng pelan lalu pasrah pergi. Sementara lainnya nampak masih bersikeras ingin masuk dengan mengutarakan berbagai alasan.


"Di atas tanah yang bertuan,


Segerombolan semut memaksa masuk meski tidak di izinkan.


Jika tidak diharapkan,


Mengapa semut itu menjadi melawan


Meski tahu, tiada arti jika bertahan."


Suara pemuda bernada menyindir menarik perhatian semua orang. Mereka mendapati seorang pemuda lusuh sedang melompat-lompat sambil menggaruk-garuk tubuhnya, seolah sedang mengusir rasa gatal.


Meski pemuda lusuh itu terlihat seperti pengemis namun semua orang mencurigai bahwa dia juga seorang kultivator, mengingat semua orang yang mendatangi Markas Pedang Suci semuanya adalah kultivator. Mereka nampak berusaha membaca tingkat praktik kultivasi pemuda lusuh tersebut, namun tidak ada satupun yang bisa mengukur kemampuannya.


"Siapa kau? Darimana kau berasal?"


Seorang pria gagah mendarat di hadapan Zhiyuhan, dia merasa heran tidak bisa mengukur kemampuan pemuda lusuh tersebut. Dia jelas tidak percaya Zhiyuhan adalah manusia biasa, melihat pemuda lusuh tersebut nampak tenang tidak merasa sungkan ataupun takut berdiri di antara sekumpulan kultivator.


"Tuan, bisakah anda membantuku menggaruk punggungku." Zhiyuhan membalikkan badan, memunggungi pria kekar itu sambil berusaha mengaruk punggungnya dengan kedua tangan.


Pri gagah tersebut mengerutkan dahi, dia nampak kesal dengan sikap pemuda lusuh itu. "Berani-beraninya kau menyuruhku..." Dia mengibaskan tangannya sehingga membuat Zhiyuhan terpental jauh. "Apa kau tidak tahu nama besarku. Aku adalah Musang Api dari Hutan Merah."


Sebagian orang terlihat ketakutan setelah mengetahui identitas pria gagah tersebut, nampaknya nama besar Musang Api bukanlah sebuah julukan belaka.


"Musang Api, jadi dia benar-benar masih hidup." Gumam salah seorang sambil beringsut mundur.