Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Membawa Tawanan


Tanpa kesulitan berarti, Arya dapat menembus perisai pelindung berlapis yang menyelubungi Markas Lembah Petir, semua itu dikarenakan dia telah mempunyai lencana resmi Sekte Lembah Petir. Sehingga kini Arya dapat keluar masuk Markas tersebut dengan bebas.


Meski demikian, Arya tetap diharuskan melalui proses pemeriksaan sebelum memasuki gerbang, sebab selepas terjadinya penyusupan sebagian besar anggota Sekte Lembah Petir kini dikerahkan untuk memperketat keamanan.


"Siapa yang kau bawa itu?"


Para penjaga nampak mencurigai Arya walaupun pemuda itu sudah menunjukkan lencana Sekte Lembah Petir pemberian dari Patriark Tao Lian. Sebuah lencana khusus yang setara dengan lencana para tetua. 


Kabar tentang penyusup yang dapat mengendalikan tubuh seseorang sudah tersebar luas, sehingga kini merekapun semakin waspada tidak mau kecolongan untuk yang kedua kalinya. Terlebih mereka juga belum mengenal Arya, dan lagi pemuda itu datang sambil menenteng seseorang yang tidak sadarkan diri, bersama tiga siluman dibelakangnya.


"Orang ini akan ku serahkan pada Patriark Tao Lian." Arya bersikap tenang seraya mengangkat tubuh Hui Gan layaknya menenteng tikus mati, seolah memamerkannya pada para penjaga.


Melihat orang yang bawa Arya berpakaian serba merah, dan memiliki lambang yang tidak asing bagi sebagian mereka. Membuat para penjaga tersebut semakin mencurigai pemuda itu.


"Namamu Li Xian, ya.. baiklah tunggulah sebentar. Kami akan melaporkannya dulu pada tetua."


Arya dibuat keheranan mengapa para penjaga tersebut tidak membiarkannya masuk dan malah memanggil tetua mereka.


Tidak berselang lama, gerbang sedikit terbuka dan muncul seorang pria berambut merah mendekat bersama penjaga yang tadi pergi melapor.


Pria berambut merah tersebut nampaknya mengenali Arya. Dia tersenyum hangat saat melihat pemuda itu, namun senyumannya menghilang berganti kening yang mengkerut saat matanya beralih menatap seseorang yang di tenteng pemuda itu. Dari pakaian yang di kenakan orang tersebut, pria berambut merah itupun langsung dapat mengetahui jika orang itu adalah anggota Sekte Iblis Berdarah.


Selepas mengamati tubuh Arya dengan teliti dan tidak mendapati keanehan, pria berambut merah itupun kemudian mempersilahkan Arya masuk.


"Tabib Xian, apa orang yang kau bawa itu adalah biang dari semua ini." Tanya pria berambut merah, yang tidak lain adalah tetua Sekte Lembah Petir, bernama Liao Fan.


Tanpa menghentikan langkah, Arya menoleh dan mengangguk. "Untuk selebihnya, kita akan segera tahu nanti, tetua."


Sejenak tetua Liao Fan berhenti, dia menatap punggung Arya yang sedang menyeret tubuh Hui Gan, meninggalkan bekas garis tanah memanjang akibat gesekan dari tubuh Hui Gan pada tanah basah tersebut.


Tetua Liao Fan menggeleng, dia tidak habis pikir bagaimana cara pemuda itu dapat melumpuhkan anggota Iblis Berdarah yang ia telah ukur kemampuannya berada di tahap Pendekar Suci. Terlebih dia juga tidak melihat penampilan Arya seperti habis melakukan pertarungan, tubuh pemuda itu terlihat bersih dan rapi tanpa adanya luka sedikitpun.


******* 


Huang She mendengus kesal sebab lelaki yang memperkenalkan dirinya bernama Ye Han tetap mengejar mereka. Namun senyuman gadis itu segera mengembang saat mendapati Ye Han tidak mampu terbang lebih tinggi.


"Lelaki tak tahu diri!! Dasar tua bangka." Huang She menyeringai, sedikit melirik ke arah Ye Han yang terlihat masih berusaha mengejar namun akhirnya dia kembali turun.


Mengingat perkataan Ye Han, yang dengan percaya dirinya mengatakan akan memberikan banyak sumberdaya dan mengabulkan apapun permintaan mereka, asalkan dia dan Liu Wei bersedia diperistri. Membuat Huang She ingin menampar orang itu, namun memandang kedudukan Ye Han sebagai tetua sekaligus anak dari Patriark Sekte Ombak Karang. Akhirnya Huang She terpaksa hanya bisa memendam kekesalannya.


"Apa kau sudah memutuskan dan tertarik menjadi istrinya?" Liu Wei tersenyum mengejek sambil melirik Huang She yang masih menoleh ke arah Ye Han.


"Tertarik padanya? Hah.. aku sudah..." Huang She tidak meneruskan ucapannya sebab dirinya di kejutkan dengan kelebatan sesuatu yang melesat cepat melewati dirinya.


"Sudah berakhir ya.." Arya memposisikan tubuhnya dari rebahan menjadi duduk mengambang. Pemuda itu merentangkan kedua tangannya, meregangkan otot-ototnya seolah baru saja terbangun dari tidur.


"Tuan, aku belum puas bermain-main. Kenapa..."


"Tugasku sudah berakhir. Pemuda itu menyuruh kalian kembali ke Markas Lembah Petir." Arya menyela perkataan Honglong. Tepat setelah dia selesai berkata demikian, tubuh Arya berubah menjadi butiran-butiran cahaya keemasan sebelum akhirnya menghilang.


Honglong mematung, dia baru sadar jika Arya yang tadi ada di hadapannya ternyata hanyalah kloningan. Sebelumnya Honglong mengira jika Arya menggunakan sebuah teknik untuk membuat pasukan mayat hidup tidak dapat bergerak, sebab itulah Honglong menemui pemuda itu dan memintanya agar menarik tekniknya.


Lantas Honglong mengalihkan pandangannya ke bawah, ke tempat Hulao, Griffinhan dan Wouven berada. "Kemana perginya mereka..?"


Sesampainya di samping Honglong, Liu Wei dan Huang She langsung mempertanyakan kemana perginya Arya. Dan Honglong pun menjawab jika Arya menyuruh mereka kembali ke Markas Lembah Petir.


"Sialan, siapa mereka sebenarnya?" Ye Han berdecak kesal, dia menatap ke atas dengan posisi mengambang di udara. 


Ye Han terus memperhatikan kedua gadis yang membuat hatinya bergejolak penuh gairah, sebelum melesat terbang mengikuti kedua gadis tersebut.


Tetapi setelah sadar jika arah tujuan kedua gadis itu adalah Markas Lembah Petir, Ye Han lantas berhenti dan tersenyum kecut. Diapun kemudian kembali ke area pertempuran.


"Kemana kedua burung itu?" Ye Han mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Griffinhan dan Wouven. Sebelumnya dia berencana membuat kedua burung tersebut hilang ingatan dan mengikatnya dengan teknik tingkat tinggi yang dimiliki Sektenya.


Mendapati semua yang di inginkannya tak bisa didapatkannya sekarang, Ye Han kemudian terbang ke dalam hutan sembari mulai memikirkan siasat untuk bisa mendapatkan dua siluman burung yang di incarnya, termasuk untuk membuat Huang She dan Liu Wei bersedia menjadi istrinya.


Pencarian dihentikan saat mendapatkan kabar jika pasukan mayat hidup sudah berhenti bergerak dan tidak lagi menyerang. Para Patriark langsung menyadari jika seseorang yang mengendalikan mayat hidup telah pergi atau mungkin sudah dikalahkan seseorang.


Sebelum meninggalkan area pertempuran, para prajurit dan Pendekar bersama-sama membuat beberapa lubang tanah untuk menguburkan jasad-jasad serta kerangka mayat hidup yang bergelimpangan, agar tidak menimbulkan wabah penyakit serta polusi udara.


Setelah penguburan selesai, semua Pendekar, prajurit, para tetua, Patriark serta para petinggi pemerintahan kembali ke tempat perkemahan. Mereka yang terluka segera mendapatkan penanganan, sementara yang tewas di bawa kembali ke tempat asal mereka untuk dipertemukan dengan sanak saudaranya dan mendapatkan pemakaman yang layak.


Meski pertempuran telah usai, namun tidak ada kebahagiaan yang terlihat dari wajah semua orang. Hanya kelelahan, kesedihan serta kebingungan yang tergambar jelas dari ekspresi mereka semua. Bagaimana tidak, penyerangan mayat hidup sama sekali tidak pernah diperkirakan oleh mereka. Terlebih sampai pertempuran berakhirpun mereka bahkan tidak dapat menemukan siapa pelaku dan motif dibalik penyerangan tersebut.


"Terimakasih telah membantu kami, dan maaf jika karena kejadian ini anggota kalian banyak yang terluka dan bahkan meninggal. Karena itu kami akan mengundang kalian ke Markas untuk membicarakan terkait masalah ini serta memberikan kompensasi yang layak atas semua bantuan kalian." Tetua Qin Si Juan bangkit dari duduknya, menelangkupkan tangan ke depan lalu sedikit menundukkan badan sebanyak tiga kali.


Hal serupa juga di lakukan tetua Lin Hai dan 2 tetua Lembah Petir lainnya.


"Tidak perlu sungkan tetua. Kita ini sama-sama aliran putih, apalagi kita satu Aliansi, jadi sudah sepantasnya kita saling membantu." Patriark Gu Ta Sian bangkit dan menelangkupkan tangannya kearah barisan para Tetua Lembah Petir.


"Yang di katakan Patriark Gu Ta Sian benar. Jika kejadian ini terjadi di sekteku, aku yakin kalian juga pasti akan membantu kami." Patriark Liu Bei berdiri sambil menelangkupkan tangan.


"Sekali lagi kami ucapkan terimakasih banyak atas bantuan kalian. Kalau begitu, mari ikuti kami." Tetua Qin Si Juan tersenyum hangat.