Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Mendapatkan Teman Perjalanan


Masih sambil mencengkram bahu Arya, seakan tak akan membiarkan pemuda itu kabur, si kakek Lengan Api menoleh dan berkata kepada semua prajurit, “Seperti yang kalian lihat sendiri, urusan disini telah selesai. Orang yang kita cari telah tewas. Sekarang kalian kembalilah ke desa. Kami akan melanjutkan perjalanan. Terimakasih atas kebaikan kalian terhadap kami selama kami berada di desa kalian.”


Seakan terbangun dari mimpi buruk yang membuat badan mereka tak berhenti bergetar dan lemas, para prajurit segera mengangguk. Mereka serentak menelangkupkan tangan sambil membungkuk. Setelah itu merekapun segera berlalu tanpa ada yang berani mengucapkan sepatah kata pun.


Si Lengan Api masih mengikuti para prajurit tersebut dengan pandangan matanya. Barulah ketika prajurit itu lenyap di balik semak belukar dan pepohonan besar, ia kemudian menatap kepada Arya.


“Darimana kau mempelajari ilmu terkutuk itu?” ucap si kakek dengan tegas. Sepasang matanya yang juling memandang aneh terhadap Arya. Si pemuda yang awalnya tenang-tenang, tampak senyum-senyum geli melihat bola mata si kakek yang tak bisa fokus pada satu arah.


“Dari acara pelelangan.” jawab Arya jujur.


Si kakek kernyitkan mukanya, ia merasa jengkel dengan tanggapan si pemuda terhadapnya yang terkesan mengejek dengan senyum-senyum. Terlebih jawaban si pemuda membuatnya tak bisa percaya, bagaimana mungkin teknik terkutuk yang sangat mengerikan itu bisa sampai berada dalam acara pelelangan.


“Jangan bercanda anak muda! Aku serius!” bentak kakek itu dengan matanya yang semakin menyorot tajam. Namun sepasang bola matanya yang juling itu malah terkesan lucu.


Karena tak dapat menahan tawanya, Arya terpaksa membekap mulutnya sendiri dengan tangan kanan.


Jengkel atas sikap si pemuda, kakek Lengan Api tiba-tiba dengan kecepatan luar biasa memukul perut si pemuda dengan tinju kanannya. Alangkah kagetnya ia, ketika merasakan bahwa tubuh pemuda yang dipukulnya tersebut begitu keras bahkan melebihi kerasnya tembok baja sekalipun. Justru tangannya lah yang kini terasa remuk oleh pukulannya sendiri. Ia memang tak mengerahkan seluruh kemampuannya karena khawatir kalau-kalau si pemuda akan tewas. Akan tetapi ia sama sekali tak menyangka bahwa pemuda yang berjuluk Naga Emas ini memiliki kemampuan yang diluar perkiraannya.


Dengan meringis menahan sakit, kakek ini mengerahkan tekniknya untuk mencuri pikiran si pemuda. Akan tetapi seperti yang sudah-sudah, usahanya kali inipun juga berujung pada kegagalan.


Tiba-tiba terdengar Arya berkata, “Kek, bukan maksudku berlaku kurang sopan menertawaimu. Tapi bagaimanapun maafkan aku, aku tak bisa menahan diri saat melihat matamu itu. Sebaiknya kakek tak usah berpura-pura lagi. Aku tahu sebenarnya matamu itu tidaklah juling seperti yang ku lihat saat ini.”


Dada Gao Lishi nama dari si kakek Lengan Api itu menjadi berdesir. Ia tak habis pikir bagaimana cara pemuda ini berkali-kali dapat mengetahui rahasianya dengan tepat. Pertama mengenai dirinya yang berjuluk Si Lengan Api, kedua mengenai pekerjaannya sebagai nelayan, dan sekarang si pemuda juga mengetahui jika sebenarnya dia menyamarkan dirinya berpura-pura bermata juling.


“Tak mungkin dia membaca pikiranku.” pikirnya. Ia sangat yakin bahwa sama sekali ia tak merasakan adanya energi dari luar yang menerobos masuk ke dalam pikirannya.


Maka timbullah dugaannya bahwa pemuda dihadapannya kini adalah seorang kultivator tua yang juga menyamarkan diri. Kuat dugaannya bahwa pemuda ini memiliki kemampuan di atas dirinya.


Sambil tersungut-sungut, si kakek kemudian menggerakkan tangan kanannya mengusap mukanya. Ketika usapan itu selesai, kini nampaklah bahwa wajah kakek yang berjuluk Si Lengan Api tersebut telah berubah total. Sepasang matanya yang juling menjadi normal, malah terlihat indah berkilat-kilat. Wajahnya yang keriput agak sedikit terlihat lebih muda. Bentuk mukanya juga berubah. Nyata-lah jika semasa mudanya, kakek ini memiliki paras yang tampan. Ia sudah tidak berdiri dengan sedikit membungkuk, tetapi sudah tegak gagah seperti layaknya lelaki berusia muda.


Nie Zha yang menyaksikan itu jadi terbengong, bibirnya yang merah mengairahk*n tampak terbuka sedikit sangking terkejutnya. Gadis ini diam-diam memuji ketampanan kakek angkatnya itu. “Apa ini hanya ilusi?” pikirnya sambil mencubit lengannya sendiri.


“Nah sekarang kan lebih enak dipandang.” ucap Arya, “Ku yakin setelah melihat wajah kakek, pasti banyak nenek-nenek yang tergila-gila padamu. Bahkan gadis-gadis akan berebutan...” pemuda ini terkekeh-kekeh.


Diam-diam kakek si Lengan Api bangga terhadap dirinya sendiri. Pemuda tampan dihadapannya saja mengakui ketampanannya yang tua renta. Ia tersenyum namun hanya sekejapan mata, setelah itu dia kembali menatap tajam kepada si pemuda. “Diamlah, aku serius bocah! Jawablah dengan jujur pertanyaanku tadi!”


Mendadak wajah Arya juga tampak bersungguh-sungguh, “Pertanyaanmu tadi sudah ku jawab dengan apa adanya!” ucapnya lugas.


Si kakek menyeringai sinis, “Aku akan percaya setelah aku membuktikannya sendiri.”


Arya menaikkan sebelah alisnya, “Membuktikan dengan cara apa?”


“Biarkan aku membaca pikiranmu!” jawab si kakek singkat.


Arya geleng-gelengkan kepalanya, “Jika kakek memang bisa membaca pikiranku, maka lakukanlah.”


Si Lengan Api mendengus, dengan jengkel ia berkata, “Bagaimana aku bisa membaca pikiranmu, kau saja menutup pikiranmu dari teknikku.”


“Oooo...” Arya angguk-anggukan kepalanya, “Memangnya kalau kakek bisa membaca pikiranku, kakek akan percaya padaku begitu saja? Bukankah aku bisa saja menciptakan bayangan-bayangan sendiri dalam pikiranku sehingga bisa menipumu?”


Dahi si kakek Lengan Api berkerut, ia menarik nafas dalam-dalam, mengangguk pelan membenarkan ucapan si pemuda. Lalu katanya, “Kau memang benar, tapi kenapa kau bisa mengenaliku? Siapa kau sebenarnya?”


“Hmmm, sekarang akan aku jelaskan.” Arya mengalihkan pandangannya ke atas, ia menarik nafas lalu melanjutkan, “Apakah kakek masih ingat pada pertarungan di tepi pantai ketika ada seorang bertopeng putih yang bertarung dengan puluhan pendekar?”


Si kakek terdiam, dia mencoba mengingat-ingat kejadian tersebut. Karena ia memiliki banyak pengalaman dalam kehidupannya yang sudah berusia ratusan tahun, maka untuk mengingat kejadian itu dia harus berusaha keras. Akan tetapi sebelum dia dapat mengingatnya, Arya kembali melanjutkan perkataannya,


“Pada saat itu, kakek diam-diam melihat pertarungan dari atas bukit. Tapi kakek tak menyangka bahwa orang bertopeng putih itu ternyata dapat mengetahui jika kakek mengawasinya. Maka setelah orang bertopeng itu membereskan lawan-lawannya, ia lalu menemui anda di puncak bukit yang adalah kediamanmu.”


“Awalnya kalian sempat bersitegang, dan akan saling bertarung ketika orang bertopeng itu mengira bahwa anda adalah salah seorang kultivator yang mengejarnya dan hendak membunuhnya. Tapi setelah dapat membaca pikiran kakek, maka ia mengenalkan dirinya sebagai Pendekar Rubah Putih. Dari pertemuan itu akhirnya kalian menjadi dekat karena sama-sama dari benua daratan tengah.” sampai disini Arya berhenti bercerita. Ia sengaja tidak menceritakan dengan rinci karena diantara kakeknya dengan si Lengan Api memiliki kenangan yang terlalu panjang untuk di ceritakan.


“Jadi kau adalah si rubah putih itu?” kata Kakek Lengan Api dengan nada terkejut.


Arya mengalihkan pandangannya yang tadinya menatap ke atas, kini memandang kepada si kakek. Ia tersenyum lalu menggeleng, “Bukan, tapi aku adalah cucu angkatnya.”


Wajah si Lengan Api yang tadinya tegang berangsur-angsur melunak. Cengkraman tangannya pada bahu si pemuda, ia lepaskan. Kakek ini tersenyum, “Aku percaya padamu, karena pertemuan itu hanya diketahui oleh kami berdua. Jadi ilmu terkutuk yang kau miliki itu adalah warisan dari kakekmu itu?”


Arya menggeleng, “Aku sudah berkata jujur bahwa teknik yang anda sebut terkutuk itu aku dapatkan dari pelelangan. Silahkan jika kakek tetap tak mau mempercayaiku, tapi aku benar-benar telah berkata terus terang.”


Si kakek Lengan Api angguk-anggukan kepalanya, “Bahaya, bahaya sekali jika teknik itu jatuh dan dikuasai orang-orang aliran hitam. Bahkan tadi ku lihat sendiri ketika kau menggunakan teknik terkutuk itu, terasa sekali hawa iblis terpancar dari tubuhmu.”


Si kakek tampak kagum memandangi Arya, begitu pula Nie Zha yang sedari tadi diam berdiri dua tombak dari si pemuda dan kakek angkatnya itu.


“Lalu dimana kakekmu saat ini? Aku sudah lama tak mendengar kabarnya, bahkan dia sama sekali sudah tidak pernah menyambangi kediamanku lagi.”


“Kakek telah kembali ke benua daratan tengah.” jawab Arya. Tiba-tiba dia teringat akan petunjuk yang didapatkannya dari meditasinya. Petunjuk tentang dirinya yang ditelan asap kegelapan. Ia tidak bisa mengartikan petunjuk itu, namun yang pasti sesuatu yang buruk akan menimpanya.


Melihat raut wajah Arya yang tiba-tiba suram, si kakek Lengan Api menepuk bahu pemuda itu. “Tak usah kau khawatirkan kakekmu itu, dia adalah seorang yang sangat hebat.”


Arya tersenyum dan didengarnya si kakek kembali berkata, “Lalu sekarang apa yang menjadi tujuanmu. Melihat dari sikapmu dan segala kabar yang ku dengar atas semua sepak terjangmu, aku menduga bahwa kau sedang mencari keberadaan markas Sekte Iblis Berdarah. Apa dugaanku ini benar?”


“Kau benar kek.. maafkan aku, sebenarnya aku sempat membaca pikiran kakek. Bukankah, tujuan kemunculan kakek selain untuk mengantarkan gadis itu, kakek juga berencana menghancurkan Sekte Iblis Berdarah yang telah meresahkan banyak orang di kekaisaran ini?”


Kakek Lengan Api tersenyum kecut, “Kau benar-benar bocah tak tahu sopan santun, mencuri pikiran orang tua! Tapi harus aku akui, meskipun aku telah menahan diri untuk tidak ikut campur lagi dalam urusan rimba persilatan, namun sebagai orang yang pernah hidup dalam lingkungan rimba persilatan hatiku sangat gelisah, aku sudah tidak tahan lagi terus-terusan diam dan berpangku tangan melihat keangkara-murkaan menindas penduduk lemah dan tidak bersalah. Sebagai seorang kesatria adalah suatu kebanggaan bisa mati dalam pertarungan daripada mati diatas pembaringan dan melihat orang-orang di sekitarku tertindas.”


Arya tersenyum, dia kagum pada semangat juang kakek ini, “Kalau begitu, apakah kakek mau bergabung denganku untuk menghancurkan mereka.”


“Memang itu yang aku harapkan,” kakek Lengan Api menoleh ke arah Nie Zha, “Tapi aku harus mengantarkannya ke rumahnya dulu. Hatiku tak akan bisa tenang jika dia melakukan perjalanan sendirian.”


Namun tiba-tiba Nie Zha berkata, “Aku juga ikut dengan kalian menghancurkan sekte itu. Selagi aku di sini, ku pikir tak ada salahnya jika sekalian mencari pengalaman.”


Dahi kakek Lengan Api mengerut, tampak sekali dia sangat tidak setuju atas keinginan cucu angkatnya tersebut, “Nie Zha, pengalaman adalah untuk menambah wawasan. Tapi yang kita hadapi itu adalah sebuah pertaruhan antara hidup dan mati. Aku tak akan menyetujui keinginanmu! Kau harus kembali, keluargamu dan teman-temanmu pasti sangat mengkhawatirkan dirimu.”


Wajah Nie Zha nampak cemberut, gadis ini memutar tubuhnya membelakangi.


“Bagaimana ini,..” desis kakek Lengan Api, dia sangat paham akan sifat cucu angkatnya itu. Jika keinginannya ditolak pasti gadis itu akan melakukan berbagai cara untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Kalaupun sekarang ia dapat dibujuk untuk pulang, tapi tidak menutup kemungkinan dalam perjalanan nanti gadis itu akan kabur.


Sebenarnya yang menghendaki kepulangan si gadis adalah kakek Lengan Api. Nie Zha sendiri dari awal memang ingin berpetualang mencari pengalaman terlebih dahulu, karena untuk kembalipun akan sia-sia saja baginya, bahkan akan membuka kenangan luka mendalam yang menggores hatinya. Kenangan pahit atas kematian bibi serta teman-temannya.


“Biarkan saja dia ikut kek,”


Ucapan Arya itu, serta-merta membuat Kakek Lengan Api menatap marah kepada si pemuda. Akan tetapi ia juga bingung, membawa serta cucu angkatnya dalam penyerangan ke markas Iblis Berdarah sama saja seperti menghendaki kematian atas diri cucunya sendiri. Tapi jika memaksakan cucunya itu, sama saja akan melukai hati gadis yang sangat di sayangi seperti cucunya sendiri tersebut.


Seolah mengerti perasaan hati si kakek, Arya kemudian berkata, “Ku yakin kakek juga dapat melihat pancaran energi besar yang tersimpan didalam tubuh gadis itu, bukan? Kakek tak perlu mengkhawatirkan keselamatannya, aku akan berusaha melindunginya. Lagipula yang melakukan penyerangan bukan hanya kita. Tapi anggota Sekte Lembah Petir dan pasukan lainnya juga akan menyusul membantu kita.”


Nampak keragu-raguan dari wajah si kakek, namun Arya kembali berkata.


“Aku juga akan membantu gadis itu supaya energi yang tersimpan didalam tubuhnya itu dapat dia gunakan.”


Mendengar itu, kakek Lengan Api menjadi semakin bimbang. Ia memang tahu bahwa selain memiliki kemampuan bertarung, pemuda dihadapannya itu juga memiliki keahlian dalam pengobatan. ‘Tapi apa hubungannya pengobatan dengan kekuatan energi’ inilah yang membuat si kakek jadi heran sendiri atas pernyataan si pemuda.


Pada saat itu, Nie Zha tahu-tahu sudah berkelebat pergi. Maka si kakek segera mengejar.


Sambil geleng-gelengkan kepalanya, Arya berjalan perlahan ke arah mereka pergi.


Setelah berhasil mengejar Nie Zha, kakek Lengan Api segera menyambar tangan cucunya itu, lalu bertanya, “Mau kemana kau, Nie Zha?”


Nie Zha perlihatkan muka cemberut, sambil membuang muka ia berkata, “Kalau kakek tak mau mengajakku, aku akan pergi sendiri mencari markas Sekte Iblis itu.”


Kakek Lengan Api jadi garuk-garuk rambutnya. Meskipun Nie Zha adalah cucu angkatnya namun dia amat menyayangi gadis ini. Diam-diam dia menyesalkan pembicaraan yang berlangsung antara dirinya dengan Arya. Pembicaraan yang didengar oleh Nie Zha, serta pembicaraan yang telah membeberkan rencananya. Maka dengan terpaksa akhirnya si kakek Lengan Api menganggukkan kepalanya,


“Baiklah, kau boleh ikut tapi kau harus ingat, tetaplah berada didekat kakekmu ini. Aku tak ingin merasa bersalah jika terjadi sesuatu denganmu.”


Mendengar itu, diam-diam Nie Zha tersenyum dalam hati. Ia memang telah merencanakan semua ini, sebenarnya ia memang tidak benar-benar hendak pergi. Jikapun pergi, dia juga pastinya kebingungan tidak tahu harus kemana. Kekaisaran Ming sangatlah asing baginya.


Nie Zha menolehkan wajahnya yang tadinya cemberut kini tampak tersenyum manis. Senyuman gadis jelita ini seolah-olah membuat alam menjadi bersinar. Hati kakek Lengan Api menjadi bahagia karenanya.


“Memang kakek yang terbaik.. pasti, pasti aku akan selalu di dekat kakek. Kalau bukan kakek, lalu siapa lagi yang akan melindungiku.” ucap gadis ini dengan nada manja.


“Aku juga akan dengan senang hati melindungi gadis secantik dirimu..”


Tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda. Tak berselang lama, muncullah Arya turun dari atas, hinggap berdiri di samping kakek Lengan Api.


Wajah Nie Zha seketika merona merah, dengan cepat dia buang mukanya ke samping. Dengan ketus dia berkata, “Siapa sudi dekat-dekat pemuda sekejam dirimu.."


Arya perdengarkan tawa pendek, lalu katanya kepada kakek Lengan Api. “Mari kek, ikuti aku. Aku sudah tahu dimana sarang mereka berada.”


Demikianlah mereka kemudian melakukan perjalanan bersama, menerabas kepadatan hutan menuju ke arah barat laut.