
Ketika Nie Zha menyusul dan sembulkan kepalanya dipintu, tampak si kakek Cambuk Sakti telah berdiri tegak dihalaman dengan pandangan mata tajam menatap nenek tua dihadapannya. Suasana tampak tegang!
Seperti juga tegangnya hati Nie Zha yang menatap kedua orang yang saling berhadapan itu. “Apakah yang terjadi? Mengapa mereka berubah seperti dua orang musuh yang akan mengadu nyawa?” desis si gadis keheranan.
Saat itu si Cambuk Sakti telah buka suara. Suara yang kedengarannya parau, yang ditujukan kepada si nenek tua sahabatnya tersebut.
“Bagus, sungguh tak kukira seujung rambutpun, kalau semua ini adalah kau yang mendalangi! Kau yang menjadi biang racunnya! Sungguh benar-benar tak ku sangka...!"
Suara parau si kakek Cambuk Sakti membelah kesepian pantai, seperti menindih deburan-deburan ombak yang memecah di batu karang.
“Hm, mana bocah perempuan cucumu, sobat Cambuk tua? Bukankah kau akan membawanya pulang ke benua daratan selatan?” tanya si Musang Betina Mata Empat, tanpa mengacuhkan kata-kata laki-laki tua tersebut.
“Tak usah main sandiwara lagi, nenek keriput!” sahut si Cambuk Sakti mendengus. “Bukankah dia sudah kau bawa pulang beberapa bulan yang lalu? Hm, terima kasih atas kesediaanmu mengantarnya pada orang tuanya. Akan tetapi katakanlah, apa sebenarnya maksudmu dengan sandiwara ini? Apa maksud kepergian Lu Chan? Dan apa sebabnya kau memperalat Jin Yi Wei?”
Pertanyaan si kakek dijawab dengan suara tertawa wanita tua ini tergelak-gelak. Lalu sahutnya.
“Sobat Cambuk tua...! Baiklah. Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Karena ku kira telah tiba saatnya aku membuka rahasia! Tapi aku akan bertanya dulu padamu. Apakah yang kau lakukan terhadap Jin Yi Wei?”
“Heh, aku telah mengirim nyawanya ke Neraka!" sahut si kakek datar. Ternyata walaupun didalam dada laki-laki tua itu penuh kemarahan, tapi dia tampak seperti bicara biasa saja.
“Bagus, itulah yang memang aku harapkan! Tahukah kau siapakah Jin Yi Wei itu? Dia adalah anak dari perempuan piaraanmu. Perempuan yang kau cintai setinggi gunung sedalam laut itu! Baiklah, aku buka rahasia! Nah, dengarlah, agar kau ketahui, perempuan yang kau cintai itu telah ku kirim lebih dulu nyawanya ke alam baka!”
Pernyataan si Musang Betina Mata Empat membuat mata kakek ini jadi melotot lebar. Seperti mendengar petir disiang hari saja. Serta-merta laki-laki tua ini berseru kaget.
“Dan... agar kau ketahui pula, bahwa Lu Chan adalah anakmu. Anak yang keluar dari rahimku delapan puluh tahun yang lalu! Dialah darah dagingmu sendiri!”
Lagi-lagi si Cambuk Sakti terperangah kaget. Kali ini kakinya melangkah tersurut beberapa langkah ke belakang secara tak disadariya. Jantungnya terasa bergoncang keras.
“Benarkah apa yang kau katakan itu, Dongming?” tanya si kakek dengan membelalak. Untuk pertama kalinya sejak tujuh puluh tahun lebih dia memanggil nama pada perempuan tua itu.
“Hihih...hih... aku mengatakan yang sebenarnya!” sahut si nenek serius. Sinar matanya tajam menatap kakek tua tersebut.
“Jadi... jadi.. waktu itu kau... kau hamil?” pekik si Cambuk Sakti.
“Sangat memalukan bila kita membicarakan kisah lama itu, Cambuk tua!" sahut si nenek seraya menengadah, menatap langit.
“Akan tetapi itulah kenyataannya! Selama ini aku memang sengaja menutup rahasia. Karena aku akan membalas sakit hatiku padamu. Kau masih tetap ku anggap sahabatku, walau dulu kau pernah jadi kekasihku...! Kini aku puas sudah, karena manusia-manusia yang ku benci telah mampus! Nah, satu lagi pertanyaanmu yang belum aku jawab adalah kepergian Lu Chan. Dia memang telah ku suruh pergi sejauh mungkin. Biarlah dia hidup menjadi seorang pengembara. Dan... ku kira wajar kalau dia mewarisi senjata pusaka Cambuk Deburan Jiwa, bukan?”
Tulang-tulang persendian tubuh si Cambuk Sakti seperti dicabuti mendengar keterangan si nenek. Keringat sebesar-besar kacang menetes di dahinya. Suaranya tergetar ketika berkata.
“Jadi... jadi.. apa yang akan kau lakukan sekarang?”
Musang Betina Mata Empat tertawa tergelak. Suara tertawa yang terdengar seperti mengiris jantung laki-laki tua itu. Tubuh wanita tua ini bergoyang-goyang. Ternyata dibalik tertawanya, si Musang Betina Mata Empat telah menahan perasaan pedih, dendam, benci dan kemarahan yang menjadi satu. Tiba-tiba dia berhenti tertawa. Wajahnya kelam membesi. Sepasang matanya menatap tajam kepada kakek tua dihadapannya.
“Inilah saatnya kita menentukan siapa diantara kita yang akan menemui kematian! Karena tempat ini memang telah aku rencanakan untuk menjadi ajang pertarungan kita!” suara si Musang Betina tua ini seperti menghujam ke jantung laki-laki tua itu.
Dia termangu beberapa saat. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah.
“Akan tetapi ada satu syarat yang harus kau penuhi...” kata si nenek tiba-tiba, kemudian menoleh pada Nie Zha.
“Aku telah mengangkat gadis ini menjadi muridku. Dan aku telah pula mewariskan beberapa jurus ilmu kepandaianku padanya. Permintaanku adalah, bila aku yang akan menemui kematian, jadikanlah dia muridmu!”
“Bagaimana kalau ternyata aku yang tewas?” sahut si kakek Cambuk Sakti dengan suara parau. Pertanyaan itu membuat wanita tua ini jadi termenung.
“Kalau begitu kau harus mengajarinya beberapa jurus ilmu kepadaianmu padanya terlebih dulu...” kata si nenek lirih.
Ketegangan yang sudah memuncak itu perlahan-lahan sirna. Wanita tua ini ternyata telah menarik kembali kekuatan energi Qi nya dikedua lengan dan kaki yang siap dipergunakan untuk bertempur dengan si Cambuk Sakti.
“Untuk sementara pertarungan ini kita tunda...” katanya lirih, lalu balikkan tubuh dan melompat ke pintu gubuk.
Si Cambuk Sakti mendadak tertawa tergelak-gelak. Tertawa yang teramat geli hingga kedua matanya sampai-sampai mengeluarkan air mata.
Si nenek sontak menahan langkahnya. Lalu balikkan tubuh dan menatap si Cambuk Sakti. Ternyata sepasang mata wanita tua ini telah berkaca-kaca. Sejenak dia tertegun memandang laki-laki yang pernah dicintainya itu. Puluhan tahun dia memendam rasa cinta itu. Tapi kini perasaan itu telah mati! Dia hanya menunggu saat pertarungan untuk melampiaskan kekecewaan hatinya. Hanya itulah yang bisa menyelesaikan persoalan.
Benar saja seperti yang dikatakan si nenek Musang Betina Mata Empat. Si Cambuk Sakti memang seorang yang paling sabar diatas dunia ini. (kata si nenek tentunya). Dengan tekun dia mengajari Nie Zha tiga jurus ilmu kepadaiannya yang paling luar biasa. Yaitu pertama jurus Cambuk Sakti Membongkar Bukit. Kedua jurus Cambuk Sakti Menyambar Bangau. Ketika jurus Cambuk Sakti Menggunting Badai.
Ketiga jurus itu adalah jurus yang paling diandalkan si kakek dan yang paling dahsyat. Ketiga jurus ini jarang dipergunakan kalau tak menjumpai lawan yang tinggi ilmunya.
Gadis bernama Nie Zha itu nasibnya memang sangat mujur. Tak ada angin tak ada hujan, tahu-tahu dua orang kakek dan nenek rela memberikan ilmunya. Walaupun dengan melalui persoalan rumit yang diam-diam terselubung diantara keduanya.
Nasib baik yang muncul secara kebetulan itu tak disia-siakan oleh Nie Zha. Dengan sepenuh hati dia mempelajari ketiga jurus si kakek Cambuk Sakti. Gadis itu seolah-olah menemukan durian runtuh. Secara kebetulan dia berotak cerdas. Bahkan kecerdasannya sangat luar biasa. Kalau mempelajari jurus-jurus dari si nenek, dia hanya perlu waktu setengah bulan, tapi ketiga jurus si Cambuk Sakti dapat dikuasainya dalam waktu kurang dari satu bulan kurang lima hari. Hal itu membuat si kakek jadi terkejut juga terkagum-kagum.
Si Cambuk Sakti menghela napas. “Aaih, tak ku sangka dunia ini penuh kekacauan! Aku sendiri telah terlibat dalam kekacauan. Setelah kau berhasil mempelajari ketiga jurusku, aku segera akan menghadapi satu pertarungan maut yang agaknya sukar terhindarkan!” kata si kakek dengan tersenyum pedih.
“Kekacauan atau kesukaran dalam hidup adalah lumrah. Tapi kalau sampai harus terjadi pertumpahan darah memang sangat disesalkan. Apakah tak ada jalan lain selain itu? Kukira sebaiknya kakek mencari jalan damai...!" ujar Nie Zha. Entah mengapa dalam hatinya timbul rasa kasihan pada laki-laki tua yang tak mau disebut guru ini.
Baru saja suasana menjadi hening beberapa saat, tiba-tiba telah dipecahkan oleh suara batuk-batuk dikejauhan. Ketika Nie Zha menoleh, dilihatnya si nenek Musang Betina Mata Empat telah muncul, setelah hampir setengah bulan menghilang dari tempat tersebut.
“Hihihih... hih... apa katamu, muridku? Ku dengar kau menyebut-nyebut jalan damai? Hm, jalan damai itu cuma bisa ditempuh dengan pertarungan. Di akhir pertarungan itulah terletak kedamaian! Dan kedamaian itu lebih langgeng, bukan? Hihih...hih...”
Nie Zha mengeluh dalam hati. Tapi dia tak bisa bicara apa-apa. Menasihati dua orang kakek dan nenek yang punya pengalaman dan pengetahuan 100 kali lipat dari dirinya yang masih muda belia, itu sama dengan segentong air yang dimasukkan ke dalam danau. Ada baiknya dia tak ikut campur. Oleh sebab itu cepat-cepat Nie Zha menjura pada gurunya ini.
“Maafkan aku, guru..... aku telah keterlepasan bicara. Sebenarnya aku tak boleh ikut campur urusan kalian orang-orang tua!”
“Ya, ya, sebaiknya memang begitu! Kau memang sudah waktunya angkat kaki dari pulau ini! Dan hari ini adalah hari keberangkatanmu! Kau telah berhasil mendapatkan jurus-jurus ilmu kepandaian kami berdua! Pesanku jangan kau membuat malu nama kami kelak...! Nah aku telah siapkan perahu buatmu di pantai. Lebih cepat kau pergi lebih baik!” berkata si nenek dengan suara tandas.
Sejenak Nie Zha menatap wanita tua itu dengan mata melebar. Sepasang mata yang bening itu mendadak berkaca-kaca. Lalu gadis ini beralih memandang ke arah si Cambuk Sakti. Kakek ini hanya bisa tersenyum trenyuh. Dia mengangguk dan berkata lirih. “Pergilah, itu lebih baik daripada kau berlama-lama disini...!”
Nie Zha mengangguk dengan hati terharu. Tiba-tiba dia menjura di depan kakek itu. “Terima kasih atas semua kebaikan yang telah kau berikan padaku, kakek Cambuk Sakti.”
“Bangkitlah!” Perintah si kakek. Tampak ia meloloskan cincin di jari manis tangan kirinya. Begitu Nie Zha bangkit, kakek ini berkata. “Nah, bawalah cincin ini! Di dalamnya ada beberapa kitab, senjata dan sebagainya yang mungkin kau perlukan dalam perjalanan. Karena waktuku yang singkat, aku tak dapat mengajarimu banyak. Tetapi dengan cincin itu, ku rasa kau akan dapat berkembang untuk kedepannya.”
Nie Zha tak segera mengambil cincin tersebut. Gadis ini tampak diam tertegun.
Tangan Si Cambuk Sakti bergerak menaruh cincin itu ke telapak tangan si gadis. Selanjutnya ia memegang pundak gadis itu. Rupanya diam-diam kakek ini memberikan energinya kepada Nie Zha.
Di karenakan Nie Zha hanya berada ditahap Pendekar Raja, maka terpaksa si kakek hanya memberikan separuh dari energinya. Energi itu tidak ditempatkan di Dantian si gadis, melainkan si kakek membuat wadah tersendiri untuk menampung energi miliknya di tubuh gadis tersebut.
Ternyata tindakan si Cambuk Sakti diketahui oleh nenek Musang Betina Mata Empat.
“Kau ingin bunuh diri rupanya.” Desis nenek ini dalam hati.
Nie Zha merasakan sekujur tubuhnya terasa panas seperti terpanggang. Namun kejap kemudian rasa panas itupun berangsur-angsur menjadi sejuk sampai akhirnya tubuhnya terasa lebih bertenaga dan seringan kapas.
Ditatapnya wajah si kakek dengan keheranan. Nafas si Cambuk Sakti tampak terputus-putus, bulir-bulir keringat sebesar biji jagung membasahi wajahnya. Dengan suara lirih si kakek berkata,
“Gunakanlah energi itu setelah pondasi tubuhmu sanggup untuk menggunakannya.”
“Terimakasih kek,.." Mata Nie Zha terasa pedih, hingga tak terasa sebutir air mata jatuh dari kelopak matanya.
Si gadis menjura sebentar lalu berjalan ke arah nenek Musang Betina Mata Empat. Segera ia menjatuhkan diri berlutut di depan si nenek.
“Muridku, seperti halnya kakek keriput itu! Aku juga akan memberikan energiku padamu.” setelah berkata begitu, si nenek kemudian meletakkan kedua tangannya di ubun-ubun gadis tersebut.
Sekali lagi, Nie Zha merasakan tubuhnya seperti terpanggang lalu dingin seperti beku. Dengan sekuat tenaga ia menahan rasa sakit tersebut. Sampai akhirnya tubuhnya berangsur-angsur membaik.
“Guru...! Semua jasamu akan ku ingat selama hayat masih dikandung badan. Terima kasih atas segala kebaikanmu, guru...! Semoga Tuhan akan membalas budi baik kalian! Selamat tinggal, guru...” Setelah bangkit berdiri dan menatap si kakek Cambuk sekali lagi, ia putar tubuh dan berlari cepat menuju pantai. Benar Saja, sebuah perahu kecil memang telah disediakan untuknya. Itulah perahu yang dipergunakan kedua kakek dan nenek tersebut untuk menyeberang ke pesisir pulau wilayah kekaisaran Yun ini.
Tak ayal dia cepat melompat mendekati. Setelah memeriksa dayung dan alat-alat dalam perahu, Nie Zha cepat mendorongnya dari atas pasir. Tak lama dengan mempergunakan dayungnya untuk mengayuh, perahu kecil itu pun meluncur dipermukaan laut. Makin lama semakin mengecil dan semakin jauh. Akhirnya lenyap.
Suara burung camar dan deburan ombak laut yang memecah dipantai seperti turut mengantar kepergian gadis itu, diikuti pandangan mata kedua kakek dan nenek ini yang siap untuk bertarung mempertaruhkan nyawa.