
Selepas acara makan bersama, mereka kemudian menuju ke gedung utama. Rombongan mereka seketika menjadi pusat perhatian para penghuni Sekte Lembah Petir. Sepanjang perjalanan tidak sedikit orang yang menghentikan aktivitas hanya untuk mengagumi kecantikan Liu Wei dan Huang She. Tidak sedikit pula murid-murid wanita yang terpesona melihat ketampanan serta aura yang terpancar dari Arya.
Selain Arya, Liu Wei dan Huang She, keberadaan empat siluman serta Tetua Lin Hai juga menjadi daya tarik tersendiri. Banyak yang penasaran dan bertanya-tanya siapa pemuda-pemudi yang bersama Tetua Lin Hai tersebut, meski banyak yang sungkan karena keberadaan tetua Lin Hai namun ada juga yang memberanikan diri bertanya.
"Xian Gege.." Seorang gadis berjalan cepat menghampiri rombongan Arya.
Di belakang gadis itu terdapat beberapa murid Lembah Petir yang berjalan mengiringi gadis tersebut.
Tetua Lin Hai mengalihkan pandangannya, dia mendapati anak gadisnya juga berada di dalam rombongan murid-murid yang sedang menuju ke tempatnya itu.
"Xian Gege aku yakin pada saat itu kau pasti menang, dan syukurlah kau tidak mengecewakanku." Gadis bermata biru tersenyum lebar. "Oh iya, perkenalkan namaku Qin Hu Liena. Panggil saja aku Liena." Gadis bermata biru tersebut mengulurkan tangannya.
Arya tersenyum melihat tingkah gadis bermata biru itu, lalu menjabat tangannya. "Kalau tidak salah kau pasti anak tetua Qin Si Juan."
Liena mengangguk. "Apa ayahku pernah menceritakan tentangku padamu?"
Arya menggeleng.
"Oh iya apa benar kata mereka bahwa kau adalah pendekar tua yang merubah penampilan menjadi muda seperti ayahku?" Liena memandang wajah Arya dengan seksama.
Arya tersenyum kecut, jika di runut-runut dia memanglah sudah tua. Bahkan usianya sama seperti umur alam semesta. Namun jika di tanya umur tubuh reinkarnasinya ini, mungkin kurang lebih 25 tahun bila terhitung dengan waktu yang telah dia habiskan di dimensi lain.
"Kau boleh mempercayai mereka.." Arya melanjutkan langkahnya.
"Aku tidak perduli kau tua atau muda, aku tetap akan menjadi pengagummu."
Perkataan Liena menghentikan langkah Arya, pemuda itu tersenyum tipis sebelum berlalu pergi.
"Dia memang masih muda. Xian'er adalah keponakan Patriark Tao Lian yang sudah lama menghilang." Tetua Lin Hai membuka suara sambil menatap punggung Arya.
"Maaf tetua, apa yang anda maksud Xian'er adalah anak cacat yang tidak memiliki Dantian." Seorang pemuda yang bernama Yin Feng, terlihat terkejut.
Tetua Lin Hai mengangguk pelan. "Benar, dialah Li Xian adik sepupumu yang menghilang itu."
Mendengar demikian, pemuda yang memiliki nama lengkap Tao Yin Feng segera berlari menyusul Arya.
Sementara Liena, Lin Yanyu dan beberapa teman-temannya nampak terkejut setelah mengetahui indentitas Arya yang sebenarnya. Mereka tentu mengenal dan masih mengingat si bocah sampah yang dulu menjadi bahan ejekan. Sebab selain murid jenius, orang yang di anggap sampah juga populer namun dengan cara pandang yang berbeda. Beberapa di antara mereka juga termasuk pelaku pembullyan Li Xian, yang sering membuat Li Xian dulu menangis dan terluka karena olokan serta kejahilan mereka.
Jika bukan yang mengatakan semua itu adalah Tetua Lin Hai tentu mereka akan menganggapnya lelucon, sebab bagaimana mungkin seseorang yang tidak memiliki Dantian bisa menjadi Pendekar hebat yang bahkan dapat mengalahkan seseorang sekelas Patriark.
Liena dan Lin Yanyu memang tidak begitu mengenal Li Xian sebab kala itu teman-temannya melarang mereka mendekati ataupun berteman dengan Li Xian, jika ada yang berteman dengan Li Xian maka orang itu akan di jauhi teman-temannya. Sebab itulah hanya segelintir orang saja yang mau berteman dengan Li Xian, salah satunya adalah anak Patriark Tao Lian yaitu Tao Yin Feng dan Tao Shillin.
Merasakan ada yang mendekat, Arya menghentikan langkah dan menengok ke belakang. Begitu pula dengan Liu Wei, Huang She, ke-tiga bocah bersaudara dan empat siluman.
Yin Feng menatap Arya dengan perasaan haru. "Tidak ku sangka kau tumbuh menjadi pemuda tampan dan hebat, Xian'er."
Yin Feng memang sudah di beri kabar Patriark Tao Lian jika adik sepupunya sekarang ada disini, tetapi Yin Feng sama sekali tidak menyangka jika Li Xian lah yang di maksudkan ayahnya itu.
Arya mengerutkan dahi, lalu tersenyum. "Lama tidak bertemu aku kira Feng Gege sudah melupakanku." Arya nampak canggung, dia bingung untuk memilih kata, pada akhirnya Arya memanggil Yin Feng seperti Li Xian memanggilnya dulu.
Yin Feng mengusap-usap kepala Arya. "Aku tidak pernah melupakanmu Xian'er, selama ini aku selalu berharap kau akan kembali. Tidak ku sangka kau akhirnya kembali dengan membawa kejutan besar yang sampai membuatku tidak mengenalimu."
Yin Feng tiba-tiba menjitak kepala Arya. "Jika kau masih mengingatku lalu kenapa kau baru kembali sekarang, dan kenapa kau tadi tidak menyapaku seolah kau tidak mengenaliku?"
Arya tersenyum hangat, "Maaf tadi aku tidak terlalu memperhatikan Feng Gege."
"Hmm, aku lihat kemampuanmu begitu hebat. Kalau begitu mari kita berlatih tanding, aku ingin kau memberikan satu dua arahan mengenai jurusku."
"Maaf, tapi sekarang aku sedang ada urusan penting dengan paman Tao."
Meski agak kecewa namun Yin Feng mengatakan akan mengantarkan Arya menemui Patriark Tao Lian, dan setelah itu dia ingin Arya menyisihkan waktu untuknya dengan berlatih bersama. Arya pun menyanggupinya, kemudian mereka semua lantas menuju ke gedung utama.
Patriark Tao Lian tersenyum ramah menyambut kedatangan Arya dan Yin Feng, sementara Liu Wei dan yang lainnya menunggu di halaman gedung utama.
"Kenapa ayah tidak mengatakan dari awal jika yang ayah maksudkan adalah Xian'er." Yin Feng menunjukkan wajah kesal.
Patriark Tao Lian tertawa ringan. "Jika aku mengatakannya, pasti kau akan langsung mencarinya. Padahal aku berniat memberikan kejutan untukmu dan adikmu."
Yin Feng bangkit, "Oh iya, sekarang Lin Lin ada dimana ayah?"
"Mungkin dia sedang berlatih di tempat biasanya."
Yin Feng mengalihkan pandangannya kepada Arya. "Sekarang Lin Lin sudah tumbuh dewasa, dia menjelma menjadi gadis yang sangat cantik. Aku yakin kau pasti akan menyukainya." Yin Feng tertawa lalu menepuk pundak Arya. "Tunggulah sebentar, aku akan menjemputnya."
Tanpa menunggu jawaban dari Arya dan Patriark Tao Lian, Yin Feng segera keluar ruangan. Kini di ruangan tersebut hanya tersisa mereka berdua.
Wajah Patriark Tao Lian berubah serius, dia langsung menyampaikan permasalahan terkait penyerangan para kultivator daratan utara yang berusaha mencuri Pusaka Legenda. Patriark Tao Lian kemudian meminta Arya untuk menghancurkan Pusaka tersebut secepatnya.
Tanpa berfikir panjang Arya langsung menyanggupinya karena dia berencana pergi dari Lembah Petir esok hari.
Anggota Lembah Petir yang ditugaskan menjaga pemakaman sontak bersiaga saat melihat ada dua sosok melayang di kejauhan. Namun saat pandangan mereka dapat melihat jelas sosok tersebut, mereka lantas menurunkan senjata namun tetap menjaga kewaspadaan.
"Patriark, maaf kami harus tetap menjalankan tugas dari anda. Tunjukkan lencana kalian." Ucap salah satu penjaga dengan menjaga jarak aman.
Patriark Tao Lian tersenyum, lalu melemparkan lencananya kepada penjaga tersebut, kemudian melirik Arya. Mengerti maksud dari Patriark Tao Lian, Arya juga melemparkan lencananya.
Setelah melewati penjagaan, Patriark Tao Lian dan Arya lantas turun ke ruangan bawah tanah yang ada di lobang makam leluhur. Merekapun mendarat di dasar ruangan yang pengap serta gelap.
Arya nampak terkesan dengan cara Patriark Tao Lian membuka pintu ruangan yang di dalamnya bersemayam pecahan Pusaka Legenda Matahari Penghancur. Melihat segel pelindung yang menyelubungi pintu batu tersebut, Arya sendiri tidak yakin bisa menghancurkannya. Arya menarik kesimpulan bahwa yang memasang segel pelindung itu setidaknya berada di tahap Pendekar Naga sehingga tidak heran jika segel itu begitu kuat.
Ruangan yang awalnya remang-remang dengan sedikit pencahayaan dari api di tangan Arya, kini menjadi terang benderang setelah pintu ruangan tersebut terbuka. Cahaya yang berasal dari tongkat yang tertancap di batu langsung menyebar menerangi seisi ruangan bawah tanah.
"Hati-hati, tongkat itu akan menghisap energi kehidupan milikmu. Jika kau tidak sanggup, sebaiknya jangan di paksakan." Patriark Tao Lian memegang pundak Arya dengan tatapan serius.
Arya mengangguk mengerti, lalu berjalan mendekati tongkat yang tertancap di batu tersebut. Namun sebelum dia menggerakkan tangannya untuk meraih tongkat itu, tiba-tiba terdengar suara dari dalam tubuh Arya.
"Tunggu dulu tuan, energi tongkat itu sangat liar. Biarkan aku menstabilkannya dulu."
Pedang Ilusi Penguasa Jiwa keluar dari tubuh Arya dan melayang menghantam tongkat tersebut sampai menciptakan gelombang energi yang membuat seisi ruangan bergetar.
Arya yang terseret mundur nampak menggeleng pelan, lalu menangkap Pedang Ilusi Penguasa Jiwa yang melayang ke arahnya.
"Sudah tuan, ternyata energinya tidak seganas yang aku kira."
"Tentu saja, tongkat itu hanyalah salah satu pecahan energi. Tetapi jika energi mereka sudah menyatu, aku tidak yakin kau bisa lebih unggul darinya." Arya berkata datar dengan tatapan tertuju ke tongkat yang mulai redup cahayanya.
Sementara itu Patriark Tao Lian yang terhempas membentur tembok nampak memuntahkan darah, lalu buru-buru dia memulihkan diri dengan teknik pernafasan dan menotok beberapa bagian tubuhnya.
"Apa paman baik-baik saja." Arya membalikan badan menatap Patriark Tao Lian.
Mendapati anggukan Patriark Tao Lian yang sedang memulihkan diri, Arya segera berkelebat dan dengan sedikit usahanya dia akhirnya dapat mencabut tongkat pusaka.
Di tengah pemulihan, Patriark Tao Lian yang melihat Arya dapat mencabut tongkat tersebut nampak tersenyum lega, walau di hatinya ada sedikit ketidakpercayaan atas kejadian tersebut.
"Apa paman yakin ingin menghancurkan pusaka ini?" Arya kembali ingin memastikan setelah ia berdiri di hadapan Patriark Tao Lian.
"Leluhur Lembah Petir memang di tugaskan menjaga pusaka itu, tapi seiring waktu para leluhur akhirnya sepakat menghancurkannya demi tetap terjaganya keseimbangan dunia ini." Patriark Tao Lian menghela nafas berat. "Lagipula saat ini sudah ada yang mengetahui keberadaan pusaka ini di sini, cepat atau lambat berita ini pasti akan tersebar. Kalau pusaka ini tidak segera di hancurkan atau di keluarkan dari sini, aku khawatir dengan kekuatan Lembah Petir saat ini kami tidak bisa lagi menjaganya."
Arya dapat memahami kekhawatiran Patriark Tao Lian, dengan mengangguk pelan dia kemudian melompat menjaga jarak aman, Arya lantas mulai bersiap menghancurkan tongkat tersebut.
Kedua tangan Arya kini masing-masing memegang pusaka, dia menancapkan tongkat pusaka ke lantai sementara Pedang Ilusi Penguasa Jiwa dia masukkan kembali ke dalam tubuhnya.
Setelah itu, Arya mulai melakukan gerakan pola tangan. Dia kini sedang menggunakan Teknik Penyerap Sukma. Kedua tangan Arya menyala keemasan, lantas memegang tongkat pusaka tersebut dengan kedua tangannya.
Sinar putih bercampur biru mulai berpendar dari tongkat pusaka, lalu perlahan sinar itupun merangsek terserap ke dalam tangan Arya.
Pada saat yang sama, empat penjuru dunia memancarkan sinar berlainan warna menembus langit. Pancaran sinar di lokasi berbeda itupun menarik perhatian banyak orang. Salah satu sinar terlihat terpancar dari tubuh seorang pemuda lusuh yang sedang terbang di atas lautan lepas.
"Siapa yang dapat menarik energi Pusaka Legenda." Pemuda lusuh itupun membatin lalu bergegas mengeluarkan sebuah tongkat dari dalam tubuhnya.
Tongkat itupun bergetar hebat dan memancarkan sinar yang begitu terang, membuat pemuda lusuh itupun harus berupaya keras dalam menyeimbangkan tubuhnya.
Empat sinar yang menembus langit kemudian menciptakan sebuah piringan cahaya pelangi di angkasa. Fenomena itupun membuat semua orang terpukau, bagi para pendekar ataupun kultivator, mereka jelas merasakan energi begitu besar berasal dari piringan pelangi tersebut.
"Energi Pusaka Legenda.." Batin kakek tua yang melayang sambil memandangi piringan cahaya raksasa berwarna-warni di angkasa. Zhen Long jelas mengenali energi tersebut, sebab dia pernah melihat salah satu pecahan Pusaka Legenda.
"Ku harap hal ini bukanlah awal dari kehancuran." Gumam Zhen Long sesaat setelah piringan pelangi itupun menghilang.
Arya seketika ambruk dalam posisi terduduk, wajah pemuda itu nampak pucat pasi, nafasnya terengah-engah dengan tubuh tidak berhenti bergetar.
Melihat hal itu, Patriark Tao Lian buru-buru membantu menstabilkan kondisi Arya. Wajah Patriark Tao Lian nampak begitu khawatir, tetapi meski demikian ada perasaan lega karena Arya telah berhasil menghancurkan tongkat pusaka tersebut.
"Aku tidak apa-apa, paman. Jangan buang-buang energi anda, sebentar lagi aku akan segera pulih dengan sendirinya." Arya berkata lirih dengan mata setengah terpejam.
Meski demikian, Patriark Tao Lian masih terus mengalirkan energi kehidupan serta Qi miliknya untuk memulihkan Arya.
Kini ruangan tersebut kembali remang-remang dengan hanya mengandalkan pencahayaan dari petir milik Patriark Tao Lian, sebab tongkat dari pecahan Pusaka Matahari Penghancur telah lenyap.
________
Kalian boleh memberikan saran dan mengkritik tapi tetaplah memakai etika.
Maaf bagi yang berkomentar tidak pantas dan terkesan memaki, aku block. Tercatat lebih dari 30 pembaca yang sudah aku block. Maaf atas ketidak nyamanan kalian jika novel ini tidak sesuai selera kalian.
Dan meskipun sudah sangat terlambat, tapi author ucapkan:
'Mohon Maaf Lahir & Batin.'