Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Dibawa Menghadap Tuan Rumah


Meskipun masakan daging kera panggang buatan Arya begitu nikmat, namun rupanya hal itu tidaklah serta-merta membuat Putri Zhou Jing Yi dan jenderal Sun Jian menjadi berselera makan. Mereka justru menjauhkan diri dari Arya. Sebab menurut pandangan mereka, sikap pemuda itu terlihat menjijikkan karena cara makannya yang rakus seperti orang yang sangat kelaparan. Bahkan dalam waktu singkat pemuda itu sudah menghabiskan puluhan daging panggang seorang diri.


“Hahaha...” tawa Heng Dao, “Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin perutmu yang kecil itu bisa menampung daging dua kera raksasa..”


Seolah tak mendengar, Arya masih sibuk menyantap daging panggang ditangannya. Dan dalam sekejap potongan daging panggang itupun masuk ke dalam perutnya. Pemuda ini segera mengambil potongan daging panggang yang ada dihadapannya lalu memakannya dengan rakus.


“Pantas! Pantaslah, kau memanggang semua kera raksasa itu. Rupanya selera makanmu seperti raksasa. Hahaha..” Heng Dao menggigit daging panggang ditangannya lalu menenggak araknya.


“Gluuukkk...” Orang tua ini kemudian menyandarkan tubuhnya di pohon, ia memejamkan matanya sebentar.


Ia sedang berusaha menerka-nerka siapakah pemuda yang bernama Tabib Xian sebenarnya. Banyak hal-hal aneh yang didapatinya pada diri pemuda itu. Menilik dari kekuatannya, jika dinalar-nalar pastilah pemuda tersebut sudah berusia ratusan tahun. Tapi orang tua ini menggeleng, ia yakin pada pengamatannya sendiri bahwa pemuda tersebut memanglah masih muda. Timbullah niatnya untuk bertanya, maka dibukanya matanya.


“Eh,” kejut si orang tua. Dilihatnya potongan daging panggang disana hanya tersisa empat potong. “Kau kemanakan semua daging itu?”


Arya tak menjawab, ia menepuk-nepuk perutnya yang agak buncit sambil mengunyah makanan dimulutnya.


“Siapakah sebenarnya kau, anak muda?”


Si pemuda menoleh, didapatinya orang tua tersebut memandanginya dengan serius. Arya tak segera menjawab, ia masih sibuk mengunyah makanan dimulutnya. Maka kembali didengarnya orang tua tersebut berkata,


“Apa jangan-jangan kau adalah raksasa?”


“Uhuk... Uhuk...” Arya terbatuk-batuk, dipukul-pukulnya dadanya seolah ada yang tersangkut disana.


Pemuda ini kemudian mengulurkan tangannya ke arah si orang tua.


Heng Dao menaikkan alisnya, “Apa?”


“Berikan arakmu! Kau membuatku tersedak.” Sahut pemuda itu terputus-putus.


“Oh...” Heng Dao mengayunkan tangannya. Sekejap kemudian, dari tangannya itu meluncur sebuah kendi berukuran sedang.


Dengan terburu-buru Arya menenggak kendi tersebut sampai wajah dan pakaiannya menjadi basah.


“Sekarang jawablah..!”


“Hmmm.. tak ada yang musti ku jawab.” pemuda ini mengambil potongan daging dihadapannya, lantas bangkit berdiri, “Mari kita lanjutkan perjalanan.”


“Jawablah dulu!” Kata Heng Dao tegas.


Arya mengerutkan keningnya, “Kalau aku tak mau! Kau mau apa?”


Sesaat Heng Dao terdiam, tapi kemudian sekelumit senyuman tersungging di bibirnya. “Kalau kau tak mau menjawab pertanyaanku, aku tak akan menunjukkan dimana bunga energi itu berada.”


Mata Arya membesar, ia tak menyangka jika orang tua itu akan mengancamnya dengan cara demikian. Dan terdengar lagi Heng Dao berkata,


“Bagaimana? Lagipula aku harus memastikan dulu dengan siapa aku melakukan perjalanan.”


“Apa itu penting? Aku sendiri tak pernah sekalipun mengungkit-ungkit siapa kau sebenarnya. Kenapa kau seperti orang tua yang ingin menyelidiki calon menantunya?” Balas Arya sinis.


“Hahaha...” Heng Dao menenggak araknya, “Ya.. ya... Itu ide yang bagus. Aku memang memiliki cucu perempuan seusiamu. Aku akan memperkenalkannya padamu. Siapa tahu kalian cocok. Hahaha..”


“Hahaha... Itu tidak lucu kakek-kakek pemabuk.” Celetuk si pemuda.


Sekali lagi Heng Dao menenggak araknya, kemudian ia memasang wajah serius. “Bagaimana, kau mau menerangkan siapa dirimu atau tidak.?”


“Aku tak perduli dengan ancamanmu.” Arya tersenyum sinis, “Kalau kau memang tak mau memberitahukan dimana bunga itu berada, biarlah aku sendiri yang mencarinya. Kau kira aku senang melakukan perjalanan dengan orang tua ceriwis, pemabuk dan malas sepertimu. Haah..”


“Oh,..” Heng Dao mendengus, dia mulai terpancing emosi. “Baiklah, kau carilah sendiri..”


Orang tua ini mulai melangkahkan kakinya, namun segera dihadang jenderal Sun Jian.


“Kenapa kalian selalu saja bertengkar. Sebenarnya ada apa dengan kalian?” Kata jenderal Sun Jian tegas. Ia menatap Heng Dao dan Arya bergantian.


“Tanyakan saja pada bocah kurang ajar itu.” Sahut Heng Dao dengan nada kesal.


Dengan dahi mengerenyit, jenderal Sun Jian mengalihkan pandangannya kepada Arya. Dan di dengarnya pemuda itu berkata,


“Sudahlah jenderal, biarkan saja orang tua itu pergi.”


Heng Dao menoleh, dia menatap pemuda itu dengan tajam. Ingin rasanya ia memberi pelajaran kepada pemuda tersebut. Namun bagaimanapun ia sadar bahwa kemampuannya tidak akan dapat mengalahkannya. Tiba-tiba terdengar Arya meraung-raung kesakitan. Semua orang serta-merta dibuat keheranan dan segera memandangi sekeliling. Mereka memasang sikap siaga kalau-kalau terjadi serangan diam-diam.


Setelah teriakan si pemuda mereda, segeralah Putri Zhou Jing Yi mendekat.


“Ada apa denganmu?” tanyanya.


Arya menggeleng, lalu ia berjalan menghampiri Heng Dao, “Maafkan aku jika ucapanku telah menyinggungmu.”


Mulut si orang tua terbuka, wajahnya menjadi terheran-heran melihat perubahan sikap Arya yang mendadak menjadi lebih sopan.


“Apa otakmu sudah tidak waras..?” meluncurlah pertanyaan yang keluar tanpa di sadari oleh si orang tua.


Wajah Arya nampak menjadi buruk. Tapi itu hanya sekilas. Rupanya teguran dari Arya yang asli telah membuatnya sedikit bisa mengontrol diri. Memang ketika ia berteriak-teriak, itu adalah bentuk teguran dari Arya. Tubuh bayangan ini memang memiliki sikap yang meledak-ledak dan semaunya sendiri.


“Sekali lagi maafkan aku.” Ucapnya dengan nada yang lebih halus. “Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu. Aku adalah seorang anak dari tetua Sekte Lembah Petir. Mengenai kemampuanku yang telah membuatmu heran. Aku mendapatkannya dari seorang kakek sakti yang tak bisa ku terangkan siapa dia adanya.” pemuda ini mengamati wajah si orang tua sesaat, “Apa penjelasanku sudah cukup?”


Heng Dao mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang masih penasaran mengenai siapa kakek sakti guru si pemuda tersebut. Namun ia menahan diri untuk tidak bertanya. Baginya mendapatkan sedikit keterangan sudah lebih dari cukup. Ia berniat akan menyelidikinya sendiri setelah ini. “Kenapa tidak dari tadi kau katakan.”


Arya menghela nafas. Ia tidak menanggapi lagi ucapan si orang tua.


“Apakah permasalahan kalian sudah selesai?” tanya jenderal Sun Jian.


Heng Dao menenggak araknya, lalu mengangguk. Sementara Arya menggigit daging panggang ditangannya sambil mengangguk-angguk.


Demikianlah, mereka kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kecepatan lari masing-masing.


Memasuki satu tikungan jalan di dekat lereng gunung, mereka memperlambat larinya. Jalan di tikungan itu sempit sekali.


Di sebelah kanan terdapat jurang batu yang curam terjal serta luas dan dalam. Seseorang awam (tidak memiliki kultivasi) yang jatuh ke sana jangan harap akan hidup sampai di dasar jurang. Kalaupun dia masih dapat hidup, keluar dari dasar jurang tersebut pasti akan sia-sia!


Dari memperlambat lari, tiba-tiba mereka berhenti. Tepat di tikungan jalan itu, mereka melihat duduk seorang laki-laki tua berambut putih. Badannya kurus sekali. Demikian kurusnya hingga keadaannya tak ubahnya seperti tengkorak atau jerangkong hidup!


Yang membuat heran ialah apa yang tengah dikerjakan si orang tua tak dikenal itu. Sambil duduk, orang tua ini menghadapi sebuah pigura kain putih yang lebarnya satu meter, sedang panjangnya hampir satu setengah meter.


Dengan jari yang berlumuran cairan berwarna itu, si orang tua mulai menggurat-gurat di atas kain putih. Demikian asyiknya sehingga dia tidak mengetahui agaknya bahwa dia tidak sendirian berada di situ.


“Maaf kek, kuharap kau sudi ke pinggir sedikit agar kami bisa lewat." Ucap jenderal Sun Jian sopan.


Si orang tua tidak menyahut, bahkan palingkan wajahnya pun tidak. Jenderal Sun Jian yang menduga si orang tua tuli, hendak melangkah ke samping dan menegur lagi namun Heng Dao segera mencegahnya dengan isyarat gelengan kepala.


Si orang tua masih sibuk menggurat-gurat kain putih dihadapannya dengan ujung jarinya. Dan semua itu dilakukannya dengan seenaknya dan asal-asalan saja.


Meski terlihat asal-asalan, namun lukisan yang baru setengah jadi tersebut terlihat indah. Di kain putih itu terlihat gambaran seorang anak kecil laki-laki yang tengah asyik bermain dengan beberapa ekor kucing.


“Cara melukis yang aneh.” Desis Putri Zhou Jing Yi. “Dan anehnya lagi, dia melukis di tempat yang sepi dan banyak berkeliaran siluman. Apa mungkin dia sengaja duduk disini untuk menghadang kita?”


Arya berbisik, “Tak usah menghiraukannya. Dia bukan manusia. Selama dia tidak membuat perkara, kita tak usah mengganggunya.”


Jika saja tubuh bayangan ini tidak mendapatkan peringatan dari Arya untuk menjaga sikap, sudah tentu tubuh bayangan ini akan menyerang si orang tua yang melukis tersebut saat ini juga. Namun meski begitu, tubuh bayangan Arya ini tetap memberikan sedikit peringatan kepada si orang tua tak dikenal tersebut dengan mengerahkan tekanan energinya. Sambil melangkahkan kakinya mendekati si orang tua, pemuda ini berkata “Jangan ganggu kami kalau kau tak mau mampus!"


Tiba-tiba orang tua tersebut berkata, “Jangan sombong kau anak muda. Jaga sikap kalian disini, atau kalian tidak akan bisa keluar hidup-hidup.”


Arya menggeram, tapi sekuat hati dicobanya untuk menahan diri. Dengan bersiul-siul, perlahan-lahan gejolak di dadanya mulai mereda. Tanpa memperdulikan lagi si orang tua tak dikenal itu, ia kembali melanjutkan langkahnya.


Setelah Arya dan yang lainnya melanjutkan perjalanan. Barulah orang tua itu berpaling. Sepasang alis matanya yang putih dan agak jarang, naik ke atas. Ketika kedua alis itu turun maka sekelumit senyum tersungging di bibirnya. “Ah, benar-benar pemuda yang tampan dan perkasa... Ku harap ia memang hanya ingin melintasi wilayah ini saja.”


Orang tua ini kemudian menyapukan tangan kanannya, detik itu juga pigura kain putih dan daun pisang yang diatasnya terdapat cairan pewarna di hadapannya lenyap. Sesaat kemudian orang tua inipun menghilang dari tempat tersebut. Mengikuti rombongan Arya diam-diam.


*****


Di dalam sebuah bangunan megah, seorang gadis cantik tengah duduk dikelilingi oleh tiga gadis-gadis lainnya. Gadis yang duduk itu bernama Qian Yu, ia adalah seorang ratu di kerajaan danau lembah peri. Sesaat kemudian, pintu di ruangan itu terbuka. Muncul seorang gadis berpakaian hijau yang berjalan mendekat dan lalu berlutut.


“Apakah kau sudah melihat pemuda itu? Dan apakah kau sudah dapat mengetahui apa tujuan mereka berada di wilayah kita?” Bertanya Sang Ratu.


“Sudah Ratu.. Tapi aku tidak bisa selalu mengikuti mereka..” Gadis berpakaian kuning itu menatap wajah Sang Ratu sejenak, dilihatnya Sang Ratu itu mengerutkan dahi. Maka kemudian lanjutnya. “Setiap kali aku diam-diam mengawasi mereka, pemuda itu selalu dapat menyadari keberadaanku. Bahkan beberapa kali dia mengancamku dengan tekanan energinya.”


“Hmmm.. rupanya karena itulah kau kembali ke sini?” kata Sang Ratu ketus.


Gadis berbaju kuning cepat-cepat rundukkan kepalanya. Dengan lemah ia mengangguk.


“Lanjutkanlah keteranganmu..!” Perintah Sang Ratu pula.


“Aku sempat mencuri informasi dari pikiran seorang gadis yang bersama pemuda itu. Tapi informasi yang aku dapatkan sangatlah terbatas. Meski begitu aku berhasil mengetahui siapa pemuda itu. Ia bernama Li Xian, atau lebih dikenal Tabib Xian. Dan gadis itu sendiri adalah seorang putri dari kerajaan Guangzhou.”


Wajah Sang Ratu sontak terkejut, “Apa kau tidak salah?”


Gadis berbaju kuning tersebut menggeleng cepat.


“Tabib Xian.. nama itu memang beberapa kali pernah ku dengar. Kalau tidak salah ia beberapa kali pernah membuat gempar dunia persilatan di kekaisaran ini. Dan mengenai putri kerajaan Guangzhou itu, apakah kau dapat mengetahui tujuan gadis itu sampai bisa masuk di wilayah kita?”


“Mereka sedang mencari bunga energi..”


“Bunga energi? Bunga semacam apa maksudmu?”


“Aku sendiri tidak tahu, Ratu. Hanya informasi itu yang dapat aku ambil dari pikiran gadis itu.”


Sang Ratu menaikkan alisnya, sejenak ia mencoba menerka-nerka bunga energi apa yang dimaksud. Setelah berfikir beberapa lama, akhirnya ia berkata, “Apakah bunga itu sejenis bunga yang dapat di gunakan untuk kultivasi?”


Si gadis berbaju kuning menggeleng, “Maaf, aku benar-benar tidak tahu Ratu. Saat aku akan mencuri informasi dari pikiran gadis itu lebih jauh, pemuda yang bernama Tabib Xian itu menyerangku. Untunglah aku masih dapat menyelematkan diri.”


Sang Ratu merutuk dalam hatinya, lalu berkata, “Menyamarlah dan temui dia kembali, lalu tanyakan secara baik-baik apa maksud kedatangan mereka memasuki wilayah kita. Kalau perlu bawa mereka kemari menghadapku.”


“Baik, Ratu! Saya mohon diri.” Gadis berbaju kuning tersebut menjura lalu meninggalkan tempat itu dengan cepat.


Tak lama kemudian di ujung Barat, di dekat batu besar kelihatanlah seorang kakek-kakek terbungkuk-bungkuk melangkah menuruni jalan setapak.


Kakek-kakek tersebut tak lain adalah gadis berbaju kuning yang telah menyamar. Tapi Arya yang sudah dapat melihat kakek-kakek tersebut dari kejauhan segera melesat ke arahnya. Ia berniat menyerang! Sudah berulangkali ia telah memperingatkan sosok yang terus-terusan mengikuti itu. Meskipun telah melakukan penyamaran yang berbeda, namun mata pemuda ini tidak dapat di tipu.


Melihat sikap pemuda yang tengah menuju ke arahnya itu terkesan hendak menyerang, si kakek buru-buru berteriak lantang sambil mengerahkan Qi nya. Maka suaranya menggema seperti Guntur.


“Tahan!”


Arya segera mengurangi laju kecepatannya. Pemuda ini lantas menjejakkan kakinya sekitar tiga tombak didepan si kakek,


“Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk jangan mengganggu kami. Sebenarnya apa maumu mengikuti kami?” Bertanya pemuda ini dengan tandas.


Si kakek menarik nafas dalam-dalam dan merubah suaranya sehingga persis seperti suara orang tua renta. “Tabib Xian, aku adalah suruhan Ratu danau lembah peri. Ratuku memintamu untuk menerangkan apa maksud kedatangan kalian memasuki wilayah ini.”


Heng Dao, jenderal Sun Jian dan Putri Zhou Jing Yi yang baru saja tiba, dapat mendengarkan pembicaraan tersebut. Tapi mereka memilih diam, membiarkan Arya yang mengatasi masalah ini. Mereka memang telah diberi tahu oleh pemuda itu, bahwa ada makhluk yang selalu mengawasi perjalanan mereka.


Sepasang mata Arya memandang meneliti paras kakek-kakek tua di hadapannya. Seakan ingin membaca maksud yang terselubung dari si orang tua. “Apa kepentinganmu menanyakan hal itu?”


“Jangan bicara angkuh di wilayah kami!” Desis kakek-kakek itu, “Sebelumnya kau telah membunuh bahkan memakan beberapa dari penjaga kami. Dan kami masih berbesar hati tidak ingin memperpanjang masalah itu. Tapi kami perlu tahu tujuan apa sebenarnya kalian datang kesini. Jika tujuan baik, kami akan membiarkanmu lewat, tapi jika tujuan buruk, jangan salahkan kami jika kami bertindak keras terhadap kalian.”


“Eh, kau mengancam aku... agaknya?” Si pemuda menyeringai, namun sesaat kemudian ia mengerenyitkan dahi ketika mendengar Arya yang asli menyuruhnya untuk menuruti saja apa mau si kakek tua tersebut.


Si kakek tertawa mengekeh. “Apakah kau sangka disini tidak ada yang bisa menandingi kekuatanmu. Kalian hanyalah berempat, sedang kami berjumlah banyak. Lagipula sebagai pemilik rumah, kami berhak menanyakan maksud dari orang-orang yang tak di undang datang kesini. Bukankah demikian?”


“Jika kalian memang tak bertujuan buruk, kenapa kalian harus menutup-nutupinya dan tidak mau berterus-terang? Ah, ku kira kau betul-betul seorang kesatria berhati jantan! Kiranya hanya budak hina dina yang pengecut berhati tolol!” lanjut si kakek pula.


Wajah Arya menjadi merah menegang, tapi sekuatnya ia berusaha untuk menahan diri. “Tak perlu banyak bicara! Baiklah, akan ku beritahu... Kedatangan kami kesini adalah untuk mencari bunga energi. Apakah kau sudah puas.”


“Bisa kau perjelas bunga energi macam apa yang kau maksudkan itu?”


“Bunga yang bisa menyerap energi.” Jawab Arya singkat.


Si kakek mengerutkan dahinya. Ia diam beberapa lama sambil mengamati ekspresi orang-orang dihadapannya. Kemudian berkatalah ia, “Aku masih tak mengerti. Lebih baik, kalian ikutlah denganku menghadap ratu kami.”


Putri Zhou Jing Yi ingin mengutarakan penolakan, karena menurutnya hal itu akan membuang-buang waktu mereka yang sangat terbatas. Mereka harus secepatnya membawa bunga energi untuk menyembuhkan Raja Zhou Lun. Namun Arya sudah lebih dulu berkata,


“Baiklah... Bagaimanapun kami disini adalah tamu. Sebagai tamu yang tahu peradatan, kami memang harus menghormati tuan rumah.”


Demikianlah, mereka kemudian dibawa ke lembah sebelah selatan, melalui sebuah jalan berputar dan berliku turun naik. Kemudian sampailah mereka di sebuah danau yang luas dan bermata air biru muda. Di tengah danau itu ternyata terdapat sebuah pulau kecil yang di tumbuhi banyak pepohonan raksasa dan semak belukar yang rimbun.