
Lantai delapan tidak seperti lantai-lantai sebelumnya, disini terdapat ruangan yang tidak terlalu besar namun cukup untuk menampung puluhan orang. Ruangan itu dapat ditemui ketika seseorang baru saja naik ke lantai delapan.
Disana para tamu langsung di suguhkan dengan pemandangan yang menyegarkan mata para lelaki. Terdapat puluhan wanita-wanita cantik berpakaian yang hanya menutupi bagian dada dan kewanitaannya.
Sebelah kanan duduk berderet wanita-wanita yang berusia sekitar belasan tahun, sebelah kiri di tempati wanita-wanita berumur 20 sampai 30 tahun, sementara di sebelah depan hanya di tempati 14 wanita yang kesemuanya sangat jelita dan berbadan sekal, ke-14 wanita itu masih perawan.
Dari para wanita-wanita inilah bau wangi parfum menyerbak ke seluruh ruangan. Semakin membakar birahi para lelaki yang datang bertujuan untuk mencari kenikmatan surga duniawi.
Di ujung ruangan terlihat 4 lorong yang di terangi lampion-lampion kecil menggantung di atasnya, membuat suasana remang-remang terkesan menenangkan dan romantis. Di sepanjang lorong terdapat beberapa pintu, sepertinya itu adalah kamar untuk para tamu yang ingin melakukan ritual cocok tanam mengarungi puncak kenikmatan dengan wanita-wanita penghibur pilihan mereka.
Seorang pemuda berjalan dari kursi yang di sediakan untuk para tamu, ia menuju ke depan dan berhenti dihadapan 14 gadis-gadis perawan. Sejenak pemuda itu berdiri tegak memandangi mereka satu persatu sebelum akhirnya menghampiri salah seorang diantara mereka.
Melihat pemuda tampan yang berdiri memandangi mereka, kesemua gadis perawan nampak terkesima berharap pemuda itu akan memilih mereka, namun mereka juga heran dan menyayangkan pemuda setampan itu sama seperti lelaki hidung belang lainnya yang datang hanya untuk memuaskan hasrat bejatnya.
Gadis penghibur yang di dekati pemuda itu segera bangkit berdiri dan menyunggingkan senyuman semanis mungkin untuk memikat hati si pemuda. Sebenarnya dia melakukannya karena terpaksa, meski tidak rela kesuciannya akan di renggut namun dia tidak punya pilihan lain, sebab saat ini tubuhnya memang sudah menjadi milik mucikari rumah seribu bunga.
"Berapa harga yang harus ku bayar untuk menebus kalian."
Perkataan si pemuda membuat gadis yang berdiri dihadapannya terheran. Begitu juga dengan ke-13 gadis lainnya yang mendengar dan memandangi pemuda itu.
"Apa maksud tuan mengatakan 'menebus kalian'?" Bertanya si gadis, wajahnya oval, sepasang alisnya tebal membentuk seperti bulan sabit, berdada bulat besar dan berbadan montok. Ia berdiri dihadapan si pemuda dengan air mukanya yang keheranan.
Ketika si pemuda akan membuka mulutnya, tiba-tiba dari samping kanan muncul seorang wanita yang tak kalah semoknya, kedua dadanya yang jumbo di tutupi kain tipis berwana kuning, warna kain yang sama juga menutupi bagian kewanitaannya. Wanita itu tersenyum menggoda sebelum berkata. "Jika tuan muda tertarik pada gadis itu, tuan muda harus membayar 100 keping emas untuk dapat bersenang-senang dengannya."
Si pemuda tersenyum tipis ke arah wanita yang berbicara, "Kepingan emas bukanlah masalah bagiku. Aku ingin membeli semua gadis-gadis ini, bukan hanya untuk semalam tapi untuk selamanya."
Terkejutlah wanita yang mengenakan penutup dada berwarna kuning itu, sekilas matanya membulat, namun segera dia menguasai diri, dia lantas memandangi si pemuda dari atas sampai ujung kaki. "Apakah anda serius dengan ucapan anda itu tuan muda?"
Bagaimanapun wanita itu masih belum yakin, melihat pakaian yang di kenakan pemuda dihadapannya itu sama sekali tidak mencerminkan seorang hartawan, pakaian coklat yang dikenakan pemuda itu malah terkesan seperti kalangan orang biasa. Hanya saja yang membuatnya sedikit percaya adalah wajah si pemuda yang bersih dan tampan, seperti layaknya seorang bangsawan.
Si pemuda yang tidak lain adalah Arya, tertawa tergelak-gelak. "Penglihatanmu memang tajam, tapi kadang penglihatan bisa saja menipu."
Tepat setelah berkata demikian, Arya mengayunkan tangan kanannya. Seketika dari ruang hampa muncul gunungan emas setinggi mata kaki, tahu-tahu sudah berada di depan kaki si pemuda berdiri.
Sepasang mata si wanita yang mengenakan penutup dada berwarna kuning itu berkilat-kilat melirik ke arah gunungan emas itu. "Maafkan wanita ini karena telah meragukan tuan muda."
Arya tersenyum sinis sebelum mengibaskan kembali tangannya, gunungan emas itu secara ajaib lenyap seperti sihir.
"Sekarang katakan, berapa harga yang harus ku bayar untuk menebus mereka." Berkata Arya sambil bersedekap.
"Tidak perlu terburu-buru tuan muda, mari duduk. Biar kami melayani anda dulu dengan layanan yang istimewa." Ucap si wanita berpakaian kuning itu lalu menoleh ke arah salah seorang wanita yang berdiri agak jauh dari samping kirinya.
Arya menggeleng, "Aku tidak punya banyak waktu. Cepat katakan saja berapa harga yang harus ku bayar."
Si wanita tersenyum kecut, sebenarnya dia berniat mendekati Arya untuk mengorek indentitas pemuda itu, sekaligus memberikan pelayan yang istimewa untuk menguras harta si pemuda. Namun karena sang pemuda tidak mau berbasa-basi, diapun tidak berani memaksa khawatir menyinggung si pemuda, lantas dia berfikir sejenak untuk menetapkan harga yang cocok.
"Sepuluh ribu keping emas untuk satu gadis perawan ini tuan." Ucapnya sambil tersenyum genit.
"Apa kau tidak salah mengajukan harga setinggi itu padaku? Bukankah seharusnya harga dari satu gadis ini hanya lima ribu keping emas."
Mendengar ucapan si pemuda, wajah wanita itu berubah kecut, tubuhnya sedikit bergetar. Mendapati si pemuda sudah mengetahui harga dari seorang gadis perawan pada umumnya, dia menebak pemuda itu sudah sering membeli gadis-gadis disini atau mungkin pemuda itu adalah orang-orang kerajaan, yang memang sering kali membeli gadis-gadis perawan.
"Berbeda? Apanya yang berbeda? Mereka semua terlihat seperti gadis-gadis lainnya. Memiliki sepasang mata, sepasang tangan, sepasang kaki, memiliki hidung, bibir dan..." Arya meletakkan kedua telapak tangannya ke dadanya sendiri, menggerakkan jari-jarinya seperti meremas-remas.
Melihat sikap si pemuda, semua gadis yang menyaksikannya nampak menunduk malu, bahkan ada yang tertawa pelan menanggapi kekonyolan pemuda itu.
Si wanita berpakaian kuning sendiri terdiam, dia tidak bisa menjawab dan tidak berani memandangi wajah si pemuda. Dia khawatir, harga tinggi yang di ajukannya itu akan membuatnya terseret dalam masalah. Sebelumnya dia beranggapan bahwa si pemuda tidak akan tersinggung, karena pemuda itu sendiri yang mengatakan bahwa kepingan emas bukanlah masalah baginya. Tetapi karena pemuda itu sudah tahu harga yang biasa ditetapkan untuk membeli gadis-gadis perawan, maka dengan sendirinya dia tertangkap basah berniat memanfaatkan si pemuda.
"Kenapa kalian tertawa? Hmm, rupanya kalian sudah tidak sabar ingin menikmati remasan tanganku di dada kalian yang besar dan montok itu." Seloroh Arya lalu tertawa tergelak-gelak.
Semua gadis nampak melotot, namun tidak ada satupun yang berani berkomentar ataupun membuka suara. Mereka tidak habis pikir pemuda tampan itu memiliki pikiran yang konyol dan mulut yang asal berkata tanpa di saring terlebih dahulu.
Arya kemudian menatap si wanita berpakaian kuning, "Karena kau telah berniat memerasku, maka sebagai hukumannya kau harus memberikan potongan harga untukku."
"Tapi tuan, harga gadis-gadis ini sudah ditetapkan, tidak bisa dipotong ataupun di tawar lagi." Ucap si wanita berpakaian kuning.
"Hmm.. rupanya kau pintar sekali berbisnis. Aku memang punya banyak harta tapi bukan berarti aku akan menuruti harga yang kau ajukan itu. Sebagai seorang pembeli aku berhak menawar, apalagi aku akan memborong semua gadis ini."
"Tapi ya sudah kalau memang tidak bisa di tawar, aku tidak jadi membeli." Berkata Arya dengan acuh, lalu bersikap pura-pura hendak pergi.
Baru saja Arya berbalik badan, si wanita berpakaian kuning berkata. "Baiklah, aku akan mengurangi harganya menjadi 4.500 keping emas."
"4.000 keping emas kalau mau, kalau tidak, ya tidak masalah, aku akan pergi." Ucap Arya tanpa membalikkan badan, dia kemudian mulai melangkahkan kakinya.
"Tunggu tuan muda! Baiklah, aku setuju."
Arya membalikkan badan, bibirnya menyunggingkan senyuman penuh kepuasan. Sambil memikirkan 56.000 keping emas, diapun mengibaskan tangannya. Seketika muncullah gunungan emas di hadapannya.
"Berikan surat perjanjian atas nama gadis-gadis ini, baru setelah itu kau boleh mengambil kepingan emas-emas itu." Berkata Arya dengan berkacak pinggang, memperlihatkan sikap angkuh.
Melebarlah sepasang mata si wanita berpakaian kuning. Ucapan Arya semakin menguatkan dugaannya bahwa pemuda itu memang sudah sering membeli gadis-gadis di sini.
"Baiklah, aku akan mengambil surat-surat itu dulu." Ucap si wanita lalu melangkah dengan terburu-buru menuju lantai atas.
Dengan sorot mata yang tak lepas memandangi gadis-gadis perawan di hadapannya, Arya kemudian berjalan mendekat.
Wajah semua gadis itu nampak kecut, namun buru-buru mereka menyunggingkan senyuman. Di mata mereka, pemuda yang berjalan ke arahnya itu tidak lebih dari pemuda brengsek yang akan merenggut kesucian mereka.
"Kalian semua masih memiliki masa depan, jadi sekarang apa yang akan kalian lakukan setelah aku menebus kalian?" Ucap Arya lalu seenaknya dia duduk diantara gadis-gadis perawan yang hampir sepenuhnya telanjang itu.
Seorang gadis yang duduk di sebelah kiri menoleh, hanya dua jengkal jarak antara wajahnya dengan wajah pemuda disampingnya itu. Dia ingin membuka suara, namun suaranya seolah tersangkut karena bersamaan dengan itu, Arya menoleh menatap matanya dengan teduh. Tatapan pemuda itu tak pelak membuat jantungnya berdegup kencang.
Sebenarnya gadis itu ingin memohon agar di lepaskan, dan mengenai uang yang di keluarkan pemuda itu, akan di gantinya suatu saat nanti. Namun seperti terpelet, gadis itu malah mengatakan, "Aku akan melayani tuan dengan sepenuh hatiku, aku sepertinya sudah jatuh cinta padamu tuan."
Arya melebarkan mata, jari telunjuknya ia gerakan untuk mendorong si kening gadis. "Kita baru saja bertemu, terlalu cepat untuk main cinta-cintaan. Aku sebe...."
Sebelum Arya menyelesaikan ucapannya, gadis itu menempelkan jari telunjuknya ke bibir pemuda itu. "Meskipun tuan hanya tertarik pada tubuhku, tapi aku akan sepenuhnya mencintai tuan dengan segenap hatiku. Sekarang aku sudah menjadi milikmu tuan..."
Dahi Arya mengerenyit, dia lalu menyingkirkan jari si gadis dari bibirnya. Namun sebelum dia membuka suara, gadis itu tiba-tiba memeluknya. Hal itu sontak saja membuat Arya gelagapan dan salah tingkah.