
Beruntung ruangan kedai tersebut cukup luas dan tinggi. Walaupun pertarungan tiga orang itu memporak-porandakan meja dan kursi, namun belum sampai ke meja yang di tempati Arya dan kawan-kawan.
Bduuuarr...
Suara benturan energi kembali terdengar, membuat Arya harus mengangkat tangannya untuk menghentikan meja dan kursi yang mengarah ke tempatnya.
Hampir seluruh meja dan kursi telah hancur, pemilik kedai tidak berani muncul, ia hanya menyuruh petugas keamanan untuk melihat keributan di ruangan pengunjung. Belum sempat petugas keamanan melerai pertarungan tersebut, mereka sudah terpental dan terluka karena terkena serangan nyasar.
Duuuaaarr.. Braaakk...
Tubuh Chenku terpental menabrak dinding sebelah kanan sampai jebol, sedangkan pria bercadar hampir saja menghantam dinding sebelah kiri jika tidak di tahan oleh Arya.
"Uhukk.." Pria bercadar tersebut memuntahkan darah yang membuat cadarnya basah.
"Kau terluka dalam orang tua, obatilah lukamu dulu."
"Tidak, dia akan kabur atau bahkan membunuh putriku." Pria bercadar tersebut segera berkelebat mengejar anak gadisnya yang sudah terlebih dulu mengejar Chenku.
"Terimalah kematianmu, lelaki biadab." Gadis bercadar mengayunkan pedangnya, memanfaatkan keadaan Chenku yang baru saja mendarat di tanah dengan punggung terlebih dahulu.
"Wanita sialan, aku akan membunuhmu."
Chenku yang berada di tahap Pendekar Kaisar tingkat awal tentu dengan mudah dapat menghindari serangan seorang yang hanya berada di tahap Pendekar panglima.
Chenku berguling dengan cepat lalu menyarangkan tendangan ke perut gadis bercadar.
"Uhukk!"
Tubuh gadis bercadar tertekuk ke depan sebelum di terbangkan oleh kekuatan tendangan Chenku. Mulut gadis bercadar menyemburkan darah, suara teriakannya terdengar sampai ke dalam ruangan kedai.
Gadis bercadar yang berpakaian serba hitam itu mendarat di tanah dan terseret beberapa meter. Ia segera berusaha bangkit sambil memegangi perutnya yang agak membuncit. Namun dia kembali jatuh berlutut, cairan merah merembes keluar dari pangkal kakinya.
"Hahaha... Sebaiknya ku bunuh saja kau, agar kelak aku tidak di repotkan lagi olehmu."
Chenku yang juga terluka dalam, mencabut golok pendek dari pinggangnya. Ia melompat terbang ke atas sambil mengayunkan goloknya, berniat membelah kepala gadis bercadar.
Buuggg...
Suara benturan tubuh dengan dinding tanah terdengar keras. Perlahan tubuh Chenku merosot ke bawah searah dengan dinding tanah.
"Sial.." Umpat Chenku sambil menendang dinding tanah yang tiba-tiba muncul membentur tubuhnya.
"Hahaha.. Lelaki nafsu besar, dinding tanah saja mau kau tiduri! Hahaha..." Arya tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa dia merasa tertular dengan sikap jahil dan kekonyolan Wukong.
Wajah Chenku memerah, otot-otot di lehernya menegang. Dia benar-benar marah karena telah di permalukan.
Chenku yang kalap segera berlari dengan cepat, kemampuan meringankan tubuhnya memang cukup lumayan. Dia menebaskan goloknya ke ubun-ubun Arya, Namun...
"Wadoooww.."
Chenku berteriak kesakitan sebelum berguling-guling. Dia melupakan goloknya, dan lebih memilih menggunakan kedua tangannya untuk memegangi dua buah biji telur di pangkal kakinya.
Ternyata ketika Chenku berlari, Arya meluncurkan bola tanah ke pangkal kaki Chenku dengan sangat keras.
Chenku terus bergulingan kesana kemari karena telurnya pecah, namun sebagai pendekar kaisar dia tentu dapat menguasai diri. Chenku segera menotok beberapa bagian tubuhnya untuk menghilangkan rasa sakit yang ia derita.
Setelah itu, Chenku bangkit berdiri, dia menatap Arya dengan tajam. Aura pembunuh dia keluarkan untuk memberikan tekanan. Namun Arya bukan hanya tersenyum tenang, dia justru mengalihkan pandangannya ke arah pria tua bercadar, seakan Arya ingin menunjukkan jika dia sama sekali tidak takut jika Chenku tiba-tiba menyerang.
"Kakek tua, kenapa kau hanya diam. Katanya kau ingin membunuh calon mantumu ini."
"Terimakasih karena telah membantuku.." Pria bercadar tersebut berkelebat ke arah Chenku.
Para pengunjung yang sebelumnya keluar maupun para pejalan kaki yang tidak sengaja melintas, nampak berkerumunan, menyaksikan pertarungan tersebut dari kejauhan.
"Aku sudah tidak sudi memintamu menjadi suami anakku. Lebih baik anakku tidak menikah daripada mempunyai suami sepertimu." Pria bercadar menunjuk golok yang tergeletak di tanah. "Ambil golokmu! Kita selesaikan ini dengan cepat."
"Kau akan menyesal! Kali ini aku tidak akan segan lagi membunuhmu."
Chenku melangkah congkak, mengambil goloknya yang tergeletak di tanah. Dia yakin bisa membunuh ayah dari mantan kekasihnya itu. Dalam pertarungan yang telah lalu, Chenku kabur bukan karena kalah bertarung, tetapi dia hanya tidak mau membunuhnya.
Berbeda dengan kali ini, Chenku benar-benar telah muak. Apalagi sebab merekalah biji telur miliknya pecah.
Chenku menghentakkan kakinya, menggenjot tubuhnya ke depan melaju cepat melancarkan serangan.
Di saat yang sama pria bercadar juga melesat ke depan, mengalirkan Qi ke bilah pedangnya, bermaksud menebas lawannya.
Arya tersenyum tipis, tatapannya tajam menuju ke arah Chenku.
"Apa yang terjadi.."
Chenku yang sedang melesat di udara, sangat terkejut mendapati tubuhnya tiba-tiba kaku. Matanya mendelik saat di ambang matanya melihat sebilah pedang mengayun kuat ke tubuhnya.
"Hentikan ayah!"
Gadis bercadar terlihat terseok-seok berjalan memutari dinding tanah, dia terbelalak saat melihat pedang ayahnya telah menebas leher Chenku.
Kepala Chenku terhempas ke tanah lalu menggelinding.
"Mei Yin!" Pria bercadar berlari memapah putrinya. "Kau mengalami pendarahan, ayo cepat kita ke Tabib."
"Tunggu ayah! Aku ingin melihat Chenku untuk yang terakhir kali."
Walau bagaimanapun Mei Yin pernah mencintai Chenku. Perutnya sakit bukan main, kini di tambah hatinya terasa hampa. Semua bermula dari hubungan terlarang malam itu. Harusnya jika ia bisa menjaga kehormatan dirinya, maka semua ini tidak akan terjadi.
Dengan di bantu ayahnya, Mei Yin menghampiri jasad Chenku. Mei Yin membuka cadarnya, lalu menangis keras, meratap. Penyesalan luar biasa menghujam hati, pilu dan pedih.
"Penyesalan selalu datang belakangan, maka pikirkan akibat sesuatu yang akan kau lakukan."
Arya datang menghampiri Mei Yin sambil menenteng kepala Chenku, lalu meletakkan di tempat seharusnya kepala itu berada.
"Cintailah seseorang semaumu, tapi ingat kau akan berpisah darinya." Ucap Arya.
Pria bercadar memandangi Arya, "Pendekar muda, aku tahu kau yang membantuku, sehingga aku bisa membunuh Chenku dengan mudah. Aku sangat berterimakasih padamu. Aku tidak bisa membaca tingkat kultivasimu, tapi aku yakin kau bukan pendekar biasa. Perkenalkan namaku, Bai Guan dan ini putriku Mei Yin."
Bai Guan kemudian membuka cadarnya, Arya hanya mengangguk lalu menoleh ke arah pria yang berlari menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.
"Tuan Pendekar, mohon maafkan atas kelancanganku. Tapi siapakah yang akan mengganti rugi semua ini."
Lelaki pemilik kedai memberanikan diri untuk bertanya setelah gagal menyuruh para bawahannya.
Bai Guan dan Mei Yin saling bertatap mata dan lalu menunduk. "Maafkan kami tuan, sungguh kami tidak memiliki keping emas untuk mengganti kerugian. Padahal kami juga harus ke tabib untuk mengobati putriku yang mengalami pendarahan, sedangkan dia dalam keadaan mengandung."
Bai Guan berkata dengan nada memelas. Satu masalah telah ia selesaikan, tapi kini datang dua masalah baru. Dia benar-benar tidak memiliki keping emas.
Sebagai seorang pendekar, Mei Yin bisa saja menghentikan pendarahan yang ia alami. Tapi untuk menghentikan pendarahan sebelum janin di keluarkan, ia khawatir akan berbahaya.
Mei Yin kembali menyesal, hanya karena kenikmatan sesaat, ia harus mengalami penderitaan yang bertubi-tubi.
Arya sengaja diam, dia ingin memberi pelajaran pada gadis yang sedang hamil tersebut. Bahwa kenikmatan sesaat yang ia lakukan akan berimbas banyak hal. Dan sebagai wanita, tidak sepatutnya dia membiarkan lelaki menjamahnya, tanpa terlebih dulu terikat hubungan suami istri.
"Tuan.." Ucap Hulao lirih. Dia telah berdiri di samping Arya. "Bantulah mereka, kasihan gadis itu pendarahannya saja belum berhenti."
"Kenapa aku harus membantu mereka? Mereka juga yang salah. Orang tuanya tidak mampu mendidik putrinya, dan putrinya kurang berbakti pada orang tuanya. Kesalahan harus mereka tanggung sendiri." Arya berkata dingin, agar menjadi pelajaran bagi orang tua dan putrinya tersebut.
Karena merasa kasihan, Honglong berkelebat mendekat. Dia menggunakan tekniknya untuk menarik logam mulia dari dalam tanah.
Beberapa saat kemudian, muncul beberapa bongkah batu berkilauan dari dalam tanah. Kejadian tersebut membuat semua orang melebarkan mata, bahkan si pemilik kedai sampai mengucek matanya berulangkali, karena masih belum percaya dengan kejadian yang dia lihat.
Batu-batu yang berkilauan tersebut melayang dan akhirnya berada di atas telapak tangan Honglong.
"Terimalah ini, ku rasa semua ini cukup untuk menggantikan kerugian dan biaya pengobatan putrimu." Honglong memberikan lima batu berlian seukuran kerikil kepada Bai Guan.
"Aku berhutang budi padamu.. Terimakasih banyak tuan. Aku akan mengingat ini selamanya. Suatu saat jika Sang Pencipta menghendaki, aku akan membalasnya." Bai Guan menerima berlian tersebut lalu bersujud di hadapan Honglong.
"Bangunlah, tidak perlu bersikap berlebihan seperti itu." Ucap Honglong dengan berwibawa.
"Wooii tupai tengik, apakah ada yang salah dengan otakmu sekarang?." Cibir Hulao karena tidak biasanya tupai somplak itu bersimpati terhadap orang lain.
Arya melototi Hulao dan Honglong secara bergantian, khawatir mereka kembali bertikai karena masalah sepele.
"Tuan, apakah ini cukup untuk membayar semua makanan kami dan seluruh pengunjung?" Arya memberikan sekantung kecil yang berisi penuh kepingan emas kepada pemilik kedai.
"Ini.." Mata pemilik kedai melebar, rasa cemas karena kedainya hancur seakan terlupakan sebab kini dia mendapatkan kepingan emas yang berlimpah.
Arya tersenyum tipis lalu pamit berlalu pergi.
"Kenapa tuan tidak menolong mereka? Bukankah tuan memiliki banyak harta." Tanya Hulao sambil berjalan di samping Arya.
"Tindakan sepertimulah yang menjadikan kesalahan dalam lingkungannya terulang. Dalam alam bawah sadar mereka tertanam bahwa kesalahan tersebut bisa dimaafkan dengan mudah. Seakan kita memberi ijin kepada mereka, dengan berkata. 'Berbuatlah kesalahan, kami akan membantu jika kalian mendapatkan kesulitan sesudahnya.' Bukan berarti aku tidak mau menolong, tetapi bukankah aku sudah memperingatkan mereka sebelumnya agar tidak bertarung di dalam kedai."
"Aku tidak paham akan apa yang anda katakan, tuan. Bisakah anda menjelaskannya dengan lebih sederhana." Timpal Hulao.
Arya menghela nafas dan menggeleng pelan. Tidak terasa mereka sudah berada di depan pintu gerbang.
______
Terimakasih masih setia mengikuti cerita PNE.
Bantu dukung dengan Vote, Like dan Komentar. 🙏👍