
Sama halnya dengan ruangan goa yang ada di atas, ruangan bawah goa ini juga di terangi oleh penerangan dari lampu minyak. Meskipun minim pencahayaan, namun Arya masih dapat melihat dengan jelas keadaan di dalam ruangan tersebut.
Dia berjalan ke salah satu bongkahan batu, sepasang telinganya menangkap dari balik bongkahan batu tersebut terdengar suara seorang perempuan merintih.
Sesampainya di bongkahan batu yang setinggi dada dan memiliki lebar sekitar dua meter tersebut, Arya membelalakkan mata, ketika sepasang matanya melihat di antara remangnya pencahayaan, di sana terlihat seorang lelaki tengah menggagahi seorang perempuan yang terlentang di atas tumpukan jerami. Keduanya sama-sama telanjang tanpa busana.
Perempuan itu masih muda, parasnya tidak terlalu cantik dan berkulit agak hitam. Tetapi dia memiliki bagian-bagian tubuh yang kencang serta serba besar.
Di tengah pergulatan mengarungi kenikmatan, lelaki itu menghentikan permainannya karena merasakan keberadaan orang lain di dekatnya.
"Sialan, bersabarlah! Aku belum selesai.." Rutuk lelaki itu tanpa menoleh, pinggulnya kembali bergoyang menimbulkan suara khas, sementara kedua tangannya masih sibuk meremas-remas dada si perempuan.
Sebagai seorang lelaki, melihat pemandangan itu diam-diam Arya menjadi terangsang, namun segera dia mengendalikan diri.
Braaaakk..
Tiba-tiba lelaki itu terlempar membentur dinding batu, sampai kepalanya pecah mengeluarkan banyak darah. Karena terbakar birahi, lelaki itu tidak menyadari bahwa orang yang mendekatinya ternyata adalah musuh. Alhasil, dia harus meregang nyawa sebelum sempat menuntaskan hasratnya mencapai puncak kenikmatan.
Perempuan yang tadinya memejamkan mata dengan nafas terengah-engah, sontak saja mengerjapkan mata ketika mendengar suara benturan. Pandangannya sesaat masih buram karena terlalu lelah, namun ketika merasakan bagian bawah tubuhnya sudah tidak terasa benda yang tadi menusuknya. Perempuan itu mengucek matanya yang sayu untuk memastikan.
Arya tidak berani lagi melihat tubuh si perempuan, pandangannya kini tertuju ke salah satu sudut, disana terdapat pakaian berwarna merah yang tergeletak, namun pakaian itu sudah robek-robek tidak layak dipakai.
Dengan mengibaskan tangan ke arah si perempuan, tiba-tiba muncul sepasang baju yang menutupi tubuh telanjang si perempuan yang terbaring tersebut.
Perempuan itu membuka mulutnya, namun tidak ada suara yang keluar, tubuhnya sangat lemas dan terasa begitu remuk, sementara wajahnya tergambar rasa sakit yang teramat sangat karena telah di gilir belasan lelaki. Dia kembali memejamkan matanya, pasrah jika harus kembali memuaskan nafsu biadab sosok bertopeng yang ada di dekatnya tersebut, sosok itu tidak lain adalah Arya.
"Jangan takut, aku tak akan menyakitimu. Aku ingin menolongmu. Sekarang kenakanlah pakaian itu dan keluarlah dari sini, kembalilah ke rumahmu." Ucap Arya.
"Haus, minum, aku ingin minum.." Terdengar suara lirih dari sela bibir perempuan itu.
Arya memandang sekeliling, di lihatnya sebuah kendi, lantas di ambilnya dan diguncangkannya. Terdengar suara air di dalam kendi itu. Segera Arya berlutut dan menempelkan lubang kendi ke bibir perempuan tersebut.
Namun baru setengguk air yang di minum, perempuan itu menyemburkannya ke samping. Ternyata air yang ada di kendi itu adalah arak.
"Aku butuh air bukan arak." Desis perempuan itu setelah berhenti terbatuk-batuk, tenggorokannya masih terasa panas.
Arya menggaruk tengkuknya dengan canggung lalu menaruh kendi berisi arak tersebut ke lantai. Situasi ini membuatnya lupa jika dia bisa saja menyuruh para siluman tupai yang ada didalam dimensi miliknya untuk menyediakan air.
Dengan mengibaskan tangan, tiba-tiba mucul kendi berukuran kecil berada di tangan kirinya.
Arya kembali menempelkan ujung lubang kendi di tangannya ke bibir perempuan itu.
Setelah meminum, wajah perempuan itu berangsur membaik. Nafasnya mulai teratur.
Selain memberi minum, Arya juga mengalirkan energi kehidupan milikinya untuk membantu mempercepat pemulihan kondisi perempuan tersebut.
"Sebaiknya kau lekaslah kenakan pakaian, aku akan mengantarkanmu pulang." Ucap Arya seraya berdiri.
Perempuan itu bukannya menjawab, dia malah meraba dadanya lalu meraba wajah dan tubuhnya. Kemudian tiba-tiba dia terisak menangis.
Arya hanya terdiam, menunggu sampai perempuan itu tenang.
Beberapa saat kemudian, perempuan itu mulai tenang dan lalu membuka suara, "Tidak, aku tidak ingin kembali. Memalukan sekali jika aku kembali, semua orang akan tahu apa yang terjadi padaku. Aku ingin mati saja... Ya, lebih baik aku mati."
"Jangan berpikiran pendek seperti itu, yang mati saja kalau bisa ingin hidup."
"Tapi hidup dengan menanggung malu seperti ini, siapa sudi. Apalagi kalau sampai aku hamil." Perempuan itu kembali menangis.
Arya menggeleng pelan, dia turut merasa iba terhadap nasib perempuan tersebut. "Dengar, hidup adalah anugerah. Dengan mati tidak akan merubah keadaan, justru kau akan mengalami penyesalan yang berkepanjangan. Lagipula saat ini semua orang yang telah berbuat keji terhadapmu telah mendapatkan balasan. Mereka semua telah mati."
Perempuan itu menyunggingkan seringai tipis, "Terimakasih telah membantuku, tapi kalau boleh tahu siapa namamu?"
"Kau bisa memanggilku Li Xian."
"Aku akan selalu mengingat namamu." Perempuan itu mulai mengambil pakaian yang menutupi tubuh bagian atasnya, sehingga tubuhnya yang polos kini dapat terlihat.
Arya buru-buru memalingkan wajahnya lalu berjalan menjauh untuk memberikan kesempatan pada perempuan itu berpakaian. Tetapi baru saja dia berada di balik bongkahan batu, tiba-tiba di dengarnya sebuah suara benturan, di susul suara tubuh jatuh ke lantai.
Dengan segera Arya melompat ke balik bongkahan batu, namun terlambat, di lantai dilihatnya tubuh perempuan itu belum berpakaian, terkapar dengan kepala pecah berdarah. Perempuan itu lebih memilih mati daripada hidup menanggung aib. Dia telah membenturkan kepalanya sendiri ke bongkahan batu.
Arya tertegun selama beberapa saat, mayat perempuan itu kemudian di masukkannya ke dalam dimensi miliknya. Arya menyuruh para siluman tupai untuk memasangkan pakaian ke tubuh perempuan itu. Dia berniat mengembalikan mayat perempuan tersebut ke rumahnya, supaya keluarganya mengetahui kematiannya serta agar keluarganya dapat mengurus mayat perempuan itu dengan layak.
Setelah keluar dari dalam goa, Arya melompat tinggi ke udara lalu menukik turun, menghantam permukaan atas goa tersebut dengan tinjunya.
Booommm..
Terdengar suara ledakan keras, di susul kepulan debu yang membumbung tinggi menghalangi pandangan. Daya kejut dari ledakan itu juga membuat pepohonan di sekitar goa bertumbangan.
Arya mendarat di dekat reruntuhan goa, menghentakkan kakinya untuk menarik segel pelindung yang dia pasang. Kemudian berkelebat meninggalkan lokasi tersebut.
******
"Apapun yang terjadi nanti, kendalikan dirimu tupai jelek. Jangan merusak rencana atau tuan akan menghukum kita berdua." Desis Hulao sambil berjalan, ia menoleh ke samping menatap Honglong dengan tajam.
"Berisik, diam kau!" Tukas Honglong ketus.
Saat ini Hulao dan Honglong sedang di antar oleh Su Tang menemui kepala penjaga paviliun. Mereka berdua akan menjalani ujian untuk bisa menjadi prajurit penjaga.
Mereka memasuki sebuah bangunan yang hanya memiliki satu lantai dan tidak terlalu besar. Salah satu penjaga disana mempersilahkan mereka untuk menunggu di ruangan depan, sementara penjaga itu masuk ke dalam untuk menghadap atasannya.
Setelah menunggu beberapa saat, dari dalam keluar seorang lelaki bertampang tegas dan bertubuh tegap, dia terlihat masih muda namun usianya yang sebenarnya berkisar 60 tahun, kemampuannya sendiri berada di tahap Pendekar Kaisar.
Melihat orang itu datang, Su Tang buru-buru bangkit dari duduknya. Lalu menelangkupkan tangan, sebagai penghormatan. Berdasarkan sikap dari Su Tang, nampaknya orang itu memiliki kedudukan yang lebih tinggi darinya.
Hulao dan Honglong masih duduk dengan tenang, seolah tak menganggap keberadaan orang itu.
"Kalian berdua, cepat berdiri! Beri hormat kalian!" Desis Su Tang dengan ekor mata melirik Hulao dan Honglong yang berada duduk di sampingnya.
Tampak Hulao dan Honglong saling pandang, beberapa saat mereka baru memahami bahwa orang yang baru saja datang tersebut adalah kepala penjaga yang ingin mereka temui.
Orang itu bernama Bi Changfeng, ia terus menatap Hulao dan Honglong dengan heran, tidak ada teguran yang keluar dari mulutnya.
"Maafkan kami tuan, kami orang kampung yang bodoh. Mohon di maklumi jika kami kurang mengerti bagaimana bersikap pada orang besar seperti anda." Ucap Hulao agak kikuk. Selama hidup dia tidak pernah bersikap demikian terhadap manusia, apalagi terhadap manusia yang lebih lemah darinya. Terkecuali tentu saja Arya, karena dia telah terikat dengan pemuda itu.
Mendengar demikian, Honglong tersenyum mengejek namun buru-buru ia menundukkan kepala untuk menyembunyikan sikapnya tersebut. "Maafkan kami tuan."
"Tak perlu di pikirkan, mari silahkan duduk." Bi Changfeng tersenyum ramah, lalu mengulurkan tangannya untuk mempersilahkan tamunya duduk.
"Terimakasih tuan.." Ucap Su Tang, Hulao dan Honglong bergantian.
Sesudah mereka bertiga duduk, Bi Changfeng lantas duduk di kursi yang terpisah meja di hadapannya.
Su Tang berbasa-basi sebentar lalu mulai mengutarakan maksud kedatangannya membawa Hulao dan Honglong.
Bi Changfeng hanya mendengarkan, namun diam-diam dia mencoba membaca tingkat kultivasi Hulao dan Honglong. Ekspresinya sekilas nampak kecut setelah berulangkali tidak dapat mengukur kemampuan keduanya.
Menyadari perubahan ekspresi Bi Changfeng, Su Tang segera meyakinkan, "Aku tidak mungkin membawa manusia biasa datang ke sini dan meminta anda untuk menjadikan mereka sebagai prajurit. Meski kultivasi mereka tidak dapat terbaca, tapi percayalah tuan, mereka memanglah seorang pendekar."
Bi Changfeng hanya mengangguk, sebenarnya perubahan ekspresinya bukan lantaran menganggap Hulao dan Honglong sebagai manusia biasa, tetapi karena dia curiga bahwa mereka berdua memiliki maksud terselubung. Bi Changfeng yakin kedua orang yang di bawa Su Tang tersebut memiliki kemampuan di atasnya, berfikir demikian dia curiga 'untuk apa seseorang yang memiliki kultivasi di atasnya mengajukan diri menjadi prajurit.?'
"Baiklah, kalian saya terima. Mulai malam ini kalian sudah bisa menjalankan tugas, tetapi jika kalian ingin beristirahat terlebih dulu, kalian boleh mulai bertugas besok malam." Ucap Bi Changfeng memperlihatkan senyuman yang di buat-buat.
"Terimakasih tuan.." Sahut Honglong bersemangat, dia senang karena tidak perlu buang-buang waktu menjalani berbagai ujian.
"Terimakasih tuan, tapi bukankah untuk menjadi prajurit kita di haruskan melalui serangkaian ujian?" Hulao merasa ada yang aneh, namun apapun itu dia sama sekali tidak khawatir.
"Tidak perlu, jika kepala prajurit devisi empat Su Tang sendiri yang mengajukan kalian, tentu aku tidak perlu meragukan pilihannya. Aku yakin kalian memang memiliki kelayakan menjadi prajurit." Balas Bi Changfeng berwibawa.
"Baiklah, sekali lagi terimakasih tuan. Malam ini juga kami akan mulai menjalankan tugas." Hulao bangkit, menundukkan badan dan menelangkupkan tangan. Di susul Honglong yang juga bersikap demikian.
Bi Changfeng mengangguk, kemudian dia menepuk tangannya memanggil salah seorang bawahannya.
Salah seorang penjaga di luar berjalan masuk, lalu berlutut. "Hamba siap menjalankan perintah, tuan."
"Antarkan mereka ke paviliun tuan putri, siapkan juga seragam dan senjata untuk mereka." Perintah Bi Changfeng dengan tatapan yang tak lepas memandangi Hulao.
"Baik, tuan." Penjaga itu menelangkupkan tangan masih dalam posisi berlutut. "Mari saya antar..." Penjaga itu bangkit, Hulao dan Honglong segera pamit sebelum melangkah keluar, mengikuti penjaga itu.
Bi Changfeng menatap kepergian Hulao dan Honglong, sesudah keduanya tidak terlihat, dia kemudian menatap Su Tang dengan tatapan serius.
"Sekarang jelaskanlah semuanya mengenai asal-usul mereka berdua!"
Wajah Su Tang nampak menegang, dia sadar bahwa Bi Changfeng menganggap dirinya telah melakukan kesalahan. "Mereka adalah teman adik sepupuku, tuan. Baru-baru ini mereka datang dari desa Luan, mereka mendatangiku dengan tujuan ingin menjadi prajurit, aku membawanya kemari karena..."
Bi Changfeng mengangkat tangannya ke depan, "Cukup, seperti katamu, jika mereka berasal dari desa Luan, lalu apakah kau sudah memeriksa keaslian dari indentitas mereka?"
Ekspresi Su Tang seketika menjadi buruk, dia menunduk lalu menggeleng pelan. "Maafkan aku tuan.. aku telah ceroboh. Karena begitu tertarik pada kemampuan mereka, aku sampai lupa menanyakan indentitas mereka."
Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening sebelum Bi Changfeng bangkit berdiri dan lalu membuka suara. "Kesalahan tetaplah kesalahan, tapi untuk saat ini aku tidak akan menghukummu. Sekarang kau harus mengawasi mereka, jika sampai kedua orang yang kau bawa itu adalah mata-mata ataupun musuh, maka kau harus menanggung akibatnya."
"Kembalilah.."
Setelah berkata demikian, Bi Changfeng lantas berjalan masuk meninggalkan Su Tang yang nampak menyesali keteledorannya.