
Wu Sha merasakan tubuhnya ditarik, lalu melayang cepat di udara. Pandangan matanya nanar dan menjadi gelap. Dia merasakan sekujur tulang persendian tubuhnya seperti ditanggalkan. Lemah tanpa tenaga. Akhirnya dia tak tahu apa-apa lagi.
Entah beberapa saat lamanya kemudian, ketika Wu Sha membuka matanya, dia jadi terkejut karena telah berada didalam sebuah goa berbau pengap. Pemuda ini sontak membelalakkan matanya memandang ke sekeliling yang hanya terlihat dinding-dinding batu cadas.
“Hah... Goa ini!” pekiknya berdesis karena baru sadar bahwa dirinya telah berada di dalam goa yang selama ini menjadi tempat persembunyiannya. Saat itulah tiba-tiba terdengar suara yang berpantulan menggema diiringi suara tertawa menyeramkan dari segala penjuru.
“Chen Ren, lakukanlah tapa selama empat puluh hari empat puluh malam untuk menyempurnakan ilmu-ilmu yang kau miliki!”
Suara itupun lenyap bersamaan dengan lenyapnya pula suara tertawa yang menggidikkan dari sekeliling ruangan goa. Itulah suara-suara tertawa Raja Kegelapan!
Rupanya Raja Kegelapan memutuskan kembali ke Sekte Iblis Berdarah. Ia ingin memastikan semua persiapan pembangkitan Raja Iblis tak menemui kendala. Karena itulah dikesampingkannya sebentar niatnya untuk mengambil alih tubuh Chen Ren. Tapi dia juga tak melepaskan pengawasan terhadap gerak-gerik pemuda itu setiap saat.
“Baiklah, aku akan melaksanakannya!” sahut Chen Ren dengan tersungut kesal. Gelora b*rahinya terpaksa harus ditahankan karena mau tak mau ia harus menuruti perintah Raja Kegelapan.
Ruangan goa itu amat menyeramkan. Batu-batu runcing berbentuk kerucut serta relung-relung goa yang bagaikan ruas tulang didalam rongga perut ular raksasa. Puluhan tulang tengkorak kepala manusia bergeletakan disekitar ruangan. Dan hampir di setiap sudut penuh dengan sarang laba-laba. Sementara suara cicit-cicit kelelawar semakin menambah seramnya suasana didalam goa tersebut. Tetapi keadaan disana sudah menjadi makan sehari-hari bagi Chen Ren. Karenanya pemuda ini tenang-tenang saja.
Chen Ren baru tersadar bahwa Pedang Kutukan Iblis masih tergenggam ditangannya. Ia menyeringai memandangi benda itu. Tiba-tiba pedang tersebut lenyap sirna dari tangannya, dan berubah menjadi segumpal asap hitam.
Sontak Chen Ren terperanjat tersurut mundur. Saking terkejutnya, nyaris pemuda itu jatuh tersandung, ketika dilihatnya asap hitam itu tahu-tahu telah berubah menjadi sesosok makhluk yang menyeramkan. Tubuhnya berbulu. Kedua kakinya mirip kaki binatang. Perutnya buncit. Wajahnya sangat menyeramkan. Sepasang matanya bulat besar dan berwarna merah menyala bagai bara api. Rambutnya putih bergerak-gerak seperti hidup. Seringainya menakutkan memperlihatkan gigi-gigi yang runcing. Dan lidah yang terjulur panjang meneteskan lendir. Baunya busuk membuat perut mulas mau muntah.
Makhluk ini perdengarkan suara tertawa tergelak-gelak yang membuat jantung Chen Ren serasa berhenti berdenyut.
“Manusia yang bernama Chen Ren.. aku akan mengawasimu selama dalam pertapaan.” berkata makhluk itu. Kemudian makhluk penjelmaan dari Pedang Kutukan Iblis itu lenyap sirna!
Chen Ren masih termangu-mangu. Baru kali ini dia mengetahui bahwa Pedang yang selama ini dibawanya, pedang pemberian Raja Kegelapan bisa merubah diri menjadi makhluk mengerikan. Rasa senang dan takut menjadi satu membuat tubuhnya tergetar dengan sekujur tubuh basah oleh keringat dingin.
Demikianlah, si pemuda bernama Chen Ren itupun bertapa didalam goa itu menjalankan perintah yang diterimanya.
****
Pagi hari dibulan kelima sangat cerah. Matahari membersit sinarnya yang masih lemah, membuat kilauan-kilauan embun yang melekat di dedaunan bagaikan butir-butir mutiara.
Deburan ombak di pesisir pantai menerbitkan irama-irama syahdu diselingi suara bangau dan camar-camar laut yang bersliweran diatas permukaan air.
Pesisir pantai itu jauh dari perkampungan nelayan. Suasana tempat itu kelihatan tenang dan tenteram. Sebuah gubuk kayu beratap rumbia dengan tiang-tiang penyangga yang panjang terlihat tak jauh dari pantai pasir putih.
Sesosok tubuh tampak bergerak membuat lompatan-lompatan diatas batu karang. Tampaknya seperti tengah berlatih ilmu. Siapa dia adanya, tak lain dari seorang gadis berpakaian warna merah jambu. Dia membuat gerakan melompat-lompat dengan sesekali lengannya mengibas atau memukul dengan pukulan tangan atau kaki kosong.
Setelah belasan jurus, tampak sang gadis merubah gerakan, Tubuhnya melenting indah, sebelah kaki terangkat merentang sembilan puluh derajat. Sedang kaki sebelahnya lagi tegak lurus. Gerakan ini dibarengi dengan teriakan yang menyibak udara,
Ternyata sasarannya adalah sebatang pohon kelapa yang sudah tak berdaun lagi.
Whuuuuuk!
Rupanya jurus tendangan ini berisikan energi Qi. Sebab angin keras segera menyambar ke arah batang pohon kelapa tersebut.
Duuukk! Krraaak...! Bruuukk!
Sangat luar biasa, tanpa kakinya menyentuh sasaran, ternyata batang pohon kepala yang berjarak belasan tombak itu telah patah berderak, roboh tumbang dan jadi abu. Sementara sang gadis membuat gerakan melompat kebelakang dengan lompatan salto, dan jejakan kakinya dengan ringan diatas pasir.
Sejenak gadis ini termangu-mangu. Tampaknya dia tak menyangka kalau jurus tendangannya ini membuahkan hasil yang memuaskan.
Pada saat itulah terdengar suara tertawa terkekeh diiringi munculnya sesosok tubuh dari pintu gubuk. “Hihih... hihih... bagus, kau telah berhasil mempergunakan jurus menendang Iblis, muridku! Hebat, hebat! Dalam waktu kurang dari sebulan saja kau telah dapat melakukannya dengan sempurna!”
Entah bagaimana sosok tubuh itu tahu-tahu telah berada dihadapan si gadis. Ternyata dia seorang nenek tua berjubah putih. Nenek ini tidak lain adalah si Musang Betina Mata Empat.
Dan gadis itu tiada lain dari Nie Zha, yang telah ditolong dan dibawa ke tempat ini oleh si nenek bersama seorang kakek tua si Cambuk Sakti. Si gadis terkejut, karena menyangka wanita tua itu tak ada di gubuk.
“Aih, guru..., kapan kau kembali!? Bukankah kau mengatakan akan kembali besok sore?” tanya si gadis seraya jatuhkan diri duduk bersimpuh di depan nenek itu.
“Hi...hih... aku membatalkan niatku untuk menemui si Cambuk tua, karena kupikir dia belum selesai dengan urusannya!”
“Eh. Sejak kapan kau berlatih, sepagi ini sudah berkeringat?" tanya si nenek kemudian.
“Sejak semalam, guru...” sahut Nie Zha seraya bangkit berdiri.
"Bocah tolol, tahukah kau bahwa Jurus Menendang Iblis itu baru bisa dikuasai kurang lebih selama enam bulan? Tapi kau hanya dalam waktu singkat telah berhasil menguasai!” si nenek geleng-gelengkan kepala, kagum.
“Ah, guru terlalu memuji...” tukas Nie Zha tersipu. Tapi diam-diam hatinya girang bukan main. Padahal hampir sepanjang hari dia melakukan jurus tendangan tersebut dengan sasaran batang pohon kelapa itu, tapi jangankan batangnya patah atau hancur. Bergemingpun tidak! Adalah sangat aneh kalau tadi dia bisa menumbangkannya.
“Hm, jurus-jurus pukulan yang terdiri dari tiga belas jurus itupun ku lihat telah kau kuasai. Hanya saja kau mempergunakan tanpa mengerahkan Qi dengan benar!”
“Apakah nama ketiga belas jurus itu, guru?” tanya Nie Zha penasaran.
“Itulah yang tak bisa ku jawab! Karena aku sendiri belum memberikan nama jurus-jurus itu!” sahut si nenek sambil memijit-mijit dagunya.
“Aneh, jadi jurus-jurus itu tanpa nama?”
“Hah? Apa katamu? Jurus tanpa nama?” desis si nenek dengan mata melotot lebar.
“Ya, guru..... karena jurus-jurus itu tak bernama, jadi kukatakan tanpa nama?” kata Nie Zha dengan menatap heran.
Mendadak si nenek berjingkrak melompat seraya berteriak, dan tertawa terkekeh-kekeh.
“Jadi...jadi maksud guru, nama ketiga belas jurus itu adalah Jurus Tanpa Nama?”
“Benar, benar! Itu yang ku maksudkan. Kau boleh beri nama begitu...!” sahut wanita tua itu dengan tertawa terkekeh.
Nie Zha jadi geleng-gelengkan kepala. “Aiih, kau ini ada-ada saja, guru...!” kata gadis itu dengan tersenyum. Tapi dia setuju dengan nama itu.
“Hm, perasaanku agak lain, muridku... tampaknya akan terjadi sesuatu. Sayang... padahal setengah bulan lagi adalah giliran si Cambuk Sakti untuk memberikan jurus-jurus simpanannya padamu!” suara si nenek seperti bergumam walaupun ditujukan pada muridnya.
Nie Zha mengerutkan dahi, tapi sebelum dia bertanya, si nenek telah melanjutkan kata-katanya.
“Si Cambuk tua itu adalah orang yang paling sabar didunia ini. Kelak kalau kau beruntung mendapatkan ilmunya, tak akan semudah itu orang merobohkanmu. Sayang, dia sedang ada urusan. Menurut perhitungan, seharusnya dia sudah tiba kemarin sore...”
“Urusan apakah yang sedang dikerjakannya, guru?” tanya Nie Zha.
“Marilah kita duduk didalam gubuk, muridku. Mungkin keteranganku ada gunanya buatmu...!” sahut si wanita tua. Lalu balikkan tubuh dan melangkah menuju gubuk.
Dengan benak diliputi bermacam-macam pertanyaan, Nie Zha mengikuti si nenek. Sikap gurunya yang aneh itu membuat dia tak mengerti. Namun dia tak dapat banyak bertanya. Selain mematuhi perintah sang guru.
Deburan-deburan ombak yang memecah di pantai seperti juga deburan jantungnya.
“Setahun yang lalu seorang pendekar dari Kekaisaran Ming telah meminjam senjata pusakanya. Lu Chan adalah suami dari cucunya. Yaitu anak perempuan dari anak adik kandung si Cambuk Sakti!" kata si nenek memulai keterangan.
“Senjata pusaka si Cambuk Sakti adalah sebuah Cambuk Panjang yang terbuat dari besi kuning, yang dinamai Cambuk Deburan Jiwa. Kabarnya Cambuk itu bisa mengeluarkan suara seperti ringkik kuda...! Senjata pusaka itu dipinjam karena adanya suatu wabah penyakit yang mengkhawatirkan di desa Huangpu, tempat menetap Lu Chan."
“Akan digunakan untuk apakah pusaka Cambuk itu? Apa hubungannya dengan wabah penyakit?” tanya Nie Zha tak mengerti.
“Menurut keterangan Lu Chan, akan dipergunakan untuk tumbal! Karena menurut seorang Tabib sakti dari gunung Qiantang, penyakit itu hanya bisa lenyap dengan mempergunakan tumbal Cambuk besi kuning!”
Nie Zha manggut-manggut mengerti. Lalu diam mendengarkan cerita sang guru. Walaupun sebenarnya hatinya bertanya-tanya, penyakit apakah yang sangat aneh obatnya itu?
"Tapi ternyata belakangan baru diketahui, kalau Lu Chan telah diperdayai oleh si Tabib dari Qiantang itu yang sengaja menyebarkan penyakit terhadap keluarga Lu Chan.
Tujuannya adalah karena dia mengetahui bahwa Lu Chan mengikat kekeluargaan dengan orang dari benua daratan selatan. Dan salah satunya adalah si Cambuk Sakti yang menjadi kakek mertua Lu Chan. Kesempatan itu dipergunakan baik-baik. Entah dari mana kabarnya dia mengetahui si Cambuk Sakti memiliki senjata Cambuk besi kuning.
Sudah lama dia menginginkan benda pusaka itu. Penyakit yang disebarkan si tabib itu adalah penyakit aneh, karena dia mempergunakan cara sesat dengan bantuan setan! Istri Lu Chan dibuat menjadi seperti orang hilang ingatan. Dia hanya mau diobati oleh si Tabib tua yang bernama Jin Yi Wei itu. Dan menolak diobati oleh siapa saja. Hal itulah yang membuat si Cambuk tua bingung. Tentu saja permintaan si tabib dari Qiantang itu harus dituruti, kalau tak mau sang cucunya itu kehilangan jiwa. Apalagi adiknya begitu mengharapkan pertolongannya.
Tabib tua itu berjanji akan mengembalikan pusaka itu setelah istri Lu Chan yang bernama Tong Tianying sembuh dari penyakitnya...!” Si nenek berhenti sebentar. Dia terbatuk-batuk beberapa saat ketika meneguk air kendi yang disediakan Nie Zha.
“Lalu bagaimana, guru...?” tanya Nie Zha tak sabar. “Dapatkah penyakit Tong Tianying disembuhkan?”
“Itulah yang menjadi persoalan! Karena si tabib itu bukannya mengobati penyakitnya, tapi juga mencicipi tubuhnya!”
“Oh...!?” Nie Zha tersentak dengan membelalakkan mata. “Tabib keparat!” memaki gadis ini dengan gigi gemeretak.
“Lalu bagaimana selanjutnya, guru?” desak si gadis.
“Tong Tianying memang bisa disembuhkan. Akan tetapi sekaligus Lu Chan menceraikan istrinya!”
“Aiih... kasihan pria itu...!” desis Nie Zha dalam hati.
“Bagaimana dengan cambuk pusaka kakek Cambuk Sakti? Apakah kemudian dikembalikan?” tanya Nie Zha. Si nenek menghela napas, lalu menjawab dengan suara agak parau.
“Cambuk pusaka itu menurut keterangan Jin Yi We alis si tabib itu lenyap tak tahu rimbanya, setelah Tong Tianying sembuh dari penyakitnya. Menurut si Tabib, pusaka itu telah menjadi tebusan atas penyakit Tong Tianying. Si Cambuk tua tak bisa bilang apa-apa selain menerima kenyataan itu. Tapi Lu Chan merasa tak enak hati pada orang tua itu. Dia berjanji akan menggantinya dengan senjata pusaka lain. Lu Chan kemudian menghilang dari desa Huangpu dan sampai beberapa bulan ini tak ada kabarnya!”
Nie Zha manggut-manggut mendengar penuturan si nenek.
“Lalu maksud apakah kakek Cambuk datang ke benua daratan ini?”
“Dia akan membawa pulang cucunya kembali ke Benua Daratan Selatan!”
Nie Zha krenyitkan keningnya, lalu berkata. “Ada dua hal yang aku kurang jelas, guru! Pertama, apakah Tong Tianying kemudian menikah dengan tabib dari gunung Qiantang itu? Dan kedua, bukankah Lu Chan mengetahui kalau istrinya telah sengaja dibikin sakit oleh tabib itu, tapi mengapa dia tak ambil tindakan pada manusia itu?”
Nenek tua ini tertawa terkekeh, lalu menjawab. “Aku mana mengetahui urusan Lu Chan? Tapi kukira dengan menceraikan istrinya itulah tindakan tegas yang dilakukannya!”
“Hm, hal ini sepertinya masih bisa masuk akal. Mungkin kepergiannya adalah untuk mencari pengganti cambuk pusaka kakek Cambuk Sakti dengan senjata pusaka lain!” berkata Nie Zha dalam hati.
“Mengenai Tong Tianying, walaupun telah menjadi istri si tabib atau tidak, si Cambuk tua harus memaksanya untuk kembali. Karena atas permintaan kedua orang tuanya!"
Barulah Nie Zha mengerti apa maksudnya si Cambuk Sakti itu berangkat ke Kekaisaran Ming. Disamping memikirkan keadaan orang, diam-diam gadis ini sendiri memikirkan keadaan nasibnya sendiri. Selama hampir satu bulan dia berada dipesisir pantai, dia mulai teringat pada manusia bernama Wu Sha alias Pendekar Bunga Darah, yang telah menculik dan nyaris memperkosa dirinya tersebut. Bahkan laki-laki itupun telah membunuh si Srigala Putih Betina alias bibinya. Dan membunuhi belasan anggota Sekte Tongkat Suci yang diketuai oleh bibi dan pamannya si Srigala Putih Jantan.
Diam-diam Nie Zha bersyukur dapat tertolong oleh si nenek Musang Betina Mata Empat ini yang kemudian mengangkatnya sebagai murid.
Ada satu hal yang membuat dia agak heran. Yaitu sikap gurunya. Tampaknya sang guru seperti tegang sejak sebelum memulai percakapan di dalam gubuk. Kini dilihatnya ketegangan di wajah si nenek semakin jelas.
Wajahnya sebentar pucat, sebentar merah. Ketajaman mata Nie Zha ternyata dapat mengetahui kalau diam-diam si nenek tengah mengatur pernapasan. Dan menyalurkan Qi ke segenap anggota tubuhnya.
Jantung gadis ini berdetak keras. Keanehan sikap dan kata kata si nenek segera dapat terjawab, ketika tiba-tiba si nenek perdengarkan suara menyapa yang ditujukan pada seseorang diluar gubuk. “Sobat Cambuk Tua, kau sudah datang?”
“Kakek Cambuk Sakti?” desis Nie Zha kerutkan kening, menatap si nenek dengan heran dan memandang keluar gubuk.
Saat itu si nenek telah berkelebat melompat keluar dari dalam gubuk.