
Di atas atap bangunan, dalam gelapnya malam Arya mendekam. Sepasang matanya mengamati keadaan di segala penjuru lingkungan kuil. Manakala ia melihat dua orang bertopeng tengkorak muncul dari persimpangan bangunan, berjalan menuju ke arahnya. Iapun segera menggunakan teknik berpindah dimensi dan tahu-tahu telah berdiri dibelakang kedua orang tersebut.
Tanpa banyak cakap, ia langsung menotok keduanya. Tak ayal, tubuh dua orang itu serta-merta menjadi kaku tegang layaknya patung. Selanjutnya ia lantas menyeret mereka berdua ke dalam sebuah bangunan. Rupanya bangunan itu dipergunakan sebagai gudang penyimpanan bahan-bahan makanan. Semua itu terlihat dari banyaknya karung-karung yang berisikan sayur-sayuran, gandum maupun beras yang disusun sedemikian rupa. Disana juga terdapat daging-daging yang telah diawetkan dan di gantung dengan tali yang diikat ke langit-langit bangunan.
Dengan kedua tangannya, Arya kembali menyeret dua orang itu dan menempatkannya di pojok ruangan yang gelap. Dia melucuti jubah putih serta topeng tengkorak yang dikenakan oleh salah seorang dari mereka. Setelah itu ia kemudian menutupi tubuh kedua orang itu dengan karung-karung gandum, sampai tubuh keduanya benar-benar tak keliatan. Kedua orang itu hanya bisa pasrah. Terasa oleh mereka, nafasnya menjadi semakin sesak karena timbunan karung-karung itu hanya menyisakan sedikit celah untuk udara bisa keluar masuk. Namun meski begitu, mereka masih dapat bernafas.
Demikian Arya selesai dengan pekerjaannya, ia lalu keluar dari gudang tersebut. Kini ia telah mengenakan jubah putih dengan gambar tengkorak bertanduk di bagian depannya, serta pula mengenakan topeng tengkorak yang menutupi mukanya. Tanpa membuang waktu lagi, diapun segera berjalan menuju ke bangunan terbesar yang memang telah menarik perhatiannya.
Menurut keterangan dari ingatan salah seorang anggota Manusia Iblis yang sudah diperas ingatannya, kelompok manusia iblis ini rupanya telah menculik banyak gadis dan bayi. Lebih dari itu, agaknya pemimpin dari kelompok penjahat ini juga memiliki kemampuan yang tidak bisa dianggap remeh. Karenanya iapun ingin melihat dulu sejauh mana kekuatan musuh yang akan dihadapinya. Selain itu dia juga ingin mengetahui dimana saja gadis-gadis dan bayi-bayi yang telah diculik itu kini ditawan.
Sepanjang perjalanan Arya melirik ke kanan kiri, menggunakan tekniknya untuk mendeteksi ada seberapa banyak anggota kelompok ini yang berada didalam bangunan yang telah dilewatinya. Ia bersikap biasa saja agar tak mengundang kecurigaan manakala bersimpangan dengan orang-orang bertopeng yang berlalu lalang sedang berpatroli, menyisir setiap sudut serta bangunan-bangunan guna mencari-cari kalau-kalau ada musuh yang menyusup. Mereka, ‘para anggota Manusia Iblis’ sama sekali tak menyadari bahwa mereka telah bersimpangan bahkan bercakap-cakap sebentar dengan musuh ataupun penyusup yang sedang mereka cari tersebut.
Semakin dekat dengan bangunan besar, semakin keras pula terdengar suara alat-alat musik yang dipukul, ditiup serta dipetik dengan irama yang cepat membuat orang yang mendengarnya jadi ingin bergoyang.
Arya berhenti sejenak, bersembunyi dibalik tembok bangunan. Dihadapannya adalah gerbang masuk yang dikanan kirinya membentang tembok beton yang kokoh serta setinggi dua tombak. Dibalik tembok pertahanan yang diketahui juga diselubungi segel pelindung itulah berdiri bangunan besar yang menjadi tujuannya.
Setelah mengamati sesaat, ia kemudian mengambil jalan memutar dan tiba di sebelah kanan tembok pertahanan. Sesudah memastikan tidak orang lain yang melihatnya, Arya lalu mengunakan teknik berpindah dimensi untuk menembus segel pelindung yang menyelubungi tembok pertahanan itu. Ia tidak mau menghancurkan segel pelindung itu, khawatir pihak musuh mengetahui perbuatanmya.
Demikianlah, tanpa diketahui oleh penjaga yang kurang memperhatikan keadaan sekeliling karena perhatian mereka tengah tercurah kepada pesta yang sedang berlangsung di dalam dan menyesali nasib karena kebetulan sedang bertugas menjaga sehingga tidak dapat segera ikut menikmati pesta itu, Arya telah masuk ke dalam bangunan besar itu dengan mudah.
Arya berjalan dengan tenang namun perhatiannya terus dicurahkan kepada keadaan sekeliling. Mengikuti arah suara musik yang terdengar, Arya membelok ke sebelah kiri untuk mengintai ruang pesta yang makin ramai tersebut. Ketika ia telah tiba di tempat itu, hampir saja dia berseru saking heran, terkejut, marah, dan juga seram.
Ruangan yang dijadikan pesta ternyata amat luas. Berbeda dengan ruangan-ruangan lain, di sini tidak dipasangi penerangan lampu, akan tetapi tidak memiliki atap sehingga penerangan yang masuk di dalam ruang itu sepenuhnya didapat dari sinar bulan. Oleh karena itu, maka pemandangan di situ remang-remang, menyeramkan, akan tetapi juga romantis sekali. Karena pada saat itu sinar bulan cukup terang, Arya dapat melihat hiasan arca-arca dan ukiran-ukiran pada dinding ruang itu. Arya melebarkan mata saking kagum, heran, dan juga jengah.
Dia kagum, oleh karena seni pahat yang menghasilkan hiasan-hiasan tersebut sungguh-sungguh sangat mengagumkan karena indahnya. Jengah karena keadaan segala macam ukiran dan arca itu memperlihatkan gambaran t*lanjang bulat, bahkan cabul sekali, lebih-lebih lagi ukiran-ukiran dan gambar-gambar pada dinding ruangan itu. Bukan main kotor dan cabulnya. Menggambarkan keinginan n*fsu dan duniawi yang membuat manusia tak ubahnya seperti binatang. Ukiran serta lukisan yang menggambarkan persetubuh*n, keadaan mencerminkan binatang yang kesemuanya merujuk pada n*fsu badani.
Di tengah-tengah ruang yang amat lebar itu, berdiri patung yang besarnya dua kali ukuran manusia biasa. Patung itu memiliki ekor bercabang dua, di kepalanya ada dua tanduk, tangan kirinya memegang tombak bermata tiga, mukanya amat menyeramkan. Itulah patung yang menjadi sesembahan mereka, ‘Patung Raja Iblis’. Didepan patung itu, duduk bersimpuh tujuh orang laki-laki tua berkepala pelontos yang berpakaian seperti biksu, kadang-kadang mereka menyanyikan lagu menurut irama musik yang di mainkan di ruangan tersebut.
Di sebelah kiri tampak beberapa orang yang memainkan berbagai alat musik, seruling, paigu (gendang yang memiliki lima set) dan guzheng atau kecapi (alat musik terbuat dari kayu berbentuk persegi panjang yang diatasnya terdapat 21 senar).
Pada setiap sudut ruangan mengepul asap kayu gaharu dan cendana dibakar, membuat ruangan ini menebar bau harum. Selain itu semua patung yang berada disana, terkhusus patung Raja Iblis yang berada di tengah-tengah, penuh dengan bunga melati, mawar serta kenanga, sehingga keadaan di ruangan tersebut semakin harum oleh bunga-bunga tersebut.
Ada pula puluhan orang yang berpakaian putih bergambar tengkorak dan mengenakan topeng, mereka berdiri sambil berjaga di sekitar tempat itu. Di belakang ruangan itu terdapat anak tangga yang menuju ke atas, lantainya ditutupi permadani merah. Akan tetapi yang sekarang menjadi perhatian Arya adalah seorang pria yang memakai jubah sutera merah dengan gambar tengkorak putih di dadanya, serta memakai ikat pinggang keemasan dipinggangnya. Orang itu juga mengenakan topeng tengkorak dikepalanya.
Melihat kultivasi serta energi kegelapan yang dimiliki orang itu, Arya diam-diam mengaku dalam hati bahwa orang itu merupakan lawan yang tidak boleh dipandang ringan karena dari pandangan matanya saja berpancar kekuatan ilmu hitam atau sihir!
Arya menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan debaran jantungnya. Kemudian dengan langkah tenang, ia lantas membaur dengan orang-orang bertopeng yang sedang berjaga-jaga di sekitar ruangan itu.
Seorang bertopeng tengkorak yang melihat kedatangan Arya segera menegur, “Siapa kau?!”
Arya sesaat jadi terkesiap, namun dia masih dapat berlaku tenang, “Aku mendapatkan perintah dari wakil ketua untuk berjaga-jaga disini.” Arya memandangi orang itu dengan tatapan tajam. Sepasang matanya berkilat-kilat aneh.
Orang bertopeng itu mengangguk-angguk, lalu kembali menatap ke depan, ke arah orang-orang yang duduk bersila dilantai, di depan patung ‘Raja Iblis’.
Arya tersenyum dibalik topengnya, sepasang matanya mengerling ke arah para tamu. Dia mendapati kenyataan bahwa disana terdapat Rahang Besi dan Gak Hoan yang beberapa hari lalu telah pernah bertemu dengannya, bahkan sempat bersitegang perkara salah sangka mengenai potongan tangan dan telinga yang dianggap oleh kedua orang itu sebagai anggota tubuh Putri Pauw-sie.
Selain itu, ia juga mendapatkan kenyataan bahwa beberapa diantara tamu-tamu tersebut merupakan pembesar-pembesar dari kota Hangciu, ada pula prajurit-prajurit serta anggota-anggota dari sekte aliran putih, netral maupun hitam. Rupanya mereka semua berada dalam pengaruh sihir.
Wajah Arya tampak menegang dibalik topengnya, manakala tiba-tiba semua orang yang menghadap patung Raja Iblis itu meniarapkan tubuh mereka di atas lantai seakan-akan menyambut munculnya seorang Dewa atau Raja Besar. Karena tak mau memuja iblis, Arya segera pergunakan teknik berpindah dimensi untuk bersembunyi di balik tembok sebelah kiri.
Bersamaan dengan itu, dari patung Raja Iblis keluar asap hitam yang kemudian terdengar suara tawa mengandung hawa menyeramkan menggema disegala penjuru. Alunan musik yang tadinya berirama cepat kini dibunyikan perlahan sehingga keadaan benar-benar menyeramkan.
Setelah tawa mereda, maka terdengarlah suara berat dan mengandung energi yang amat kuat, bahkan membuat seluruh bangunan bergetar, “Bagus! Bagus! Sekarang saatnya memberikan tumbal. Ingat pada purnama mendatang kalian harus pergi ke markas Sekte Iblis Berdarah untuk menjalankan ritual membuka alam bawah.”
Begitu suara itu lenyap, maka lenyap pula lah asap hitam yang mengepul dari patung Raja Iblis tersebut. Aura di ruangan itu lantas kembali tenang tidak seseram tadi.
Arya yang sedang mendekam sampai tanpa sadar menahan nafas karena sangking terkejutnya. Rupanya makhluk inilah yang tadi menyerangnya dari jarak jauh ketika ia hendak memeriksa keadaan didalam bangunan ini menggunakan ilmu ‘Menembus Pandang’.
Sosok bertopeng tengkorak dan memakai jubah merah nampak menghampiri patung Raja Iblis, menjura di hadapannya. Sebenarnya orang itu adalah Serigala Iblis Dari Timur atau guru dari Pao Shoawen, Patriark dari Sekte Iblis Berdarah. Selanjutnya ia lalu memandang kepada tujuh biksu yang bersimpuh di dekatnya.
“Panggil tujuh puluh bidadari untuk mengadakan tari-tarian di sini sebagai perayaan akan keberlangsungan ritual. Jangan lupa, bawa ke sini pula tiga buah jantung murni!” perintahnya.
Tujuh orang biksu itu segera mengundurkan diri. Tak berselang lama kemudian, dari dalam keluarlah tujuh puluh orang gadis yang berlari-lari kecil bagaikan terbang melayang, diiringi suara musik yang menyambut kedatangan mereka. Arya yang sudah keluar dari persembunyiannya tampak melebarkan matanya karena kagum.
Gerakan mereka lincah dan sungguh menggairahkan. Dalam keadaan yang remang-remang dan diiringi oleh musik, mereka itu tiada ubahnya seperti Bidadari turun dari Khayangan. Dengan gerakan yang lemah gemulai, mereka lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Serigala Iblis Dari Timur.
Memang tak bisa dipungkiri, Arya diam-diam merasa gairahnya jadi naik melihat gadis-gadis itu. Akan tetapi dia segera dapat mengendalikan diri. Ditatapnya semua orang yang ada di sana memandang kepada tujuh puluh orang gadis cantik itu, sorot mata mereka tak berkedip memancarkan cahaya penuh n*fsu.
Sementara itu, seruling, kecapi dan tetabuhan masih berbunyi. Seorang di antara ke-tujuh orang biksu maju menyerahkan sebuah cawan terukir berisi tiga potong benda kecil berwarna kehitaman. Itulah jantung tiga bayi yang baru lahir!
Serigala Iblis Dari Timur menerima cawan ini dengan muka berseri, kemudian cawan itupun diletakkannya di bawah kaki patung Raja Iblis. Terjadilah keanehan kembali, cawan itu tiba-tiba diselimuti kepulan asap hitam dan kejap kemudian cawan itupun lenyap entah kemana!
Tiba-tiba Serigala Iblis Dari Timur berseru, “Bawa anggur kegelapan ke sini!”
Tujuh biksu mengangguk, lalu kembali mengundurkan diri naik ke atas tangga. Tujuh puluh gadis yang tadi bersimpuh tak bergerak seperti patung juga segera bangkit berjalan mengikuti tujuh biksu tersebut. Tak lama kemudian, tujuh biksu itu kembali sambil mengangkat gentong besar berisi anggur hitam, dibelakangnya tujuh puluh gadis yang semuanya terdiri dari wanita-wanita yang muda dan cantik-cantik, serta memiliki tubuh padat dan indah, berlari-larian seperti menari sambil kedua tangannya menyangga baki-baki yang agaknya terbuat dari emas.
Dengan gerakan yang lemah gemulai dan menggairahkan, tujuh puluh orang penari wanita ini menari dan membuat gerakan berlarian kecil berputaran secara teratur mengikuti irama musik. Sembari menari mereka menggerak-gerakkan tubuh mereka dengan cara-cara yang menimbulkan pesona dan gairah. Gerakan pinggul yang memikat dan penuh n*fsu, makin lama makin liar ketika musik itu makin nyaring dibunyikan oleh para pemainnya.
Arya kembali dibuat tertarik dan terpesona. Memang sungguh teramat sangat indah. Suasananya amat romantis, dibawah terpaan sinar bulan di udara terbuka yang demikian sejuk, dengan keharuman bunga-bunga bercampur wanginya dupa. Membuat gadis-gadis itu semakin cantik demikian menarik, ditambah lagi dengan lekuk tubuh sintal di balik pakaian yang tembus pandang, dan diiringi suara musik yang merangsang pula!
Akan tetapi kembali pemuda ini segera dapat menguasai perasaannya. Untuk meredakan gejolak hatinya, ia mengerling ke arah para tamu. Dia tidak merasa heran melihat betapa para tamu pria itu semakin terangsang, pandang mata mereka itu berseri-seri penuh n*fsu bir*hi, wajah mereka kemerahan, hidung kembang-kempis dan mulut tersenyum-senyum penuh gairah.
Arya alihkan pandangannya kepada Serigala Iblis Dari Timur, dia melihat bahwa orang bertopeng inipun tidak memperhatikan kepada para penari, melainkan sedang mengangkat gentong besar dengan tangan kirinya, lalu menuangkan isinya ke dalam mulutnya. Setelah puas minum anggur itu, iapun menurunkan gentong anggurnya itu dan kemudian berkata sambil tertawa,
“Sekarang, sebelum pesta dimulai, semua orang dipersilahkan untuk minum anggur.”
Tujuh puluh gadis penari itu dengan gerakan lemah gemulai dan memikat mereka pun berjalan menghampiri para tamu dengan baki pada kedua tangan. Sambil tersenyum-senyum para gadis itu menghidangkan anggur dan makanan di atas meja para tamu, kemudian dengan sikap lemah gemulai dan tersenyum-senyum ramah mereka lalu menuangkan anggur dari guci ke dalam cawan para tamu. Begitu arak dituangkan ke dalam cawan, segera tercium bau sedap anggur yang baik dan berusia tua.
Pada saat gadis-gadis penari itu menyuguhkan anggur, para tamu yang sudah tidak tahan oleh gejolak bir*hi langsung menarik tangan gadis penari, bahkan ada yang meraba, meremas dan menciumi gadis-gadis itu.
Beberapa gadis juga menyuguhkan anggur kepada pemain musik dan para penjaga bertopeng tengkorak. Salah seorang gadis diantaranya juga menghampiri Arya, untuk kemudian memberikan guci anggur kepada pemuda itu.
Seperti halnya para penjaga bertopeng tengkorak, Arya juga membuka topeng pada bagian mulut untuk meminum anggur tersebut. Sekali cium saja, ia dapat mengetahui bahwa anggur itu mengandung sesuatu yang merupakan obat keras namun halus. Dia merasa yakin bahwa itu bukanlah racun, biarpun dia tahu bahwa anggur itu telah dicampuri semacam obat yang cukup keras, akan tetapi Arya tetap meminumnya untuk menghindari kecurigaan orang. Begitu anggur itu melewati mulut dan kerongkongannya, ia merasa bahwa anggur itu memang lezat sekali, dan diapun meminumnya sampai habis.
Tiba-tiba Serigala Iblis Dari Timur mengangkat tangan kirinya, ini merupakan isyarat karena suara musik tiba-tiba berhenti. Para wanita yang menyuguhkan anggur kepada para tamu segera berkumpul lalu bersama-sama menjatuhkan diri berlutut di hadapan Serigala Iblis Dari Timur.
Serigala Iblis Dari Timur mengangguk-angguk, kemudian tangannya bergerak seperti menebarkan sesuatu di udara. Bersamaan dengan itu tahu-tahu muncul kelopak-kelopak bunga beterbangan lalu melayang turun ke atas kepala tujuh puluh gadis penari itu. Kelopak-kelopak bunga tersebut tampak hinggap di atas rambut-rambut gadis-gadis itu, indah seperti kupu-kupu yang hinggap di atas bunga-bunga mekar.
Arya mengerutkan alisnya. Dia tahu bahwa orang berjubah merah bergambar tengkorak itu sangat pandai mempergunakan kekuatan sihir.
“Bunyikan musik, saatnya kita berpesta! Menarilah dan lampiaskanlah hasrat kalian..” seru Serigala Iblis Dari Timur.
Maka berbunyilah kembali segala musik yang tadi sempat berhenti beberapa saat. Kini musik itu mengalunkan irama yang terdengar amat cepat dan gembira, seakan-akan para pemain musik tersebut telah menjadi panas darahnya karena minuman anggur hitam tadi.
Tujuh puluh gadis pelayan yang sebenarnya adalah selir-selir Serigala Iblis Dari Timur tersebut, segera bangkit berdiri. Kemudian menari dengan gerakan-gerakan yang indah dan menggairahkan. Pada permulaannya, tarian mereka keliatan lemas dan halus, benar-benar mengandung seni tari yang amat indah. Akan tetapi semakin lama, gerakan mereka menjadi semakin cepat mengikuti irama musik yang semakin cepat pula.
Penari-penari itu seperti mabok dan tak peduli lagi betapa karena gerakan mereka yang cepat, pakaian mereka kadang-kadanag terbuka sehingga memperlihatkan pemandangan yang tidak sopan. Para penonton juga sudah tidak dapat menahan diri lagi. Kalau tadinya mereka bersikap sopan dan hormat, kini mereka mulai tertawa-tawa, bersorak-sorak, bahkan tubuh mereka tidak mau diam, berlenggang lenggok mengikuti irama musik.
Arya tertegun, belum pernah selama hidupnya ia melihat atau bermimpi melihat pemandangan seperti itu. Terlebih ketika tempo musik semakin cepat dan menggila, sehingga tak lama kemudian, pakaian-pakaian tipis yang yang hanya dilibatkan pada tubuh-tubuh gadis-gadis cantik itu, berterbangan terlepas dari pundak dan memenuhi lantai.
Sontak semakin menggila pula-lah sikap para tamu termasuk Rahang Besi, Gak Hoan dan Bupati Pauw-an Kio. Bahkan para penjaga juga sudah terjun ikut-ikutan berjoged riang gembira.
“Bagus, sekarang semua menari! Menarilah! Tak perlu sungkan-sungkan..” seru Serigala Iblis Dari Timur.
Bagaikan kemasukan iblis, orang-orang tamu itu melompat berdiri, menari-nari, tertawa-tawa berteriak-teriak mengelilingi tujuh puluh gadis penari yang membangkitkan gairah tersebut. Agaknya mereka semua menjadi mabok bir*hi sesudah minum anggur tadi! Maka terjadilah pemandangan yang hampir tidak dapat dipercaya oleh Arya kalau dia tidak menyaksikannya sendiri!
Mereka menari berpasang-pasangan, saling rangkul, saling belai dan saling cium, sedikit pun tidak merasa malu dan musik pun semakin riuh rendah. Kini mereka semua seperti sudah kerasukan iblis!
Serigala Iblis Dari Timur sendiri langsung meraih pinggang seorang wanita yang masih sangat muda, berparas cantik manis dan yang agaknya memang menjadi kekasihnya. Gadis itu bukan lain adalah Putri Pauw-sie, anak gadis bupati Pauw-an Kio. Mungkin karena pengaruh sihir atau gejolak bir*hi lah, hingga bupati itu tidak menyadari keberadaan anak gadisnya disana.
Melihat betapa pesta itu berubah menjadi tempat pemuasan n*fsu tanpa mengenal batasan asusila lagi, bahkan di antara pasangan-pasangan yang menari-nari dan berpelukan sambil berciuman itu ada pula sudah berhubungan badan secara terang-terangan. Arya menjadi muak, hatinya berdesir ingin meluapkan kemarahannya saat ini juga.
Akan tetapi dia segera teringat akan nasib para gadis-gadis yang di culik anggota penjahat-penjahat ini. Maka dengan hati-hati sekali ia lalu meninggalkan tempat itu untuk menuju ke arah tangga. Menyadari bahwa pemimpin kelompok Manusia Iblis ini adalah orang yang tidak bisa dipandang remeh, iapun menggunakan teknik berpindah dimensi agar tak ada satupun yang dapat memergokinya.