Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Rasa Penasaran


Patriark Dai Wubai melirik ke arah gadis yang tadi disandarkannya ke pohon. Dengan cepat, tangannya bergerak menotok beberapa bagian jalan darah si gadis untuk membuatnya siuman.


Perlahan sepasang mata si gadis yang bernama Taysu itu terbuka, mulutnya keluarkan rintihan halus. Gadis ini kernyitkan dahi karena merasa pusing dan badannya terasa sakit.


“Gadis manis, bagaimana keadaanmu?”


Mendengar suara seseorang, Taysu buru-buru merangkak menjauh. Ingatannya mulai pulih.


“Tolong lepaskan aku! Jangan lakukan itu padaku!” Jerit Taysu meratap.


“Tenanglah, kau sudah aman sekarang.”


“Tidak, tidak.. Ku mohon, aku ingin kembali. Lepaskan aku!”


Taysu terus merangkak tanpa menoleh namun gerakannya tiba-tiba tertahan oleh sesuatu. Gadis ini dongakkan kepalanya ke atas. Seseorang telah berdiri di hadapannya, sosok orang itu tidak begitu terlihat karena gelap.


“Serpihan malam kian hening,


Aku terdiam tak sanggup bergeming,


Ku lihat ada gadis cantik terbaring,


Bagaikan kayu yang sudah kering,


Bangunlah, usahlah takut dan berpaling”


“Zhiyuhan, sebaiknya kita antarkan dulu gadis ini.”


Pemuda yang baru saja bersyair tersebut palingkan wajahnya ke arah Patriark Dai Wubai yang berjalan mendekat. Dia mengangguk setuju, bagaimanapun dia tidak akan sampai hati meninggalkan gadis biasa ini di tengah hutan belantara seorang diri.


“Nona, bisakah kau tunjukkan dimana rumahmu.” Kata Patriark Dai Wubai.


Taysu masih terdiam, tubuhnya terus saja gemetaran. Gadis ini masih dilanda ketakutan. Rasa trauma mendalam akibat melihat teman-temannya diperlakukan dengan keji membuatnya takut pada siapapun terlebih terhadap seorang lelaki.


“Tenanglah, kami tidak ada maksud jahat padamu. Tapi jika kau tak mau kami antar pulang, baiklah kami akan pergi. Tapi berhati-hatilah! Di hutan ini banyak sekali binatang buas dan mungkin saja ada orang jahat yang akan berniat buruk lagi terhadapmu.” Tandas Zhiyuhan. Pemuda itu kemudian berjalan dan berdiri di samping Patriark Dai Wubai.


Si gadis masih tetap terdiam, pandangannya menunduk menatap tanah.


“Hmm, kalau begitu aku pergi dulu..”


Patriark Dai Wubai menggeleng pelan melihat Zhiyuhan nampak acuh tak acuh, pemuda itu mulai berjalan meninggalkan tempat tersebut.


“Tunggu tuan! Baiklah, aku percaya.” Seru Taysu lirih.


Zhiyuhan tersenyum lalu berbalik badan. Dalam sekejap pemuda ini sudah memanggul tubuh si gadis dan segera membawanya terbang.


Di perlakukan seperti itu, sontak saja membuat si gadis menjerit histeris. Sepasang kakinya melejang-lejang meronta meminta di lepaskan.


“Dimana arah rumahmu?” Tanya Zhiyuhan ketika sudah berada di ketinggian.


“Tidak! Lepaskan aku!” Teriak si gadis ketakutan.


“Jangan bodoh! Jika aku melepaskanmu, nanti kau akan jatuh. Memangnya kau ingin jatuh? Kalau iya, baiklah aku akan melepaskanmu sekarang.”


Taysu menggeleng cepat, sepasang tangannya memeluk erat leher si pemuda, hingga membuat Zhiyuhan kesulitan bernafas.


“Eh, kau mau membunuhku! Kalau aku mati kau juga mati, bodoh!” Umpat Zhiyuhan sambil meregangkan jeratan tangan si gadis pada lehernya.


“Maaf.. Desaku di sana..” Ucap Taysu sambil menoleh ke arah kanan. 


****


Matahari sudah mencapai titik tertinggi. Semak belukar di dalam hutan bagai dihempaskan oleh angin ribut, sementara alam berdiam tenang. Hembusan angin sepoi-sepoi menghadirkan semilir segar. Tapi dedaunan serta belukar tersebut menjadi rontok dan berhamburan bagai dilanda topan.


Seperti tiupan angin, sosok kelebatan yang terlihat hanya bayang-bayang bergerak cepat merambas semak belukar dan sesekali melompat-lompat melewati jajaran pepohonan. Ternyata ada sosok lain yang juga turut berkelebat cepat mengejar sosok kelebatan pertama tadi.


Tak berselang lama kedua sosok kelebatan tersebut berhenti ketika tiba di tepian sungai berbatu-batu terjal.


“Aku merasakan ada energi besar saling berbenturan..” Seorang pemuda berdiri di tepi sungai, garuk-garuk rambutnya yang kusut sambil pandangi langit sebelah timur.


Pemuda berpakaian coklat penuh tambalan dengan rambut panjang acak-acakan itu kemudian melompat. Dengan sekali salto pemuda ini hinggap di atas batu besar di tengah sungai yang berarus deras tersebut.


“Hmm, tidak salah lagi ini pasti benturan energi akibat pertarungan.” Pikir pria paruh baya bertubuh sedang, pakaiannya sederhana dengan rambut yang sebagian berwarna kelabu. Sekali hentakan kaki, tubuh pria paruh baya ini melayang dan turun berdiri di samping si pemuda.


Pemuda yang dipanggil Zhiyuhan angkat bahunya, pandangannya masih tertuju ke atas. “Entahlah, tapi itu mungkin saja, mengingat apa yang mereka incar disini belum berhasil mereka dapatkan. Tapi kalau mereka kembali dan membuat masalah disini, aku tak yakin ada pendekar yang sanggup melawan mereka. Dari benturan energi ini, sepertinya mereka sama-sama kuat. Untuk lebih jelasnya, sebaiknya kita ke sana untuk memastikannya, kek.”


Patriark Dai Wubai mengangguk, sebenarnya dia juga penasaran dengan pertarungan tersebut. Pada dasarnya tujuan mereka datang ke daratan timur ini hanya untuk melindungi pusaka legenda agar tetap aman. Namun lantaran kejadian sewaktu bertemu dengan Cakar Bayangan salah satu tetua Iblis Berdarah, dia dan Zhiyuhan sepakat akan menyelidiki mengenai sepak terjang sekte tersebut. Mereka mencurigai bahwa Sekte Iblis Berdarah adalah dalang dibalik munculnya makhluk kegelapan.


Sebab itulah, selama dalam perjalanan mereka beberapa kali mampir ke desa maupun kota untuk menanyakan mengenai Sekte Iblis Berdarah. Namun sampai sekarang mereka tidak banyak mendapatkan keterangan mengenai sekte tersebut.


“Kek, aku akan menggunakan teknik berpindah tempat. Ku harap kakek tidak akan tersesat dan kebingungan saat kehilangan jejakku.” Zhiyuhan tersenyum lebar sambil menoleh ke Patriark Dai Wubai.


Patriark Dai Wubai hendak membuka mulutnya, namun Zhiyuhan keburu menghilang dari tempatnya berdiri. “Bocah tengik! Sikapnya mengingatkanku pada gurunya si mawar gila. Memang benar buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya.”


“Tapi jika buah itu ditangkap orang dan dibawa pergi, itu lain ceritanya.” Sahut Zhiyuhan, namun sosoknya sudah tak terlihat.


Dengan muka masam, Patriark Dai Wubai pejamkan matanya. Tubuhnya kemudian lenyap dari tempatnya berdiri.


Diantara gelimpangan pepohonan yang tumbang dan sebagian terbakar, Zhiyuhan muncul di atas cabang sebuah pohon. Baru saja pemuda ini menggeleng pelan karena menyayangkan kerusakan hutan, tiba-tiba di sampingnya muncul Patriark Dai Wubai.


“Kakek hebat juga bisa menemukanku.” Zhiyuhan terkekeh pelan. Dia melirik Patriark Dai Wubai sekilas lalu memandang ke atas.


Patriark Dai Wubai mencibirkan bibirnya, dengan menghela nafas jengah diapun memandang ke atas, dimana dari sana dia bisa melihat jalannya pertarungan dengan jelas.


Patriark dari Sekte Pedang Suci ini kernyitkan dahinya saat melihat orang-orang bercadar yang menyerang seorang pria berkepala plontos. “Apa tujuan hewan iblis itu menyamar jadi manusia? Lalu orang-orang bercadar itu mengapa mereka memiliki kultivasi yang sama.” Pikirnya.


“Bocah, bukankah di daratan ini tidak banyak yang bisa memiliki kultivasi di atas Pendekar Suci. Lalu kenapa banyak sekali pendekar fana di tempat ini? Apakah kau bisa melihat wajah di balik cadar mereka?” Patriark Dai Wubai merasa heran tekniknya tidak dapat menembus kain penutup wajah orang-orang bercadar. Dia juga heran melihat kesemua orang bercadar tersebut memiliki energi sama persis yaitu energi ke-emasan.


“Pertanyaanmu banyak sekali kek!”


Patriark Dai Wubai menoleh dan menatap pemuda di sampingnya itu dengan wajah serius.


Pemuda yang ditatap terkekeh pelan, lalu katanya. “Dari semua orang yang pernah ku temui, rasa-rasanya aku pernah melihat energi emas semacam ini. Tapi dimana aku melihatnya ya...? Hmm.. Oh iya, pemuda itu..!” Sambil kernyitkan dahi, Zhiyuhan garuk-garuk rambutnya yang kusut acak-acakan.


“Pemuda siapa? Kau mengenalnya?”


“Dibilang kenal, tidak juga.. aku hanya pernah berbincang dengannya sebentar. Tapi karena aku tertarik padanya, aku sempat mencari tahu siapa pemuda itu. Kalau tidak salah namanya Li Xian, orang-orang memanggilnya Tabib Xian, dia juga memiliki gelar Pendekar Naga Emas.”


Patriark Dai Wubai manggut-manggut, matanya terus mengamati pertarungan yang berlangsung di atas sana. Menurutnya, meskipun dikeroyok seharusnya pria botak jelmaan dari hewan iblis tersebut bisa mengatasi semua sosok bercadar dengan mudah, mengingat kultivasi hewan iblis itu jauh di atas para lawannya. Namun kenyataannya para sosok bercadar memiliki kemampuan yang unik dan beragam, serangan-serangan mereka teroganisir dengan baik dan tidak mudah dibaca, terlebih mereka memiliki kecepatan yang luar biasa, sehingga mau tak mau pria botak menjadi kewalahan dan sedikit demi sedikit terkuras energinya.


Ekspresi wajah Patriark Sekte Pedang Suci ini mendadak menegang, matanya melebar, alisnya terangkat membuat dahinya mengkerut. “Golok Api Membelah Malam.”


“Membelah malam apanya kek? Ini kan sudah siang.”


Patriark Dai Wubai tak menanggapi seloroh pemuda di sampingnya tersebut, dia masih terus mengamati dengan seksama setiap gerakan sosok bercadar yang melancarkan serangan dengan elemen api berupa golok. Di saat seperti itu, Patriark Dai Wubai kembali di buat terkejut manakala beberapa sosok bercadar menggunakan jurus-jurus yang di kenalinya.


“Tidak salah lagi, itu jurus-jurus milik si tua Legenda Pendekar Naga. Tapi kenapa mereka menguasainya? Apa hubungan mereka dengan si tua itu?” Batin Patriark Dai Wubai. Seingatnya Zhen Long telah lama menghilang, dan selama itu pula dia tidak pernah mendengar Zhen Long memiliki murid.


Rasa penasaran itu membuat Patriark Dai Wubai berniat masuk ke kalangan pertarungan, namun baru saja dia akan bergerak dari tempatnya, diatas sana muncul seekor siluman burung elang raksasa yang di tunggangi dua gadis muda.


“Mengelana dalam lembah keterasingan,


Mencari sinar-sinar harapan,


Diantara hiruk-pikuk pertarungan,


Siapa sangka muncul dua gadis menawan,


Ah, hatiku bergetar penuh kebahagiaan.”


Ekor mata Patriark Dai Wubai melirik ke arah pemuda disampingnya, “Tatapanmu seolah menunjukkan bahwa kau mengenali mereka.”


Zhiyuhan mengangguk cepat. “Mereka kekasihku!” Ucapnya dengan bangga.


Tangan Patriark Dai Wubai bergerak cepat dan tahu-tahu telah menarik telinga pemuda berjuluk Pendekar Penyair itu.


“Jangan bercanda! Mana ada gadis yang mau dengan pemuda konyol sepertimu!”


Zhiyuhan meringis kesakitan, jeweran Patriark Dai Wubai tersebut membuat telinganya begitu panas seakan terjepit baja bara. “Ah, aduh, aduh kek! Lepaskan! Apa salahnya jika aku berharap.. siapa tahu mereka memang jodohku.”


Jdaaaarrr....


Suasana seketika menjadi mencekam, geragar petir sontak membuat Patriark Dai Wubai dan Zhiyuhan terperanjat kaget. Mereka buru-buru menatap ke atas.


“Makhluk kegelapan!” Ucap Patriark Dai Wubai.