
Merekapun berhenti di depan gerbang sebuah kuil, dengan tersenyum tipis Arya memposisikan dirinya mengantri di antara barisan orang-orang yang hendak masuk ke dalam sana.
"Untuk apa kita kesini tuan? Apakah anda ingin berdoa?" Hulao menatap Arya heran. Meskipun dia adalah siluman yang jarang bersinggungan dengan manusia, tetapi dia mengenali tempat persembahyangan seperti ini.
Tidak mendapatkan jawaban, Hulao hanya bisa mendengus pelan. Dia sama sekali tidak bisa membaca sikap Arya yang sering kali berubah ubah. Seperti sekarang pemuda itu lebih banyak diam penuh misteri.
Mereka di haruskan membayar satu keping emas jika ingin masuk. Tentu hal itu bukanlah masalah bagi Arya. Penjaga disana lantas mengizinkan Arya, Hulao dan Honglong masuk setelah pemuda itu memberikan tiga keping emas yang diminta.
Di halaman depan kuil yang berdiri megah, terlihat seorang biarawati bersama puluhan murid-muridnya tengah menjadi pusat perhatian semua orang yang berkurumun.
"Apa benar biarawati itu yang melakukannya?" Tanya salah seorang pada seseorang di sampingnya.
"Benar, dia lah yang menghidupkan kembali anak keluarga Dao."
"Menghidupkan kembali?" Timpal orang lain yang mendengar percakapan tersebut.
"Ku dengar anak dari keluarga Dao meminum air yang telah di berkati biarawati itu, lalu kabarnya dia sekarang sudah sehat."
"Apa itu mungkin?"
"Aku sendiri telah membuktikan bagaimana khasiat air yang di berkati guru Ma. Dia benar-benar manusia suci yang di berkati Dewa." Seseorang berkata dengan tatapan kagum ke arah biarawati yang dia sebut guru Ma. "Kebanyakan mereka yang datang ke sini berniat ingin meminta air yang di berkatinya, dan sebagian lagi mereka ingin mengucapkan terimakasih karena telah di sembuhkan."
Mendengar percakapan mereka, Hulao dan Honglong menyipitkan mata, memandangi biarawati yang berdiri tenang sambil tersenyum ramah kepada seorang nenek bersama anak kecil yang berdiri di hadapannya.
"Sebaiknya nenek simpanlah uang ini baik-baik, aku tidak mau menerima uang dari hasil menjual rumah nenek hanya untuk berterimakasih kepadaku." Biarawati tersebut berkata dengan ramah sambil mengulurkan kembali kantong yang berisi emas kepada si nenek.
"Mohon terimalah pemberian dariku itu, guru Ma." Nenek tersebut membungkukkan badan beberapa kali sebelum pamit dengan beringsut mundur sambil menggandeng cucunya.
Honglong tersenyum kecut, lantas berjalan dengan sempoyongan menerobos kerumunan orang menuju ke arah biarawati tersebut.
"Apa yang akan di lakukan tupai gila itu?" Hulao mengerutkan dahi keheranan menatap punggung Honglong yang semakin menjauh.
Sementara itu Arya hanya tersenyum tipis sambil bersedekap, dia ingin melihat apa yang akan di perbuat tupai jahil itu.
Setelah berdiri di hadapan biarawati tersebut, Honglong tiba-tiba memeluknya sambil meracau seperti orang mabuk.
"Miao-miao, selama dua tahun ini aku selalu mencarimu. Apakah kau sudah melupakan aku." Honglong berkata dengan nada memelas sambil memeluk biarawati tersebut semakin erat.
"Sungguh memalukan!"
"Wooii lepaskan!"
Teriakan semua orang seraya menunjuk-nunjuk Honglong dengan geram. Mereka begitu tersinggung melihat biarawati yang mereka kagumi dan muliakan tersebut di perlakukan seperti itu.
Beberapa murid kuil dengan cepat maju melepaskan pelukan Honglong dengan paksa, lantas memelintir kedua tangan Honglong dengan kuat.
"Siapa kau? Beraninya bersikap tidak bermoral terhadapku.." Hardik biarawati tersebut dengan wajah dongkol.
"Miao.. Kau sudah berjanji akan pergi bersamaku untuk hidup berdua selamanya. Kenapa kau menyangkalnya, malah sekarang berpura-pura tidak mengenaliku." Honglong memasang wajah sedih bahkan sampai mengeluarkan air mata.
"Aku selalu menjaga moralku, jangan merusak reputasiku disini!" Biarawati tersebut menunjuk-nunjuk wajah Honglong dengan wajah tersungut marah.
"Miao-miao, apa kau benar-benar tidak menginginkanku lagi." Honglong memasang wajah sedih lalu menunduk dalam, dan tiba-tiba berteriak meratap.
"Jangan dengarkan dia! Dia adalah orang gila!" Biarawati tersebut memandangi semua orang yang mulai riuh.
Tiba-tiba seorang pria melangkah maju, "Hei.. hei.. Kau! Jangan membual! Guru Ma selama 3 tahun ini selalu berada di dalam kuil, bagaimana dia bisa bertemu denganmu?"
Honglong tersenyum sinis, "Apakah kau juga mengawasinya setiap saat.? Apakah kau mengikutinya saat makan, mandi dan tidur?"
Arya tersenyum lepas, sedangkan Hulao tertawa terpingkal-pingkal sehingga menarik perhatian orang-orang di dekatnya.
Honglong jatuh berlutut dengan muka tertunduk, "Miao-miao, kau benar-benar kejam padaku."
Suara riuh semua orang kembali terdengar, sebagian dari mereka memaksa Honglong untuk pergi, sedangkan sebagian lagi turut berempati terhadap nasib Honglong.
Hulao berlari mendekati Honglong setelah mendapatkan perintah dari Arya.
"Adik, adik..." Seru Hulao sambil berlari menerobos kerumunan.
Setelah berada di hadapan biarawati tersebut, Hulao menelangkupkan tangannya, "Maaf, Maaf... Adikku ini sedang mabuk. Dia selalu saja membuat masalah jika sedang mabuk seperti ini. Sekali lagi maafkan kami." Hulao menatap Honglong sambil mengedipkan mata. "Setelah berpisah dengan calon istrinya, dia sering sekali mabuk-mabukan dan jika sudah mabuk begini, dia selalu menganggap wanita-wanita cantik sebagai calon istrinya yang telah pergi itu."
Salah seorang dari kerumunan berseru, "Dia harus di hukum karena berani bersikap tidak sopan pada guru Ma!"
Biarawati tersebut menghembuskan nafas lega, lalu memandang ke arah murid-muridnya yang mengunci pergerakan Honglong. "Lepaskan dia.!"
"Terimakasih guru Ma." Ucap Hulao sambil menundukkan kepalanya.
"Memangnya kau saja yang bisa bersandiwara, aku juga bisa tupai tengik." Batin Hulao tersenyum tipis.
"Dia adalah pria yang malang." Biarawati tersebut tersenyum kepada Hulao. "Cepat bawa adikmu itu pulang."
Hulao segera memapah Honglong yang pura-pura lemas dan bersedih.
"Terimakasih guru Ma, terimakasih.." Hulao kemudian mengajak Honglong kembali ke tempat Arya.
"Sangat welas asih.."
"Guru Ma emang baik hati seperti dewa."
Berbagai sanjungan di lontaran semua orang dengan ekspresi kekaguman yang di tunjukkan kepada biarawati tersebut.
"Tuan, setelah melihatnya dari dekat. Aku melihat dia memiliki aliran Qi dan aura seperti hewan iblis ular itu." Ucap Honglong lalu memandangi ular hitam yang melingkar di tangan Arya.
"Benar tuan, aku juga melihat dia memiliki ilusi yang cukup baik untuk menyembunyikan auranya, dan yang lebih menyebalkan dia pandai mengambil hati banyak orang." Timpal Hulao.
"Aku sudah tahu.. Karena itulah aku mengajak kalian kesini." Arya tersenyum tipis sebelum melemparkan ular di tangannya ke arah biarawati.
Semua orang menyipitkan mata ke arah benda panjang berwarna hitam yang tergeletak di tanah di hadapan mereka, namun sesaat kemudian ekspresi mereka mendadak berubah, mereka menjerit histeris ketika ular hitam kecil tersebut berubah menjadi ular raksasa.
Suara riuh teriakan terdengar keras mengudara, semua orang berlarian menjauhi ular raksasa yang nampak mengamuk.
Para murid segera menarik senjata lalu berkelebat melindungi biarawati.