
Kedatangan tetua Chai Nan serta beberapa anggota yang datang bersamanya di sambut senyuman lebar pria berambut dan berjenggot merah. Dia adalah Patriark Mu Lingzhi, Patriark Sekte Lentera Merah.
"Sekarang di mana pusaka yang kalian dapatkan."
Tetua Chai Nan lantas mengeluarkan sebuah pedang yang didapatkannya dari ruangan bawah tanah makam leluhur Sekte Lembah Petir. "Kami menemukan pedang ini Patriark. Tapi sebenarnya kami masih sedikit ragu apakah pedang ini adalah pecahan Pusaka Legenda yang kita cari."
"Jadi kalian tidak memastikannya dulu? Kalian semua bodoh, seharusnya ketika kalian akan meninggalkan daratan timur kalian pastikan dulu apakah jarum langit masih mengarah ke tempat itu atau tidak." Hardik Patriark Mu Lingzhi dengan aura menekan.
Tetua Chai Nan menunduk, dia merasa bodoh karena tidak kepikiran hal itu. "Maaf Patriark, kami tidak sempat melakukannya sebab kami di kejar seorang pemuda yang sepertinya dia juga seorang kultivator."
Patriark Mu Lingzhi tersenyum kecut, "Itu tidak bisa kau jadikan sebagai alasan untuk menutupi kebodohanmu, Chai Nan." Patriark Mu Lingzhi memberikan penekanan pada kata 'Chai Nan'.
Pria yang memiliki tatoo di wajah di buat merinding melihat senyuman Patriark Mu Lingzhi yang tertuju kepadanya.
"Kau, siapa namamu?" Patriark Mu Lingzhi menunjuk pria itu.
"An Xue, Patriark." Jawab pria bertato tersebut itu dengan gugup.
"Ambillah pedang ini dan buka!!" Patriark Mu Lingzhi melemparkan pedang yang memiliki ujung bercabang dua tersebut kepada pria bertato itu.
"Maaf Patriark, sebaiknya kita membukanya di tempat terbuka. Aku khawatir pedang ini adalah jebakan." Xin Qian memberanikan diri bersuara sebab dia memiliki firasat buruk terhadap pedang tersebut.
Dengan wajah kesal, Patriark Mu Lingzhi mengibaskan tangannya sebagai isyarat agar mereka semua keluar. Perasaannya menjadi buruk ketika membaca pikiran Chai Nan.
Setelah berada di halaman depan gedung utama, tetua Chai Nan kemudian menyuruh pria bertato untuk membuka pedang tersebut lalu melompat mundur menjaga jarak.
Kini pria bertato tersebut berdiri seorang diri di tengah-tengah halaman, keringat dingin mulai mengucur di tubuhnya. Dia berusaha menyingkirkan kecemasan di hatinya dengan memejamkan mata, lantas diapun mulai menarik gagang pedang tersebut dengan gerakan cepat.
"Menyingkir!!" Seru Xin Qian ketika melihat asap hijau keluar dari pedang tersebut.
Mendengar hal itu, tetua Chai Nan dan yang lainnya segera terbang mengambil jarak. Sedangkan pria bertato lantas membuka mata ingin melihat apa yang terjadi, namun baru saja matanya terbuka kesadaran seketika menghilang sebab dia telah tewas dengan kondisi tubuh menyisakan kulit dan tulang.
Tetua Chai Nan dan yang lainnya melebarkan mata menunjukkan ketidak-percayaan atas kejadian yang terjadi. Asap hijau tersebut semakin lama semakin meluas, kini mulai menjalar hampir menutupi seluruh halaman.
"Gawat, kalian pergilah!! beritahukan hal ini pada semuanya. Suruh mereka semua berlindung."
Selepas mengatakan demikian, Tetua Chai Nan lantas melesat masuk ke dalam gedung utama. Sedangkan Xin Qian dan yang lainnya bergegas mengabarkan pada semua penghuni Markas Lentera Merah untuk berlindung.
Dalam waktu singkat, seluruh tetua dan Patriark Mu Lingzhi sudah berkumpul di depan gedung utama. Mereka sangat terkejut melihat kepulan asap hijau tersebut membuat pepohonan di sekitar halaman menjadi kering mati.
"Dari mana asap ini berasal?" Salah satu tetua bertanya pada Tetua Chai Nan.
"Ini bukan saatnya berdiskusi, cepat ciptakan segel perisai untuk melindungi gedung. Buka segel pelindung markas dan gunakan elemen angin untuk mengusir asap itu." Patriark Mu Lingzhi menggerakkan tangan lalu melemparkan sebuah bola energi berwarna merah ke arah kepulan asap hijau tersebut.
Bola energi itu meluncur sebelum meledak dan meluas membentuk kubah energi yang mengurung seluruh kepulan asap hijau. Namun kubah energi tersebut tidak bertahan lama, sebab asap hijau itu justru menghisap energi perisai kubah yang di ciptakan Patriark Mu Lingzhi.
Asap hijau tersebut semakin meluas hingga mulai mengarah ke bangunan-bangunan yang berada di dekat gedung utama. Terdengar suara teriakan saling bersautan seiring asap hijau tersebut meluas menelan bangunan, tempat peristirahatan maupun tempat latihan para anggota Lentera Merah.
Mendapati perisai pelindung yang di ciptakan semua tetua terlihat mulai terkikis, Patriark Mu Lingzhi beringsut mundur.
"Cepat buka segel pelindung Markas!" Perintah Patriark Mu Lingzhi dengan hati yang berkecamuk cemas.
Semua tetua serta Patriark Mu Lingzhi memperagakan pola tangan yang berbeda-beda, karena segel pelindung yang menyelubungi Markas Lentera Merah adalah segel gabungan. Segel andalan mereka yang di kenal dengan segel 17 lentera warna. Sebuah segel yang cukup untuk membendung kekuatan kultivator tahap Pendekar Bintang puncak.
Bersamaan dengan segel pelindung Markas Lentera Merah terbuka, terlihat sesosok siluet melesat memasuki Markas Lentera Merah dari arah langit.
Sosok tersebut berdiri di atas bangunan menatap kepulan asap hijau yang menyasak menggulung seluruh bangunan di depannya.
"Oh ternyata kalian sudah salah mencuri. Sekarang rasakanlah akibat dari perbuatan kalian." Sosok pemuda lusuh menyeringai sebelum melesat kembali ke atas.
Pemuda lusuh itu melayang di atas Markas Lentera Merah, mulutnya menggumamkan sebuah mantera lalu kedua tangannya tercipta bola api besar dan kemudian dilemparkannya bola api tersebut ke arah Markas Lentera Merah.
Ketika hendak menggunakan teknik elemen angin untuk mengusir asap hijau keluar, perhatian semua tetua dan Patriark Mu Lingzhi teralihkan ke sumber energi besar yang sedang menuju ke arah mereka.
"Kalian tetap tahan perisai ini."
Patriark Mu Lingzhi menggerakkan tangannya yang sebelumnya terulur ke depan untuk menahan perisai energi, kini ia arahkan kedua tangannya ke atas berniat menghancurkan bola api besar di atasnya itu sebelum bola api tersebut menghantam mereka semua.
Suara ledakan meluluhkan lantahkan sebagian bangunan dan daya kejutnya melenyapkan kepulan asap hijau yang sudah merenggut nyawa ratusan penghuni Sekte Lentera Merah.
Satu bola api besar lainnya yang di lemparkan pemuda lusuh tersebut menghantam mulus ke bagian sisi lain Markas Lentera Merah. Dampak benturan bola api tersebut mengguncangkan tanah sehingga meratakan puluhan bangunan.
Pemuda lusuh nampak menyeringai tipis lalu tiba-tiba menghilang menggunakan teknik teleportasi.
Kini sepertiga Markas Lentera Merah nampak hancur parah, bangkai mayat manusia berserakan yang semuanya dalam kondisi kurus kering hanya menyisakan kulit dan tulang. Bahkan mata seluruh mayat tersebut juga sudah tidak ada.
Patriark Mu Lingzhi dan sebagian tetua yang memiliki teknik angin segera mengusir kepulan debu yang menghalangi pandangan. Mereka semua nampak siaga, khawatir jika ada serangan susulan.
"Keluarlah, jangan bersembunyi dan menyerang seperti pengecut." Seru Patriark Mu Lingzhi dengan di aliri Qi, sehingga suaranya terdengar sampai ke seluruh penjuru markas.
Karena tidak ada jawaban, Patriark Mu Lingzhi dan semua tetua kemudian mengerahkan tekniknya untuk mendeteksi keberadaan si penyerang.
"Aku sepertinya mengenali teknik itu." Patriark Mu Lingzhi sibuk mengingat-ingat teknik bola api yang menyerang tadi, sampai dia tidak menyadari kerusakan yang dialami Sektenya.
"Patriark, lihat sekte kita..."
Perkataan tersebut membuat Patriark Mu Lingzhi tersadar dan lalu mengalihkan pandangannya menatap ke arah barat, dimana seluruh bangunan disana rata dengan tanah.
"Biadab!!" Patriark Mu Lingzhi berteriak keras, hingga membuat tanah di seluruh area markas Sekte Lentera Merah bergetar hebat.