Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Pertarungan Di Tepi Sungai


Ratu Bunga Asmara kemudian balikkan badan menghadap ke arah mulut goa sambil lambaikan tangan kanannya. Bersamaan dengan lambaian itu, di depan goa terdengar suara bergemuruh. Pintu batu bergeser ke samping.


“Mudah-mudahan Gagak Mayat membawa kabar bagus!” Gumamnya menyebut nama burung yang terbang berputar-putar di mulut goa.


Setelah tirai segel pelindung yang menutup pintu goa terbuka, untuk yang kesekian kalinya terdengar suara pekik nyaring.


Tak lama kemudian dari luar mulut goa yang terang tersebut terlihat melesat satu burung besar berbulu hitam mirip burung gagak namun paruh dan matanya sangat merah seperti darah.


Gagak Mayat, sang burung hitam yang baru datang tersebut terbang berputar-putar mengelilingi ruangan. Tak lama kemudian hinggap bertengger di atas batu segi tiga yang terdapat di depan Ratu Bunga Asmara.


Melihat kehadiran burung itu si gadis jadi gembira. Dia melangkah mendekati sang burung yang sebenarnya merupakan makhluk jejadian yang dapat berganti-ganti rupa dan wujud.


“Ku yakin kau baru turun dari Puncak Dua Giok.” Kata si gadis yang dijawab oleh sang burung dengan anggukan kepala.


Gadis itu tersenyum, dia melangkah lebih mendekat ke arah burung yang bertengger di atas batu segi tiga tersebut. Semakin dekat, si gadis dengan sang burung, hidungnya mengendus aroma menyengat. Aroma harum khas Bunga Mayat.


Blar! Blar!


Tiba-tiba terjadilah keanehan yang luar biasa. Kepakan sayap sang burung ini disertai dengan pijaran cahaya hitam kemerahan yang menyilaukan mata. Lalu sosok sang burung lenyap bersamaan dengan lenyapnya cahaya di atas batu segi tiga. Kini duduk seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun berkulit dan berambut hitam legam dengan sekujur kulit ditumbuhi bulu-bulu halus.


Gadis jelmaan Ini menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang runcing tajam berkilau sambil menatap ke arah Ratu Bunga Asmara.


Sang Ratu jadi ikut tersenyum sambil membelai rambutnya. Gagak Mayat yang sedang dibelai serta di manja-manja inipun tampak menikmati perlakuan penuh kasih yang diberikan oleh Sang Ratu.


Namun semua kemanjaan dari sifatnya yang kekanakan tak berlangsung lama. Sejurus kemudian dia mengangkat tangannya yang ditumbuhi rambut halus lebat.


Ratu Bunga Asmara kembali duduk di tempatnya. Dan didengarnya Gagak Mayat tiba-tiba berkata.


“Kedatanganku ke tempatmu ini tidak akan lama, wahai kakak. Aku datang ingin menyampaikan pesan dari Guru.”


“Aku sudah tidak sabar mendengar kabar apa yang kau bawa,” sahut Ratu Bunga Asmara.


Gagak Mayat terdiam sejenak sambil menghirup nafas dalam-dalam. Kemudian dia membuka mulutnya berujar.


“Guru mengatakan Pedang Es Abadi pusaka istana Es telah diketemukan berada ditangan Patriark Sekte Iblis Berdarah. Engkau diperintahkan untuk meninggalkan tempat pertapaan. Guru juga dengan tegas memintamu untuk menemukan Naga Emas.”


Mendengar penjelasan Gagak Mayat, Ratu Bunga Asmara jadi terdiam sambil kerutkan keningnya.


“Mencari Naga Emas? Hmm, aku memang telah melihatnya dalam pertapaanku. Tidak hanya Naga Emas saja tapi aku juga melihat seekor burung rajawali putih.” Desis Sang Ratu.


“Jadi kau telah mendapatkan petunjuk itu?! Guru akhir-akhir ini menerima petunjuk penting. Petunjuk tentang terjadinya pertarungan besar yang mungkin akan menjadi pertempuran terbesar dalam sejarah kekaisaran Ming bahkan juga seluruh benua daratan timur.”


Menjadi terkejutlah Sang Ratu, dengan nada tergetar dia berkata, “Lalu apa hubungannya dengan burung rajawali putih dan naga emas?”


Gagak Mayat tersenyum, lantas menjawab. “Menurut Guru, sebagaimana petunjuk yang beliau dapatkan, dengan berkerjasama bersama Naga Emas akan memudahkanmu mendapatkan Pedang Es Abadi. Guru juga melihat, Naga Emas sekarang sedang dalam perjalanan menuju ke markas Sekte Iblis Berdarah. Kau bisa membawa serta pengawalmu kesana dan menyusul Naga Emas itu.”


Ratu Bunga Asmara terlihat begitu lega mendengar semua penjelasan tersebut. Tapi ada sesuatu yang menjadi ganjalan di dalam hatinya. Karena itu dia segera berkata.


“Lalu bagaimana jika Naga Emas menolak untuk bekerjasama denganku?”


“Itulah yang harus kakak pikiran.. Satu lagi pesan guru, hati-hatilah dengan Naga Emas! Jangan membuatnya tersinggung dan malah memusuhimu.”


“Baiklah, pesan telah kau sampaikan. Aku dan pengawalku akan segera meninggalkan goa rahasia ini. Sekarang kau hendak kemana?” Bertanya Ratu Bunga Asmara sambil menatap gadis hitam legam di depannya tersebut.


“Aku akan kembali ke Puncak Dua Giok.”


“Bagus. Mengingat Guru dalam keadaan tidak sehat, kau memang harus menjaganya dari sesuatu yang tidak diinginkan. Sampaikan salam hormatku pada Guru. Katakan padanya begitu urusanku selesai, aku akan menyambanginya.”


Gagak Mayat anggukkan kepala tanda mengerti. Dia lalu memutar tubuhnya tiga kali. Kemudian bersamaan dengan bergeraknya tubuhnya, terlihat ada cahaya hitam kemerahan yang memancar. Sosok Gagak Mayat lenyap!


Selepas menghilangnya cahaya hitam, di atas batu segi tiga mendadak muncul seekor burung hitam. Burung mirip gagak berparuh dan bermata merah menyala.


Sang burung kepakan sayapnya. Sekali sayap di kepakkan, mahluk itu melesat menembus mulut goa dan lenyap dari pandangan mata.


Sepeninggal sang burung, Ratu Bunga Asmara segera berkata kepada para pengawalnya.


“Kalian sudah ikut mendengar apa yang disampaikan oleh Gagak Mayat tadi. Sekarang kalian carilah Naga Emas itu dan segera kabarkan jika sudah ketemu.!”


Tiga laki-laki pengawal Ratu Bunga Asmara yang hanya memakai celana d*lam itu saling berpandangan satu sama lain. Kemudian terdengarlah Bu Tong Pay bertanya,


“Apakah Naga Emas itu berwujud Naga sungguhan atau hanya julukan seorang pendekar?”


Ratu Bunga Asmara terdiam sejenak, dia sendiri juga tidak tahu. Tapi mengingat petunjuk dalam tapanya yang menggambarkan seorang pemuda berambut sebagian kuning diapun kemudian berkata, “Itu adalah tugas kalian untuk mencarinya. Tapi menurut dugaanku, besar kemungkinan Naga Emas adalah nama sebuah julukan seorang pendekar. Dalam tapaku, aku melihat seorang pemuda berambut kuning. Carilah dia, mungkin dia lah orang yang kita cari!”


Begitu kepala mereka menyentuh lantai,


Des! Des! Des!


Tiba-tiba saja sosok ketiganya lenyap.


Si gadis tertawa tergelak-gelak. Dia sendiri kemudian memutar tongkat pusaka ditangannya tiga kali.


Wuus!


Sama seperti tiga pengawalnya, sosok Ratu Bunga Asmara juga akhirnya lenyap entah kemana.


Goa rahasia tempat pertapaan tersebut berubah menjadi sunyi.


******* 


Angin barat menerbangkan dedaunan yang kering bagaikan sedang menari-nari. Di bawah percikan air terjun, di samping rimba pohon yang lebat. Di atas sebuah batu besar yang terdapat di tengah sungai yang sedang mengalir, berdiri seorang laki-laki berpakaian hitam.


Pakaiannya yang hitam sangat kontras dengan tubuhnya. Rambut orang itu seluruhnya berwarna putih seolah ditutupi salju musim dingin. Bukan hanya rambutnya yang berwarna putih. Alisnya juga berwarna putih. Mestinya perawakan seperti itu hanya dimiliki oleh orang yang berusia lanjut, namun anehnya tidak ada sedikit pun kerutan pada wajah orang ini. Sulit menerka berapa usia orang itu sebenarnya.


Sepasang alisnya tinggi dan tebal. Mimik wajahnya dingin dan datar. Terasa sekali hawa pembunuhan yang memancar dalam sinar matanya. Warna kulitnya pucat seperti kulit ikan yang sudah mati. Tidak terlihat sedikit pun rona merah sebagaimana manusia yang mempunyai darah. Bibirnya juga demikian. Tidak beda dengan sesosok mayat hidup.


Yang paling mengerikan dan membuat hati bergetar justru sepasang matanya. Bentuknya sipit dan panjang. Bola matanya hanya berwarna putih secara keseluruhan. Tidak ada bola hitam di tengahnya. Di tangan kirinya tergenggam sebatang pedang panjang yang membuat penampilan orang itu semakin angker. Panjang pedang itu kira-kira satu setengah meter.


Nyata sekali pedang yang dibawanya bukan pedang sembarangan. Orang akan berpikir dalam hati, bagaimana cara menggunakan pedang sepanjang itu? Untuk menghunusnya saja pasti akan menemui kesulitan.


Orang ini menggunakan pedang sepanjang itu sebagai senjata. Senjata yang dipergunakannya sesaat yang lalu untuk mencabut nyawa beberapa orang yang tergeletak di tepian air sungai tersebut. Kondisi mayat-mayat itupun begitu memprihatinkan. Kepala terbelah sampai otaknya berceceran! Badan terputung-putung memperlihatkan usus yang menjela-jela, tulang-tulang yang terpotong-potong dan organ dalam yang mencuat keluar! Potongan tangan dan kaki berserakan! Darah mayat-mayat itu mengalir larut dengan air sungai yang menjadi merah seperti kolam darah.


Air sungai yang memerah itu kemudian mengalir deras bergerak-gerak menghantam batu tersebut. Butiran air memercik ke mana-mana. Angin masih bertiup dengan kencang. Daun-daunan rontok beterbangan dan menimbulkan suara menderu-deru.


Lengan baju orang itu melambai-lambai. Rambutnya yang putih beriap-riap. Benda-benda yang ada disekitar seperti sedang berlomba saling bergerak. Hanya manusia berpakaian hitam itu yang tak bergeming sedikit pun. Tubuhnya seolah telah bersatu dengan batu yang dipijaknya.


Angin bertiup menerpa alam sekeliling. Mata orang itu tiba-tiba terbelalak. Sinar matanya yang sedingin es tidak menampilkan perasaan apa-apa. Siapa pun tidak akan menyangka bola mata yang sedemikian rupa dapat menyorotkan sinar setajam belati. Matanya bergerak, demikian juga tubuhnya. Suasana mencekam jadi riuh seketika. Tubuhnya melesat bagaikan sebatang anak panah. Pedangnya telah terhunus! Dia berkelebat di udara dan mengarah ke sehelai daun yang sedang terbang ditiup angin.


Panjang pedang tersebut satu setengah meter. Dengan kecepatan yang sulit dijelaskan, dia menusuk ke arah daun kering yang sedang melayang itu.


Crep!


Pedang itupun menembus daun tersebut. Mengagumkan! Gerakan pedang itu terlalu cepat. Melebihi kecepatan daun tersebut. Belum sempat daun terhempas oleh deruan angin yang ditimbulkan, pedang sudah menusuknya. Dan dari tusukan pedang tersebut keluar selarik sinar merah terang menebar hawa panas yang terus meluncur ke arah sebuah pohon.


Rupanya bukan daun itu yang ia targetkan, melainkan sosok manusia yang bersembunyi dibalik pohon tersebut. Namun sebelum larikan sinar merah tersebut melabrak pohon, sosok yang bersembunyi disana sudah lebih dahulu melompat.


Duuuarr...


Pohon itupun meledak lalu tumbang berkobaran api.


Manusia yang melompat tadi berpakaian prajurit.  Sembari melompat, tangannya bergerak mengibas. Selembar daun meluncur dari jarinya. Mengarah ke tempat pria berambut putih.


Dalam waktu yang bersamaan, pria berambut putih tebaskan pedangnya menyilang. Belasan sinar berwarna biru samar-samar meluncur ke arah daun tersebut kemudian menusuk di permukaannya dan tembus di atas pohon besar di pinggir sungai. Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata sinar biru itu terdiri dari belasan batang jarum. Belasan batang jarum itu begitu halus bagaikan bulu kuda.


Laki-laki yang berpakaian prajurit sudah jejakkan kakinya di tanah. Wajahnya terlihat pucat. Dia benar-benar tak menyangka jika persembunyiannya dapat diketahui. Karena itu, mau tak mau ia harus menghadapi orang berambut putih tersebut. Sambil menatap waspada terhadap lawan, diam-diam dia berharap seorang temannya dapat meloloskan diri sehingga dapat mengabarkan hal ini secepat mungkin kepada orang-orang di desa Huangpu.


“Tak akan ku biarkan satupun dari kalian hidup!” Desis laki-laki berambut putih. Begitu tangannya yang putih pucat mengibas, jarum yang berjumlah puluhan batang menghambur bagai hujan anak panah di udara. Kecepatannya sulit dilihat!


Cepat-cepat prajurit tersebut ciptakan tembok tanah untuk melindungi tubuhnya dari hujanan jarum-jarum itu. Sementara dia sendiri, menyusup amblas ke dalam tanah karena sadar bahwa kekuatan lawannya jauh di atasnya.


Blaarr.. Blaaarrr.. Blaaarrr..


Benar saja, tembok tanah itupun meledak. Hancur tak dapat menahan laju kekuatan hujanan jarum-jarum si lelaki rambut putih.


Manusia berpakaian hitam berambut putih itu segera memandang berkeliling, kemudian pandangannya tertuju ke satu batu yang tak jauh dari ledakan tadi. Bagai seekor elang sedang menanti mangsanya, ia memandangi tempat tersebut tanpa berkedip.


“Keluarlah! Atau akan ku kubur kau selamanya dalam tanah, tempat persembunyianmu itu!!.” Bentak lelaki rambut putih. Ia masih dapat merasakan energi lawannya sedang bersembunyi di bawah tanah dibalik batu yang dipandanginya itu.


Beberapa saat tak mendapati jawaban. Manusia berpakaian hitam itu menggertakkan giginya. Dia langsung menerjang ke arah bongkahan batu dimana prajurit tadi bersembunyi. Dia menyerangnya sebanyak tiga belas kali dengan lontaran pukulan energi jarak jauh.


Sadar mendapatkan serangan itu, maka prajurit itupun menggunakan teknik pengendalian elemen tanah untuk berpindah tempat. Dalam waktu singkat dia dapat menghindarkan semua serangan itu lalu bersembunyi dibawah sebuah batu yang lain.


Manusia berpakaian hitam tersebut tidak segera menyadarinya. Dengan kesal dia melemparkan pukulan energi berturut-turut ke batu yang sebelumnya dijadikan sang prajurit bersembunyi.


Sementara itu, seorang prajurit lainnya telah berkelebat cepat menembus semak belukar. Ia sengaja memilih jalan pintas yang paling cepat untuk menuju ke desa Huangpu.