
Sebuah pondok kayu berdiri hanya beberapa puluh langkah dari jurang yang menganga lebar. Tak jauh dari gubuk itu tampak sebuah sungai berbatu-batu besar dan membelah Gunung Changmin. Pondok itu terkesan dibuat seadanya, asal cukup untuk berteduh dari curahan hujan salju dan angin yang selalu menggigit. Tapi, tiang penyangganya terbuat dari kayu besi. Keras dan kukuh. Dindingnya berupa potongan dari bambu hitam. Atapnya terbuat dari rumbia dan dibuat berbentuk limas.
Pondok itu memang terkesan sengaja dibangun di tempat terpencil. Jauh dari peradaban manusia. Mungkin penghuninya berniat mengasingkan diri untuk tujuan tertentu. Di samping berdiri di dekat tebing curam, hutan yang ditumbuhi berbagai pohon yang rapat juga seakan membungkus bangunan itu dari pandangan.
Gunung Changmin sendiri adalah bebukitan berhutan rapat yang jarang sekali diinjak manusia. Harimau, babi hutan, kera, dan berbagai binatang buas lainnya ditambah lagi berbagai jenis siluman masih menjadi penguasa utama di daerah itu. Hanya orang yang memiliki kepandaian tinggi yang berani menembus hutan di bukit itu, lebih-lebih menyusuri Sungai Ci, sungai yang berdinding ngarai terjal dan memiliki jeram-jeram yang mematikan.
Waktu itu langit fajar begitu indahnya, menciptakan awan beraneka warna. Di sudut timur langit terbakar warna merah muda. Di antara kelompok awan nampak sinar biru dan ungu, juga ada awan besar yang menghitam yaitu awan mendung yang bagaikan raksasa malas, bergerak perlahan-lahan tak secepat awan-awan putih di sekitarnya. Langit bagaikan pantulan lautan yang amat luas, dengan awan-awan itu mengambang di atasnya secara terbalik, hanyut bersama arus angin.
Burung-burung sudah sibuk keluar dari tempat tidur mereka di antara daun-daun dan ranting-ranting, suara mereka bagaikan celoteh yang cerewet menggambarkan betapa mereka amat semangat untuk mengawali hari, mencari makan guna menyambung hidup.
Matahari lambat laun semakin naik menyebarkan sinarnya yang hangat menyelimuti alam mayapada. Pagi itu masih menyisakan titik-titik salju yang turun dari langit. Sinar matahari menerobos dedaunan lebat akasia dan garis-garis cahayanya rebah memanjang di halaman depan pondok kayu itu.
Seorang gadis belasan tahun memperagakan jurus-jurus berpedang menghadapi puluhan lawan tandingnya. Akan tetapi anehnya, yang menjadi lawan tandingnya itu adalah boneka-boneka salju. Boneka-boneka salju tersebut seolah memiliki nyawa dan dapat bergerak sangat cepat melebihi manusia pada umumnya.
Wajah gadis itu berkilat oleh keringat. Bajunya yang merah muda itu juga basah dan kotor. Pedangnya membabat, menebas dan menusuk kian kemari dengan serangkaian gerakan yang amat cepat sehingga yang keliatan hanyalah bayang-bayang. Dada gadis ini tampak mengembang dan mengempis dengan cepat.
“Gunakanlah jurus yang baru kau pelajari!” kata seorang pemuda yang sebagian rambutnya berwarna kuning. Meski berkata demikian, namun sorot matanya masih tertuju kearah senar pancingnya yang nampak dipermukaan air sungai. Sudah berjam-jam lamanya pemuda ini melakukan pekerjaan tersebut.
Pemuda ini bukan lain adalah Arya adanya. Ia sedang duduk diatas sebatang ranting pohon seukuran jari kelingking yang menjorok ke arah sungai. Hebat bukan main, bagaimana seseorang bisa duduk diatas ranting yang ringkih itu, bahkan andaikata ada seekor burung yang hinggap di ranting itu maka sudah pasti ranting itupun akan patah.
Arya memang sengaja memilih tempat ini untuk melatih Nie Zha serta pula untuk meningkatkan kemampuannya sendiri. Lain daripada itu, Arya juga sedang menunggu rombongan pasukan dari Sekte Lembah Petir. Namun sampai hari inipun dia belum juga merasakan keberadaan Griffinhan dan Wouven. Tentu saja jika kedua siluman perliharaannya itu telah dekat dengannya paling jauh berjarak seratus kilometer, dia akan dapat merasakan kontak batin dengan kedua siluman tersebut.
Setelah berkata demikian, Arya kembali menempelkan sebatang seruling berwarna kuning emas dibibirnya. Itulah Seruling Cahaya Malam. Sebuah Seruling Pusaka Tingkat Bintang yang memiliki ukiran bulan sabit dan tiga bintang di gagangnya. Dulu memang seruling ini sempat hampir mencelakai Arya, akan tetapi setelah berhasil menundukkan roh pusaka yang bersemayam di dalam seruling tersebut, maka kini seruling itupun sudah tidak lagi berbahaya baginya.
Bersamaan dengan terdengarnya suara melodi dari seruling itu meliuk-liuk di udara, serta-merta boneka-boneka salju yang tadinya mematung kembali bergerak serentak. Kali ini boneka-boneka salju itupun melancarkan serangan-serangan yang lebih ganas dan lebih cepat kepada si gadis berbaju merah muda yang bukan lain adalah Nie Zha adanya. Dapatlah diterka bahwasanya kekuatan dari Seruling Cahaya Malam inilah yang telah menggerakkan boneka-boneka salju tersebut.
Nie Zha mendengus, meskipun lawan tandingnya hanyalah boneka-boneka salju, akan tetapi lawannya itu bukanlah patung-patung es biasa yang dapat dihancurkan dengan mudah. Patung-patung itu bahkan memiliki tingkat kultivasi seperti Nie Zha. Tahap Pendekar Fana tingkat tiga.
Ketika kedua boneka salju kembali menyerang. Satu menerjang di udara, dan satunya lagi menyambar cepat mengayunkan tangan kanannya ke muka. Nie Zha dorongkan tangan kanannya! Gerakannya acuh tak acuh dan kelihatannya Iemah saja! Tapi tahu-tahu satu gulungan api pukulan yang dahsyat sudah menghantam kedua boneka dihadapannya! Karena dalam laju terjangan begitu rupa, kedua boneka salju itu tak sanggup berkelit dan hanya dapat menahan.
Tak ampun lagi tubuh mereka dimakan gulungan api. Keduanya serta-merta mental sampai beberapa tombak. Yang satu begitu terhampar ditanah, tampaklah boneka es itu lumer mencair. Yang satunya lagi masih mencoba bangun dengan gerakan kaku. Tubuhnya terbungkuk ke depan, dadanya jebol berkobaran api. Namun kejap kemudian, boneka es itupun roboh menjadi air.
Belasan boneka es lainnya segera menyerbu kembali. Suara seruling kian melengking-lengking di udara. Boneka-boneka salju itupun seolah-olah mendapatkan kekuatan lebih. Serangan mereka kini bertambah cepat berkali-kali lipat, kerjasama mereka juga demikian teratur. Tampaklah Nie Zha amat kewalahan menghadapi gempuran serangan-serangan berbahaya yang datang bak curahan air hujan.
Sepuluh pasang tangan menderu. Tiga mengarah ke muka, empat menyentak ke dada dan perut, sedang tiga lainnya mengayun dari atas kebawah!
Nie Zha membentak garang. Tanah bergetar! Tubuhnya lenyap dalam satu gerakan yang luar biasa cepatnya. Kemudian terdengar satu suara dentuman yang disusul dengan serangkai ledakan-ledakan beruntun empat kali berturut-turut. Tiga boneka salju terpelanting ke udara, lima boneka salju lainnya terbabat hancur kepalanya!
Apakah yang sesungguhnya telah terjadi?! Pada waktu sepuluh boneka salju menggempur bebarengan. Nie Zha dengan gerakan ‘Jurus Tanpa Nama’ yang luar biasa cepat dan hebatnya, menyelinap diantara pukulan-pukulan lawan. Tangan kanan menghantam ke samping memukul boneka salju yang paling dekat. Begitu pukulan mendarat, gadis itu cepat pergunakan serangkaian pukulan ‘Jurus Tanpa Nama’ yang dikombinasikan dengan ‘Jurus Menendang Iblis’. Serangan gadis itu amat kuat dan cepat sehingga menciptakan ledakan demi ledakan ketika setiap kali serangannya mengenai lawan.
Namun latihan tanding tersebut tidak berhenti sampai disana. Puluhan boneka salju yang tersisa kembali mengepung. Kali ini boneka-boneka salju itupun melancarkan serangan satu persatu secara bergantian, sementara yang lainnya menunggu saat yang tepat untuk melancarkan serangan manakala terdapat celah terbuka dari si gadis.
Angin ribut bersiuran menebar hawa panas dan dingin. Ledakan terus terdengar layaknya degup jantung yang berkesinambungan tanpa terputus. Untunglah Arya telah memagari tempat pertarungan itu dengan segel pelindung, sehingga dampak serangan-serangan dahsyat dari pertarungan itu tidak meluas dan hanya melingkupi area didalam segel pelindung saja.
Tak terasa hampir seratus jurus berlalu, dua jam telah terlewat. Namun latihan tanding itupun masih berlangsung semakin dahsyat.
Laksana peluru meluncur dari senapan. Beberapa boneka salju melesat menyerang. Tentu saja Nie Zha tak akan tinggal diam, dia cepat-cepat loloskan diri dari kepungan lima boneka salju yang saat itu tengah menyibukkannya. Gadis ini melompat sambil berputar-putar di udara. Tampaklah tubuh Nie Zha bersinar merah muda. Begitu berada di udara, sepasang tangan dan kakinya menyentak-nyentak kirimkan larikan-larikan sinar merah muda yang menderu cepat bagaikan kilat.
Blaaarrr! Blaaarrr! Blaaarrr!
Larikan-larikan sinar merah muda menghantam hancur beberapa boneka salju yang melucur cepat seperti peluru tadi. Sedang lusinan larikan sinar merah muda lainnya menderu ke arah boneka-boneka salju yang berkerumunan dibawahnya. Tanah-tanah terbongkar menciptakan kawah-kawah sebesar kerbau! Boneka-boneka salju dibawahnya meledak berhamburan! Asap tebal seketika menutupi pandangan! Udara serta-merta panas luar biasa! Inilah yang dinamakan ‘Jurus Pukulan Matahari’.
Jurus ini termasuk salah satu jurus andalan Arya yang dipelajarinya dari kitab kuno warisan dari kakeknya Zhen Long.
Nie Zha mengambang di awang-awang. Sepasang matanya menyorot tajam penuh waspada memandangi kepulan asap tebal yang bergulung-gulung dibawahnya.
Memang beberapa hari belakangan Arya telah memberikan petunjuk serta arahan pada Nie Zha, agar gadis itu dapat menyempurnakan jurus-jurus yang telah dikuasainya dari guru-gurunya. Selain itu, Nie Zha juga dibekali beberapa jurus tingkat tinggi dari Arya serta Si Lengan Api. Semua itu dilakukan agar gadis itu dapat melindungi dirinya sendiri dan sebagai persiapan sebelum melancarkan penyerbuan kepada markas Sekte Iblis Berdarah.
Maka tak mengherankan jika sekarang Nie Zha sudah bisa melayang di udara, karena beberapa hari dia memang telah di ajarkan Arya dan kakeknya si lengan Api untuk mengendalikan energinya agar bisa terbang.
Beberapa lama menunggu namun tak ada tanda-tanda adanya pergerakan dari dalam kepulan asap, Nie Zha baru menyadari bahwa pada saat itu telinganya sudah tidak mendengar lagi suara seruling. Gadis ini kemudian melemparkan pandangannya ke arah sungai. Dilihatnya Arya telah berada ditepi sungai, berjalan ke arahnya sambil membawa beberapa ekor ikan yang gemuk-gemuk, dan diikat menjadi satu. Pemuda itu senyum-senyum memandangi ikan-ikan yang ditentengnya.
“Hei, bocah! Kembalikan ikan-ikan ku!”
Terdengar suara membentak. Seorang kakek berambut kelabu berkelebat melompat-lompat dari batu ke batu, menuju ke arah Arya. Setelah menjejakkan kaki menghadang pemuda itu, kakek ini kembali membentak, “Jangan kira aku tak tahu kalau kau telah mencuri ikan-ikan ku itu!”
Arya senyum-senyum, “Buktinya mana? Ikan-ikan ini ada di tanganku, itu artinya ikan-ikan ini milikku.” Arya memandangi si kakek dari atas sampai bawah, “Nah, aku tahu sekarang.. kakek menuduhku karena engkau tidak mendapatkan ikan. Dan dengan menuduhku demikian, engkau berniat merampas ikan-ikan ini dariku. Huuh, tidak tahu malu!”
Wajah si kakek tersungut-sungut, “Bocah kurang ajar! Terima ini..” tangan si kakek cepat sekali sudah bergerak menampar. Namun Arya segera mengelak.
Arya cepat melompat mundur, “Eh, tidak kena!” ucap Arya bernada meledek, “Kakek jangan marah-marah nanti takut lekas tua.”
“Ada yang mengintai kita..” desis kakek Lengan Api.
Arya mengangguk, telinganya yang tajam dapat mendengar degup jantung beberapa orang yang bersembunyi di atas jajaran pepohonan yang tengah ditatapnya tersebut. Pada saat itu, dari atas Nie Zha meluncur turun, menjejakkan kakinya dengan ringan di samping kakek Lengan Api. Rupanya gadis ini juga merasakan adanya pengunjung gelap yang tengah memperhatikan mereka.
“Orang bersembunyi! Mengapa berlaku pengecut tidak tunjukkan tampang?!” seru Nie Zha.
Mendengar seruan si gadis, enam orang yang mengenakan jubah putih dan menutupi wajah dengan topeng tengkorak, mengerutkan dahi. Mereka sebenarnya hanya kebetulan saja melewati hutan tersebut, akan tetapi ketika melihat seorang gadis yang melayang di udara, salah seorang diantara mereka memberi isyarat agar bersembunyi. Dan baru saja mereka melakukan pengintaian, tak dinyana keberadaan mereka telah dipergoki.
Melihat pakaian putih yang menyembul sedikit dibalik sebuah pohon, Nie Zha segera hentakkan tangan kanannya ke arah pohon tersebut. Selarik sinar merah menggebubu ganas!
Wuttt...! Blabb...!
Pohon itupun meledak terbakar dan roboh! Burung-burung beterbangan sambil mencicit ketakutan. Ular-ular mendesis cepat tinggalkan tempat sekitar situ. Sedang sosok putih yang bersembunyi di atas pohon itu sudah terlebih dahulu melompat menghindar. Ia berjungkir balik satu kali di udara dan lantas menjejakkan kakinya ditanah. Detik berikutnya, lima sosok bertopeng tengkorak lainnya juga melompat turun dari persembunyiannya.
Arya, Nie Zha dan kakek Lengan Api segera berkelebat. Dalam sekejapan mata, mereka telah tegak berdiri menghadapi ke-enam orang bertopeng tengkorak itu. Sekali lihat saja mereka bertiga sudah dapat menerka bahwa orang-orang bertopeng ini tidaklah datang membawa maksud baik-baik.
“Lekas terangkan, apa maksud kalian kemari dan bahkan diam-diam mengintai kami?” ucap Nie Zha, matanya memandang penuh selidik pada satu persatu orang-orang bertopeng tersebut.
Selagi lima topeng tengkorak saling berpandangan, satu orang topeng tengkorak lainnya melangkah maju tiga langkah lalu berkata dengan nada bergetar mengandung kemarahan, “Kawan-kawan, inilah gadisnya yang kita cari.”
“Oh, sayang sekali.. sebaiknya lupakan permasalahan antara dirimu dan gadis ini. Amat sangat disayangkan jika gadis secantik ini harus dikasari.. Lebih baik dia dibawa untuk melengkapi koleksi kita.” berkata salah seorang topeng tengkorak lainnya sambil melangkah maju. Dan ucapan itu disambut anggukkan kepala empat rekannya.
Topeng tengkorak yang tadi keluarkan kata-kata bernada marah mendengus, dia menoleh menatap rekan-rekannya dengan sorot mata kecewa dan marah sekali.
“Maut biasanya datang tanpa undangan, kecuali bagi orang yang sengaja membuat silang sengketa dan keras kepala!”
Orang-orang bertopeng yang tadinya memandangi Nie Zha dengan penuh kekaguman, sontak menatap Arya. Dan kembali pemuda itu berkata sambil menunjuk kearah salah satu diantara mereka,
“Kau! Bukankah engkau yang kemarin mengintip gadis ini mandi. Beruntung waktu itu kami masih mengampuni nyawamu. Tapi jangan harap kali ini kami akan memberikan pengampunan yang kedua.”
Nie Zha kerutkan kening, menatap orang yang di tunjuk Arya. Mukanya mendadak menegang manakala dapat mengingat sepasang mata yang berada dibalik topeng itu.
Meski heran, pemuda berambut kuning itu dapat mengenalinya, akan tetapi sosok bertopeng tengkorak yang bukan lain adalah Yo Tiat Sun malah tertawa terbahak-bahak. Tawa yang mengandung kemarahan dan dendam.
Bagaimana Yo Tiat Sun bisa menjadi anggota kelompok ‘Manusia Iblis’? Seperti yang pernah diceritakan, bahwa setelah dihajar habis-habisan dan bahkan di tusuk alat kelaminnya, Yo Tiat Sun sekarat. Dan setelah dapat mengobati dirinya sendiri, iapun bertekad untuk membalas dendam. Kebetulan sekali dalam perjalanannya menuju ke markasnya, ia melihat suatu pertarungan yang dahsyat. Singkatnya, pertarungan itu dimenangkan oleh orang bertopeng tengkorak. Sebenarnya Yo Tiat Sun sudah mendengar sepak terjang Manusia Iblis, maka melihat sendiri bagaimana kemampuan sosok bertopeng tengkorak itu, Yo Tiat Sun menjadi tertarik sehingga meminta untuk bergabung dengan kelompok Manusia Iblis itu.
“Seperti kematian, aku datang memang tanpa undangan. Dan seperti angin topan, aku tidak akan tinggalkan tempat ini dengan berhampa tangan!” kata Yo Tiat Sun, “Kalian harus mampus!”
“Tunggu!” seru salah seorang topeng tengkorak.
Akan tetapi Yo Tiat Sun yang sudah gelap mata, seolah tidak mendengarkan seruan rekannya itu. Dengan menarik pedangnya, iapun menerjang. Baru setengah jalan, tiba-tiba tubuhnya terpental dan baru bisa berhenti ketika menubruk dan merobohkan pohon besar. Ia tewas saat itu juga dengan dada kiri jebol!
Tentu saja kejadian itu seketika meruntuhkan mental lima orang bertopeng tengkorak. Kemampuan mereka memang di atas Yo Tiat Sun, akan tetapi dapat menghabisi Yo Tiat Sun dalam sekali gebrakan saja, tentu tidak akan dapat dilakukan oleh pendekar sembarangan. Sadarlah mereka bahwa kali ini mereka telah salah memilih lawan.
Melarikan diri agaknya merupakan tindakan yang tepat yang harus mereka lakukan sekarang. Lagipula mereka tidak mau mati konyol hanya untuk menuruti keinginan Yo Tiat Sun yang kini telah tewas. Terlebih persoalan ini bukanlah urusan mereka. Maka cepat-cepat merekapun berkelebat cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut. Akan tetapi mendadak mereka merasakan keanehan dalam larinya.
Segenap kekuatan telah mereka keluarkan, seluruh pengerahan energi Qi telah mereka paksakan. Kaki sudah diayun demikian cepat dan lebih cepat lagi. Akan tetapi mereka tidak juga dapat sampai pada hutan bambu di hadapan mereka itu. Kelima sosok bertopeng tengkorak tersebut mempercepat lagi larinya, kerahkan semua tenaga, bahkan keringatnya sampai bercucuran. Namun anehnya hutan bambu itu belum juga dapat dicapainya.
Salah seorang dari mereka menoleh ke belakang, maka terdengarlah suara seruan tertahan. Empat orang bertopeng tengkorak juga berseru kaget saat melihat ke belakang. Di sana mereka melihat raksasa setinggi gunung tengah menatap mereka dengan mata mencorong merah. Raksasa itu kemudian mengangkat kakinya untuk selanjutnya menginjak mereka. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya lima sosok topeng tengkorak tersebut di injak raksasa setinggi itu. Mungkin dapat disamakan dengan lima ekor semut yang diinjak gajah.
Sementara itu, Nie Zha dan Kakek Lengan Api jadi melongo keheranan. Dalam pandangan mata mereka berdua, ke-lima sosok bertopeng itu berlarian ditempat. Gerakan kaki mereka teramat cepat bahkan membuat tanah yang mereka pijak jadi amblas ke dalam, membentuk kawah sedalam dua meter. Lebih terkejut lagi ketika menyaksikan ke-lima sosok bertopeng tengkorak itu menjerit-jerit menatap ke atas lalu roboh serentak dengan sendirinya.
“Eh, kenapa kalian tiduran di dalam sana?” seru Arya sambil melongokkan kepalanya memandang ke bawah lubang tanah, dimana disana terdapat lima sosok topeng tengkorak yang tergeletak dengan posisi bermacam-macam. Ada yang tiduran miring, ada yang terlentang dengan mata melotot dan mulut terbuka, dan yang lainnya tertelungkup.
Seruan Arya itu ternyata mengembalikan kesadaran ke-lima sosok bertopeng tengkorak tersebut. Mereka merasakan seperti baru terbangun dari mimpi buruk saja. Ketika mereka membuka mata, didapatkan lah kenyataan bahwa mereka berada di dalam lubang tanah.
“Bagus, rupanya kalian hanya bermain sandiwara saja. Aku kira kalian hendak menggali kuburan kalian sendiri.” ucap Arya dengan nada mengejek dan diakhiri dengan tawa mengekeh.
Ke-lima sosok bertopeng tengkorak itu melotot marah. Meski tidak tahu apa yang terjadi namun terpercik dugaan bahwa pemuda ini sedang mempermainkan mereka. Akan tetapi sebelum mereka melompat keluar. Arya kembali berkata,
“Dengar! Kalian berlima sesungguhnya adalah saling bermusuhan, maka bertarunglah sampai mati.” Suara Arya terdengar berwibawa seperti seorang penguasa memberi titah kepada bawahannya. Rupanya suara ini mengandung pengaruh ilusi atau sihir yang dapat membuat siapapun yang dikehendakinya akan bertekuk lutut.
Demikianlah mereka berlima kemudian saling menyerang dan bertarung mati-matian. Sepasang mata Arya menjadi melebar ketika mendapati kenyataan bahwa mereka tidak mudah tewas. Setiap kali tubuh mereka terpotong atau tertembus serangan, tubuh yang terluka atau terpotong itupun akan kembali seperti sediakala.
“Huh,” Arya mendengus, sekali tubuhnya berkelebat, satu persatu orang-orang bertopeng tengkorak itupun tewas tanpa menyisakan tubuh kasar. Tubuh mereka hancur menjadi debu!
Kini hanya tersisa satu orang yang dibiarkan tetap hidup. Namun nyawanya tak bertahan lama. Karena setelah Arya memeras informasi dari pikiran orang bertopeng tengkorak itu. Tubuh anggota ‘Manusia Iblis’ itupun hancur menyisakan tulang belulang.