Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Menerima Tantangan


Ketika baru saja Arya memasuki ruangan pertemuan, semua mata langsung tertuju kepadanya bahkan ada beberapa orang yang berdiri dan menghentikan langkahnya.


"Bisa kau jelaskan bagaimana caramu menangkap orang ini? dan apa alasan mereka menyerang?" Jenderal Qian Tangjiang berjalan mendekat.


Arya menatap jenderal Qian Tangjiang sekilas, lalu mengedarkan pandangannya menatap orang-orang dihadapannya. Pemuda itu tersenyum tenang.


"Aku dapat menangkapnya karena waktu itu mereka dalam kondisi lemah. Mengenai tujuan mereka, kenapa kalian tidak menanyakannya langsung pada orang itu?"


Perkataan Arya memang benar, dia dapat mengalahkan tiga Tetua Iblis Berdarah dengan mudah karena waktu itu ketiga lawannya tersebut dalam kondisi tidak prima, mereka sudah menghabiskan banyak energi untuk mengendalikan pasukan mayat hidup.


Jenderal Qian Tangjiang menggeleng pelan, dia belum bisa menerima alasan Arya. Menurutnya, meskipun anggota Iblis Berdarah tersebut dalam kondisi lemah sekalipun, akan tetap mustahil bagi seorang Pendekar Kaisar dapat mengalahkannya.


"Sebaiknya kau katakan yang sejujurnya, jangan paksa kami untuk bertindak tegas." Jenderal Qian Tangjiang berkata penuh penekanan dengan tatapan mengintimidasi.


Arya menyeringai tipis, lalu katanya dengan dingin. "Aku dapat memahami kecurigaan kalian. Sekarang terserah kalian mau percaya atau tidak, lagipula aku sudah mengatakan yang sebenarnya."


"Jaga sikapmu anak muda!" Bentak panglima Long Hu sambil menunjuk Arya.


Ye Han tersenyum sinis, lalu tiba-tiba melesat dan tahu-tahu sudah mengayunkan tangannya mengincar kepala Arya.


Bbeemmpp...


Dengan santai dan tanpa menoleh, Arya menangkap pergelangan tangan Ye Han tepat ketika pukulan tersebut dua jengkal lagi mengenai kepalanya.


"Apa kau sudah tidak sabar ingin bertarung denganku." Arya menoleh menatap Ye Han dingin.


Ye Han menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis lalu menghentakkan tangan kirinya yang dilapisi es runcing, mengincar dada Arya.


Dengan gerakan santai Arya menampar kepala Ye Han, meskipun gerakan tersebut terlihat sederhana namun tatapan Arya membuat Ye Han kesulitan bergerak untuk menghindar ataupun menangkisnya.


Plaaakkk... Braakk..


Suara tamparan terdengar keras seiring dengan tubuh Ye Han yang terhempas, lalu di susul suara benturan tubuh Ye Han menghantam salah satu tiang penyangga yang ada di ruangan tersebut.


Semua orang terkejut melihat hal itu, mereka tidak menyangka tamparan yang terlihat biasa saja dan tanpa menggunakan Qi namun mampu menghempaskan Ye Han yang seorang Pendekar Kaisar tingkat 9.


"Maaf aku sebenarnya tidak ingin melakukan hal ini, tapi kalian sendiri yang memaksaku. Baiklah, sekarang siapa lagi yang ingin menjajalku?" Arya mengulurkan tangannya, menggerakkan jarinya seolah menyuruh orang-orang dihadapannya untuk maju.


"Sombong kau bocah..." Salah seorang tetua Ombak Karang melompat maju, tatapannya begitu tajam penuh kemarahan.


Arya menatap tetua tersebut, lalu memandangi semua orang. "Sebenarnya apa yang kalian inginkan? Kebenaran atau pertarungan?"


Tiba-tiba hawa di seluruh ruangan tersebut mendadak mencekam, beberapa orang bahkan dibuat gemetaran.


Mereka semua lantas menatap ke sumber aura tersebut, yang rupanya berasal dari Ye Han. Aura hitam berupa kabut tipis menyelimuti tubuh Ye Han yang kondisi wajahnya mengeluarkan darah di seluruh lobang kepalanya.


Tamparan Arya nampaknya membuat Ye Han terluka dalam, dan hal itulah yang menyebabkan Ye Han begitu kalap sehingga terang-terangan mengeluarkan aura pembunuh yang begitu pekat.


"Hmm.. ternyata kau masih belum sadar. Sekarang kau mau apa? Mau membunuhku?" Arya berkata pelan, menatap Ye Han dengan malas.


"Brengsek... Ku bunuh kau!!" Suara Ye Han masih menggema namun sosoknya telah berkelebat seperti bayangan, melesat ke tempat Arya melancarkan serangan.


Arya tetap tidak bergerak sedikitpun, tatapannya masih mengamati Ye Han, seutas senyuman tipis tersungging di bibirnya.


Sepersekian detik, semua orang kebingungan melihat Arya tetap tenang dan terkesan menyepelekan serangan ganas Ye Han yang sudah dikuasai emosi.


Ye Han melaju layaknya elang yang siap menerkam mangsa, kedua tangan Ye Han berubah menjadi logam baja merah membentuk sebuah cakar. Berdasarkan kuatnya energi dari serangan tersebut, sudah bisa dipastikan bahwa serangan Ye Han tersebut bukanlah main-main.


Bersamaan dengan hentakan pukulan yang Ye Han lancarkan, Arya tiba-tiba bergerak menyamping, membuat serangan tersebut hanya mengenai ruang kosong. Namun meski demikian, energi dari hentakan serangan tersebut menghancurkan dinding hingga menciptakan lobang besar.


Arya menatap lobang dinding tersebut sambil terus menghindari serangan Ye Han. Merasa jika pertarungan tersebut akan menyebabkan kerusakan, Arya berkelebat berlari di udara berniat keluar.


"Jika kalian ingin bertarung, mari bertarung di luar." Suara Arya masih mengudara sementara sosoknya sudah meninggalkan ruangan.


"Kalau kalian semua ingin menjajal kemampuannya, silahkan saja. Tapi jika kalian kalah, ku harap kalian jangan kecewa." Ucap Patriark Tao Lian setelah berdiri di tengah-tengah semua orang. Lalu kemudian diapun berkelebat keluar.


Semua orang saling melirik, perlu waktu bagi mereka untuk mencerna perkataan Patriark Tao Lian. Menurut mereka Patriark Tao Lian terlalu menganggap tinggi sosok Tabib Xian hingga secara tidak langsung dia mengatakan bahwa kemampuan Tabib Xian lebih unggul dari mereka semua. Dan hal itu membuat rasa penasaran mereka semakin bertambah tentang sekuat apa pemuda itu sebenarnya.


Ye Han berhenti beberapa meter di hadapan Arya, melihat senyuman dan sikap tenang pemuda itu, Ye Han merasa ada sesuatu yang janggal. Dia mengamati tubuh Arya dengan teliti, meski tidak melihat keanehan namun dia dapat merasakan adanya aura kuat yang terpancar dari pemuda itu. Sebuah aura tidak kasat mata namun cukup menyurutkan mentalnya. Tanpa sadar tubuh Ye Han bergetar dan termundur beberapa langkah, entah mengapa dia merasa seperti sedang berhadapan dengan sosok penguasa.


Keheningan tercipta diantara mereka, tidak ada yang berbicara. Ye Han masih terus mengamati Arya dengan posisi siaga.


"Woi, kenapa kau terus menatapku seperti itu? Ku akui aku memang tampan, tapi tidak seharusnya kau menyukaiku, bukan?" Arya memperlihatkan ekspresi jijik lalu membalikan badan membelakangi Ye Han.


Wajah Ye Han tersungut marah, tidak perduli lawannya siap atau tidak, diapun mengeluarkan tombaknya dan lalu melesat menyerang.


Tombak Ye Han tepat menusuk punggung Arya, sekilas Ye Han tersenyum lebar namun senyuman itu tidak berlangsung lama.


Arya memang sengaja membiarkan Ye Han menusuk tubuhnya, dia ingin tahu sekeras apa tubuhnya saat ini. Perkiraan Arya tidak meleset, tombak senjata kelas atas yang di gunakan Ye Han tidak mampu menggores kulitnya, bahkan tombak itu sendiri yang patah.


"Dia pengguna elemen logam." Ye Han membatin lalu mengayunkan tombaknya yang sudah patah tersebut ke kepala Arya.


Dengan gerakan yang tidak terlihat, tiba-tiba tangan Arya sudah mencengkram ujung tongkat tombak tersebut. Arya sedikit melirik Ye Han sebelum menarik tombak tersebut ke atas, membuat Ye Han tersentak dan terangkat lalu terbanting di hadapannya.


"Kau salah, aku tidak menggunakan teknik ataupun elemen apapun. Yang kau lihat barusan adalah murni kekuatan fisikku. Jadi apakah kau sudah sadar sejauh apa perbedaan kita." Selepas berkata demikian, Arya menendang Ye Han sampai terlempar puluhan meter.


Arya membalikkan badan, menatap ke kerumunan orang yang baru saja tiba. "Sekarang siapa lagi selanjutnya." Katanya dengan ekspresi datar.


Salah seorang tetua Ombak Karang menghadap Patriarknya untuk meminta izin. Setelah mendapatkan izin, tetua itupun berkelebat dan mendarat tepat beberapa meter dihadapan Arya.


"Namaku Zianyu Tong, aku ingin menjajal kemampuanmu." Tetua Ombak Karang tersebut menelangkupkan tangan.


"Tunggu dulu Pendekar.. bukannya aku menolak tapi kemampuanmu di bawah pendekar yang baru saja aku kalahkan. Apa kau yakin ingin menantangku?"


Mendengar demikian, Tetua Ombak Karang tersebut tersenyum sinis. Diapun mengeluarkan golok dari ruang hampa.


Arya menatap kerumunan Pendekar yang berada jauh di pinggir lapangan. Dengan mengalirkan Qi, diapun berkata. "Apa keuntungan kalian melakukan hal ini? Aku tahu kebanyakan dari kalian hanya ingin mengujiku, tapi apa manfaat yang akan ku dapat dari semua ini?"


Semua orang terdiam sebelum terdengar suara teriakan yang mendekat.


Ye Han berkelebat cepat sambil menggenggam sebilah pedang yang menyala biru, dia mengangkatnya tinggi dan lalu menebas secara vertikal ke arah kepala Arya.


Arya mengibaskan tangannya ke arah Tetua Zianyu Tong, bersamaan dengan itu terpaan angin kuat menghempaskan Zianyu Tong hingga ke tempat kerumunan Pendekar di pinggir lapangan.


BDUUUARR..


Energi tebasan biru melesat tanpa halangan ke tempat Arya sebelum meledakan tempat tersebut.


Melihat hal itu, semua orang terbelalak. Mereka tidak percaya pemuda itu memilih menyelematkan Zianyu Tong daripada menghindari serangan Ye Han.


Di saat semua orang terfokus pada ledakan yang membumbungkan kepulan debu, terdengar suara teriakan dari atas.


Ye Han meraung histeris, dia memegangi tangan kanannya dengan mata memerah berkaca-kaca meringis kesakitan.


Yang terjadi sebenarnya, sebelum tebasan Ye Han mengenai Arya, pemuda itu telah menghilang dan muncul di belakang Ye Han.


Arya sudah memberikan kesempatan, namun Ye Han tetap berniat membunuhnya, sehingga membuat Arya kehilangan kesabaran dan memutuskan untuk menghukum tetua Ombak Karang tersebut dengan caranya sendiri.


Arya memelintir tangan Ye Han sampai patah, namun dia masih membiarkan tangan tersebut menempel pada tubuh pemiliknya.


"Kalau kau tidak bisa menghilangkan keangkuhanmu, lebih baik kau hilang ingatan saja." Arya berkata dengan nada tajam, matanya memerah menatap Ye Han.


"Aaaargghh.."


Ye Han meraung-raung sambil memegangi kepalanya yang serasa mau meledak. Konsentrasinya teralihkan dengan rasa sakit di kepalanya, membuat energinya menjadi kacau, Ye Han pun meluncur deras menghantam tanah.