Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Pertemuan Di Bukit Cinta


Setelah prajurit tadi keluar dan menutup kembali pintu ruangan perjamuan. Arya lalu bangkit berdiri, kemudian berkata. “Yang Mulia, aku rasa segala sesuatunya sudah selesai kini. Untuk itu aku mohon diri..”


Raja Lin Yon Jun segera berpaling menatap pemuda itu. Air mukanya mengguratkan kekecewaan. “Tinggallah disini untuk beberapa lama. Apa kau tak ingin melihat seperti apa hasil dari patungmu nanti jika telah jadi? Lagipula aku masih ingin berbincang-bincang lebih lama denganmu, Xian'er.”


Arya tersenyum. “Hatimu mulia sekali Yang Mulia,” sahut pemuda itu. “Anda telah mengangkat aku yang jelata ini sebagai saudara, dan sekarang ingin membuatkan patung diriku. Semua itu telah membuatku tersanjung. Tapi maaf aku harus pergi, masih banyak yang harus aku kerjakan. Di lain hari kita akan berjumpa dan berkumpul lagi.”


Hati Raja Lin Yon Jun kecewa juga terharu. Tapi dia tidak dapat menahan pemuda yang telah diangkatnya menjadi saudaranya itu. Maka dengan berat hati dianggukkannya kepalanya kemudian berkata. “Tunggulah sebentar, aku akan menyiapkan hadiah untukmu.”


Ketika Raja muda itu akan menggerakkan tangannya. Arya segera menyahut. “Terimakasih Yang Mulia, ku rasa itu tidak perlu. Aku mohon diri. Selamat tinggal.”


Tangan Raja Lin Yon Jun yang semula hendak memberikan isyarat kepada bawahannya agar menyiapkan hadiah, beralih terulur hendak memegang pundak Arya untuk menahan pemuda itu pergi. Akan tetapi tangannya hanya menyambar tempat kosong karena tiba-tiba dihadapannya, Arya telah menghilang dari tempatnya berdiri.


Raja Lin Yon Jun mengerutkan dahinya. Segera saja diedarkannya pandangannya berkeliling. Dia sama sekali tidak dapat melihat pergerakan pemuda itu. Ketika pandangannya menatap pintu ruangan yang masih tertutup, keheranannya semakin bertambah. “Bagaimana cara Xian'er keluar?” desihnya pelan, lalu di tatapnya orang-orang Lembah Petir yang juga sedang celingukan mencari keberadaan Arya.


Tetua Lin Hai dan beberapa tetua Sekte Lembah Petir lainnya menghela nafas berat. Mereka sama sekali belum mendapatkan kesempatan untuk membahas hal yang perlu didiskusikan dengan pemuda itu. Namun tanpa disangka-sangka, pemuda itu malah pergi dengan cara yang sama sekali tak pernah mereka duga.


Begitupun dengan Jenderal Yong We dan semua orang kerajaan yang belum hilang rasa penasarannya terhadap pemuda itu. Akhirnya mereka hanya bisa menyimpan kekecewaan dan rasa penasarannya dalam-dalam.


Liu Wei dan Huang She masih tak habis pikir. Kedua gadis itu berdiri diam termangu-mangu. Kepergian pemuda yang dikasihinya itu tanpa permisi telah membuat hati mereka teramat kecewa. Padahal perjalanan mereka selama ini dimaksudkan untuk bisa bersama-sama kembali dengan pemuda itu.


Kedua gadis yang baru menginjak dewasa ini meski sudah berkali-kali dibuat kecewa oleh pemuda yang sampai saat inipun tak pernah sekalipun membalas perasaan mereka. Bahkan sering kali pula pemuda itu juga mengabaikan mereka, namun perasaan cinta terhadap pemuda itu telah memaksa mereka untuk tidak pernah putus asa dalam memperjuangkan cintanya.


Sosok Arya yang polos, baik hati dan berjiwa kesatria telah benar-benar mengikat hati kedua gadis cantik belia yang sekarang menjadi tetua termuda di sekte Lembah Petir ini. Selain itu semua, kehebatan serta ketampanan Arya juga adalah alasan terbesar kenapa kedua gadis tersebut begitu tergila-gila kepada sang pemuda.


Terlihat kedua gadis itu perlahan sekali menundukkan kepalanya. Terbayang di kepala masing-masing saat-saat yang dilampauinya ketika dalam pertarungan. Saat-saat yang berbahaya dan penuh ketegangan. Keduanya berfikir bahwa Arya mungkin saja menganggap mereka berdua sebagai beban, karena itulah mereka juga merasa kecewa pada kemampuan mereka sendiri.


Dicobanya kedua gadis itu untuk menekan hati masing-masing yang sedang mendidih oleh kekecewaan. Mereka masih sadar, bahwa mereka tidak boleh menunjukkan kekecewaan itu di hadapan banyak orang.


Tiba-tiba kesunyian diruangan itu dirobek oleh suara Raja Lin Yon Jun, “Panglima Chong Quon, siapkan dua ribu pasukan untuk ikut menyerang Sekte Iblis Berdarah!”


Mendengar perkataan Raja muda kerajaan Goading tersebut, semua tetua Lembah Petir tersenyum puas. Meskipun telah mendapatkan bantuan yang diharapkan, namun rupanya mereka masih menyesalkan satu hal yakni tidak bisa membawa Arya ikut dalam rombongannya. Mereka khawatir pemuda itu akan bertindak gegabah, menyerang musuh terlebih dulu tanpa mempersiapkan pertimbangan-pertimbangan atau strategi yang matang. Maka karena itulah mereka berfikir untuk menyusul Arya secepatnya, sebelum pemuda itu terlebih dulu sampai ke markas musuh.


“Baik, akan saya siapkan Yang Mulia.” Panglima Chong Quon menjura hormat, kemudian dengan dada tengadah ia melangkah keluar.


Raja Lin Yon Jun mengangguk, lalu katanya kepada para tetua Lembah Petir. “Permintaan kalian sudah aku penuhi. Tapi tunggulah, aku juga akan meminta sekte-sekte yang telah datang kesini untuk ikut serta membantu kalian.”


“Terimakasih Yang Mulia. Bantuan anda ini benar-benar telah melegakan hati kami. Mudah-mudahan rencana penyerangan ini berjalan baik. Mudah-mudahan juga kemenangan dapat kita raih.” Berkata tetua Lin Hai sambil menelangkupkan tangannya kepada Raja Lin Yon Jun.


“Semoga saja..” Raja muda itu menghela nafas berat. Lalu dialihkannya pandangannya ke arah salah seorang panglima yang berdiri di samping Jenderal Yong We. “Panglima Zhu Moshu, antarkan para tetua dan orang-orang Lembah Petir ini ke ruangan peristirahatan!”


“Baik, Yang Mulia.” Sahut Panglima Zhu Moshu tandas, kemudian dihampirinya para tetua Lembah Petir tersebut. “Mari tuan-tuan..”


Tetua Lin Hai tersenyum, lalu dipandanginya Liu Wei dan Huang She, kemudian beralih menatap dua tetua lainnya yang berdiri di sampingnya. Sorot mata para tetua tersebut seolah-olah dapat berbicang-bincang. Sesaat kemudian ke-lima tetua Lembah Petir ini mengangguk bersamaan.


“Maaf Yang Mulia.. kami memutuskan untuk membagi kelompok. Aku dan separuh anggotaku akan melanjutkan perjalanan terlebih dahulu untuk menyusul Li Xian. Dan separuhnya lagi akan tetap tinggal disini sampai para prajurit telah siap berangkat.”


“Keputusan yang tepat.. sebenarnya aku juga mengkhawatirkannya. Bagaimanapun aku telah sedikit banyak mengetahui watak Xian'er. Aku khawatir dia akan bertindak sendirian menyerang sekte itu.” Sahut Raja Lin Yon Jun. Hatinya mengingat kembali kejadian hancurnya markas Sekte Pedang Berduri yang di akibatkan oleh kemarahan Arya saat tahu dirinya diculik oleh sekte tersebut. “Lebih baik berangkatlah sekarang agar kalian tidak kehilangan jejak Xian'er.”


“Saya mewakili Sekte Lembah Petir mengucapkan terimakasih banyak atas bantuan dan sambutan hangat yang anda berikan kepada kami, Yang Mulia. Kami mohon diri.” Berkata tetua Lin Hai.


Demikianlah, semua anggota Lembah Petir segera mengikuti panglima Zhu Moshu. Mereka semua keluar dari ruangan perjamuan, kemudian berbelok ke kanan setelah melewati pintu.


Ketika orang-orang Lembah Petir itu sudah tidak lagi terlihat. Raja Lin Yon Jun lantas berjalan menghampiri Raja Obat,


“Paman, anda masih mengingat bentuk wajah dan tubuh adikku Li Xian?” Tanya Raja Lin Yon Jun.


Sebagai jawaban, Raja Obat hanya mengangguk. Dia sudah dapat meraba kearah mana maksud dari perkataan raja muda itu.


“Bukankah paman sangat terampil dibidang seni memahat?! Untuk itu, aku minta agar paman mencari orang-orang yang ahli membuat patung di kota. Kumpulan sebanyak mungkin. Aku ingin patung adikku Li Xian dapat diselesaikan secepatnya. Tempatkan patung itu di alun-alun kota.” Berkata Raja Lin Yon Jun pula.


“Saya mengerti Yang Mulia. Baiklah, sekarang juga akan saya kerjakan. Saya mohon diri.” Begitu selesai mengucapkan perkataan itu, Raja Obat segera keluar dari ruangan perjamuan.


Memang selain ahli dalam bidang Alkemis, rupanya Raja Obat juga ahli dalam bidang-bidang lainnya, seperti membuat patung, melukis, dan bahkan juga mampu memuat berbagai peralatan senjata perang. Karena itulah kedudukan Raja Obat di kerajaan ini teramat penting.


Raja Lin Yon Jun kemudian berpaling kepada orang-orang yang masih ada di ruangan itu. “Mari kita pergi ke aula istana menemui mereka.”


*****


Arya muncul di luar kota kerajaan. Pemuda ini lalu berjalan ke salah satu pohon. Ia duduk dibawah pohon yang besar tersebut. Ketika dia memandang ke langit, dilihatnya bintang-bintang sudah bermunculan dan bulan sabit kelihatan samar-samar di balik awan.


“Kemanakah aku harus mencari dua pecahan ruh Naga Emas yang tersisa...” Desis pemuda ini. pertanyaan itu seolah ditujukan pada dirinya sendiri.


Kemudian dia memandang tangan kanannya yang dalam pertarungan melawan panglima kegelapan Yeva, telah dibuat buntung. Meski tangan itu kini sudah tersambung kembali, namun kekalahannya tersebut masih membekas dalam hatinya. “Seharusnya aku tidak bertindak sebodoh itu...”


Andai saat dia mengerahkan teknik Naga Emas Melebur Semesta, dia terlebih dahulu mengambil jarak untuk mendapatkan waktu sampai ia dapat menyelesaikan tekniknya tersebut. Pastilah ia tidak akan mengalami kekalahan dari panglima kegelapan. Tapi memang dalam pertarungan segala sesuatunya mungkin saja terjadi. Ilmu boleh tinggi, tapi kultivasi, pengalaman serta strategi juga berperan penting dalam menentukan kemenangan.


Pemuda ini tiba-tiba saja ingin minum arak sampai mabuk. Ia ingin sejenak melupakan persoalan-persoalan yang saat ini sedang membelit-belit dikepalanya. Semilir angin sejuk membuatnya kian larut dalam pikirannya sendiri. Sampai tak terasa waktu telah berjalan cepat sampai akhirnya pemuda ini kembali menengadahkan kepalanya ke atas. Langit yang tadinya terang kini kelihatan mendung. Bintang-bintang mulai tertutup awan. Bulan menghilang dan angin bertambah besar serta dingin.


Dalam waktu singkat pemuda ini telah sampai di perbukitan. Bukit yang ditujunya itu bernama bukit cinta. Di namakan begitu karena dahulunya bukit ini pernah di jadikan oleh para penduduk kota Goading sebagai tempat sakral untuk menggelar resepsi pernikahan, sebelum akhirnya adat pernikahan di bukit tersebut tidak lagi di adakan karena sekarang tempat itu telah di huni banyak binatang siluman.


Ternyata disana, dipuncak bukit cinta itu terlihat dua sosok manusia yang rupanya memang telah menunggu kedatangan Arya. Meskipun di bawah guyuran air hujan, hebatnya air hujan itu tidak dapat menyentuh membasahi kedua orang itu.


“Maaf kalau sudah membuat kalian menunggu lama.” Berkata Arya ketika baru saja menjejakkan kakinya di hadapan kedua orang tersebut.


“Sebenarnya memang setelah kau pergi bersama orang-orang kerajaan itu, kami langsung menuju ke sini untuk menunggumu.” Sahut salah seorang dari mereka, seorang pria berusia lanjut namun perawakannya masih tegap gagah layaknya seorang pemuda. Hanya saja keriput yang mengukir di wajahnya tidak bisa menutupi usianya yang memang sudah tua. Orang itu bukan lain adalah Patriark Dai Wubai.


Arya mengangguk, “Kakek ingin berbicara apa dengan saya?”


Sementara itu hujan turun semakin lebat, angin juga semakin kencang. Guntur menggelegar. Kilat menyambar. Ketiga sosok di atas bukit cinta itu terlihat jelas sesaat dibawah penerangan cahaya kilat.


“Tadi ku lihat gemintang yang bertaburan,


Cahaya bulan sabit terlihat menawan,


Kini tiba-tiba hujan turun mengguyur perbukitan,


Awan gelap menutupi pemandangan,


Kenapa kemuraman terukir diwajahmu tuan,


Apakah yang sedang anda pikirkan,


Serta apa pula yang engkau ragukan,”


Suara syair itu serta merta membuat Arya dan Patriark Dai Wubai mengalihkan pandangannya kepada seorang pemuda lusuh yang sedang berdiri agak jauh sambil garuk-garuk rambutnya yang kusut, ia memandangi Arya sambil senyum-senyum seperti orang yang kurang akal.


“Syairmu, sungguh indah didengar. Tapi apakah syairmu itu ditujukan kepadaku?” Balas Arya yang ikut-ikutan senyum-senyum seperti orang tolol sambil garuk-garuk rambutnya. Ia bersikap seolah-olah sedang menirukan sikap pemuda lusuh tersebut.


“Huuuh..” Pemuda lusuh itu memonyongkan bibirnya. Seperti jual mahal, pemuda yang tidak lain adalah Zhiyuhan alias Pendekar Penyair ini buang mukanya ke samping. Tangan kanannya kembali bergerak menggaruk-garuk rambutnya yang kusut. Sambil bersiul-siul pemuda ini lantas berjalan mondar-mandir.


Patriark Dai Wubai segera membuka suara, “Dalam pertarunganmu tadi sore, aku melihat kau mempergunakan jurus-jurus yang aku kenali.” Orang tua ini menghentikan ucapannya. Ditatapnya Arya dengan serius seolah ingin membaca isi di hati pemuda yang sedang ia ajak bicara itu. Arya segera menyadari ketika ada suatu energi yang hendak mencuri pikirannya. Pemuda ini tersenyum tipis. Tak lama dilihatnya, Patriark Dai Wubai itu menghela nafas berat. Tatapan mata orang tua itu tak seserius sebelumnya.


Lalu melanjutkanlah Patriark dari Pedang Suci ini, “Apa hubunganmu dengan orang tua yang bernama Zhen Long alias si Legenda Pendekar Naga?”


Sekilas wajah Arya nampak terkejut. Namun meski sesaat tapi Patriark Dai Wubai yang telah matang pengalamannya itu segera dapat meraba apa yang sedang bergejolak di dalam hati si pemuda.


Arya masih tetap diam, kali ini gantian ia yang memandangi Patriark Dai Wubai dengan tatapan serius. Pemuda ini rupanya sedang berusaha membaca pikiran si orang tua dihadapannya tersebut.


Suasana menjadi membisu, dua orang yang saling berhadap-hadapan itu kini seolah sedang perang pandangan. Hanya suara Guntur dan tetesan hujan yang menyentuh tanah yang terdengar saling berkesinambungan. Seperti alunan musik tersendiri. Namun suasana itu kemudian dipecahkan oleh suara syair yang kumandangkan penuh penjiwaan.


“Bagaimana aku mampu berhenti mengaguminya,


Sedang dia tercipta dari segala indah komponen surga.


Pipinya yang merah merona,


Menambah sempurna paras wajahnya.


Ingin ku memintamu pada Sang Pemilik jiwa,


Tuk jadikan temanku menuju surga.


Kan ku manja dan ku puja,


Bagai layaknya seorang ratu dalam istana.”


Tak lama suara syair itu berhenti. Seorang pemuda lusuh jatuhkan tubuhnya, tiduran terlentang di atas tanah yang basah. Pemuda ini lantas kembali mengumandangkan syairnya lagi.


“Aku ingin mencintaimu dalam diam,


Bagai sang surya menitipkan cahaya pada rembulan ditengah malam,


Aku ingin menyayangimu dalam sunyi,


Agar seisi semesta tak menjadi iri,


Aku ingin memanjakanmu dalam istana cinta,


Biar engkau tahu betapa tulusnya aku dalam mencinta.”


Mendengar syair itu, baik Patriark Dai Wubai maupun Arya sontak memandangi pemuda yang tiduran terlentang sambil menatap angkasa. Berbeda halnya, bilamana Arya terlihat tersenyum-senyum atas syair yang di kumandangkan Zhiyuhan. Patriark Dai Wubai justru nampak geram, karena syair pemuda itu telah merusak suasana yang sedang ia jalin untuk mengorek indentitas sebenarnya tentang siapa pemuda yang berjuluk Pendekar Naga Emas ini.