
Malam telah merayap, sang mentari sudah sejak lama tenggelam dan di gantikan sinar rembulan.
Cakar bayangan berlari cepat di antara kegelapan, merambas semak belukar dan sesekali melompat-lompat antara satu cabang pohon ke pohon lainnya.
Selagi berlari, Cakar Bayangan yang memiliki pendengaran yang tajam menangkap suara semak-semak tersibak. Suara itu terdengar dari arah belakang. Reflek, diapun segera berbalik. Tapi tak dijumpai siapapun di situ.
“Mungkin hanya binatang yang melintas atau perasaanku saja…” Pikir Cakar Bayangan. Tetapi manakala dia hendak melanjutkan larinya, suara gemersak itu kembali terdengar. Kali ini di tambah adanya suara langkah kaki.
Cakar Bayangan edarkan pandangan berkeliling, firasatnya mengatakan ada yang tidak beres. Tapi setelah sekian lama dia mengamati sekitar, ternyata tidak ada apa-apa. Dengan perasaan masih diselimuti penasaran, diapun berbalik dan pergi. Tapi, mendadak…
“Mau pergi kemana?”
Suara itu benar-benar mengejutkan Cakar Bayangan. Selain dia tidak merasakan kehadiran orang, diapun menganggap bunyi langkah tadi hanya suara angin.
“Siapa! Keluarlah, jangan bersembunyi seperti pengecut!” Seru Cakar Bayangan sambil membalikkan tubuhnya. Tapi sekian lama menunggu tidak melihat bayangan atau orang yang muncul.
“Malam menggelayut di hutan belantara,
Ada tikus membawa gadis entah darimana,
Jika hidup di dunia tak berguna,
Kematian lebih pantas bagi manusia,
Ada yang mati karena nasib sengsara,
Tapi banyak pula yang mati sengaja mencari sengsara.”
Terdengar suara seorang pemuda, bergantian dengan suara seorang wanita. Kedua suara itu melantunkan kalimat bernada syair.
Begitu mendengar suara orang misterius itu, Cakar Bayangan langsung berbalik, tapi tidak ada orang. Padahal jelas-jelas suara tadi berasal dari arah kanan.
“Tunjukkan dirimu!” Teriak Cakar Bayangan sampai terbatuk- batuk.
“Kasihan, jangan berteriak-teriak.. Pakai matamu! Aku sudah ada dibelakangmu.”
Kali ini suara misterius itu terdengar dari arah belakang. Sontak saja Cakar Bayangan berbalik, namun lagi-lagi dia tidak menemukan siapapun disana. Dengan amarah yang meluap-luap, disentakkan tangan kirinya lontarkan pukulan energi ke arah salah satu pohon sepemelukan dua orang dewasa. Dia mengira orang yang berbicara tadi bersembunyi disana.
Namun dugaannya meleset! Pohon yang terkena pukulan energi tersebut berderak roboh lalu terbakar menjadi arang. Tetapi orang yang dia cari juga tidak kelihatan disana.
“Hi.. hi, tolol! Begitu saja percaya! Jangan kelewat bodoh. Aih, sepertinya kau menjadi tetua bukan karena hebat tapi karena kau menyogok Patriark sektemu. benar tidak? Ah, tak usah dijawab kalau malu.”
Bulu kuduk Cakar Bayangan yang terkenal sombong itu meremang, biarpun dia telah kerahkan teknik untuk mendeteksi keberadaan lawan, tetapi tetap saja dia tak mampu merasakan apapun selain keberadaan binatang-binatang malam yang ada di sekitar. Apalagi malam ini diterangi sinar bulan, jadi untuk memandang lima tombak lebih pun masih jelas.
“Kasihan, sudah keluarkan teknik masih tidak tahu dimana aku.” Kata si orang misterius seraya tertawa mengejek.
Makin deras keringat dingin yang mengalir ditubuh Cakar Bayangan. Kalau hanya orangnya saja yang tak kelihatan dan hanya terdengar suaranya, itu belum cukup menakutkan. Tapi justru kondisi saat ini sangat menakutkan karena suara orang misterius itu berpindah-pindah, kadang kala tepat seperti di telinga, kadang seperti dibelakang, kadang menjauh seperti hendak pergi. Entah dimana orang itu bersembunyi.
Dengan nyali yang mulai lumer, dia turunkan tubuh gadis yang bernama Taysu dari pundaknya. Dilemparkan dengan kasar ke tanah. Benturan tubuh Taysu menghantam tanah terdengar keras namun gadis itu sendiri tak mengeluarkan suara sedikitpun, entah karena tertotok entah pingsan.
“Baiklah, aku akan keluar sekarang?”
“Aaaa…” Mendadak Cakar Bayangan berjingkrak kaget, sampai- sampai terlompat ke belakang. Orang yang dia cari ternyata sudah ada tepat didepannya!
Meskipun Cakar Bayangan termasuk salah satu tetua Iblis Berdarah. Namun dia tak pernah melihat sosok semenyeramkan seperti yang ada di hadapannya saat ini. Hal ini membuatnya mau tak mau jadi takut juga.
“Bagaimana?” Seru si hantu sambil tertawa cekikikan.
Cakar Bayangan beringsut mundur lalu mendadak keluarkan teriakan keras di barengi dengan gerakan menerjang.
Kedua tangan Cakar Bayangan berkelebat cepat, menimbulkan deru angin yang menebar hawa panas luar biasa, memukul sosok menyeramkan itu. Tapi setiap pukulan, tendangan dan serangan demi serangan yang dilancarkannya, sama sekali tidak bisa menyentuh si hantu.
Terdengar suara tawa dari kejauhan, Cakar Bayangan di buat tersentak, dia segera melompat mundur. Tanpa mengendurkan kewaspadaan, dia melirik ke sekitar. Jika dugaannya tidak salah, ada hantu lain selain sosok yang ada di hadapannya ini.
Rasa cemasnya berubah kaget saat melihat Taysu sudah tidak ada lagi di tempatnya, gadis itu lenyap entah siapa yang telah membawanya. Tidak mungkin gadis biasa yang dalam keadaan tertotok dapat melepaskan diri.
Di balik semak belukar, seorang pria tua tertawa-tawa bersama seorang pemuda. Mereka nampaknya begitu menikmati rasa takut yang di alami Cakar Bayangan. Rupanya merekalah yang telah mengerjai tetua Iblis Berdarah tersebut.
Enam puluh jurus sudah berlalu, tapi setiap serangan Cakar Bayangan tidak pernah sekalipun menyentuh hantu jejadian tersebut. Jangankan memukul orangnya, untuk menyentuh kain pakaiannya saja tidak bisa. Bahkan serangan energi yang di lepaskannya tak berarti sama sekali, seolah menembus sebuah kabut. Padahal serangan itu jelas mengandung energi begitu kuat setingkat Pendekar Suci. Tak ayal serangan ganas yang di lepaskan Cakar Bayangan membuat pepohonan tumbang, tanah di sekitar jadi berlubang-lubang akibat ledakan, semak belukar meranggas terbakar.
“Sebelum aku balas menyerang. Aku akan berbaik hati dengan memberikanmu satu pilihan. Lepaskan semua pakaianmu atau ucapkanlah selamat tinggal pada dunia ini.”
Pria tua yang berada di samping pemuda yang berbicara tersebut tidak dapat menahan tawa, dia gelengkan kepala tidak habis pikir atas kejahilan pemuda yang berjuluk Pendekar Penyair ini.
“Seharusnya julukannya bukan Pendekar Penyair tapi Pendekar Usil..” Pria tua yang bukan lain adalah Patriark Dai Wubai mengulum senyum. Seumur hidup baru kali ini dia menghadapi lawan dengan cara sekonyol ini.
“Aku hitung satu sampai lima! SATU!!”
“Bangsat! Makhluk apa kau ini… kenapa kau mengganggu urusanku?” Teriak Cakar Bayangan yang nampak gusar. Rahangnya menggembung, tangannya yang membentuk cakar dia ayunkan ke arah si hantu.
Duuuarr....
Sinar energi berupa cakar hitam kemerahan menembus tubuh si hantu kepala buntung dan terus menderu menghantam pepohonan hingga tumbang dan meledak.
“DUA! Tak ada gunanya kau menyerang hantu. Bagaimana bisa hantu yang sudah mati mau di bunuh... Hik.. hik.. hik..” Si hantu kembali tertawa cekikikan sampai tubuhnya kejang-kejang seperti tersengat listrik.
“Aku tak takut padamu! Aku juga tak bisa mati!” Teriak Cakar Bayangan, biarpun ia memaki tetapi hatinya terasa kecut.
“TIGA!! Jangan kira aku tak tahu kelemahanmu. Hah...! Kau mau mati dengan cara seperti apa? Kepala pecah, jantung hancur atau tubuh terbakar jadi abu?” Kembali si hantu kepala buntung tertawa cekikikan.
Mengetahui lawannya telah tahu kelemahannya, mau tak mau Cakar Bayangan gentar juga, ia benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Melawan pun rasanya percuma. Di kalangan aliran hitam menjatuhkan harga diri demi mempertahankan nyawa sudah menjadi hal lumrah, namun selama masih ada kesempatan lebih baik melarikan diri. Begitulah yang di pikirkan Cakar Bayangan saat ini.
“EMPAT!! Mau kabur? Silahkan larilah...” Kata si hantu dengan nada mengejek.
Meskipun sadar ucapan yang dilontarkan si hantu berupa peringatan namun Cakar Bayangan tak mengindahkannya. Diapun segera melesat ke udara. Mengerahkan seluruh energinya untuk terbang secepat mungkin.
Tiba-tiba tubuh Cakar Bayangan menubruk sesuatu yang keras, seperti tembok energi. Tubuhnya terlontar di udara, darah mengucur keluar dari semua lubang di kepalanya.
Dalam pandangan yang sedikit berkunang-kunang, samar-samar Cakar Bayangan melihat seorang pemuda berpakaian compang-camping dan berambut kusut awut-awutan telah menjambak rambutnya.
“Eits.... Tikus bisa terbang.. sudah terlambat bagimu untuk mengucapkan selamat tinggal.”
Selesai kalimat itu terucap, tiba-tiba kepala Cakar Bayangan berubah menjadi abu. Tubuhnya yang masih utuh tak pelak meluncur deras ke tanah.
“Sore mendapatkan kenikmatan, malam menemui kematian. Sungguh kasihan!” Desis Zhiyuhan alias Pendekar Penyair sambil garuk-garuk rambutnya yang kusut.