Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Pertunjukan Nie Zha


Namun Nie Zha yang mendapatkan serangan dari dua arah tersebut tak membuatnya menjadi gentar, gadis ini malah perlihatkan senyuman mengejek. Dengan gerakan yang sukar dilihat mata telanj*ng, gadis ini memutar-mutar tubuhnya lalu menendang ke depan dan ke samping kanan. Itulah Jurus Menendang Iblis warisan dari Si Nenek Musang Betina Mata Empat!


Blaaarrr... Blaaarrr... Blaaarrr...


Ledakan beruntun pun terjadi sampai membuat tanah bergetar hebat, manakala tendangan Nie Zha yang mengandung gelombang angin menggebu kuat menghantam larikan sinar dari serangan Rahang Besi dan orang berbaju biru. Benturan serangan mereka itupun meledak di udara, menimbulkan gelombang kejut yang sampai membuat pepohonan disekitar pertarungan tersebut terombang-ambing seolah-olah akan rubuh.


Rupanya pertarungan tidak berhenti sampai disana. Tak berselang lama, dari balik kepulan debu yang menutupi pandangan, tampak melesat tiga sosok manusia.


Nie Zha yang dapat melihat serangan itu dengan sigap dan tangkas menangkis serangan tebasan parang dari si baju hitam. Pada saat yang sama, tombak Rahang Besi juga menghujam pinggang. Serta-merta Nie Zha segera melompat, lantas kakinya menyentuh tombak itu dan berlari di atas batang tombak yang panjang tersebut.


Tab, tab, tab....


Rahang Besi terkesiap melihat lawannya berlari cepat di atas tombaknya. Ia terkesima, dan saat itulah tahu-tahu kaki Nie Zha sudah menendang telak pada pertengahan hidungnya.


Deesss...!


“Aow...!”


Bukan Rahang Besi yang memekik, melainkan Nie Zha yang memekik. Kakinya terasa sakit, seperti menendang bongkahan besi baja yang luar biasa kerasnya.


Nie Zha cepat-cepat melompat turun dari tombak itu. la mendarat dengan satu kaki, karena kaki yang dipakai untuk menendang tadi masih terasa ngilu. Sementara itu, Rahang Besi sendiri terpental ke belakang dan terhuyung-huyung akibat tendangan yang cukup lumayan baginya.


Baru saja Nie Zha mendarat di tanah, ia telah mendapatkan serangan dari si baju coklat. Serangan itu berupa lemparan golok! Selepas melempar, si baju coklat melarikan diri dan berhenti dalam jarak beberapa tombak, berlindung pada sebatang pohon dengan wajah tegangnya.


Lemparan golok tadi bisa dihindari oleh Nie Zha dengan satu lompatan ke atas. Golok itupun melesat di bawah kakinya. Dengan gerakan cepat tak terlihat, kaki gadis ini menendang gagang golok. Alhasil gagang golok itupun berputar arah dan melesat kembali ke pelemparnya. Tapi karena pelemparnya sudah bersembunyi di balik pohon, maka golok itupun menancap tepat di batang pohon yang dipakai si baju coklat untuk bersembunyi tersebut.


Jruubbb...!


“Mati aku...!” pekik si baju coklat dengan tubuh menegang karena rasa takutnya. Debaran jantungnya serasa akan meledak! la memejamkan mata dengan perasaan ngeri manakala goloknya menancap di pohon yang dipakainya berlindung tersebut.


Pada saat itu, Nie Zha telah berdiri di samping mayat lawannya, si baju hitam. Orang berbaju hitam tersebut bukan mati karena serangannya, melainkan tertebas tombak Rahang Besi ketika Rahang Besi bermaksud menyambar kepala Nie Zha, dan tentu saja Nie Zha tidak akan tinggal diam membiarkan kepala hancur karena serangan lawan. Maka dengan cepat ia berguling ke tanah. Akibatnya sambaran sinar dari tombak tersebut merobek dada si baju hitam, yang membuat si baju hitam tumbang tak bernyawa lagi.


Rahang Besi menggeram, amarahnya mendidih. “Kurang ajar! Dari tadi justru senjataku sendiri yang membunuh anak buahku! Aku harus lebih hati-hati lagi terhadap gadis cantik ini!” batinnya.


Diam-diam Rahang Besi jadi gentar melihat anak buahnya mati. Dalam hati ia mengagumi kehebatan jurus-jurus tipuan yang digunakan oleh Nie Zha.


Dia kemudian memperhatikan pertarungan yang masih berlangsung, sengaja tidak segera menyerang karena membutuhkan waktu untuk mempelajari gerakan jurus dari Nie Zha yang sulit diduga arah serangannya itu.


“Siapakah kalian sebenarnya?” tanyanya bernada penasaran.


Pertanyaan itu membuat pertarungan antara Nie Zha melawan pria berkumis tebal dan pria berbaju biru, terhenti.


“Tidak penting siapa aku.” jawab Nie Zha dengan tegas dan bertolak pinggang. Lalu ia menunjuk ke arah Arya. “Tapi pemuda itu adalah Pendekar Naga Emas!”


Mata Arya sontak mendelik, ia bersungut-sungut cemberut. Memang sebenarnya Arya tak suka memperkenalkan diri pada lawan. Tapi rupanya ia tak bisa membantah, karena dia tahu hal itu sengaja diucapkan oleh Nie Zha untuk mengendurkan ketegangan. Benar saja setelah berkata begitu, Nie Zha melirik sambil menyunggingkan senyum kecil di sudut bibirnya yang manis kepada Arya.


“Sebaiknya kau kembali saja, Rahang Besi!” kata kakek Lengan Api, “Daripada dipihakmu timbul korban yang sebenarnya salah sasaran ini!”


“Rahang Besi dan prajurit-prajurit Hangciu pantang mundur! Lebih baik mati daripada lari sebagai pengecut!” tegas Rahang Besi.


Sementara itu, si baju coklat mencoba mengajukan usulnya dengan takut-takut, “Sekali ini mundur tidak menjadi masalah. Setidaknya kita bisa melaporkan kejadian ini kepada Bupati Pauw-an Kio.”


“Tidak bisa!” bentak Rahang Besi membuat tubuh si baju coklat terlonjak kaget. Kemudian kepada pria berkumis tebal, ia berkata, “Gak Hoan,.. Tunjukkan kehebatan ilmu ‘Jari Ular’mu...!”


“Ku pikir itu tak perlu.. Sebaiknya kita segera pulang dan me....”


“Serang mereka, Bodoh!” bentak Rahang Besi dengan marah.


“Bbba... ba... baik!” jawab orang berkumis tebal yang bernama Gak Hoan dengan terbata-bata.


Maka, dengan kesan memaksakan keberaniannya, Gak Hoan berdiri di depan Nie Zha. la menggerak-gerakkan tangannya dengan gemulai, termasuk gerakan jari-jemarinya yang meliuk-liuk bagai sepuluh ekor ular berkelok-kelok. Tiba-tiba dari ke-sepuluh jarinya itu memancarkan sinar bagaikan lidah petir yang berwarna biru. Larikan sinar itupun melesat dan saling bertemu di satu titik, menjadi gumpalan besar dan menghantam tubuh Nie Zha.


Wuuust...!


Kedua sinar tersebut berhenti di udara, tangan Nie Zha masih terjulur ke depan, seakan mendorong sinar merahnya untuk mendesak sinar biru lawannya itu. Sedangkan dari jari-jari Gak Hoan masih memancarkan sinar biru berkelok-kelok.


Melihat keadaan itu, Kakek Lengan Api yakin sinar biru itu sulit dipecahkan atau didorong oleh sinar merah milik cucu angkatnya, Nie Zha. Maka, dengan cepat kakek Lengan Api segera jentikkan dua jari tangan kirinya ke arah sinar biru. Bersamaan dengan itu, melesatlah selarik sinar hijau layaknya besi yang lurus menghantam sinar birunya Gak Hoan.


Begitu sinar hijau itu menyentuh sinar biru, maka meledaklah sinar biru tersebut.


Blaarrr...!


Ledakan begitu keras. Gelombang kejutnya sangat kuat menghempaskan pepohonan disekitar.


Nie Zha terseret mundur dua tombak. Sedang Gak Hoan terlempar belasan tombak jauhnya. Pria berkumis tersebut terkapar jatuh diantara pepohonan yang tumbang.


Sementara itu, Rahang Besi sendiri terhempas akibat gelombang ledakan tersebut, hingga tubuhnya terseret lima tombak, nyaris jatuh jika tidak tertahan pada tombaknya.


Nasib baik didapatkan oleh pria berbaju coklat. Ia tidak terhempas karena posisinya yang sedang tertelungkup di tanah. Memang pada saat beradunya sinar serangan antara sinar merah milik Nie Zha dan sinar biru milik Gak Hoan, si baju coklat cepat mencari tempat aman. Ia segera menjatuhkan diri sama rata dengan tanah ketika ledakan terjadi.


Gak Hoan bangkit, ia menggerutu kepada Rahang Besi, “Apa ku bilang tadi...! Kita kembali saja.. Jurus gadis itu sangat berbahaya. Apalagi jika mereka menyerang secara bersamaan dan.:..”


“Tutup mulutmu!” bentak Rahang Besi. “Dasar nyalimu, nyali sekecil anak teri!”


Tiba-tiba Arya berseru lantang, suaranya menggema seperti gelegar Guntur. “Pulanglah dan jangan coba-coba melawan kami!”


Gelombang suara Pendekar Naga Emas ini bukan hanya keras membahana, namun juga membuat gravitasi seolah berkali-kali lebih berat. Burung-burung yang kebetulan lewat di atas udara, seketika berjatuhan.


Tampaklah, dari lobang telinga Rahang Besi, Gak Hoan dan pria berbaju coklat mengalirkan darah, pertanda pendengaran mereka tak kuasa menahan kuatnya tekanan suara si pemuda.


Namun meski demikian, Rahang Besi tetap tidak mau mengalah. Dengan membentak sekeras yang dia bisa, ia berseru, “Persetan! Kalian telah ku anggap membunuh Putri Pauw-sie! Sebagai utusan bupati kota Hangciu yang dipercaya, aku tidak ingin pulang dengan tangan kosong!”


Arya menyeringai tipis saat melihat Rahang Besi sudah melesat akan menyerang Nie Zha. Namun kejap kemudian, pemuda ini tiba-tiba menghilang dan tahu-tahu Rahang Besi terjengkang ditanah tak sadarkan diri.


Melihat kejadian itu, Gak Hoan dan pria berbaju coklat gigit bibirnya untuk menahan gejolak ketakutan yang merayapi hatinya. Akan tetapi sebelum mereka sempat berbuat apa-apa, Arya tiba-tiba telah memukul kepala mereka hingga jatuh tak dapat bangun lagi.


Suasana sesaat menjadi sunyi. Selanjutnya Arya tampak sedang menyeret ketiga orang tadi yang dalam kondisi pingsan, dikumpulkan berdekatan. Ia juga menyeret dua orang yang tewas, untuk kemudian juga di kumpulkan. Kini Arya berdiri di samping kelima orang yang tergeletak ditanah tersebut.


Kepada Kakek Lengan Api, Arya lalu berkata, “Kek, tolong bawakan potongan tangan dan telinga itu kemari.”


Maka si kakek Lengan Api pun segera mengambil potongan tangan serta daun telinga yang tergeletak diatas tanah, di dekatnya. Ia lantas memberikannya kepada Arya.


Pada saat itu, terdengar Nie Zha berkata, “Kau membunuh mereka semua?” Ucap gadis itu dengan nada marah, “Akan kau apakan mayat-mayat itu? Ingin kau bakarkah?”


Arya hanya menggeleng, kepada Kakek Lengan Api dia berkata, “Kek, berikan juga cincin merah itu.”


Kakek Lengan Api kerutkan dahinya, meski tak mengerti namun ia tetap memberikannya kepada si pemuda.


Setelah menerima cincin, potongan tangan dan daun telinga, selanjutnya Arya meletakkan ketiga benda itu di dekat ke-lima orang yang telah dikumpulkannya.


“Mereka adalah orang-orang yang keras kepala, tapi harus ku akui mereka adalah orang-orang yang sangat menjunjung tinggi harga diri dan tugas.” desis Arya kemudian.


Pemuda ini lalu memandangi Nie Zha yang tersungut-sungut jengkel, iapun berkata, “Aku tidak membunuh mereka! Aku tak sekejam yang kau lihat... Sebenarnya aku hanya membuat mereka kehilangan ingatan atas kejadian ini, supaya di kemudian hari kita tidak mendapatkan persoalan yang berlarut-larut.”


Setelah berkata demikian, Arya kemudian kibaskan tangan kanannya ke arah orang-orang yang tergeletak tersebut.


Alangkah terkejutnya Nie Zha, ia bahkan sampai terlonjak ke belakang ketika melihat kibasan tangan Arya membuat ke-lima orang yang tergeletak berserta potongan tangan, telinga dan cincin merah yang diletakkan di dekat ke-lima orang tersebut, lenyap entah kemana.


Rupanya Arya mengirim kelima orang itu ke desa terdekat. Menurut perhitungannya, ketiga orang yang tadi dibuatnya tak sadarkan diri akan siuman ketika matahari tenggelam. Karena itu dia bergumam dalam hati, “Mudah-mudah selama mereka pingsan, tidak akan terjadi sesuatu yang dapat membahayakan nyawa mereka.”


Si kakek Lengan Api kerutkan dahi, ia lalu memandangi Arya dengan tatapan kagum. “Tak ku sangka, di usiamu yang semuda ini kau memiliki teknik teleportasi setingkat Pendekar langit.” dan kakek ini masih melanjutkan sambil tepuk-tepuk bahu Arya, “Kakekmu si Legenda Pendekar Naga pasti akan bangga padamu.”


Tatapan Arya tertuju pada tangan si kakek yang masih menepuk-nepuk bahunya, “Kek, tanganmu ini kotor bekas bangkai potongan tangan dan telinga yang tadi kau pegang. Kau telah membuat baju putihku ini jadi kotor dan bau.”


Kakek Lengan Api terkekeh-kekeh namun tak menghentikan tindakan menepuk-nepuk, bahkan tangannya itu kini bergerak mengusap baju sang pemuda.