
******
Flashback off.
Pemuda baju biru berdiri dengan gagahnya di atas permukaan air laut. Tangan kanannya yang terselimuti kilatan petir hijau tergenggam sebilah pedang yang bersinar biru gelap. Angin dari timur bertiup melambai-lambaikan rambutnya yang panjang menjela punggung. Sepasang matanya yang bersinar kuning hampir tiada berkedip memandang lekat-lekat ke arah utara di mana berdiri 7 orang yang sama persis wajah dan bentuk tubuhnya seperti pemuda tersebut.
Sudah hampir setengah hari dia berada lautan lepas itu. Melakukan pelatihan tanding dengan ke-tujuh tubuh bayangannya sendiri. Namun semua tubuh bayangannya itu bukanlah lawan yang sepadan untuknya. Karena itu ia harus berkali-kali menciptakan kembali tubuh bayangan manakala serangannya membuat tubuh bayangan yang melakukan latih tanding dengannya tersebut lenyap terkalahkan.
Karena sudah merasa jemu, iapun berniat mengakhiri latihan ini. Dalam beberapa kali gebrakan dahsyat, dengan kecepatan tinggi luar biasa dan sapuan pedangnya yang ganas. Satu demi satu tubuh bayangan tersebut dibuat hancur menjadi butiran cahaya ke-emasan. Lenyap!
Setelah itu, pemuda ini menghela nafas, pandangannya kemudian dialihkan ke pedang ditangannya. Ia mengangguk karena merasa akhirnya ia sudah mulai terbiasa mengendalikan energi pedang ditangannya itu. Sebuah pedang yang memiliki energi yang sangat tinggi. Pedang Pusaka tingkat Dewa Biru!
Kemudian dia teringat pesan Pedang Ilusi Penguasa Jiwa ditangannya itu. Selagi ia dapat menyatukan diri dengan pedang ini, ia tidak perlu khawatir lagi jika dikemudian hari ia harus menghadapi sebuah kekuatan yang berada ditahap Pendekar Langit.
“Ku rasa latihan ini cukup sampai di sini. Aku masih ada perkejaan lain yang harus diselesaikan.” Ucapnya sambil memandangi pedang ditangannya tersebut.
“Ya sudah kalau begitu.. Tapi tuan harus ingat bahwa masih perlu waktu banyak untuk bisa mengendalikan energiku sepenuhnya. Tadi aku hanya menggunakan kurang dari seperempat energiku sehingga anda bisa mengendalikanku. Seandainya aku mengeluarkan energi lebih dari itu, aku khawatir tuan akan mengalami cidera.”
Pemuda itu mengerutkan dahi. Memang ia sudah tahu bahwa Pedang Ilusi Penguasa Jiwa tidaklah mengeluarkan energinya sepenuhnya. Tapi dia tidak menyangka jika energi yang dikeluarkan pusaka itu hanyalah seperempatnya saja. Menurutnya energi tersebut saja sudah sangat kuat, bahkan saat menggunakan pedang itu tangannya serasa berat dan nyeri. Kini ia sadar bahwa hanya mengandalkan kekuatan tubuhnya saja tidaklah cukup untuk dapat mengendalikan Pedang Ilusi Penguasa Jiwa. Ia memang harus meningkatkan kultivasinya.
Dan ia masih mendengar pedangnya berkata, “Ku rasa waktu dua purnama tidaklah cukup untuk dapat mengendalikan energiku sepenuhnya. Tapi jangan khawatir, jika tuan giat berlatih dan meningkatkan kultivasi anda. Aku percaya tuan akan dapat menggunakan setengah dari energiku.”
Sebenarnya Pedang Ilusi Penguasa Jiwa juga merasa heran bahwa tuannya itu dapat menggunakannya, padahal ia hanya berada ditahap Pendekar Fana. Jangankan untuk mengendalikan seperempat energinya, untuk mengendalikan seper-seratus energinya saja, itu sangatlah mustahil dilakukan oleh sekelas Pendekar fana pada umumnya.
Seperti yang di ketahui, Pedang Ilusi Penguasa Jiwa adalah pusaka sekelas Dewa Biru. Sebuah pusaka yang dengan kata lain memiliki kemampuan setingkat Pendekar Dewa. Karena itulah seseorang yang tidak memiliki kultivasi Pendekar Dewa, tidak akan mungkin dapat menggunakannya. Tapi Pedang Ilusi Penguasa Jiwa yang sudah mengetahui siapa tuannya sebenarnya, sudah tidak terlalu memikirkan hal itu. Baginya yang terpenting adalah keberadaannya dapat membantu tuannya. Tidak terus-terusan terbengkalai seperti seonggok pedang rongsokan yang ribuan tahun tak bertuan.
“Hmm... Aku mengerti. Tapi untuk saat ini aku tak memiliki waktu untuk berkultivasi. Baiklah, sekarang kembalilah ke tubuhku.” Kata pemuda itu, ia menempelkan Pedang Ilusi Penguasa Jiwa itu di depan dadanya. Alangkah mengejutkan! Pedang itu bersinar terang kemudian lenyap tak berbekas.
Si pemuda kemudian melesat ke arah tenggara. Gerakan larinya yang teramat cepat membuat permukaan air laut yang diinjaknya seolah terbelah. Masih di atas permukaan laut pemuda ini berhenti di depan sebuah lobang hitam seukuran kerbau dewasa. Lobang hitam itu adalah portal dimensi yang sengaja dibiarkan terbuka agar koneksi energi pemuda itu tidak terputus dengan satu tubuh bayangannya yang berada di luaran sana.
Sesampainya di luar, pemuda ini segera melompat keluar dari semak belukar. Dalam sekali lompatan, ia telah hinggap di atas dahan pohon. Didongakkannya kepalanya memandang ke atas. Ia ingin mengukur waktu yang telah ia habiskan di dunia para siluman atau yang bernama hutan hei'an. Dilihatnya matahari sudah agak menyingsing ke arah barat. Dengan demikian ia dapat memperkirakan bahwa kurang lebih sudah satu jam ia telah meninggalkan dunia ini.
Semilir angin menyibakkan rambutnya sampai menutupi mukanya. Si pemuda yang bukan lain adalah Arya itu baru sadar bahwa sebagian rambutnya kini kembali berubah kuning. Ia meraba-raba rambut depannya itu yang tadi telah menutupi mukanya. Diamatinya rambutnya itu dengan teliti.
“Rupanya aku memang tidak bisa mengembalikan rambutku ini untuk seterusnya.” gumamnya.
Ia memang telah berusaha mengembalikan rambutnya yang sebagian berwarna kuning itu menjadi hitam kembali agar tidak terlalu menarik perhatian. Rambut dan matanya yang kuning itu bisa menjadi ciri khasnya sehingga orang-orang akan mudah mengenalinya. Karena itulah telah dicobanya berbagai cara untuk mengembalikan warna rambut dan matanya tersebut. Tapi segala usahanya itu hanya bisa bertahan selama beberapa jam saja. Setelah itu rambut dan matanya akan kembali berwarna kuning. Telebih jika ia menggunakaan energi Naga Emas dalam kadar yang besar, maka pada saat itu juga rambut dan matanya akan menjadi kuning.
Sepasang tangan Arya bergerak membentuk pola tangan. Sesaat kemudian tubuh pemuda itu keluar energi merah menyala seperti kobaran api yang berkobar-kobar terkena hembusan angin. Hampir sekian menit lamanya tubuh pemuda ini masih terbungkus oleh kobaran energi merah tersebut. Setelah energi itu menghilang, barulah terlihat jika rambut dan mata pemuda itu telah berganti berwarna hitam.
“Harusnya tuan tidak perlu buang-buang energi untuk melakukan hal itu.”
Mendengar suara tersebut, Arya tersenyum kecut. “Diamlah, aku tak butuh ocehmu.”
“Menurutku, anda lebih cocok dengan rambut dan mata kuning itu. Dengan demikian anda jadi lebih terlihat berkarisma, beda dari yang lain.”
“Hmm... Kau tahu, warna rambut dan mataku bisa menarik perhatian orang-orang disekitarku. Aku tak mau jika nanti musuh-musuhku dapat mengenaliku dengan mudah dari warna rambut dan mataku.” Balas si pemuda.
“Hahaha...” Pedang Ilusi Penguasa Jiwa tertawa, kemudian lanjutnya, “Apakah anda pikir setelah apa yang anda lakukan di dua kerajaan tidak akan mengundang perhatian banyak orang. Aku yakin nama dan wajah anda telah tersebar luas saat ini.”
Arya terdiam, dia memang tidak bisa memungkiri hal itu. Sebelum aksinya di dua kerajaan saja, nama dan wajahnya telah tersebar luas. Apalagi sekarang. Dan didengarnya Pedang Ilusi Penguasa Jiwa kembali melanjutkan perkataannya.
“Anda tidak mungkin dapat menyembunyikan kemampuan dan indentitas anda selamanya, tuan. Menurutku lebih baik, jadilah diri sendiri. Memang pada suatu keadaan tertentu menyembunyikan identitas itu diperlukan. Tapi mengembalikan rambut dan mata kuning menjadi hitam, ku rasa itu tidaklah terlalu penting untuk dilakukan.”
Arya menganggukkan kepalanya, “Kau memang benar.. Tapi lebih baik kau diam dan tidurlah. Untuk saat ini aku hanya belum terbiasa dengan warna rambut dan mataku.” Setelah berkata begitu tubuh pemuda ini tiba-tiba lenyap dari atas cabang pohon tersebut.